Yuks hadir. Jangan sampai kelewat

Oleh RR. Erinna Salsabila
Departemen Perizinan dan Manajemen Krisis Perbankan
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi Maret 2025
Mudik Lebaran selalu menjadi ritual sakral—perjalanan pulang yang tak sekadar menjejak tanah kelahiran, tetapi juga menyelami kembali akar diri. Tahun ini, langkahku tertuntun menuju desa kecil di Jawa Tengah, tempat Eyangku merajut hari-hari dalam harmoni. Hamparan tegalan yang menguning, semilir angin yang membelai dedaunan, dan aroma tanah basah selepas hujan menyambutku dengan kehangatan yang tak tergantikan. Tapi bukan itu yang paling menggetarkan. Melainkan diam yang penuh makna. Diam yang membuat pikiranku sibuk bertanya—tentang siapa aku, dari mana aku berasal, dan apa sebenarnya yang kucari selama ini.
Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh dengan literatur Barat, aku sering terpesona oleh konsep-konsep modern seperti sustainability, mindfulness, slow living, dan stoicism. Ironisnya, dalam pencarian itu, aku alpa bahwa nilai-nilai tersebut telah lama bersemayam dalam budaya sendiri. Kearifan Jawa hanya mampir sebentar dalam hidupku: lewat pitutur yang tak sempat kudengar utuh, lewat upacara adat yang kupandang dari balik layar ponsel. Aku terlalu sibuk mencintai hal-hal asing, tanpa sadar telah berpaling dari rumah yang sebenar-benarnya. Seperti musafir yang mengabaikan peta warisan leluhur, aku tersesat dalam labirin dunia lain—padahal jawabannya terhampar di halaman rumah sendiri.
Kampung ini sabar. Ia menungguku untuk kembali. Dan pelan-pelan, aku mulai paham. Di sini, keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan bait nafas kehidupan. Batik, misalnya, adalah manifestasi slow fashion yang telah mengakar sejak dulu. Dalam tiap guratnya, terselip sabar yang sunyi, cinta yang tak terucap, dan kisah yang terus hidup. Setiap motif adalah pesan bisu dari masa lalu. Tak lekang oleh tren, tak tunduk pada musim. Batik bukan hanya kain—ia adalah warisan yang ditulis dengan tangan dan kesadaran, lalu diwariskan dengan penuh penghormatan.
Di dapur Eyang, aroma gudeg yang dimasak sejak subuh menyergapku. Pekat dan sabar, seperti menyimpan rahasia waktu. Makanan di sini bukan sekadar asupan; ia adalah medium bertutur. Setiap uap yang mengepul dari kuali seperti membawa pesan: tentang hidup yang tak perlu tergesa, tentang bumi yang harus dihormati.
Konsep slow process food? Kami, orang Jawa, sudah lama punya versinya sendiri: pawon anget—dapur yang selalu hangat karena makanan selalu “di-nget”, dihangatkan kembali. Bukan karena pelit, tapi karena itulah cara kami bertahan hidup. Dulu, mencari bahan makanan tak semudah sekarang. Sekali masak, harus cukup untuk hari ini, besok, lusa. Maka terciptalah gudeg, brongkos, ayam kanil, telur pindang yang semakin sering dipanaskan, justru makin empuk, makin meresap, makin nikmat. Makanan di sini seperti diajak berbincang oleh waktu; tidak lekas habis, tidak pula terburu-buru untuk diselesaikan.
Dan kalau cuma punya tulang? Kami tak mengeluh. Tengkleng, sop tetelan, balungan—hidangan hasil filosofi nrimo ing pandum. Menerima yang ada, mengolah secukupnya, menyantap dengan syukur. Filosofi mindfulness dan stoikisme dalam versi ndeso; tidak membuang, tidak menyia-nyiakan. Sampah makanan? Hampir tak ada. Apa pun yang tersisa kembali ke tanah, masuk ke joglangan—lubang kecil di sudut kebun. Orang modern menyebutnya kompos; kami menyebutnya kebiasaan. Bungkus makanan pun bukan plastik, melainkan daun jati, daun pisang, atau besek dari anyaman bambu. Siklus kehidupan berputar harmonis; bersumber dari bumi, kembali ke semesta. Persis manifestasi sustainability.
Bahkan tegalan, kebun di belakang rumah, bukan milik sistem perkebunan monokultur warisan kolonial. Di sana tumbuh apapun yang bisa tumbuh dan dimakan: singkong, pisang, rebung, cabai, bayam, dan kelor. Istilah kerennya heterokultur, meski kami tak pernah menyebutnya begitu.
Aku duduk bersisian dengan Eyang di atas dipan bambu tua di tepi tegalan. Suara jangkrik mulai menggema, seolah menyanyikan lagu pulang yang lama terlupa. Langit perlahan berwarna jingga, seperti lukisan Tuhan yang terlalu indah untuk diabadikan hanya lewat kamera. Eyang menatap jauh ke tegalan, matanya teduh; menyimpan seribu cerita yang belum sempat ia tuturkan.
“Kasihan ya, generasimu…” katanya lirih, nyaris seperti gumam yang sengaja dilepaskan angin. “Hidupnya sempit. Makanan saja susah dicari, tanah pun tak lagi bisa ditanami. Tinggal pun saling berhimpitan, berlomba-lomba membangun tinggi… tapi makin jauh dari bumi.” Ia menarik napas pelan. “Padahal dulu, dari tegalan ini saja, kami bisa makan cukup. Lebih dari cukup. Masih bisa berbagi ke tetangga yang tidak punya.”
Aku terdiam, si anak kota yang merasa tahu banyak soal keberlanjutan, mendadak bungkam. Seluruh teori yang kupelajari tentang sustainability terasa hambar di hadapan sepetak tanah yang dirawat dengan tangan dan cinta. Eyang, tanpa sadar, sedang membacakan manifestonya sendiri; tentang hidup yang cukup, tentang warisan yang tak boleh hilang.
Dan sore itu, aku tahu, aku tak hanya mudik. Aku melangkah pulang. Pulang pada akar. Pada suara yang dulu kupinggirkan. Pada tanah yang mengajarkan keberlanjutan bukan lewat kata, tapi lewat kehidupan.
Terima kasih semuanya. Jalan masih panjang….
Yuks jaga daya tahan sampai finish.
Gasss

Pegawai OJK menyambut dengan antusias program penulisan Book Chapter dengan topik “Digital Finance”. Hal itu setidaknya terlihat dari jumlah naskah abstraksi yang masuk ke Panitia. Berdasarkan info Sdr. Alwin Adityo-Ketua Tim Penulisan Buku, sampai dengan pukul 17.00 WIB tercatat telah masuk 34 naskah abstraksi.
Bagi yang belum kirim naskah abstraksi, ditunggu ya sampai besok ya (25 April 2025)…..

Rekan rekan yang dapat hadir yuks konfirmasi kehadiran kepada Panitia.
sampai ketemu
Oleh: Asakita Dikarla Muhammad
Langit Jakarta di penghujung Januari memancarkan aura yang muram. Awan-awan kelabu menggumpal, membisikkan ancaman hujan deras yang mengintai. Di balik kaca kantor, Alinda berdiri, memandangi rintik air pertama yang menari di udara. “Sepertinya hari ini akan berat,” gumamnya sambil menutup laptop dan merapihkan tasnya. Sebuah firasat menggelitik pikirannya, mengingatkan hari-hari sebelumnya ketika ia pernah terjebak hujan badai tanpa persiapan. Ingatan itu kembali hadir seperti tamparan lembut, mengingatkan betapa pahitnya saat itu ia harus pulang dengan tubuh basah kuyup dan sepatu yang terendam air.
Bella, seorang rekan kerjanya yang ceria, mendekat ke Alinda dengan senyum yang lebar. Ia mengangkat payung lipat mungilnya yang selalu setia menemaninya. “Lihat ini, Lin! Praktis, kecil, dan cukup lagi. Aku selalu siap menerjang hujan,” katanya dengan nada riang dan penuh dengan percaya diri. Matanya berbinar, seolah yakin bahwa payung kecil itu adalah solusi untuk segala jenis hujan. Dalam diam, Alinda hanya mengamati. Ada keyakinan berlebih di wajah Bella, tapi Alinda tahu, hidup sering kali tak sebaik yang kita rencanakan.
Tanpa banyak bicara, Alinda mengangkat alisnya dan mengeluarkan dua benda dari ransel birunya: payung besar yang kokoh dan jas hujan yang dilipatnya rapi. Bella tertawa kecil, mencoba mengusik. “Kamu ini, ribet amat sih! Dua perlindungan sekaligus?”
“Hanya berjaga-jaga, Bel. Payung ini aku bawa untuk gerimis, sedangkan jas hujan ini aku pakai untuk badai. Cuaca kan nggak bisa diprediksi Bel!,” jawab Alinda sambil menatap langit yang mulai meredup. Kata-katanya terdengar sederhana, namun membawa kedalaman pemahaman yang membuat Bella terdiam sejenak. Dalam hening, Bella membatin, apa benar ia terlalu santai dengan payung kecilnya selama ini?
Langkah mereka meninggalkan gedung disambut oleh rintik hujan lembut. Bella segera mengembangkan payung lipatnya dengan bangga. “Sudah kubilang kan Lin, cukup payung saja,” ujarnya sambil tersenyum dengan puas. Alinda hanya tersenyum sambil membuka payung besarnya, yang tampak jauh lebih kokoh. Merekapun berjalan beriringan dan menembus angin yang mulai menderu. Langkah mereka terasa ringan, meski udara mulai membawa hawa dingin yang menusuk ke badan baik Alinda maupun Bella.
Namun, hanya dalam hitungan menit, langit berubah menjadi garang. Hujan deras meluruh dengan diiringi angin yang menderu ganas. Payung Bella pun bergulat dengan badai dan melipat ke belakang sebelum akhirnya patah. Ia berteriak, mencoba mempertahankan kendali atas pelindungan kecilnya yang tak lagi berdaya. Serpihan plastik dari payungnya beterbanganpun menambah kesan dramatis pada kekacauan yang terjadi.
Di sisi lain, Alinda menutup payungnya yang besar itu dengan tenang. Dengan gerakan sigap, ia mengeluarkan jas hujan dari tasnya dan mengenakannya. Air deras terpental dari lapisan jas itu dan langkahnya tetap stabil. Perjalanan yang awalnya terasa biasa berubah menjadi uji ketahanan. Alinda menatap Bella sekilas, lalu berkata dengan nada lembut, “Pakai ini kalau kamu perlu, Bel.” Ia memberikan payung besarnya kepada Bella, meski tahu bahwa jas hujannya sudah cukup untuk melindunginya sendiri. Dalam hati, ia berharap Bella dapat belajar dari momen ini.
“Lin! Tunggu aku!” Bella merintih. Tubuhnya terlihat basah kuyup sambil berlari tertatih mengejar Alinda yang terus melangkah dengan mantap. Hujan menciptakan genangan yang semakin dalam, memperlambat langkah Bella yang mulai terlihat kelelahan. Air hujan mengalir deras di sekitar mereka seperti sungai kecil yang tiba-tiba muncul di tengah kota. Setiap langkah terasa berat bagi Bella, tapi ia terus bertahan, meskipun kakinya dingin dan bajunya lengket di tubuh.
Sesampainya di halte, Alinda dan Bella akhirnya menemukan tempat untuk berlindung. Namun, suasana tak serta-merta tenang. Bella terlihat merenung dan tatapannya jatuh pada payung rusaknya yang kini hanya menjadi besi bengkok tak berguna. Sementara itu, Alinda memandang keluar, hujan deras masih memukul aspal jalanan, dan membentuk genangan-genangan kecil.
“Kenapa sih, Lin, kamu selalu bawa lebih dari yang diperlukan? Aku dari dulu selalu mikir, kamu itu keliatannya ribet banget, nggak praktis. Tapi sekarang, aku jadi mengerti kenapa,” ujar Bella memecah keheningan dengan nada lelah namun penuh rasa ingin tahu. “Kamu pernah ngalamin hal kayak gini sebelumnya, ya?”
Alinda pun mengangguk dengan pelan. “Iya, Bel. Ada masanya aku mikir kalo hidup itu sederhana, nggak perlu terlalu banyak mikir. Tapi waktu itu, aku pernah kena badai yang lebih parah dari ini. Bukan cuma hujan, tapi juga angin yang hampir bikin aku nggak bisa pulang. Sejak itu, aku jadi belajar. Kadang, persiapan lebih adalah tanda kita menghargai diri sendiri.”
Bella pun merenung, kata-kata Alinda menggema dalam pikirannya. Ia ingat betapa seringnya ia mengambil risiko tanpa berpikir panjang, dari keputusan kecil hingga yang besar. “Jadi bukan cuma soal hujan, ya? Ini soal gimana kita menghadapi apa pun yang datang di hidup kita, Lin.”
“Persis,” Alinda menjawab dengan senyum ringan. “Kita tuh nggak bisa kontrol semua hal, Bel. Tapi, kita bisa pilih untuk siap. Itu bedanya, Bel. Sama seperti keuangan, Bel. Kita nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, punya tabungan atau asuransi itu seperti jas hujan ini—sebagai pelindungan saat badai datang.”
Bella terdiam mendengar perumpamaan itu. Ia tak pernah benar-benar memikirkan keuangannya. Uang yang diterimanya selalu habis begitu saja, tak pernah terpikir untuk menabung atau mempersiapkan sesuatu untuk masa depannya. “Kamu bener, Lin. Aku ini seperti pakai payung kecil untuk hidupku. Rasanya cukup, tapi saat badai datang, aku nggak punya apa-apa.”
Waktu terus berjalan dan hujan tak kunjung reda. Bella menyandarkan tubuhnya pada kursi halte karena merasa lelah, namun sedikit tercerahkan. Ia memikirkan berbagai keputusan dalam hidupnya yang sering kali diambil dengan tergesa-gesa. Hujan ini, meski membawa dingin dan ketidaknyamanan, telah memberinya pelajaran berharga.
Malam itu, mereka berdua menunggu hingga hujan mereda. Dalam keheningan, Bella mulai membuat janji kepada dirinya sendiri. Bukan cuma soal membawa jas hujan atau payung yang lebih kokoh, tapi juga soal bagaimana ia akan lebih menghargai persiapan dalam hidupnya. Setiap langkah yang diambilnya nanti akan lebih penuh perhitungan, karena ia tahu, badai tak pernah memilih siapa yang akan dihantam.
Keesokan harinya, Bella membawa jas hujan ke kantor. Tapi tak hanya itu, ia juga mulai memikirkan ulang cara mengatur keuangannya. Ia membuka rekening tabungan baru dan mulai mempertimbangkan asuransi kesehatan. Hujan deras kemarin menjadi pengingat bahwa hidup memang penuh ketidakpastian, tapi dengan persiapan, segalanya bisa dihadapi dengan lebih tenang.
Dan setiap kali hujan mulai turun, Bella selalu teringat pada momen itu, pada langkah Alinda yang tetap stabil meski badai menerjang. Ia tahu, pelajaran dari hari itu akan selalu menemani perjalanan hidupnya. Hujan, bagi Bella, tak lagi sekadar fenomena alam. Ia adalah pengingat, bahwa dalam hidup, mereka yang siaplah yang akan bertahan.
Setiap pagi, sebelum meninggalkan rumah, Bella kini mengecek ranselnya dua kali. Jas hujan dan payungnya selalu ada, tetapi lebih dari itu, ada keyakinan baru di dalam hatinya: bahwa hidup adalah rangkaian pilihan untuk siap atau pasrah. Dan ia telah memilih untuk siap.
Bella memutuskan bahwa persiapan adalah bentuk tanggung jawab. Ia melihat Alinda sebagai gambaran hidup yang dijalani dengan penuh kesadaran. Ada rasa hormat yang tumbuh, bukan hanya kepada Alinda, tetapi juga kepada dirinya sendiri, karena akhirnya ia memahami bahwa persiapan adalah tanda menghargai hidup, bukan sekadar kewaspadaan.
Ia kini tahu bahwa di balik setiap keputusan kecil yang ia ambil, tersimpan dampak besar. Dengan perlahan tapi pasti, Bella mulai membangun masa depan yang lebih aman dan terencana.
Oleh: Noviyanto Utomo (Kepala Kantor OJK Tegal)
Hemhhhhhhufth…hah…lelah sekali hari ini. Sudah delapan jam aku berdiri memasukan ratusan sepatu ke kardusnya. Alarm pabrik berbunyi keras menandakan waktu istirahat, kami berjalan keluar menuju kantin untuk makan siang.
Antrian mengambil makanan sudah mengular memanjang tak teratur. Semua lapar. Nggak pake telor yah mba, Ketika tiba giliranku, nggak tau kenapa aku alergi sama telor ayam. Badan gatal-gatal kalo makan telor ayam. Kami duduk berempat dalam satu meja, Iwan, Andi dan Bram temen satu shift ku hari ini.
Iwan membuka gosip,,,,kabarnya, mmmm, nyam….nyam sambil mengunyah telor ayam bercampur nasi plus tempe orek. Hussss makan dulu sampe habis baru ngomong. Kabarnya pabrik mau tutup, kata Iwan setelah meneguk es teh manisnya. Hahhhhhhhhhhhh……..,!!! seru kami. Bayangan jadi pengangguran melintas dalam pikiran kami. Minggu lalu bayangan itu masih samar-samar, namun cerita Iwan membuat bayangan jadi pengangguran makin jelas.
Hari demi hari berlalu, kabar PHK makin jelas seperti pengumuman naeknya cukai rokok. Penjelasan HRD, bikin kita makin panik, Kerja apa, dimana, uang kontrakan, makan apa……aaaaarrrgghhhhhhh. Pusing kepala ku. Ku jalani hari demi hari yang tersisa dipabrik dengan tanpa semangat. Hari ini masih packing ratusan pasang sepatu, mungkin ini yang terakhir karena temen temen produksi sudah di PHK duluan sekira seminggu yang lalu.
Kami yang terakhir tersisa di pabrik ini, semua kami, wajah lesu, lelah khawatir akan masa depan itulah kami sekarang. Mungkin diluar sana pun sama, sopir angkot yang selalu siap sebelum bubaran pabrik, toko kelontong yang hampir selalu dengar teriakan “filter setengah”. Semua murung, hilang asa akan masa depan.
Kringggggggggg………..suara weker tua brisik membangunkan ku. Yah sudah seminggu aku di PHK. Disinilah aku di kasur dengan sprei merah, bantal hijau kusam, kipas angin Maspion yang masih setia berputar meniup ke segala arah. Jam 10 aku baru bangun. Semalam nggak bisa tidur pusing memikirkan keadaan. Kontrakan 1 jutaan ini harus di bayar 1 minggu lagi.
Janji pesangon hanya manis di mulut HRD, nyatanya sampai hari ini kami hanya bisa mengharap. Harapan yang makin sirna, menjauh makin menjauh seiring waktu berlalu. Seteguk teh mengalir ke kerongkongan, teh yang kubuat kemaren malem. Masih bingung mau ngapain. Buka Handphone, scrolling media social, video kucing…..skip…..video pesawat jatuh….skip…..video mobil di tanjakan skip…….orang mukbang…..skip… cewek seksi joget-joget …….skip ……eh……apa nih…..ada game.
Cuma nyamain logo, puter-puter……eshhhhh…..dapet duit….Serius nih…..wah…..masak sih cuma gituh doank dapet duit. Ahhhhh bodo amat kita coba lah siapa tau bisa buat beli samsu. Donlot, install, bodo amat lanjut terus daftar, klik next, next…..sampai selesai. Coba puter-puter, yeeeeehhhh berhasil gambar koin semua, yess menang. Jam 4, berarti sudah enam jam lebih aku bermaen, yes……selalu menang. Saat nya pake uang beneran kali yah, ku transfer lah 100 ribu ke akun yang tertera di layar.
Ku pasang 5 rebu dulu, siapa tau menang kupikir, kalo kalah yah udah cuma 5 rebu juga, layar mulai berputar, menampilkan logo logo yang sama…………wooooiiiiiii menang hah…..nggak salah ini…..200 rebu aku menang. Ah aku masih nggak percaya coba kutarik ke rekeningku…..eshhhh berhasil……aku menang 200 rebu. Gila……ini nih jawaban cari duit dimana yang selalu tergiang-ngiang di kepala ku…..asyik, ku cek rekening ku …..masih ada dua juta dua ratus…..aku transfer semua…..rekening di game ku pun langsung melonjak.
5 rebu, 10 rebu, 20 rebu, 50 rebu terus ku pertaruhkan, astaga aku menang terus terus terus. Jam 1 malem, rekening game ku sudah berisi 20 juta. Gilak, 20 juta gampang banget cari uang, Ku pertaruhkan semuanya, kalo menang, euuudaannnnn bisa kayak mendadak…..permaenan berputar, jebrak…..hah….nggak salah, aku kalah……semua uangku hilang……ku tarik rambutku, ku tampar pipiku, berharap ini hanya mimpi. Menangis, mengutuk, bodo bodo……..segala sumpah serapah keluar…
Ah……penasaran, cari uang gampang…..sekelebat logo pinjol itu muncul di kepala, aku pernah pinjam di pinjol yang kutemukan dengan bantuan mbah google. Ayoh di ambil lagi kita coba lagi siapa tau menang……Heh….aku pinjam lah lagi….dahsyat dalam sekejap rekening ku berisi 5 juta. Segera ku transfer ke rekening game, semua nya kutranfer demi mendapatkan kemenangan dan menebus ke kalahkanku tadi. Terus aku bermaen, ku mulai dengan jumlah kecil 5 rebu, 10 rebu terus meningkat. Menang terus tambah terus taruhannya. Aku kaya lagi terus uang lima juta sekarang sudah 50 juta. Kupertaruhkan semua lagi………….dan terjadi lagi aku kalah, kalah sekalah kalahnya, pikiran ku buntu….aku ingat debt kolektor dari pinjol ituh, jika menagih semua anggota kebon binatang keluar dari mulut mereka. Aku lelah belum tidur….Kalo mereka datang besok menagih hutang pokoknya aku siap berkelahi……itu pikirku yang kalut.
Aku lelah, tertidur sambil memegang hp, Jam 3 sore, weker tua sialan ituh bebunyi menggangu tidurku, bertindak sendiri tanpa perintah tuk berbunyi……pikiran ku kalut, lapar, segera aku mandi dan keluar kamar. Pergi keluar berusaha mengurangi kusutnya otakku. Kontrakan belum dibayar sekarang aku lapar, tanpa sepeser uang di kantong. Bayangan debt kolektor sangar berkumis mendatangiku kos an ku mempercepat langkahku menjauh…aku hanya ingin pergi mengurai benang kusut di kepala ku.
Sudah empat jam aku keluar kos an berjalan tak tentu arah, duduk duduk di taman kota, tapi tak bisa bohong perutku yang mulai keroncongan, keringat dingin mulai menetes….Aaarrgghhhhhhhhh game sialan itu telah membuatku miskin seketika semua uangku hilang, malah punya hutang pinjol lagi. Gaji terakhir sebelum di PHK ludes semua. Kemana temen temenku yang bisa minta tolong nggak ma mereka…….Iwan, Andi Bram….
Sambil berjalan gontai…..tak tentu arah……mungkin aku harus ke arah pasar siapa ada kerjaaan yang bisa kulakukan. Mungkin sekedar gotong-gotong barang. Copet-copet…….seorang lelaki lari terengah-engah dikejar beberapa orang…si copet malah berlari ke arahku dan melemparkan dompet yang dipegangnya ke arahku. Reflek aku tangkap. Saat kecil aku senang bermaen bola dan jadi kiper. Reflekku masih bagus dan dompet itu ada di tanganku sekarang.
Tanpa ampun tanpa tanya pukulan bertubi tubi mengarah ke tubuhku, wajah, perut, kepala. Tendangan tidak lupa juga mereka lepaskan. Perut kosong kian menambah penderitaanku, aku tak kuat, jatuh kepala duluan membentur trotoar. Ah……….semua orang panik…semua menjauh.
Tubuh penuh luka itu dimasukan ke dalam ambulance yang meraung raung meminta jalan. Tempat kejadian perkara mulai sepi, beberapa orang masih membicarakan kejadian tadi, Orang yang tadi lari terengah-engah karena di kejar kejar duduk di bawah pohon mangga dengan wajah masih ketakutan, panik melihat kanan dan kiri. Bersyukur masih hidup.
Sampai rumah sakit, dokter dan perawat berusaha keras menyelamatkan pemuda dengan celana jins, kaos oblong biru yang bersandal swallow yang entah kemana sandal itu. Darah masih mengucur tak bisa di hentikan, wajahnya makin memutih tanda kehabisan darah.
Brahma Adityo, meninggal 31 Januari 2023……hah….itu makam ku? Iwan, Andi, Brian mengelilingi makam ku, menangis, menabur bunga. Aku hanya bisa melihat tak bisa bicara ……jadi…..jadi aku sudah mati……aku mati sehabis maen judi online semaleman…..astaga…mana ada surga untuk penjudi….

Batas waktu pengumpulan abstraksi semakin dekat. Jangan lewatkan kesempatan ini.
Oleh: Panny Malangsari Mulyadi (Bendahara Komunitas Penulis OJK)
“Mustahil orang se-kaya-raya itu jatuh miskin di usia senja. Mustahil anak-anak dan kerabatnya yang terpandang bertindak acuh dan tidak peduli nasib orang tua dan keluarga yang terpuruk. Mustahil gosip tetangga tentang keluarga paling terpandang se-jagad kampung yang jatuh miskin itu benar”, gumamku dalam hati.
Sepulang kerja di malam yang gerimis itu, aku melihat keriuhan orang-orang yang berkumpul di depan pagar rumah Pak Bina, orang terkaya di kampung kami, seorang pensiunan pejabat dan pengusaha sukses, memiliki pendidikan paling tinggi, gelar akademik paling banyak, dengan anak-anak yang juga tidak kalah berpendidikan. Orang-orang yang berkumpul itu bukan saja warga kampung, tapi juga ada banyak di antaranya membawa kamera seperti wartawan, dan juga aparat kepolisian. Keriuhan orang sampai membuat macet jalan menuju rumah, jalan di kampung yang biasanya sepi dan hanya diisi suara jangkrik.
Karena penasaran, akupun menghentikan motorku sejenak dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Aku bertanya kepada orang yang membawa kamera yang aku duga wartawan untuk menghindari spekulasi informasi. Ternyata dugaanku benar, dia adalah salah satu jurnalis dari media yang terkenal bernama Andi yang beritanya setiap hari menjadi konsumsiku. Betapa terkejutnya aku ketika dia mengatakan bahwa di rumah itu terdapat penggerebekan bandar judi online dan bandar narkoba terbesar di negeri ini dan diduga dioperasikan oleh pemilik rumah. Tak berselang lama, aku melihat Pak Bina keluar dari rumahnya dengan tangan diborgol bersama beberapa orang yang kami kenal sebagai mitra bisnis Pak Bina. Tidak ada guratan wajah kriminal dari orang-orang yang ditangkap Polisi itu. Semuanya tampak bersahaja dan penuh dengan intelektualitas. “Ah, mungkin ini baru tahap dugaan”, pikirku.
Di tengah malam yang semakin gelap dan hujan yang semakin deras, akupun memutuskan untuk pulang ke rumah yang jaraknya hanya sekitar 700 meter dari rumah Pak Bina. Setelah sampai rumahpun rasa penasaranku masih tertinggal dengan pertanyaan-pertanyaan seputar alasan mengapa Pak Bina sampai menjadi bandar judi online dan bandar narkoba. Sementara hidup yang dijalani Pak Bina merupakan gambaran hidup yang sempurna di dunia dan menjadi idaman semua orang. Dengan gelimang harta, tahta, anak-anak yang berhasil, menjadikan masa pensiun Pak Bina sangat cerah dan orang kampung selalu menyebut harta Pak Bina tidak akan habis 7 turunan. “Tapi ah sudahlah mungkin ada alasan lain yang membuat beliau nekat seperti itu dan kita tidak akan pernah tahu tingkat kebutuhan dan keinginan orang lain”, gumamku.
Keesokan malamnya, aku yang menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Desa dipanggil Pak RW untuk membahas hasil investigasi polisi atas kasus Pak Bina. “Nak Adam, maaf memanggil malam-malam karena ada hal yang ingin saya bahas dengan Nak Adam selaku Ketua Karang Taruna terkait kasus yang menjerat Pak Bina. Ini saya sampaikan sebagai pembelajaran kaum muda di Desa kita dengan contoh nyata atas pengelolaan keuangan yang salah di masa produktif”, Pak RW membuka pembicaraan.
“Dari apa yang Bapak ketahui, keluarga Pak Bina merupakan keluarga yang sangat terpandang bahkan orang tua beliau merupakan Saudagar yang sangat kaya raya. Belum lagi anak keturunannya juga banyak yang menjadi pejabat pemerintahan, salah satunya Pak Bina. Namun ternyata benar kata pepatah, jangan menilai seseorang dari bungkusnya yaitu jabatan, harta, dan semua yang tampak dari luar. Pak Bina bisa senekat itu menjalankan aktivitas ilegal karena terlilit hutang akibat kalah bermain judi. Pak Bina menjadi gelap mata karena aset yang menjadi warisan yang ada di luar kota sudah habis terjual untuk membayar hutang. Karena keinginan Pak Bina untuk bertanggung jawab atas tindakannya dan untuk menebus rasa bersalahnya kepada keluarga, 5 tahun lalu Pak Bina menjual tanah dan sawah yang ada di Desa tetangga untuk modal bisnis ilegal yaitu menjadi bandar judi online dan bandar narkoba yang menawarkan keuntungan sangat besar dengan perputaran uang sangat cepat. Setelah mendapat keuntungan, Pak Bina malah menggunakan uang yang didapat untuk bermain judi di luar negeri dan membeli barang-barang konsumtif. Sejak Pak Bina gemar berjudi, keluarganya sudah meninggalkan beliau karena jengah dan tidak mau terlibat atas tindakan ilegalnya. Polisi pun sudah menyelidiki aktivitas ilegal di rumah Pak Bina 3 tahun belakangan ini dan setelah bukti cukup, dilakukan penggerebekan. Bapak harap hal ini menjadi pembelajaran kita semua atas bahaya judi terhadap masa depan dan masa tua kita”, sambung Pak RW.
Berita terkait Pak Bina menjadi topik yang hangat, tidak hanya dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat Desa, tapi juga di media cetak, online, dan pemberitaan di televisi. Bagaimana tidak, di sebuah Desa yang jauh dari hingar bingar kehidupan hedonisme dan tanpa gemerlap lampu di malam hari, bersarang bandar judi online sekaligus bandar narkoba terbesar di negeri ini. Bak pepatah anak muda masa kini “mau heran tapi nyata”, sangat tepat menggambarkan kondisi Desa yang jarang orang tahu bahkan mungkin berpikir Desa kami ada di luar peta.
Hari demi hari terus berlalu dan garis Polisi masih melintang di rumah Pak Bina. Tak satu orang keluarga pun tampak berkunjung ke rumah itu meskipun hanya sekedar memastikan keadaan rumah, kecuali pihak bank yang beberapa kali berkunjung sekaligus bertanya kepada warga sekitar terkait Pak Bina dan keluarganya. Pihak bank berujar bahwa Pak Bina memiliki hutang Rp500 miliar dengan jaminan rumah yang menjadi TKP. Karena pinjamannya sudah macet, kemungkinan pihak bank akan melakukan penyitaan rumah tersebut.
Memoriku lantas berkelana ke saat-saat Pak Bina digerebek, tidak ada satu orang pun keluarganya yang mendampingi, hanya tampak beberapa orang ART yang keluar dari rumah tersebut yang turut serta diborgol. Ucapan Pak RW mungkin benar bahwa keluarga Pak Bina sudah enggan berhubungan dengan beliau apalagi dengan status beliau sebagai pelaku kejahatan. Dan judi adalah awal menuju pusaran kejahatan yang tiada akhir yang bisa merusak hubungan keluarga, pertemanan, bahkan masa depan.
Berselang tiga bulan, hari keputusan Pengadilan pun tiba. Seluruh warga Desa menyaksikan meskipun tengah sibuk di sawah karena bulan ini masuk masa tanam. “Tok”, Hakim memutuskan Pak Bina mendapat hukuman seumur hidup dan denda sebesar Rp300 miliar. Putusan tersebut lebih ringan dibanding tuntutan Jaksa yaitu hukuman mati karena Pak Bina dikenakan pasal berlapis. Pak Bina langsung diboyong ke Nusa Kambangan, ke suatu lokasi Lapas yang sangat ditakuti Narapidana dengan tingkat pengamanan yang sangat ketat. Semua warga Desa yang menyaksikan menangis karena tidak menyangka orang sebaik Pak Bina yang layak untuk dikagumi dan dijadikan sebagai Tokoh Panutan bisa tergelincir oleh judi. Pak RW pun berinisiatif untuk mengunjungi Pak Bina pada hari Minggu dengan mengajak aku dan meminta warga untuk membuat berbagai panganan yang disukai beliau.
Perjalanan ke Nusa Kambangan dari Desa kami ditempuh dalam waktu 7 jam dan beberapa kali kami harus melewati pos-pos pemeriksaan. Sesampainya di Lapas, kami hanya diizinkan berkomunikasi singkat dengan Pak Bina selama 15 menit. Kulihat Pak Bina yang ada di hadapanku berbeda dengan Pak Bina yang kukenal 3 bulan lalu. Badannya kurus, kulitnya kering bersisik, rambutnya tidak terawat dengan tatapan kosong, seolah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari kehidupan ini. Pak RW yang kukenal sebagai seorang yang bijaksana terus menyemangati Pak Bina untuk tetap optimis dan positif menjalani hidup, meskipun tiada dukungan keluarga apalagi harta benda yang selama ini menjadi aksesoris yang menghiasi status sosial Pak Bina.
Tak kusangka, Pak Bina kemudian berpesan kepada kami “hindarilah judi sejauh mungkin. Jangan coba-coba, jangan penasaran, dan jangan terpengaruh ajakan teman atau orang lain untuk bermain judi. Karena judi adalah media untuk mengantarkan manusia kepada sifat tamak, sombong, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, meskipun harus ditempuh dengan melanggar norma agama dan sosial. Jangan sampai ada orang lain seperti saya, menjalani masa senja dengan kelabu yaitu menjalani usia senja dengan keterpurukan, ketidakjelasan tujuan hidup, kahilangan keluarga, kehilangan harta benda, kehilangan akses keuangan termasuk asuransi dan dana pensiun, tidak meninggalkan warisan kepada anak cucu meskipun warisan akan perilaku berakhlak, serta penyesalan yang terus membayangi sampai ke liang lahat”.
Oleh: Mohammad Amin (Ketua Komunitas Penulis OJK)
Tulisan ini telah dterbitkan di Majalah Integrasi Edisi Februari 2025
Dalam berbagai kesempatan, saya sering mengajak rekan rekan insan OJK untuk menjadi anggota Komunitas Penulis. Fakta yang menarik, tidak sedikit insan OJK yang tidak mau menjadi anggota Komunitas Penulis OJK karena takut kalau diminta untuk membuat tulisan.
Merespon hal tersebut, saya selalu bilang bahwa di Komunitas Penulis ini kita dapat bersama-sama belajar menulis. Tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar praktik menulis memalui Klinik Menulis yang disediakan oleh Komunitas Penulis OJK.
Menulis memang tidak mudah. Banyak aspek teknis dan non teknis yang menjadi penghalang bagi seseorang untuk menghasilkan tulisan.
Aspek Non Teknis
Dari sekian banyak penghalang, aspek utama yang menjadi faktor penentu adalah semangat menulis. Seringkali seseorang memiliki banyak gagasan, cerita dan bahan untuk dituangkan dalam tulisan. Namun, karena tidak memiliki semangat yang cukup, tulisan hanya menjadi angan-angan. Kesibukan yang akhirnya menjadi dalih bagi seseorang untuk memaklumi kegagalan menghasilkan tulisan.
Dalam konteks ini, seseorang harus dapat memotivasi dirinya sendiri untuk menulis. Alam fikiran diberikan stimulus bahwa menulis merupakan kebutuhan ruhani. Menulis merupakan sarana healing yang cerdas dan bermartabat. Menulis merupakan cara kita untuk berkontribusi bagi kemajuan peradaban. Menulis merupakan sarana healing yang cerdas dan bermartabat. Dan lain sebagainya.
Aspek Teknis
Sedangkan dari aspek teknis, aspek utama yang menjadi faktor penentu adalah kemampuan dalam menggali ide cerita/ide tulisan dan menyajikannya dalam sebuah skema tulisan yang sistematis.
Ide cerita sangat berpengaruh terhadap daya tarik sebuah tulisan. Meminjam istilah dalam Ilmu Ekonomi, ide cerita merupakan “syarat perlu (necessary condition)” bagi sebuah tulisan yang berkelas. Apabila ide cerita yang disampaikan merupakan gagasan baru atau gagasan yang belum pernah diperbincangkan, masyarakat akan cenderung mengapresiasi tulisan tersebut.
Menemukan ide baru ini yang seringkali menjadi pekerjaan rumah bagi para penulis pemula. Cara mudah untuk menemukan ide baru ini adalah menggunakan cara berfikir yang tidak biasa. Kalau menggunakan cara berfikir yang biasa, gagasan yang kita sampaikan kemungkinan besar akan biasa-biasa saja. Sebagai contoh, gagasan bank sampah merupakan hasil dari cara berfikir yang tidak biasa. Pada awal kemunculannya, tulisan mengenai bank sampah sangat menarik untuk dibaca dan dieksplorasi oleh publik.
Menggali ide cerita ini sangat erat kaitannya dengan pengalaman, informasi, diskusi dan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang digeluti sehari-hari. Semakin banyak bacaan seseorang, semakin tinggi Pendidikan seseorang, semakin rajin berdiskusi, semakin cepat membangun nalar kritis untuk menemukan gagasan baru.
Namun demikian, menemukan gagasan baru saja tidak cukup. Kebutuhan lanjutannya adalah menyajikan gagasan tersebut secara menarik dan sistematis. Teknik penyajian ini sangat berpengaruh terhadap sampai atau tidaknya pesan yang ingin disampaikan penulis. Penyajian yang baik akan memudahkan pembaca untuk memahami gagasan yang disampaikan. Selain itu, Jika seseorang ingin tulisannya diterbitkan di media massa, penyajian ini juga terkait dengan persyaratan teknis dari setiap media massa. Kalau ide cerita merupakan syarat perlu, teknik penyajian ini merupakan syarat cukup (sufficient condition).
Sebagai gambaran, tulisan yang menarik cenderung ringkas dan bernas. Ringkas artinya penggunaan kalimat secara efisien dan tidak bertele-tele. Sedangkan bernas artinya tulisan penuh berisi dengan gagasan baru dan argumentasi pendukungnya.
Kalau saat ini kita masih kesulitan dalam mengatasi kedua hal tersebut, jangan patah arang. Kata kunci untuk mengatasinya adalah terus mencoba. Kemampuan menulis akan semakin matang dengan praktik membuat tulisan sampai selesai. Kalau kita selalu menyerah pada saat baru menulis beberapa paragraf, selamanya kita tidak akan pernah dapat menghasilkan sebuah tulisan.
Banyak orang menyerah karena terjebak dalam kekhawatiran terhadap kualitas tulisannya. Padahal kita selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki kualiats tulisan dalam proses penyuntingan naskah. Jadi, tulis saja apa yang ada dalam fikiran. Selamat mencoba!