Oleh: Naura H. Ainayyah
Gadis itu membuka sepatu putih yang melindungi kakinya satu per satu. Sambil berjinjit, ia meletakkan sepasang sepatu itu ke rak plastik yang ada di samping pintu masuk rumahnya. Dari membuka pagar sampai masuk ke dalam rumah, ia lakukan tanpa suara. Bahkan kumpulan gantungan kunci pada tas ransel besar yang biasanya berbunyi di gendongannya hari ini tak bersuara sama sekali. Rasanya satu-satunya suara yang ada berasal dari jantungnya yang berdegup kencang.
Si gadis menatap pintu cokelat yang dihiasi puluhan stiker tumpang tindih dengan gambar yang sudah luntur. Stiker pada pintu itu beragam; entah stiker klub sekolah, kartun dari hadiah majalah, perkumpulan warga, sampai stiker dealer motor. Kebanyakan stiker itu umurnya bahkan tak jauh dari umur si gadis.
Samar-samar, si gadis bisa melihat punggung Ayahnya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Beliau duduk bersila dia atas sajadah. Si gadis akhirnya memutuskan untuk meletakkan tasnya ke kamar, mengambil handuk, lalu ke kamar mandi. Perjalanan panjang dari kampus ke rumah membuatnya kegerahan.
Selang beberapa saat, si gadis sudah keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju kamarnya sambal menggosok-gosok rambut sebahunya yang basah dengan handuk kecil berwarna putih.
“Nduk…” suara Ayahnya membuatnya terkesiap. Ia memang menunggu Ayahnya selesai mengaji untuk membicarakan sesuatu, tapi ternyata masih tidak siap untuk berbicara dengan Ayahnya. “Kamu sudah pulang? Ayah, kok, ndak denger.”
“Oh iya, tadi Ayah lagi ngaji. Jadi, Nining langsung masuk.”
Ayah Nining mengangguk. Lelaki paruh baya itu sudah mengenakan setelan kerjanya; jaket berwarna hijau, celana panjang, dan kaus kaki tebal. Tak lupa pula dilengkapi hasduk berwarna hitam garis merah yang melingkar di leher. “Kamu sudah ndak kemana-mana kan, nduk? Ayah mau narik lagi. Adikmu mungkin pulang ngaji sebentar lagi.”
Ayahnya beranjak dari sofa ruang tamu yang entah apakah masih bisa disebut ruang tamu. Ukurannya tak seberapa, hanya 2×3 meter dengan satu set sofa kayu yang sudah reyot. Sofa berlapis ambal hijau itu bercorak bunga yang sudah tidak lagi terlihat jelas gambarnya. Bahkan busa didalamnya pun sudah menghilang. Berlama-lama duduk di sofa itu justru membuat badan sakit.
Nining menimbang-nimbang dengan cepat, lalu memutuskan untuk menahan Ayahnya sebentar. “Ayah.” Nining menggigit bibirnya, jantungnya berdegup cepat. “Ada yang ingin Nining bicarakan. Boleh, Yah?”
Nining bisa melihat sorot mata Ayahnya yang terlihat awas. Tentu saja Ayahnya tahu kalau ini bukan obrolan biasa. Pasti ada hal penting karena Nining menahannya pergi.
“Ya, boleh saja.” Lelaki itu mengurungkan niatnya untuk meraih sepatu hitam di dekat pintu, kemudian kembali duduk. “Sini, Ning. Mau bicara apa?”
Nining duduk di depan Ayahnya. Kepalanya tertunduk, sedangkan tangannya masih menggosok-gosong kepala dengan handuk tanpa arah. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia juga bingung bagaimana harus mulai menceritakan permasalahannya.
“Yah, Nining minta maaf banget. Nining salah,” ucap Nining hampir berbisik. Suaranya parau. Entah kenapa, bulir-bulir keringat membasahi dahinya, padahal ia baru saja mandi.
Ayahnya mengernyit, bingung melihat putrinya. Meski belum tahu kesalahan apa yang dilakukan anaknya, lelaki itu langsung merasa kasihan. Nining anak sulung, ia punya satu orang adik laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Ia sangat mandiri meskipun tumbuh tanpa sesosok Ibu—Ibunya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Sampai sekarang, Nining sangat telaten mengurus dirinya sendiri dan juga adiknya. Ayahnya selama ini merasa sangat bersyukur karena memiliki dua anak yang sangat baik. Melihat putri semata wayangnya terlihat kalut, ia sudah pasti ikut bersedih.
“Kenapa, nduk?”
“Nining… Nining ngilangin uang kas himpunan.” Nining tercekat, air mata sudah memupuk di matanya.
“Hilang gimana? Berapa, nak?”
Nining meletakkan handuk putih di atas pangkuannya. Ia melirik Ayahnya yang terlihat sangat kaget. Kulit yang terbakar dan garis-garis pada wajah Ayahnya membuat beliau terlihat lebih tua dan letih. Nining tidak tega, namun ia juga kebingungan mencari jalan keluar.
“Hilang, Yah. Ludes uangnya. Lima juta, Yah.” Nining menjawab terpatah-patah.
“Ya Allah, astaghfirullah.” Ayah Nining terpaku. Ia menatap anaknya yang kini menangis sesengukan. Gadis itu membenamkan wajahnya pada telapak tangannya yang kecil dan kurus. “Gimana… gimana bisa, nak?” Ayahnya kini duduk di samping Nining. Ia merangkul pundak putrinya yang bergetar karena menangis.
Sambil terisak, Nining berusaha untuk menjelaskan. “Temanku si Pipit, Yah, katanya dia sudah jago soal saham. Dia bilang bisa titip uang ke dia, nanti bisa untung. Katanya gak akan rugi. Jadi Nining titip uang tabungan dan uang kas supaya lebih dapat untung. Sekarang dia bilang sahamnya anjlok, uangnya hilang, Yah. Uang kasnya lima juta, Yah.”
Nining terus meminta maaf, sedangkan Ayahnya terpaku. Uang lima juta bersama uang tabungan Nining yang entah berapa banyaknya hilang sudah. Ia tak tahu bagaimana cara kerja saham, yang pasti ia tahu ia tidak punya uang sebanyak itu untuk mengganti.
***
Lukman terpaku dengan ponsel di genggamannya. Layar ponsel itu retak, namun tidak begitu parah sehingga masih bisa dipakai. Kecepatan mesinnya juga masih terjaga di umur yang ketiga tahun, jadi ia bisa menyelesaikan pekerjaannya sebagai driver ojek online dengan baik.
Mata Lukman menatap lurus layar ponselnya yang menunjukkan saldo pada aplikasi mobile banking. Lukman menghela nafas. Tidak cukup untuk mengganti uang kas Nining, pikirnya. Ia keluar dari aplikasi bank lalu beralih ke aplikasi yang baru saja ia unduh; aplikasi pinjaman online. Ia diminta untuk mendaftarkan diri dan memasukkan datanya terlebih dahulu.
Lukman tidak bergerak. Ia masih menimbang-nimbang. Teringat ucapan temannya, Surya, yang mengenalkannya pada aplikasi ini.
“Gak usah dikembalikan uangnya, Man. Kata Pak Menteri, kalau aplikasinya illegal, uangnya boleh gak diganti. Palingan pusing-pusing sedikit karena diteror terus. Tapi ya sudah, kamu tinggal ganti nomor saja,” ucap Surya sambil terkekeh. Lukman sendiri hanya mengangguk meskipun tak paham cara kerja pinjaman online.
Deru mobil dan motor yang beradu di jalan, serta lalu-lalang orang-orang dengan berbagai urusannya, tidak membuat Lukman ingin beranjak. Ia masih duduk di trotoar, bernaung di bawah pohon yang rimbun dengan motor merah yang menjadi sahabat karibnya.
Senja mulai merambat di langit Jakarta ketika Lukman menghela nafas panjang. Getar ponselnya yang kesekian kali ia abaikan. Matanya menerawang ke arah langit yang mulai memerah, seolah memantulkan gejolak batinnya. Dia bangkit dari trotoar tempatnya termenung.
Puas bergumul dengan pikirannya, kali ini ia menatap ponselnya yang bergetar. Ada notifikasi dari aplikasi ojek online; orderan masuk yang bisa diambil sebelum maghrib tiba. “Mungkin bukan nominal uangnya yang penting, tapi bagaimana cara mendapatkannya,” bisiknya pada diri sendiri kemudian berjalan menghampiri motornya yang teronggok seolah menatapnya dalam diam.
***
Tidak biasanya gang anggrek ramai oleh warga, terutama di waktu maghrib menuju isya. Pelan-pelan Lukman mengendarai motornya menyusuri gang sambil mengangguk pelan setiap bertatapan dengan orang-orang disana.
Semakin ke dalam gang, ia merasa ada yang tidak beres. Para warga berkumpul sambil berbisik dan wajah mereka terlihat cemas. Lukman ingin bertanya, namun ia khawatir akan membuat kemacetan bagi pengendara motor lain jika berhenti karena gang itu cukup sempit.
Sampai di ujung gang dengan jalan yang lebih lebar di pinggir lapangan bola warga, Lukman melihat Surya sedang ikut berkumpul bersama warga. Mata mereka bertemu. “Heh, Lukman! Lukman, sini!” desis Surya.
Lukman memarkirkan motornya di bawah sebuah pohon kemudian bergegas menghampiri Surya. “Ada apa, Sur?”
“Itu, Man, Pak Rusdi! Ya Allah, Man… Man.” Wajah Surya terlihat kalut.
Pak Rusdi adalah salah satu tetangga Lukman dan Surya, hanya selang sekitar lima rumah. Lukman baru saja bertemu Rusdi pagi tadi, saat itu Rusdi sedang menyapu daun-daun kering di halaman rumahnya.
“Kenapa Pak Rusdi, Sur?” tanya Lukman tak sabar.
Surya menggelengkan kepalanya, seolah berusaha membuang isi pikiran di kepalanya. “Pak Rusdi minum karbol! Barusan sudah dijemput dengan ambulance. Aduh, Man, gak nyangka.”
Usut punya usut, Pak Rusdi berutang di sebuah aplikasi pinjaman online. Entah untuk apa dan berapa nominalnya, namun Pak Rusdi sudah tidak sanggup membayar pinjaman beserta bunganya. Debt collector pun sudah berkali-kali menghampiri rumah Pak Rusdi, sepertinya beliau tertekan dengan keadaan tersebut hingga nekat menenggak karbol.
***
Lukman mematikan mesin motornya, kemudian merogoh kunci rumah yang ada di sakunya. Ia membuka pintu pelan-pelan, khawatir membangunkan dua anaknya yang pasti sudah tertidur.
Sambil menghela nafas, ia melempar tubuhnya ke sofa hijau reyot sambil sedikit meringis; lupa kalau sofa tua itu sudah tak empuk lagi. Ia mengambil ponsel dari sakunya, kemudian membuka kembali aplikasi yang sudah ia unduh sejak siang tadi. Ia menatap ponselnya dengan nanar; tangisan Nining dan raut frustasi Surya memenuhi pikirannya. Lagi-lagi ia berdebat dengan pikirannya sendiri; apakah aplikasi ini akan menjadi jalan keluar atau justru membuat nasibnya seperti tetangganya.
“Ayah,” terdengar suara Nining bersamaan dengan derit pintu. “Baru pulang, Yah?”
“Ya, nduk.” Lukman menoleh pada Nining yang mengintip dari pintu kamarnya. “Kamu tidur lagi saja. Ayah tadi mengobrol dengan tetangga.”
“Ayah sudah dengar tentang Pak Rusdi?”
“Sudah.” Sesaat keheningan menghampiri mereka berdua. “Tidur lagi, nduk.”
“Iya, Ayah.” Nining masuk lagi ke kamarnya dengan ragu.
Lagi-lagi Lukman menghela nafas. Ia kembali menatap ponselnya. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Lukman memutuskan untuk menghapus aplikasi itu dari ponselnya.
Ia memejamkan mata. Termenung di bawah lampu kuning remang-remang, merasa sangat kalut.