Oleh : Imansyah
Co Founder KPOJK
Ramadhan telah lampau dan Hari Raya Idul Fitri 1446H boleh dirayakan semarak. 30 hari yang penuh dengan latihan ujian untuk lebih sabar dan ikhlas pun sudah lewat. Hari ini bahkan sudah ada yang selesai dengan puasa Syawal. Bijak untuk tidak jadi terlena, karena kelulusan dan nilainya akan ditentukan selama 11 bulan mendatang. Fastabiqulkhoirot bolehlah menjadi sedikit modal awal untuk mengaktualisasikan hasil-hasil setelah sebulan berpuasa.
Terlenakah? Pasca Ramadhan, rutinitas keseharian tidak pelak akan mengusung Kembali kesibukan tiada akhir. Ini sejatinya tidak boleh berujung kehancuran. Tapi manusia datang silih berganti, belajar, bersekolah, mencari ilmu, menjadi sarjana, doktor bahkan professor. Diraihnya pun tidak hanya di tanah sendiri tapi hingga ke negeri seberang. Tapi al-khoirot (kebaikan) sering terabaikan. Manfaat acap terganti dengan fasad yang dipenuhi hasad.
Boleh nyata saat ini bila kaum terpelajar senang bekerja sama dengan para rente, pemburu uang. Padahal uang adalah kerak materialisme yang suatu saat pasti ditinggalkan. Mereka sibuk berebut panggung kekuasaan. Ketika dicapai, dada membusung dan kepala membengkak. Bercerita kemana-mana hal kesuksesan. Meneriakkan banyak cerita khayalan tiada akhir di atas hamparan dunia yang fana dan penuh kebodohan. Padahal dunia itu akar katanya ‘dana” yang artinya kehinaan. Jadi tiada arti bila berjuang raih dunia itu yang esensinya hanya hina.
Sungguh miris sebab tiada paham, kapan pemutus kenikmatan hadir menjemput. Manusia siapapun dia segera menuju tahap lanjutan dalam hidup. Ajal menjemput, “likulli ummat ajal”, “laa yastakhiruuna saa’atan wa laa yastqdimuun”. Presisi waktunya. Tiada sela maju dan mundur. Saat itu, hampir seluruh barang-barang dan sukses yang dikumpulkan, yang dibayar dengan perebutan, pertengkaran, saling menghina, saling menjatuhkan diantara sesama akan ditinggalkan.
Ada cendekia yang menyampaikan bila ingin akhir hayat ditutup dengan baik, maka istiqomah-lah, konsisten beramal baik dan jaga niat langkah selalu menuju kebaikan. Alah bisa karena biasa. Tapi dengan fenomena para rente dunia yang berliput fasad dan hasad, nir manfaat dan nir maslahat, meski sudah berniat diri menjadi baik, kepada diri sendiri ada asa bila bersua ajal kelak ingin jadi hantu. Hantu, genderuwo, kuntilanak atau apapun jenisnya tidak kasat mata tapi pasti menakutkan bila tampak dihadapan.
Karena menakutkan, saat jadi hantu ingin rasanya bisa datang ke kamar-kamar pribadi para duniawan. Ingin subversif hadir dalam mimpi mereka tiada berbilang. Ingin berujar, yang baik amalnya saja bisa jadi hantu, apalagi yang tidak. Mengingatkan bahwa semua amal pasti dipertanggungjawabkan, pasti ditanya dulu oleh 2 malaikat Munkar dan Nakir saat pengantar baru beranjak dari liang lahat.
Kalau masih tidak mempan, karena hantu, ingin juga bisa menabur ulat bulu dalam sepatu, baju, celana para rente dunia, Jadi saat mau pidato atau memimpin sidang selalu kegatalan, jadi tidak pernah sukses dengan rencana busuknya. Boleh juga menampakan wujud hantu yang horor agar ketakutan dan jadi gagal memutuskan kebijakan yang penuh mudharat.
Ini hikmah untuk saling mengingatkan, watawa sau bil-haqqi karena jangan pernah berpikir bahwa hidup hanya sekali. Yakinkan diri bahwa setelah mati, kita akan dihidupkan lagi. Perbanyak kebaikan dan istiqomah agar menjadi insan yang tenang, muthmainah, karena inilah tingkat manusia yang kelak dipanggil kembali ke surga.
Semoga. Wallaahu a’lam bissawab.
Okayama, 10 April 2025
*) Pandangan pribadi, diambil dari beberapa sumber
Oleh Triyono
Co Founder KPOJK
Dalam suasana liburan panjang seperti ini, memang moment yang pas untuk kontemplasi dan belajar. Ambil topik yang menarik dan sesuai minat. Belajar ringan tapi menyenangkan.
Nonton film juga bisa dilakukan untuk mengisi waktu. Mungkin ada sebuah film yang menarik untuk disimak berjudul “300”. Sinopsis singkat mengenai film itu adalah ketika 300 orang Spartan yang bertempur melawan 1 juta prajurit Persia di bawah Raja Xerxes. 300 pasukan Spartan dipimpin oleh Raja Leonidas.
Sebuah pertempuran yang sudah pasti tidak berimbang. Apalagi ditambah dengan adanya pengkhianatan dari Ephialtes, berhasil menggiring Spartan ke sebuah jalur sempit di Thermopylae. Akhirnya, tidak ada pilihan bagi pasukan Spartan ini selain melawan sampai mati.
Dikisahkan ada seorang prajurit selamat bernama Dillios yang menceritakan kisah ini sehingga menjadi inspirasi seluruh Yunani untuk bertempur melawan Persia. Sangat inspiratif karena menunjukkan adanya semangat juang yang sangat tinggi sampai titik darah penghabisan.
Baru saja kita merasakan bagaimana bergembiranya masyarakat Indonesia ketika sementara berhasil lolos kualifikasi Piala Dunia Zona Asia karena berhasil mengalahkan Bahrain dengan skor 1-0 di stadion GBK. Kebahagiaan yang totalitas baik di luar stadion apalagi di dalam stadion. Banyak diliput oleh para netizen dan diupload di YouTube.
Selain perjuangan squad Garuda yang luar biasa, ambiance para supporter juga luar biasa. Presiden FIFA beberapa kali memuji koreografi penonton Indonesia. Media asing juga demikian. Media Malaysia menyampaikan kemenangan Indonesia karena ada “Pemain Keduabelas” yaitu suporter.
Walaupun analogi mungkin agak terbalik dengan film 300. Tapi yang jelas gambaran Timnas Bahrain seperti 300 orang Spartan yang melawan Pasukan Persia. Tentu saja penghargaan setinggi-tingginya atas semangat dari 11 pemain Bahrain yang sudah pasti berjuang dengan luar biasa. Berjuang secara teknis di lapangan, juga berjuang melawan support penonton yang luar biasa. Sekali lagi penghargaan yang luar biasa bagi Timnas Bahrain.
Analogi penonton Indonesia yang disamakan dengan Raja Xerxes juga mungkin tidak tepat. Tapi yang sangat menarik adalah sikap 70.000 orang yang secara kolosal dan santun menunjukkan energi positif untuk mendukung squad tercinta.
Banyak cerita bahwa tragedi kebrutalan suporter sepak bola di Indonesia cukup melukai. Tapi terbukti bahwa suporter Indonesia itu santun, sportif dan tidak brutal. Semoga ini memang cerminan perilaku masyarakat Indonesia sesungguhnya. Yang brutal dan anarkis hanya segelintir orang.
Apalagi ketika seluruh stadion bernyanyi bersama lagu “Tanah Airku” ciptaan Ibu Soed. Semua bernyanyi dengan sungguh-sungguh bahkan tidak sedikit yang menangis. Lelehan air mata itu menunjukkan cinta yang luar biasa pada tanah air Indonesia. Lagi-lagi banyak orang asing yang takjub terhadap keajaiban kolosal ini.
Sungguh indah ketika bangsa Indonesia bisa se-kompak ini. Semua melupakan perbedaan. Hanya fokus pada tujuan bersama yaitu dukungan terhadap Timnas Indonesia agar bisa menang. Tidak ada masalah politik, SARA ataupun faktor negatif lain. Tidak ada buzzer yang membuat rusuh di internet ataupun pembuat berita hoax. Mereka juga lupa mengenai polemik pergantian pelatih Timnas dan lainnya.
Terima kasih sepakbola karena sudah menunjukkan keindahan sebenarnya dari bangsa Indonesia. Jagalah terus kekompakan ini baik di dalam sepakbola maupun di luar sepakbola. Paling tidak dari benih sepakbola ini bisa menyebar ke sendi-sendi bangsa lainnya.
Alhamdulillah, semangat ini juga lahir di bulan Ramadhan. Dengan momentum konsistensi, semoga setelah Ramadhan, maka sifat kekompakan ini tetap berlangsung selamanya. Mari kita menyanyikan lagu Tanah Airku bersama-sama. (Try)
Oleh : Imansyah
Co Founder KPOJK
Bulan Ramadan 1446H tinggal sedikit hari lagi. Seperti yang sedang berlari marathon, ini fase akhir diujung dimana kesuksesan dipertaruhkan. Daya tahan “endurance” jangan menurun agar kualitas puasa dan ibadah Ramadan bisa terus dipertahankan. Menjadi lebih bijak, bila hari-hari terakhir Ramadhan lebih banyak beorientasi meraih derajat taqwa.
Sambil menunggu sidang isbat, Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1446H ini akan jatuh pada hari Senin. Hari Senin? sepertinya jadi menarik untuk coba memahami nama-nama hari dalam 1 minggu. Dalam bahasa arab, “Ahad” artinya satu atau hari pertama. “Itsnain” itu dua atau hari yang kedua (Senin). “Tsulatsa” artinya tiga atau hari yang ketiga (Selasa). “Arbi’a” itu empat atau hari yang keempat (Rabu), dan “Khamis” artinya lima atau hari yang kelima (Kamis). Hari ke-enam tidak disebutnya sebagai “Sittah” tapi “Jum’at”.
Kenapa disebutnya “Jum’at”? Bisa jadi karena setelah 5 hari bekerja, maka ini hari untuk dianjurkan merekap dan rembug kolektif apa saja yang telah diselesaikan. Tidak heran, bila bagi insan muslim, pada hari Jum’at utamanya pria wajib melaksanakan shalat Jumat berjamaah. Berdiam sebentar mengingat kerja yang telah diselesaikan sembari re-charging diri dengan pesan akhirat yang disampaikan para khatib. Bagaimana dengan hari terakhir dalam 1 minggu? Hari ini disebutnya “Sabtu”, boleh jadi ini berasal dari kata “sabat” yang artinya hari ini boleh digunakan untuk bertafakur dan berkotemplasi untuk siap bekerja lagi di hari pertama (Ahad).
Tapi, dalam sistem kalender saat ini, sebutan “Ahad” sudah lebih acap disebut hari “Minggu”. Bukannya untuk siap bekerja lagi, tapi hari “Minggu” menjadi hari untuk lanjut berkotemplasi bahkan boleh jadi dipakai untuk ekstra bersantai. Mencoba lebih paham sebab “Minggu” menjadi lebih acap digunakan daripada “Ahad”.
Menurut Wikipedia, di beberapa negara, termasuk Indonesia dan dalam tradisi Abrahamik, hari Minggu merupakan hari pertama dalam seminggu. Hari Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo dari bahasa Latin dies Dominicus, yang berarti “dia do Senhor”, atau “hari Tuhan kita”. Makna ini tampanya selaras dengan umat dari agama yang melakukan ibadah pada hari Minggu. Hari Senin menjadi hari pertama untuk bekerja kembali.
Kembali pada Hari Raya Idul Fitri 1446 H yang jatuh pada hari Senin. Hari Senin itu boleh menjadi hari yang pertama, juga boleh menjadi hari yang kedua dalam seminggu, jadi bolehlah Idul Fitri 1446H dirayakan dengan semangat, riang dan gembira. Hari penuh kemenangan memang patut dirayakan, tapi janganlah berlebih karena Yang Maha Kuasa tidak suka dengan perilaku yang berlebihan. Walaa tamsyii fil-ardhi marahaa.
Semoga dan selamat ber-Hari Raya Idul Fitri 1446H.
Wallaahu a’lam bissawab.
Jakarta, malam ke-28 Ramadhan 1446H
Oleh: Naura H. Ainayyah
Gadis itu membuka sepatu putih yang melindungi kakinya satu per satu. Sambil berjinjit, ia meletakkan sepasang sepatu itu ke rak plastik yang ada di samping pintu masuk rumahnya. Dari membuka pagar sampai masuk ke dalam rumah, ia lakukan tanpa suara. Bahkan kumpulan gantungan kunci pada tas ransel besar yang biasanya berbunyi di gendongannya hari ini tak bersuara sama sekali. Rasanya satu-satunya suara yang ada berasal dari jantungnya yang berdegup kencang.
Si gadis menatap pintu cokelat yang dihiasi puluhan stiker tumpang tindih dengan gambar yang sudah luntur. Stiker pada pintu itu beragam; entah stiker klub sekolah, kartun dari hadiah majalah, perkumpulan warga, sampai stiker dealer motor. Kebanyakan stiker itu umurnya bahkan tak jauh dari umur si gadis.
Samar-samar, si gadis bisa melihat punggung Ayahnya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Beliau duduk bersila dia atas sajadah. Si gadis akhirnya memutuskan untuk meletakkan tasnya ke kamar, mengambil handuk, lalu ke kamar mandi. Perjalanan panjang dari kampus ke rumah membuatnya kegerahan.
Selang beberapa saat, si gadis sudah keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju kamarnya sambal menggosok-gosok rambut sebahunya yang basah dengan handuk kecil berwarna putih.
“Nduk…” suara Ayahnya membuatnya terkesiap. Ia memang menunggu Ayahnya selesai mengaji untuk membicarakan sesuatu, tapi ternyata masih tidak siap untuk berbicara dengan Ayahnya. “Kamu sudah pulang? Ayah, kok, ndak denger.”
“Oh iya, tadi Ayah lagi ngaji. Jadi, Nining langsung masuk.”
Ayah Nining mengangguk. Lelaki paruh baya itu sudah mengenakan setelan kerjanya; jaket berwarna hijau, celana panjang, dan kaus kaki tebal. Tak lupa pula dilengkapi hasduk berwarna hitam garis merah yang melingkar di leher. “Kamu sudah ndak kemana-mana kan, nduk? Ayah mau narik lagi. Adikmu mungkin pulang ngaji sebentar lagi.”
Ayahnya beranjak dari sofa ruang tamu yang entah apakah masih bisa disebut ruang tamu. Ukurannya tak seberapa, hanya 2×3 meter dengan satu set sofa kayu yang sudah reyot. Sofa berlapis ambal hijau itu bercorak bunga yang sudah tidak lagi terlihat jelas gambarnya. Bahkan busa didalamnya pun sudah menghilang. Berlama-lama duduk di sofa itu justru membuat badan sakit.
Nining menimbang-nimbang dengan cepat, lalu memutuskan untuk menahan Ayahnya sebentar. “Ayah.” Nining menggigit bibirnya, jantungnya berdegup cepat. “Ada yang ingin Nining bicarakan. Boleh, Yah?”
Nining bisa melihat sorot mata Ayahnya yang terlihat awas. Tentu saja Ayahnya tahu kalau ini bukan obrolan biasa. Pasti ada hal penting karena Nining menahannya pergi.
“Ya, boleh saja.” Lelaki itu mengurungkan niatnya untuk meraih sepatu hitam di dekat pintu, kemudian kembali duduk. “Sini, Ning. Mau bicara apa?”
Nining duduk di depan Ayahnya. Kepalanya tertunduk, sedangkan tangannya masih menggosok-gosong kepala dengan handuk tanpa arah. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia juga bingung bagaimana harus mulai menceritakan permasalahannya.
“Yah, Nining minta maaf banget. Nining salah,” ucap Nining hampir berbisik. Suaranya parau. Entah kenapa, bulir-bulir keringat membasahi dahinya, padahal ia baru saja mandi.
Ayahnya mengernyit, bingung melihat putrinya. Meski belum tahu kesalahan apa yang dilakukan anaknya, lelaki itu langsung merasa kasihan. Nining anak sulung, ia punya satu orang adik laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Ia sangat mandiri meskipun tumbuh tanpa sesosok Ibu—Ibunya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Sampai sekarang, Nining sangat telaten mengurus dirinya sendiri dan juga adiknya. Ayahnya selama ini merasa sangat bersyukur karena memiliki dua anak yang sangat baik. Melihat putri semata wayangnya terlihat kalut, ia sudah pasti ikut bersedih.
“Kenapa, nduk?”
“Nining… Nining ngilangin uang kas himpunan.” Nining tercekat, air mata sudah memupuk di matanya.
“Hilang gimana? Berapa, nak?”
Nining meletakkan handuk putih di atas pangkuannya. Ia melirik Ayahnya yang terlihat sangat kaget. Kulit yang terbakar dan garis-garis pada wajah Ayahnya membuat beliau terlihat lebih tua dan letih. Nining tidak tega, namun ia juga kebingungan mencari jalan keluar.
“Hilang, Yah. Ludes uangnya. Lima juta, Yah.” Nining menjawab terpatah-patah.
“Ya Allah, astaghfirullah.” Ayah Nining terpaku. Ia menatap anaknya yang kini menangis sesengukan. Gadis itu membenamkan wajahnya pada telapak tangannya yang kecil dan kurus. “Gimana… gimana bisa, nak?” Ayahnya kini duduk di samping Nining. Ia merangkul pundak putrinya yang bergetar karena menangis.
Sambil terisak, Nining berusaha untuk menjelaskan. “Temanku si Pipit, Yah, katanya dia sudah jago soal saham. Dia bilang bisa titip uang ke dia, nanti bisa untung. Katanya gak akan rugi. Jadi Nining titip uang tabungan dan uang kas supaya lebih dapat untung. Sekarang dia bilang sahamnya anjlok, uangnya hilang, Yah. Uang kasnya lima juta, Yah.”
Nining terus meminta maaf, sedangkan Ayahnya terpaku. Uang lima juta bersama uang tabungan Nining yang entah berapa banyaknya hilang sudah. Ia tak tahu bagaimana cara kerja saham, yang pasti ia tahu ia tidak punya uang sebanyak itu untuk mengganti.
***
Lukman terpaku dengan ponsel di genggamannya. Layar ponsel itu retak, namun tidak begitu parah sehingga masih bisa dipakai. Kecepatan mesinnya juga masih terjaga di umur yang ketiga tahun, jadi ia bisa menyelesaikan pekerjaannya sebagai driver ojek online dengan baik.
Mata Lukman menatap lurus layar ponselnya yang menunjukkan saldo pada aplikasi mobile banking. Lukman menghela nafas. Tidak cukup untuk mengganti uang kas Nining, pikirnya. Ia keluar dari aplikasi bank lalu beralih ke aplikasi yang baru saja ia unduh; aplikasi pinjaman online. Ia diminta untuk mendaftarkan diri dan memasukkan datanya terlebih dahulu.
Lukman tidak bergerak. Ia masih menimbang-nimbang. Teringat ucapan temannya, Surya, yang mengenalkannya pada aplikasi ini.
“Gak usah dikembalikan uangnya, Man. Kata Pak Menteri, kalau aplikasinya illegal, uangnya boleh gak diganti. Palingan pusing-pusing sedikit karena diteror terus. Tapi ya sudah, kamu tinggal ganti nomor saja,” ucap Surya sambil terkekeh. Lukman sendiri hanya mengangguk meskipun tak paham cara kerja pinjaman online.
Deru mobil dan motor yang beradu di jalan, serta lalu-lalang orang-orang dengan berbagai urusannya, tidak membuat Lukman ingin beranjak. Ia masih duduk di trotoar, bernaung di bawah pohon yang rimbun dengan motor merah yang menjadi sahabat karibnya.
Senja mulai merambat di langit Jakarta ketika Lukman menghela nafas panjang. Getar ponselnya yang kesekian kali ia abaikan. Matanya menerawang ke arah langit yang mulai memerah, seolah memantulkan gejolak batinnya. Dia bangkit dari trotoar tempatnya termenung.
Puas bergumul dengan pikirannya, kali ini ia menatap ponselnya yang bergetar. Ada notifikasi dari aplikasi ojek online; orderan masuk yang bisa diambil sebelum maghrib tiba. “Mungkin bukan nominal uangnya yang penting, tapi bagaimana cara mendapatkannya,” bisiknya pada diri sendiri kemudian berjalan menghampiri motornya yang teronggok seolah menatapnya dalam diam.
***
Tidak biasanya gang anggrek ramai oleh warga, terutama di waktu maghrib menuju isya. Pelan-pelan Lukman mengendarai motornya menyusuri gang sambil mengangguk pelan setiap bertatapan dengan orang-orang disana.
Semakin ke dalam gang, ia merasa ada yang tidak beres. Para warga berkumpul sambil berbisik dan wajah mereka terlihat cemas. Lukman ingin bertanya, namun ia khawatir akan membuat kemacetan bagi pengendara motor lain jika berhenti karena gang itu cukup sempit.
Sampai di ujung gang dengan jalan yang lebih lebar di pinggir lapangan bola warga, Lukman melihat Surya sedang ikut berkumpul bersama warga. Mata mereka bertemu. “Heh, Lukman! Lukman, sini!” desis Surya.
Lukman memarkirkan motornya di bawah sebuah pohon kemudian bergegas menghampiri Surya. “Ada apa, Sur?”
“Itu, Man, Pak Rusdi! Ya Allah, Man… Man.” Wajah Surya terlihat kalut.
Pak Rusdi adalah salah satu tetangga Lukman dan Surya, hanya selang sekitar lima rumah. Lukman baru saja bertemu Rusdi pagi tadi, saat itu Rusdi sedang menyapu daun-daun kering di halaman rumahnya.
“Kenapa Pak Rusdi, Sur?” tanya Lukman tak sabar.
Surya menggelengkan kepalanya, seolah berusaha membuang isi pikiran di kepalanya. “Pak Rusdi minum karbol! Barusan sudah dijemput dengan ambulance. Aduh, Man, gak nyangka.”
Usut punya usut, Pak Rusdi berutang di sebuah aplikasi pinjaman online. Entah untuk apa dan berapa nominalnya, namun Pak Rusdi sudah tidak sanggup membayar pinjaman beserta bunganya. Debt collector pun sudah berkali-kali menghampiri rumah Pak Rusdi, sepertinya beliau tertekan dengan keadaan tersebut hingga nekat menenggak karbol.
***
Lukman mematikan mesin motornya, kemudian merogoh kunci rumah yang ada di sakunya. Ia membuka pintu pelan-pelan, khawatir membangunkan dua anaknya yang pasti sudah tertidur.
Sambil menghela nafas, ia melempar tubuhnya ke sofa hijau reyot sambil sedikit meringis; lupa kalau sofa tua itu sudah tak empuk lagi. Ia mengambil ponsel dari sakunya, kemudian membuka kembali aplikasi yang sudah ia unduh sejak siang tadi. Ia menatap ponselnya dengan nanar; tangisan Nining dan raut frustasi Surya memenuhi pikirannya. Lagi-lagi ia berdebat dengan pikirannya sendiri; apakah aplikasi ini akan menjadi jalan keluar atau justru membuat nasibnya seperti tetangganya.
“Ayah,” terdengar suara Nining bersamaan dengan derit pintu. “Baru pulang, Yah?”
“Ya, nduk.” Lukman menoleh pada Nining yang mengintip dari pintu kamarnya. “Kamu tidur lagi saja. Ayah tadi mengobrol dengan tetangga.”
“Ayah sudah dengar tentang Pak Rusdi?”
“Sudah.” Sesaat keheningan menghampiri mereka berdua. “Tidur lagi, nduk.”
“Iya, Ayah.” Nining masuk lagi ke kamarnya dengan ragu.
Lagi-lagi Lukman menghela nafas. Ia kembali menatap ponselnya. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Lukman memutuskan untuk menghapus aplikasi itu dari ponselnya.
Ia memejamkan mata. Termenung di bawah lampu kuning remang-remang, merasa sangat kalut.
Rekan-rekan, sudah lama ya kita nggak ngopi darat.
Yuks, dalam suasana lebaran, kita belajar menulis dan berhalal-bihalal. Info lengkap ditunggu ya. Saat ini Panitia sedang mempersiapkan kegiatan dimaksud….

sampai jumpa!

Kesempatan menjadi kontributor Buku Digital Finance Komunitas Penulis OJK telah dibuka. Jangan sampai ketinggalan menjadi bagian penting perjalanan intelektual Insan OJK.
Kirim dulu abstract-mu. Panitia akan memastikan topik yang kamu tulis sesuai dengan kebutuhan Buku ini.
Gassss………
Oleh: Annisa Ika Rahmawati
Tulisan ini telah dipublikasikan di The Iconomics, Mei 2021
Meskipun masih ditengah masa pandemi euphoria hari raya Idul fitri tidak pernah lepas bagi masyarakat Indonesia. Selain lekat dengan perayaan tradisi hari raya, bonus Tunjangan Hari Raya (THR) merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Bagi masyarakat berwawasan keuangan, pembagian bonus THR merupakan momentum menyisihkan sebagian kelebihan penghasilan untuk menabung atau berinvestasi.
Pandemi covid-19 telah memberikan pembelajaran berharga pentingnya menyiapkan dana cadangan dalam bentuk tabungan atau investasi. Namun bagi masyarakat Middle Class Economy tentunya memahami bahwa berinvestasi dinilai lebih menguntungkan dibanding menabung. Dengan menabung, bunga flat yang kita dapatkan akan tergerus inflasi sehingga daya beli akan terus menurun. Berbeda hal nya dengan berinvestasi, yang menawarkan variasi produk keuangan dengan prinsip ‘high risk high return’. Prospeknya pun biasanya sejalan dengan kondisi iklim perekonomian sehingga risiko dapat di presdiksi dan mitigasi.
Investment Society dimasa Pandemi
Every cloud has a silver lining. Secara makro, menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi sebesar Rp 214,7 triliun pada triwulan IV (Oktober – Desember) Tahun 2020, naik 3,1% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019 lalu. Secara kumulatif, pencapaian realisasi investasi tahun 2020 (Januari-Desember) berhasil mencapai Rp826,3 triliun atau 101,1% dari target Rp817,2 triliun. Sepanjang tahun 2020, realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 413,5 triliun (50,1%), sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 412,8 triliun (49,9%). Perolehan pada tahun 2020 tersebut mampu menyerap hingga 1.156.361 TKI dengan total 153.349 proyek investasi.
Selain itu, dari sisi pasar modal, menurut press release tutup tahun BEI tahun 2020, Sepanjang tahun 2020, jumlah investor di Pasar Modal Indonesia yang terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksadana, mengalami peningkatan sebesar 56 persen mencapai 3,87 juta Single Investor Identification (SID) sampai dengan 29 Desember 2020. Kenaikan investor ini 4 kali lipat lebih tinggi sejak 4 tahun terakhir dari 894 ribu investor pada tahun 2016. Selain itu, investor saham juga naik sebesar 53 persen menjadi sejumlah 1,68 juta SID. Kemudian, jika dilihat dari jumlah investor aktif harian, hingga 29 Desember 2020 terdapat 94 ribu investor atau naik 73 persen dibandingkan akhir tahun lalu.
Kedua gambaran ini mencerminkan optimisme akan minat berinvestasi dikalangan masyarakat di tengah masa pandemi. Peningkatan minat berinvestasi merupakan hasil upaya edukasi dan sosialisasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO). Selain itu, kemudahan digital economy serta perilaku masyarakat memberikan pengaruh yang signifikan. Seperti contohnya, situasi Work from Home (WFH) membuat pekerja lebih fleksibel mengeksplorasi instrumen-instrumen keuangan. Termasuk monitoring risiko dan profit. Selain itu, kebijakan social distancing juga berdampak pada perilaku masyarakat untuk lebih mindful. Salah satunya mengurangi hal yang bersifat konsumtif. Seperti kebutuhan sarana hiburan atau minat belanja di pusat perbelanjaan yang tidak urgent. Sehingga kesadaran berinvestasi inipun secara berangsur telah membentuk investment society dimasa pandemi ini.
Investment Society dalam Mengelola Dana THR
Bagi kaum investment society, bonus THR merupakan momentum berivestasi. Namun tentunya harus diimbangin dengan pengelolaan THR yang bijak pula. Pada umumnya alokasi bonus THR dibagi menjadi beberapa pos yaitu: 1. Zakat dan sedekah; 2. Utang Konsumtif; 3. Kebutuhan lebaran; 4. Dana Darurat dan 5. Investasi.
Proporsinya dibagi sesuai kebutuhan. Alokasi berinvestasi pun harus dipertimbangkan sesuai kebutuhan, Apakah diperuntukan untuk pos jangka pendek atau jangka Panjang. Hal tersebut akan mempengaruhi pilihan instrument investasi sesuai kebutuhan dan prinsip high risk high return. Terakhir tidak lupa sebelum membeli produk keuangan untuk selalu mengecek legalitasnya. Apakah Lembaga Jasa Keuangan dan produknya sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapat dicek melalui situs web OJK.go.id maupun kontak 157. Sehingga investor akan lebih terlindungi dalam berinvestasi. Dalam momentum menghadapi hari raya dimasa pandemi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal masyarakat bertransformasi menjadi investment society dalam mengelola keuangan.
Tahun 2025 ini Komunitas Penulis OJK berencana untuk menerbitkan 3 (tiga) buku. Salah satunya buku tentang digital finance. Dalam rangka mempersiapkan penerbitan buku tersebut, telah dibentuk Tim yang dipimpin oleh Rekan Alwin Adityo. Tanpa menunggu lama, pada tanggal 12 Maret 2025, Tim Penerbitan Buku melakukan diskusi bersama untuk mematangkan term of reference, pembagian kerja dan aspek-aspek lainnya.
Ingin gabung menjadi kontributor Buku Digital Finance? Ditunggu ya info berikutnya…….

Oleh: Triyono
Co-Founder dan Anggota Dewan Penasihat Komunitas Penulis OJK
Syahdan di sebuah desa di Jawa Tengah, tersebutlah ada seorang pengusaha yang cukup sukses dan sudah lama keluar dari desa tersebut untuk berbisnis di luar desa. Tapi akarnya ke desa itu memang tidak bisa dihilangkan, karena semua orang tahu masa muda dan bagaimana dia memulai usaha dari desa tersebut.
Sebagaimana biasanya bahwa seorang yang sukses selalu menjadi pergunjingan. Jangankan pengusaha sukses, penduduk biasa saja sudah biasa menjadi obyek pergunjingan. Pergosipan dan gibah memang selalu ada seolah topiknya tidak pernah habis. Makin digosok makin sip dan seru.
“Sirik tanda tak mampu”, hal ini juga menambah parah dunia pergosipan penduduk yang memang kalah dalam hal kualitas hidup dengan sang penguasaha, mulai mencari-cari faktor aneh apa yang dimiliki si pengusaha sehingga dia menjadi jauh lebih makmur dibandingkan penduduk secara umum.
Tidak diketahui bagaimana prosesnya, namun beredar kabar bahwa: positif si pengusaha sukses ini dikatakan menggunakan pesugihan. Pesugihan adalah cara yang tidak biasa, cenderung bersifat mistis, sebagai jalan pintas untuk memperoleh kekayaan. Pesugihan yang mistis biasa dikaitkan dengan ritual, tumbal dan sejenisnya.
Alasan kenapa pengusaha sukses ini dikatakan menggunakan pesugihan adalah karena di rumahnya, sang pengusaha sukses ini tidak pernah membuang sisa nasi. Sisa nasi yang kemarin akan dimakan lagi hari ini untuk dihabiskan dengan cara diolah lagi. Hal itu katanya salah satu dari banyak keanehan yang selalu dilakukan oleh si pengusaha sukses.
Memakan nasi basi adalah hal yang tidak biasa. Penduduk mengkait-kaitkan dengan jin atau makhluk halus lainnya sejenis prewangan yang suka makan nasi basi. Sebagai imbalannya maka prewangan itu akan memberikan harta yang banyak sekali. Begitu kira-kira mitos yang dijahit oleh para penduduk.
Memakan nasi basi memang tidak ada dalam kamus gaya hidup orang sukses. Sebut saja sebagai contoh 7 Habits of Highly Effective People yang dipopulerkan oleh Steven Covey. 7 perilaku itu terdiri dari : be proactive, begin with the end in mind, put first thing first, think win-win, seek first to understand than to be understood, synergize dan sharpen the saw. (more…)
Oleh: Christiansen Frisilya Br Perangin-angin
Tulisan ini telah dipublikasikan di Koran SINDO, 23 November 2021
Perkembangan teknologi memengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk yang berhubungan dengan aktifitas ekonomi masyarakat. Kegiatan seperti bertransaksi, mengirim uang, menabung dan meminjam modal saat ini bisa dilakukan dengan sangat mudah lewat internet bahkan melalui gawai.
Kemudahan dan kecepatan dalam menggunakan produk dan jasa sektor keuangan ini tentunya sangat membantu upaya meningkatkankan inklusi atau akses keuangan masyarakat. Tingkat inklusi keuangan yang bagus diyakini akan membantu masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Mantan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan inklusi keuangan memungkinkan orang menabung untuk kebutuhan keluarga, meminjam untuk mendukung bisnis, atau membangun bantalan terhadap keadaan darurat. Menurutnya, memiliki akses ke layanan keuangan merupakan langkah penting untuk mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan.
Salah satu produk sektor jasa keuangan berbasis digital adalah fintech lending atau yang oleh OJK disebut sebagai layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Sejak keberadaannya diatur OJK melalui POJK 77/2016 kehadirannya sangat dirasakan manfaatnya terutama dalam melayani kebutuhan dana masyarakat khususnya yang unbankable atau kesulitan mendapatkan pinjaman di perbankan atau layanan sektor jasa keuangan lainnya.
Per 25 Oktober 2021, terdapat 104 fintech lending yang terdaftar dan berizin di OJK, yaitu 101 fintech lending yang berizin dan tiga fintech lending yang berstatus terdaftar.
Kinerja industri fintech lending ini bahkan tahan krisis ekonomi. Di masa pandemi ini, hingga September 2021, akumulasi penyaluran dana tetap tumbuh positif mencapai Rp262,93 triliun atau meningkat 104,30 persen (yoy), sedangkan outstanding pinjaman sebesar Rp27,48 triliun atau tumbuh 116,18 persen (yoy).
Sesuai tujuan OJK untuk lebih berkontribusi terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat, keberadaan fintech lending diarahkan untuk menjadi alternatif pembiayaan produktif di sektor UMKM.
Data menunjukkan persentase pinjaman ke sektor produktif terus meningkat mencapai Rp8,36 triliun dari total penyaluran pinjaman pada September 2021. Angka penyaluran pinjaman produktif ini 58,64 persen dari keseluruhan pinjaman. Atau sudah lebih tinggi dibanding pembiayaan yang bersifat konsumtif. (more…)