Oleh : Imansyah
Co Founder KPOJK

Ramadhan telah lampau dan Hari Raya Idul Fitri 1446H boleh dirayakan semarak. 30 hari yang penuh dengan latihan ujian untuk lebih sabar dan ikhlas pun sudah lewat. Hari ini bahkan sudah ada yang selesai dengan puasa Syawal. Bijak untuk tidak jadi terlena, karena kelulusan dan nilainya akan ditentukan selama 11 bulan mendatang. Fastabiqulkhoirot bolehlah menjadi sedikit modal awal untuk mengaktualisasikan hasil-hasil setelah sebulan berpuasa.

Terlenakah? Pasca Ramadhan, rutinitas keseharian tidak pelak akan mengusung Kembali kesibukan tiada akhir. Ini sejatinya tidak boleh berujung kehancuran. Tapi manusia datang silih berganti, belajar, bersekolah, mencari ilmu, menjadi sarjana, doktor bahkan professor. Diraihnya pun tidak hanya di tanah sendiri tapi hingga ke negeri seberang. Tapi al-khoirot (kebaikan) sering terabaikan. Manfaat acap terganti dengan fasad yang dipenuhi hasad.

Boleh nyata saat ini bila kaum terpelajar senang bekerja sama dengan para rente, pemburu uang. Padahal uang adalah kerak materialisme yang suatu saat pasti ditinggalkan. Mereka sibuk berebut panggung kekuasaan. Ketika dicapai, dada membusung dan kepala membengkak. Bercerita kemana-mana hal kesuksesan. Meneriakkan banyak cerita khayalan tiada akhir di atas hamparan dunia yang fana dan penuh kebodohan. Padahal dunia itu akar katanya ‘dana” yang artinya kehinaan. Jadi tiada arti bila berjuang raih dunia itu yang esensinya hanya hina.

Sungguh miris sebab tiada paham, kapan pemutus kenikmatan hadir menjemput. Manusia siapapun dia segera menuju tahap lanjutan dalam hidup. Ajal menjemput, likulli ummat ajal”, “laa yastakhiruuna saa’atan wa laa yastqdimuun. Presisi waktunya. Tiada sela maju dan mundur. Saat itu, hampir seluruh barang-barang dan sukses yang dikumpulkan, yang dibayar dengan perebutan, pertengkaran, saling menghina, saling menjatuhkan diantara sesama akan ditinggalkan.

Ada cendekia yang menyampaikan bila ingin akhir hayat ditutup dengan baik, maka istiqomah-lah, konsisten beramal baik dan jaga niat langkah selalu menuju kebaikan. Alah bisa karena biasa. Tapi dengan fenomena para rente dunia yang berliput fasad dan hasad, nir manfaat dan nir maslahat, meski sudah berniat diri menjadi baik, kepada diri sendiri ada asa bila bersua ajal kelak ingin jadi hantu. Hantu, genderuwo, kuntilanak atau apapun jenisnya tidak kasat mata tapi pasti menakutkan bila tampak dihadapan.

Karena menakutkan, saat jadi hantu ingin rasanya bisa datang ke kamar-kamar pribadi para duniawan. Ingin subversif hadir dalam mimpi mereka tiada berbilang. Ingin berujar, yang baik amalnya saja bisa jadi hantu, apalagi yang tidak. Mengingatkan bahwa semua amal pasti dipertanggungjawabkan, pasti ditanya dulu oleh 2 malaikat Munkar dan Nakir saat pengantar baru beranjak dari liang lahat.

Kalau masih tidak mempan, karena hantu, ingin juga bisa menabur ulat bulu dalam sepatu, baju, celana para rente dunia, Jadi saat mau pidato atau memimpin sidang selalu kegatalan, jadi tidak pernah sukses dengan rencana busuknya. Boleh juga menampakan wujud hantu yang horor agar ketakutan dan jadi gagal memutuskan kebijakan yang penuh mudharat.

Ini hikmah untuk saling mengingatkan, watawa sau bil-haqqi karena jangan pernah berpikir bahwa hidup hanya sekali. Yakinkan diri bahwa setelah mati, kita akan dihidupkan lagi. Perbanyak kebaikan dan istiqomah agar menjadi insan yang tenang, muthmainah, karena inilah tingkat manusia yang kelak dipanggil kembali ke surga.
Semoga.
Wallaahu a’lam bissawab.

Okayama, 10 April 2025

*) Pandangan pribadi, diambil dari beberapa sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window