Oleh : Imansyah
Co Founder KPOJK
Bulan Ramadan 1446H tinggal sedikit hari lagi. Seperti yang sedang berlari marathon, ini fase akhir diujung dimana kesuksesan dipertaruhkan. Daya tahan “endurance” jangan menurun agar kualitas puasa dan ibadah Ramadan bisa terus dipertahankan. Menjadi lebih bijak, bila hari-hari terakhir Ramadhan lebih banyak beorientasi meraih derajat taqwa.
Sambil menunggu sidang isbat, Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1446H ini akan jatuh pada hari Senin. Hari Senin? sepertinya jadi menarik untuk coba memahami nama-nama hari dalam 1 minggu. Dalam bahasa arab, “Ahad” artinya satu atau hari pertama. “Itsnain” itu dua atau hari yang kedua (Senin). “Tsulatsa” artinya tiga atau hari yang ketiga (Selasa). “Arbi’a” itu empat atau hari yang keempat (Rabu), dan “Khamis” artinya lima atau hari yang kelima (Kamis). Hari ke-enam tidak disebutnya sebagai “Sittah” tapi “Jum’at”.
Kenapa disebutnya “Jum’at”? Bisa jadi karena setelah 5 hari bekerja, maka ini hari untuk dianjurkan merekap dan rembug kolektif apa saja yang telah diselesaikan. Tidak heran, bila bagi insan muslim, pada hari Jum’at utamanya pria wajib melaksanakan shalat Jumat berjamaah. Berdiam sebentar mengingat kerja yang telah diselesaikan sembari re-charging diri dengan pesan akhirat yang disampaikan para khatib. Bagaimana dengan hari terakhir dalam 1 minggu? Hari ini disebutnya “Sabtu”, boleh jadi ini berasal dari kata “sabat” yang artinya hari ini boleh digunakan untuk bertafakur dan berkotemplasi untuk siap bekerja lagi di hari pertama (Ahad).
Tapi, dalam sistem kalender saat ini, sebutan “Ahad” sudah lebih acap disebut hari “Minggu”. Bukannya untuk siap bekerja lagi, tapi hari “Minggu” menjadi hari untuk lanjut berkotemplasi bahkan boleh jadi dipakai untuk ekstra bersantai. Mencoba lebih paham sebab “Minggu” menjadi lebih acap digunakan daripada “Ahad”.
Menurut Wikipedia, di beberapa negara, termasuk Indonesia dan dalam tradisi Abrahamik, hari Minggu merupakan hari pertama dalam seminggu. Hari Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo dari bahasa Latin dies Dominicus, yang berarti “dia do Senhor”, atau “hari Tuhan kita”. Makna ini tampanya selaras dengan umat dari agama yang melakukan ibadah pada hari Minggu. Hari Senin menjadi hari pertama untuk bekerja kembali.
Kembali pada Hari Raya Idul Fitri 1446 H yang jatuh pada hari Senin. Hari Senin itu boleh menjadi hari yang pertama, juga boleh menjadi hari yang kedua dalam seminggu, jadi bolehlah Idul Fitri 1446H dirayakan dengan semangat, riang dan gembira. Hari penuh kemenangan memang patut dirayakan, tapi janganlah berlebih karena Yang Maha Kuasa tidak suka dengan perilaku yang berlebihan. Walaa tamsyii fil-ardhi marahaa.
Semoga dan selamat ber-Hari Raya Idul Fitri 1446H.
Wallaahu a’lam bissawab.
Jakarta, malam ke-28 Ramadhan 1446H