Oleh: Riani Sagita

Kelompok Spesialis Layanan Digital Keamanan Siber

(Artikel ini telah diterbitkan di Majalah Integrasi Edisi Agustus 2025)

Tahun 2025, dunia lagi banyak ketidakpastian—terutama soal ekonomi. Di tengah kondisi itu, muncul istilah baru di dunia lifestyle: YONO alias You Only Need One.

Jadi, apa sih YONO itu?

Singkatnya, ini adalah gaya hidup yang mengajak kita untuk membeli barang secara lebih sadar alias mindful. Filosofinya sederhana: kita sebenarnya cuma butuh satu barang saja untuk setiap jenis.

YONO ini mirip dengan konsep frugal living yang sudah lebih dulu populer, terutama di kalangan Gen Z. Tapi, ada sedikit perbedaan—kalau frugal living fokus pada manajemen keuangan dan konsumsi yang super hati-hati, sedangkan YONO lebih menekankan pada pembelian sedikit tapi berkualitas tinggi. Jadi, beli satu tapi yang benar-benar bagus.

Meski beda nama, dua-duanya punya satu misi yang sama: hidup lebih sadar, simpel, dan nggak gampang kebawa arus konsumerisme.

Menariknya, gaya hidup YONO dan frugal living juga sejalan dengan konsep sustainable living. Intinya, kita diajak untuk berfikir dulu sebelum membeli, supaya bisa mengurangi dampak negatif kepada lingkungan.

Dengan menerapkan YONO atau frugal living, kita bisa hidup lebih hemat—tapi jangan salah, ini bukan soal pelit. Ini soal bijak dalam memilih. Beli secukupnya, tapi yang terbaik.

 

YONO: Gaya Hidup Minimalis yang Bikin Hidup Lebih Ringan

YONO, alias You Only Need One, mengajak kita untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar dibutuhkan. Bukan sekadar mengumpulkan barang karena lucu, murah, atau biar nggak ketinggalan tren. Intinya: beli karena perlu, bukan karena lapar mata.

Nah, ini  beberapa prinsip utama dari gaya hidup YONO:

  1. Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas

Daripada sering beli barang murah yang cepat rusak, mending sekalian investasi ke barang yang kualitasnya bagus dan tahan lama. Kadang kita berfikir beli murah itu hemat, padahal kalau dihitung-hitung—karena rusak terus dan harus beli lagi dan lagi—jatuhnya malah lebih boros. Dengan YONO, kita diajak untuk beli satu barang yang benar-benar oke, dan bisa dipakai bertahun-tahun.

  1. Belanja dengan Sadar dan Niat

Sebelum beli apa pun, coba deh tanya ke diri sendiri: “Aku beneran butuh ini nggak, sih?”
Dengan berfikir dua kali sebelum beli, kita bisa lebih bijak dan nggak gampang tergoda sama diskon atau FOMO. Tujuannya bukan pelit, tapi lebih ke menghargai setiap pembelian.

 

  1. Hidup Sederhana = Lebih Lega

Barang makin sedikit, otak pun jadi lebih lega. Kita jadi nggak capek ngurusin banyak barang, lebih gampang milih kalau butuh sesuatu, dan punya lebih banyak waktu untuk hal-hal yang lebih penting. Hidup minimalis itu bukan soal kekurangan, tapi soal kebebasan.

 

Frugal Living: Gaya Hidup Hemat Tapi Tetap Nyaman

Frugal living itu bukan soal hidup pelit atau nggak mau keluar uang sama sekali. Justru, ini tentang mengatur keuangan dengan bijak, supaya kita bisa tetap hidup nyaman tanpa harus boros.

Intinya: hemat itu keren, apalagi kalau dilakukan dengan sadar dan terencana.

Nah, ini prinsip-prinsip utama dari gaya hidup frugal living:

  1. Punya Anggaran, Bukan Sekadar Tebak-tebakan

Bikin budget bulanan itu penting banget. Dengan memiliki anggaran dan mencatat pengeluaran, kita tahu ke mana saja uang kita belanjakan. Jadi bisa mengatur prioritas dan nggak kebablasan belanja.

  1. Rajin Menabung = Siap untuk Masa Depan

Nggak harus gede, tapi usahakan untuk menyisihkan uang secara rutin. Entah untuk dana darurat, liburan, atau mimpi jangka panjang. Menabung bikin hidup lebih tenang karena ada “jaring pengaman”.

  1. Belanja Berdasarkan Nilai, Bukan Nafsu

Frugal living mengajak kita untuk belanja dengan bijak—memilih barang yang awet dan benar-benar kita pakai. Hindari belanja impulsif cuma karena lagi diskon atau FOMO.

Sederhanya seperti ini:

YONO Frugal Living
Fokus ke jumlah barang – less is more Fokus ke keuangan – spend wisely
Pilih satu barang terbaik daripada banyak yang biasa aja Prioritaskan nilai jangka panjang & hindari pengeluaran nggak penting
Contoh: beli satu kaos premium yang tahan lama Contoh: masak sendiri biar hemat daripada sering jajan

 

Walaupun beda pendekatan, YONO dan frugal living punya satu benang merah yang kuat:
Sama-sama menolak mindset YOLO (You Only Live Once) yang sering jadi pembenaran buat belanja berlebihan.

Keduanya ngajak kita buat bilang “nggak dulu deh” ke pola konsumsi impulsif yang cuma bikin barang numpuk, dompet menipis, dan pikiran sumpek. Tujuan keduanya juga sejalan: Hidup lebih tenang, Bebas dari stres soal uang, Ruang lebih lega—baik di rumah maupun di kepala. Dan yang paling penting, keduanya ngajarin kita buat hidup lebih sadar—nggak asal beli, tapi mikir dulu: “Aku beneran butuh ini nggak, ya?”

Kalau kamu lagi mencari cara untuk hidup yang lebih ringan, bebas drama finansial, dan lebih selaras sama nilai-nilai pribadi, YONO atau frugal living bisa menjadi langkah awal yang pas banget.

Yuk, kita mulai pelan-pelan!

Read More →

Oleh: Dyah Mustika

(Anggota Komunitas Penulis OJK)

Tulisan ini telah diterbitkan di Majalah Srikandi Edisi 18: 2025.

Pemberitaan negatif tentang anak-anak begitu deras masuk ke dalam pikiran kita saat ini.  Sebut saja beberapa kasus seperti bullying di sekolah, anak depresi yang akhirnya bunuh diri, anak-anak yang terekspos pornografi, tawuran antar pelajar dan anak kecanduan gadget. Berita-berita tersebut setiap hari memenuhi ruang diskusi dan berseliweran di media sosial. Kata Data menggambarkan setidaknya 2% kelompok usia 15-24 tahun mengalami depresi. Remaja yang bunuh diri, berdasarkan Peneliti Badan Riset Nasional terjadi sebanyak 985 kasus atau 45% dari keseluruhan jumlah kasus. Lebih jauh lagi, Indonesia menempati peringkat keempat di global dan kedua di ASEAN dalam jumlah kasus pornografi anak di ruang digital.

Sementara, pemerintah telah mencanangkan Visi Indonesia Emas 2045, yang menggagas menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, maju, adil dan makmur pada saat peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia di tahun 2045.  Pada tahun tersebut, Indonesia akan mengalami bonus demografi yaitu jumlah penduduk 70% dalam usia produktif (15-64 tahun). Melihat pemberitaan miris tentang perilaku negative anak-anak Indonesia sekarang, pemerintah dan masyarakat perlu mengambil langkah yang proaktif dan strategis agar cita-cita Indonesia Emas tercapai.

Di tengah bisingnya kondisi di masyarakat, marilah sejenak menengok bagaimana perilaku dan sikap anak-anak kita? Apakah anak-anak kita terpapar perilaku negatif di atas? Apakah anak-anak kita gampang menyerah, sering marah atau sering berbohong, sering takut bahkan tidak terlihat semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari? Mengapa anak-anak kita harus mempunyai karakter yang tangguh dalam mencapai Indonesia Emas?

Akar penyebab terjadinya kasus-kasus di atas dapat disebabkan beberapa faktor, antara lain faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor lingkungan. Dari ketiga faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor keluarga. Mengingat keluarga adalah tempat awal anak-anak untuk tumbuh dan berkembang sejak lahir hingga dewasa. Keluarga, sebagai unit masyarakat terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, berfungsi sebagai tempat edukasi dan pewarisan tradisi. Hal ini menjadikan ayah dan ibulah yang menggariskan dan menanamkan karakter anak dari kecil hingga remaja bahkan dewasa.

Kita sadari bahwa tantangan kehidupan anak-anak zaman now dibandingkan generasi zaman dulu sangat jauh berbeda. Karakter anak-anak saat ini sangat dipengaruhi dengan teknologi karena hampir seluruh waktunya berhadapan dengan smartphone, berhadapan dengan segala sesuatu yang serba digital serta lifestyle yang serba instan. Oleh karena itu, pemahaman karakter anak sesuai zaman dan cara membangun karakter yang positif untuk menghadapi tantangan di masa depan anak menjadi pemahaman yang sangat penting bagi ayah dan ibu sebagai orang tua.

Mengenali Emosi Anak sebagai Langkah Awal Pembentukan Karakter

Karakter merupakan sifat, watak, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak yang membedakan seseorang dengan yang lain. Hubungan antara karakter dengan emosi sangat erat. Keduanya dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Emosi yang berulang, baik positif maupun negatif, dapat mempengaruhi karakter seseorang.

David R.Hawkins dalam bukunya yang berjudul “Power vs Force : An Anatomy Of Consciousness, The Hidden Determinants of Human Behavior” mengungkapkan hasil risetnya selama 20 tahun tentang tingkat kesadaran manusia. Hawkins menjelaskan suatu model yang menggambarkan level kesadaran dari tingkat terendah sampai kesadaran tingkat tertinggi. Tingkat terendah menurut Hawkins merupakan emosi-emosi negatif yaitu malu, rasa bersalah, apatis, sedih, takut, keinginan, marah, sombong, sedangkan tingkat selanjutnya merupakan emosi-emosi positif yaitu berani, yakin, optimis, penerimaan, memahami, cinta, suka cita, damai dan pencerahan.

Dr. Aishah Dahlan, doctor praktisi Neuroparenting Skill menyatakan bahwa jika kita ingin mendidik anak agar anak dapat mengendalikan emosi atau mempunyai emosi yang positif, cara pertama yang paling mudah adalah mengenali emosi yang sedang dirasakan anak. Dalam kehidupan sehari-hari sebagai contoh suatu saat kita mendapati anak sedang  mengalami kegagalan dalam suatu perlombaan, maka kita perlu pahami bahwa anak sedang mengalami emosi negatif.  Selanjutnya, agar emosi negative tersebut tidak menjadi karakter, orang tua perlu mengarahkan emosi negative tersebut berpindah ke level emosi positif seperti sikap penerimaan (acceptance) atas kegagalan tersebut. Orang tua dapat memberikan pemahaman akan artinya menang kalah dalam suatu kompetisi. Selain itu, dapat pula dilakukan dengan pendekatan religi dengan menanamkan pentingnya nilai kesabaran dan mempraktekkan sikap berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Anak yang berkarakter tangguh sesungguhnya adalah anak-anak yang mempunyai emosi di level spektrum emosi yang positif. Hal ini karena anak yang mempunyai karakter tangguh ditandai dengan kemampuan untuk bertahan, dapat pulih dari kesulitan atau tekanan, serta memiliki ketahanan mental saat mengalami situasi yang sulit. Selain itu, anak yang berkarakter tangguh mempunyai optimisme, tekun, kemampuan beradaptasi serta dapat mengendalikan diri.

Jika kita sebagai orang tua mengamati bahwa anak kita telah mempunyai emosi di level yang positif, tugas kita selanjutnya adalah menjaga agar emosi positif tersebut menjadi karakter dan tidak menurun ke level yang negatif. Hal ini mengingat emosi yang dimiliki anak sangat rentan berubah sesuai dengan lingkungan sekitarnya.

Menjadi Teladan karena Anak Belajar dari Mencontoh

Kita memahami bahwa anak-anak belajar banyak dari contoh yang mereka lihat di sekeliling mereka terutama orang tua. Anak akan meniru dari yang mereka amati.  Terlebih lagi jika anak beranjak dewasa, mereka membutuhkan role model yang mereka panuti. Mereka akan sangat mudah mematahkan perintah kita untuk berbuat suatu kebaikan ketika kita tidak melakukannya. Dapat dibayangkan situasinya ketika sang anak diminta jangan merokok oleh sang ayah yang perokok. Contoh lain, ketika kita meminta anak kita jangan pemarah, tetapi anak sering melihat sang ibu selalu marah-marah di rumah.

Orang tua terutama ibu adalah guru pertama bagi anak-anak. Tidak mudah menjadi seorang guru yang dapat diteladani. Membutuhkan kesadaran yang mendalam serta kerja sama yang sangat baik antara ayah dan ibu. Tantangan setiap keluarga berbeda, terutama jika ayah dan ibu keduanya bekerja.

Pengalaman penulis sebagai ibu bekerja, meskipun waktu bersama anak tidak bisa sepanjang hari, namun penulis selalu memberikan foto-foto kegiatan yang dilakukan penulis di grup whatsapp keluarga. Misalnya, foto ketika penulis menjadi pembicara dalam sosialisasi atau momen kegiatan gen Z insan OJK di kantor yang dapat dijadikan inspirasi bagi anak-anak penulis yang menjelang dewasa.

Posisi sebagai teladan bagi anak-anak pun ternyata tidak cukup hanya di rumah saja. Orang tua harus juga berupaya menjadi teladan yang baik di lingkungan keluarga besar, lingkungan tetangga dan institusi tempat bekerja. Sering kita dengar pemberitaan media massa mengenai pejabat publik yang melakukan korupsi, kekerasan kepada bawahan bahkan perselingkuhan. Di era keterbukaan informasi ini, tentunya anak akan mengetahui dengan mudah perilaku buruk orang tua tersebut dan berpotensi merusak karakter anak. Selain itu, emosi anak akan menjadi negatif.

Jangan Lelah, Ibu. Jangan Meninggalkan Generasi yang Lemah

Membentuk karakter anak yang tangguh bukan pekerjaan yang mudah. Membutuhkan nafas panjang dalam menghadapi tantangan yang kondisi lingkungan anak-anak yang semakin kompleks. Oleh karena itu adalah wajar ketika seorang ibu justru mengalami depresi karena menghadapi perilaku dan karakter anak-anak yang negatif dan tidak sesuai yang diharapkannya. Untuk menghindari hal tersebut, orang tua khususnya seorang ibu membutuhkan  mental habits atau kebiasaaan pola pikir yang teguh dalam menjalankan tugasnya sehari-hari dalam membentuk karakter anak.

Mental habits yang dapat dilakukan antara lain adalah menerima (acceptance) atas kondisi yang terjadi atau karakter yang dimiliki anak-anak. Acceptance juga merupakan salah satu emosi positif yang perlu ditanamkan bagi orang tua. Selanjutnya, reframing yaitu upaya mengubah pola pandang kita atas hal negatif menjadi hal yang positif. Misalnya, ketika kita lelah dan bosan terus menerus memberikan pengertian yang baik kepada anak sehingga kita mengalami putus asa dan frustasi, kita mereframing pikiran negatif tersebut bahwa frustasi yang muncul justru memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih respon yang tepat. Terakhir, kebiasaan pola pikir yang baik dilakukan adalah diam sejenak (stillness) ketika suatu saat kita mengalami yang di luar batas ketahanan kita. Sikap diam sejenak untuk menghindari sikap yang reaktif. Hal ini memberikan kesempatan bagi otak kita untuk mengeluarkan keputusan yang berdampak lebih positif.

Penutup

Anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kita sewaktu kecil. Segala dinamika kejadian yang terlihat sekarang, belum pernah terbayangkan bagi kita sebagai orang tua. Sebagai unsur masyarakat terkecil, keluarga merupakan pondasi awal dalam membangun peradaban. Kita, sebagai ibu, mendapatkan hak Istimewa (privilege) menjadu guru pertama yang mengukir karakter mereka.

Kita menyadari bahwa  membentuk anak yang berkarakter tangguh merupakan proyek yang tanpa batas waktu. Namun setiap kita, waktu demi waktu: memahami emosi, menjadi teladan, serta  terus bereksplorasi dalam pembentukan karakter anak agar menjadi tangguh, di situlah jejak abadi peninggalan kebaikan kita sebagai seorang ibu dan kontribusi kita kepada negara dalam mencapai Indonesia Emas.

Read More →

Oleh: Ananda Ramadhani H

Wakil Sekretaris Komunitas Penulis OJK

(Tulisan ini merupakan pemenang harapan ke 3 pada Lomba Menulis yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia)

“Apa jadinya jika salah satu e-wallet terbesar di Indonesia tiba-tiba bangkrut? Namun masih ada dana Anda Rp 50 juta raib— dan tidak ada yang menjamin!”

Pendahuluan

Di era ekonomi digital, dompet digital (e-wallet) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kini, masyarakat semakin akrab dengan metode pembayaran tanpa uang tunai atau dikenal cashless comunity. Fenomna tersebut bukanlah sesuatu yang lahir secara tiba-tiba. Bagaimana tidak, e-wallet tidak hanya digunakan untuk transaksi ritel, tetapi juga untuk membayar tagihan, transfer antar pengguna, bahkan sistem pembayaran gaji. Seiring dengan penetrasi internet dan smartphone yang meluas, presentasi pertumbuhan pengguna e-wallet mengalami peningkatan 92% pada tahun 2023 (Neraca, 2024). Kompas.id (2025) mengungkapkan pengguna e-wallet di Indonesia terus bertumbuh dan bahkan diprediksi menjadi nilai transaksi terbesar se-Asia Tenggara pada 2025.

Namun, di balik fenomena ini, tersimpan pertanyaan besar: sejauh mana perlindungan yang diberikan kepada dana masyarakat yang disimpan dalam dompet tak kasat mata tersebut?

Berbeda dengan simpanan di bank yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpnana (LPS) hingga jumlah tertentu. Dana yang disimpan di e-wallet tidak memiliki penjamin resmi dan legal. Jika suatu saat terjadi kegagalan sistem atau kebangkrutan penyelenggara e-wallet, dana pengguna dapat berisiko tidak kembali.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran yang semakin relevan di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap e-wallet. Kepercayaan yang dibangun melalui kenyamanan teknologi dapat runtuh dalam sekejap ketika muncul kasus kehilangan dana akibat gangguan sistem, kebangkrutan penyedia layanan, bahkan fraud. Maka dari itu, muncul urgensi untuk meninjau kembali sistem perlindungan dana pada e-wallet saat ini.

Fenomena di Indonesia

Di Indonesia, penyelenggara dompet digital diatur oleh Bank Indonesia melalui regulasi sistem pembayaran nomor Nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money) (HukumOnline, 2024). Mereka diwajibkan menyimpan dana masyarakat dalam rekening terpisah di bank dan tidak boleh mencampurkannya dengan dana operasional. Namun, tidak ada skema penjaminan jika penyelenggara mengalami kegagalan, fraud, atau risiko sistemik lainnya. Meskipun transaksi digital menawarkan kenyamanan, tingkat keamanannya belum setara dengan sistem keuangan formal, sehingga menyimpan risiko tersembunyi yang perlu diantisipasi.

Bagan 1 Alur Perlindungan Dana e-wallet saat ini

LPS, berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, hanya memiliki mandat menjamin simpanan di bank. Dana masyarakat di financial technology, termasuk e-wallet, tidak dijamin meskipun jumlahnya mencapai ratusan triliun rupiah secara agregat. Tentu hal ini menjadi kesenjangan regulasi yang cukup signifikan.

Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah memperluas cakupan LPS yang selama ini telah melindungi dana nasabah perbankan. Memastikan adanya skema penjaminan bagi e-wallet bukan hanya soal mitigasi risiko, tetapi juga tentang memperkuat fondasi kepercayaan publik terhadap sistem keuangan digital yang inklusif dan berkelanjutan.

Modus Operandi

Bagan 2 Usulan Skema Penjaminan Dana e-wallet

Untuk menerapkan skema penjaminan dana e-wallet, langkah awal adalah melakukan registrasi dan klasifikasi penyelenggara dompet digital (penyelenggara). Dalam hal ini, LPS bekerja sama dengan otoritas yang saat ini memberikan izin, yakni Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam proses ini, penyelenggara harus memenuhi kriteria kelayakan operasional, tata kelola, serta kesiapan teknis untuk memisahkan dana pengguna dan perusahaan. LPS kemudian dapat mengklasifikasikan penyelenggara berdasarkan tingkat risiko dan skala operasional untuk menentukan cakupan dan batas penjaminan dana.

Langkah berikutnya adalah penetapan batas penjaminan, serupa dengan sistem penjaminan simpanan bank. Sebagai contoh, LPS dapat menentukan batas maksimal dana pengguna yang dijamin per akun, agar skema ini tetap terukur dan berkelanjutan. Setelah itu, pemantauan dana dan pemisahan rekening menjadi hal utama. Penyelenggara wajib memisahkan dana pengguna dari dana operasional (segregated account) di bank yang ditunjuk, sehingga ketika terjadi masalah, dana nasabah tetap aman dan mudah dilacak.

LPS bersama regulator kemudian menjalankan fungsi pengawasan kepatuhan dan audit berkala terhadap penyelenggara, memastikan praktik pemisahan dana dan pelaporan berjalan sesuai ketentuan. Dalam pengawasan ini, teknologi deteksi risiko juga berperan penting untuk mengidentifikasi potensi fraud atau masalah keuangan sejak dini.

Jika terjadi kondisi luar biasa seperti gagal bayar atau kebangkrutan penyelenggara, LPS akan melanjutkan ke proses klaim dan penjaminan dana. Proses ini meliputi verifikasi data nasabah, pencocokan saldo yang layak dijamin, hingga pengembalian dana kepada pengguna melalui rekening bank atau sarana lain yang disepakati. Proses ini menjadi jaring pengaman terakhir yang melindungi masyarakat dari kerugian, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap ekosistem keuangan digital.

Urgensi Perluasan Mandat LPS terhadap dana e-wallet

Dengan penetrasi internet yang meluas dan nilai transaksi dompet digital yang kini menempati posisi tertinggi di Asia Tenggara, risiko sistemik akibat kegagalan satu penyelenggara e-wallet besar bukan lagi sebuah kemungkinan, melainkan ancaman nyata. Jika tidak ada mekanisme perlindungan yang memadai, gangguan pada satu entitas dapat memicu panic withdrawal, kepanikan publik, dan instabilitas sistem pembayaran digital secara keseluruhan. Maka dari itu, perlu adanya jaringan pengaman keuangan berupa skema penjaminan dana, seperti yang selama ini dijalankan LPS di sektor perbankan.

Perluasan mandat LPS tidak hanya berfungsi sebagai mitigasi risiko, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk memperkuat fondasi kepercayaan publik terhadap sistem transaksi digital. Kepercayaan adalah salah satu elemen kunci dalam membangun inklusi keuangan. Ketika masyarakat merasa yakin bahwa dana mereka aman meskipun berada di luar sistem perbankan, maka mereka akan lebih berani menggunakan layanan keuangan digital. Hal ini akan membuka akses lebih luas bagi segmen unbanked dan underbanked—kelompok masyarakat yang selama ini sulit dijangkau oleh lembaga keuangan formal.

Lebih jauh lagi, skema penjaminan ini juga dapat menjadi pintu masuk menuju pembentukan catatan kredit digital (digital credit trail). Perlindungan terhadap dana akan mendorong pengguna untuk lebih aktif bertransaksi secara digital. Seiring waktu, akumulasi data transaksi ini dapat membentuk riwayat keuangan yang kredibel. Dengan dukungan regulasi dan integrasi lintas otoritas, catatan tersebut dapat dimanfaatkan oleh lembaga pembiayaan sebagai dasar pemberian kredit, membuka peluang baru dalam pembiayaan berbasis data alternatif (alternative credit scoring).

Dengan demikian, penjaminan dana di e-wallet bukan hanya soal keamanan, tetapi juga berkaitan erat dengan pembangunan ekosistem transaksi digital yang inklusif, stabil, dan berkelanjutan. Perluasan mandat LPS untuk mencakup e-wallet adalah langkah strategis yang relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus investasi jangka panjang bagi arsitektur keuangan nasional.

Belajar dari Negara Lain

Beberapa negara telah lebih dulu menghadapi tantangan penjaminan dana dompet digital dan menawarkan pendekatan yang bisa menjadi rujukan bagi Indonesia. Di Amerika Serikat, misalnya, dana yang disimpan dalam dompet digital seperti PayPal tidak dijamin langsung oleh Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC). Namun, jika dana tersebut ditempatkan di bank mitra yang diasuransikan oleh FDIC, maka perlindungan hingga USD 250.000 per nasabah dapat diberikan. Model ini menunjukkan skema penjaminan tidak langsung, tetapi tetap melindungi konsumen secara efektif.

Sementara itu, di Uni Eropa, regulasi PSD2 mengkategorikan perusahaan dompet digital sebagai Electronic Money Institutions (EMI). Perusahaan wajib menyimpan dana nasabah di rekening terpisah yang tidak boleh digunakan untuk operasional. Dengan demikian, jika perusahaan mengalami kebangkrutan, dana nasabah tetap aman dan dapat dikembalikan. Meski tidak ada penjaminan langsung, skema perlindungan struktural ini memberikan keamanan bagi pengguna dompet digital.

Tantangan dalam Perluasan Mandat

Dalam upaya memperluas mandat LPS untuk mencakup penjaminan e-wallet, diperlukan koordinasi lintas sektor yang erat antara berbagai pihak terkait. Bank Indonesia sebagai pengawas sistem pembayaran, OJK yang mengawasi inovasi teknologi sektor keuangan, serta Kementerian Keuangan harus bersinergi untuk mewujudkan harmonisasi kebijakan dan melakukan revisi regulasi yang mendukung implementasi skema ini secara efektif.

Namun, perlu diwaspadai risiko moral hazard yang dapat muncul apabila penjaminan diberikan tanpa pengawasan yang ketat. Penyelenggara dompet digital dapat terdorong melakukan praktik yang sembrono atau mengambil risiko berlebihan jika merasa seluruh kerugian akan ditanggung oleh penjamin. Oleh karena itu, sistem pengawasan kepatuhan dan evaluasi risiko yang mendalam menjadi sangat krusial agar penjaminan berjalan dengan aman dan bertanggung jawab.

Selain itu, skema pendanaan penjaminan harus dirancang secara matang dengan menetapkan premi penjaminan yang adil dan proporsional bagi para penyelenggara e-wallet. Perhitungan aktuaria yang tepat dan model bisnis yang seimbang perlu dikembangkan agar skema ini tidak memberatkan pelaku usaha namun tetap menjamin keberlanjutan sistem penjaminan secara finansial.

Rekomendasi Kebijakan

Dalam rangka mengembangkan skema penjaminan dana untuk dompet digital, pemerintah bersama LPS perlu melakukan studi kelayakan yang komprehensif. Kajian ini harus mencakup analisis menyeluruh terhadap berbagai aspek, mulai dari proyeksi risiko hingga estimasi besaran dana yang perlu dijamin, agar skema yang diterapkan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Untuk itu, revisi Undang-Undang LPS dan peraturan terkait diperlukan agar penjaminan tidak hanya berlaku pada bank, tetapi juga lembaga keuangan digital yang berisiko sistemik. Selain itu, peningkatan literasi dan perlindungan konsumen harus diperkuat melalui edukasi publik agar masyarakat memahami pentingnya mekanisme penjaminan dan terhindar dari disinformasi.

Kesimpulan

Era keuangan digital menuntut respons kebijakan yang adaptif. Perlindungan terhadap dana masyarakat tidak boleh hanya berhenti pada institusi perbankan. Dompet digital sebagai alat transaksi utama masa kini, menyimpan dana masyarakat dalam skala besar dan harus memperoleh perlindungan yang setara. Perluasan mandat LPS untuk menjamin dana nasabah dompet digital adalah langkah strategis untuk memperkuat kepercayaan, memperluas inklusi keuangan, serta menjaga stabilitas dan integritas sistem keuangan nasional.

Dengan sinergi antar lembaga dan komitmen terhadap reformasi regulasi, Indonesia dapat menjadi pelopor di kawasan dalam membangun sistem penjaminan dana digital yang kuat dan terpercaya.

REFERENSI

HukumOnline. (2024). Dasar Hukum Izin E-Wallet Bank Indonesia. Diambil kembali dari https://rcs.hukumonline.com/insights/izin-ewallet-bank-indonesia?utm

Kompas.id. (2025). Penggunaan Dompet Digital Indonesia Terbesar pada 2025, Apa yang Harus Diantisipasi? . Diambil kembali dari https://www.kompas.id/artikel/penggunaan-e-wallet-indonesia-terbesar-pada-2025-apa-yang-harus-diantisipasi

Neraca, H. E. (2024). Pengguna E-Wallet Disebut Meningkat 92%. Diambil kembali dari https://www.neraca.co.id/article/196149/pengguna-e-wallet-disebut-meningkat-92

Read More →

by

Sore

Oleh: Harry Irfan

Departemen Pemeriksaan Khusus dan Pengawasan Perbankan Daerah

(Tulisan ini tela diterbitkan di Majalah Integrasi Edisi Juli 2025)

 

Film Sore: Istri dari Masa Depan dapat dikatakan sebagai salah satu film Indonesia terbaik, tidak hanya tahun ini tetapi juga dalam beberapa tahun terakhir—bahkan mungkin beberapa tahun ke depan. Jarang sekali sebuah film mampu meninggalkan kesan emosional yang begitu mendalam; selepas menonton, hati terasa hangat, ada sedikit rasa kehilangan, namun juga penuh keikhlasan. Hype dan ulasan positif yang beredar tentang film ini terasa sangat beralasan. Bahkan jika ada yang menganggapnya overrated, penulis yakin Sore layak menerima seluruh apresiasi tersebut.

Dari sisi visual, Sore mengusung konsep sederhana namun menghadirkan estetika yang kuat. Latar tempatnya minimalis, tetapi setiap adegan tampak seperti lukisan yang sarat makna. Pemilihan warna yang lembut dan pencahayaan natural semakin memperkuat kualitas visualnya. Ditambah dengan lanskap yang apik dan presisi, penonton benar-benar dimanjakan oleh setiap gambar yang tersaji.

Alur ceritanya mengalir rapi, dengan karakter yang dibangun kuat serta ritme penceritaan yang tepat sehingga durasi dua jam terasa berlalu begitu cepat. Akting para pemeran utama, Sheila Aisha dan Dion Wiyoko, terasa natural dengan chemistry yang kuat. Mereka didukung oleh aktor pendukung yang tampil solid, termasuk karakter Marko yang memberi sentuhan humor pada porsi yang tepat.

Dari aspek audio, Sore memadukan musik latar dan original soundtrack dengan sangat harmonis. Bahkan keheningan dalam beberapa adegan mampu meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagi penonton. Film ini membuktikan bahwa kekuatan sebuah cerita yang jujur dan detail yang digarap sepenuh hati dapat lebih menyentuh daripada sekadar mengejar plot twist.

Sore bukan sekadar karya sinema yang indah. Lebih dari itu, film ini mengajak penonton untuk merefleksikan cara kita memandang masa depan. Di balik alur yang hangat, terselip pesan penting: masa depan sering kali tidak berjalan sesuai rencana.

Sore menyampaikan dengan lembut bahwa masa depan penuh ketidakpastian. Mungkin tidak berkaitan secara langsung, namun jika dicermati lebih jauh, film ini juga membawa pesan agar kita belajar menata hidup dengan bijak—bukan hanya pola hidup yang sehat, tetapi juga penataan keuangan yang baik. Dengan pijakan yang kokoh, kita akan lebih siap ketika sesuatu tak berjalan sesuai harapan..

Ini bukan film tentang masa depan, tapi pengingat untuk kita agar hadir di masa sekarang. Sore bukanlah film yang berakhir ketika kredit bergulir. Justru pada saat itulah proses perenungan dimulai—mendorong kita untuk lebih hadir di masa kini, namun tetap bijak merencanakan hari esok.

Apresiasi yang tinggi patut disampaikan kepada Yandy Laurens dan seluruh tim produksi yang telah menghadirkan karya penuh makna ini. Semoga pesan yang dibawa Sore dapat menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidup yang terencana, termasuk dari sisi keuangan, akan membantu kita menghadapi hal-hal yang tidak terduga di masa depan.

Read More →

Oleh: Alya Nabila

Departemen Hukum OJK

(Cerpen ini pertama kali diterbitkan di Majalah Integrasi Edisi Juli 2025)

Sosok itu selalu datang pada jam yang sama: 17.15, duduk di bangku ketiga dari jendela, memesan kopi hitam tanpa gula. Hening. Tak melontar sepatah kata. Ia tidak pernah menatap langsung ke siapa pun, bahkan saat memesan.

Tapi aku mengingat wajahnya—bukan karena rupanya mencolok, tapi karena ketenangannya mencekam. Seperti seseorang yang telah berdamai dengan rahasia yang terlalu dalam untuk diucapkan.

Aku barista di rest area kilometer 75. Tidak ada yang istimewa dari tempat ini. Kecuali ia yang perlahan mengulik rasa penasaranku. Awalnya aku hanya mencatat pola. Rabu, selalu pakai jaket hitam, membaca koran. Tangannya bersih—terlalu bersih. Namun kukunya…kehitaman. Seperti baru mengubur sesuatu dengan tergesa.

Suatu sore, ia meninggalkan korannya. Di dalamnya ada kertas kecil—dengan torehan tulisan tangan halus:

“Sudah sampai mana kamu mencari dirimu?”

Tidak ada nama. Tidak ada maksud jelas. Tapi entah mengapa aku merasa itu ditujukan padaku.

Sejak itu, aku tertarik memperhatikannya. Mobilnya selalu sama, tapi pelat nomornya berubah. Ia pernah datang dengan mobil pelat L, lalu minggu berikutnya pelat AB. Seolah datang dari tempat yang tak tercatat.

Aku menanyakan ke petugas keamanan. Mereka mengernyit. Tak ada yang mengingat wajahnya. Tak ada yang tahu mobilnya. Seolah hanya aku yang melihatnya.

Tapi dia nyata. Aku bahkan mulai menunggu kedatangannya. Rasanya seperti menanti halaman akhir dari novel misteri yang pelan-pelan menyatu dengan hidupmu sendiri.

Hingga malam itu datang. Hujan mencakar jendela seperti ingin masuk. Jam sudah hampir pukul enam dan dia belum datang. Lalu aku melihat mobilnya, pelan-pelan parkir, tapi ia tidak turun. Kupaksa diriku menghampiri.

Namun saat aku mengetuk jendela, tidak ada siapa-siapa di dalam.

Mobil kosong. Mesin mati. Tapi kopi hangat sudah tersaji di cup holder.

Aku mundur. Detak jantungku menggila. Aku yakin dia belum sempat masuk ke dalam kafe. Bagaimana bisa kopinya sudah ada di sana?

Aku kembali ke dalam, seluruh tubuh gemetar. Tiba-tiba di atas meja langganannya, ada kertas kecil lain:

“Kamu tidak benar-benar hidup, jika kamu hanya berlalu.”

Malam itu aku tak bisa tidur. Aku menggali berita lama, berharap menemukan apa pun. Lalu manik mataku menangkapnya—foto pria itu. Korban kecelakaan lima tahun lalu di Kilometer 75. Jaket hitam. Luka bakar. Tewas seketika.

Sejak malam itu, ia tak pernah kembali. Tapi bangku ketiga dari jendela tetap aku bersihkan setiap sore. Dan kopi hitam tanpa gula tetap muncul. Entah siapa yang meletakkan. Tak ada yang mengaku.

Awalnya aku dibayangi rasa takut yang dahsyat. Ketakutan itu menggerogoti relungku—sampai rasanya susah tidur dan jantung terus berpacu tiap aku sendirian. Tapi makin lama kupikirkan, mungkin…pria tersebut bukan sekadar sosok gaib. Mungkin ia adalah bentuk teguran. Refleksi dari apa yang sudah lama kupendam. Bahwa aku telah lama menjadi hantu bagi hidupku sendiri—berjalan tanpa arah, tapi tidak hadir. Menyeduh kopi, tapi lupa bagaimana merasakan hangatnya.

Sempat terpikir untuk resign. Kabur. Mulai dari nol. Tapi setelah lama merenung, aku memutuskan bertahan. Bukan karena berani—namun karena aku ingin mencoba cara baru. Aku mulai menyapa pelanggan, mengingat nama mereka. Aku belajar mendengarkan, bukan sekadar melayani. Hidup ini bukan hanya tentang bekerja sampai lewat senja, tetapi tentang hadir sepenuhnya, bahkan di tempat paling sepi. Aku mulai hadir, bukan sekadar lewat.

Pada akhirnya aku memahami:

Hidup bukanlah soal seberapa jauh langkah menapak, melainkan seberapa utuh kau hadir di setiap persimpangan yang mengguncang jiwa.

Sebab bisa jadi, yang kau temui di tengah senja, bukan orang asing—melainkan bayangan dari dirimu sendiri, yang diam-diam menunggu untuk ditemukan, di tempat yang paling sunyi dari perhatianmu.

Read More →

Oleh: Mohammad Amin

Ketua Komunitas Penulis OJK

Lapangan Banteng selalu menjadi pilihan utama penyelenggaaan upacara OJK dalam memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Pernah sekali OJK melaksanakan upacara di Monas (entah tahun berapa). Lapangan Banteng dipilih bukan tanpa alasan. Tempat ini memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan perjuangan Republik Indonesia.

Pada peringatan Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia tahun 2025 ini, Ketua Dewan Komisioner OJK dalam amanatnya menceritakan bahwa Lapangan Banteng ini pada zaman Belanda diberi nama Waterlooplein untuk mengenang keberhasilan Belanda dalam pertempuran Waterloo. Sebagai simbol dibangun Patung Singa. Pada zaman Jepang, Patung Singa di Lapangan Banteng di hancurkan.

Pada zaman kemerdekaan, pada tahun 1963 di bangun Monumen Pembebasan Irian Barat untuk mengenang perjuangan Trikora, dan diberi nama Lapangan Banteng sebagai simbol kekuatan dan nasionalisme.

Jadi, dengan memperingati kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Banteng, insan OJK diharapkan mampu mewarisi semangat nasionalisme dan meneruskan perjuangan serta amanat para Pahlawan.

 

 

Read More →

Oleh: Annisa Ika Rahmawati & Megat Nagainaka

Tulisan ini telah dipublikasikan pertama kali di infobanknews.com, 30 Juli 2025

Perkembangan pinjaman daring (Pindar) sebagai salah satu bentuk layanan keuangan digital menjadi fenomena tersendiri di sektor keuangan nasional. Pindar telah menjadi solusi alternatif pendanaan yang menjangkau lapisan masyarakat non-bank.

Per April 2025 dari 96 penyelenggara Pindar yang berizin di OJK secara outstanding telah menyalurkan 80,9 Triliun Rupiah dengan asset total 9,69 Triliun Rupiah (OJK, 2025). Namun disisi lain, permasalahan gagal bayar di pindar masih menjadi perhatian khusus di industri ini.

Hal ini disebabkan karena proses pendanaan di Pindar secara end to end menggunakan sistem elektronik. Yaitu dari proses pendaftaran penerima dana (borrower), analisis credit, penyaluran pendanaan sampai dengan pembayaran angsuran. Sehingga Pindar sangat bergantung pada keandalan sistem credit scoring dalam menentukan keputusan pendanaan.

Secara umum Penyelenggara sudah memiliki sistem credit scoring yang cukup baik. Namun demikian masih ada beberapa area dari sistem credit scoring yang perlu ditingkatkan. Diantaranya, pertama, sistem elektronik belum dapat mengidentifikasi portfolio borrower yang macet di Perbankan dan non-bank. Kedua, sistem credit scoring yang cenderung masih sederhana. Ketiga, keterbatasan riwayat kredit formal calon borrower. Keempat, kepatuhan terhadap kemampuan membayar (repayment capacity) 

Tantangan tersebut mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menginisiasi penerapan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) pada sektor Pindar sebagaimana tertuang dalam POJK 11 Tahun 2024 (POJK SLIK). Selain itu, hal ini juga merupakan bentuk pemenuhan mandat Peta Jalan (Roadmap) P2PL 2023-2028 terkait strategi penguatan permodalan, tata kelola, manajemen risiko dan SDM.

Penerapan SLIK diharapkan dapat memperkuat tata kelola pindar melalui analisis credit scoring yang lebih akurat dan kredibel, meningkatkan disiplin kredit masyarakat, serta mencegah praktek penyalahgunaan pinjaman.

Dampak Integrasi SLIK terhadap Pindar

SLIK adalah sistem yang dikelola oleh OJK dan berfungsi menghimpun serta menyajikan informasi keuangan debitur dari berbagai lembaga jasa keuangan, baik perbankan maupun non-bank (OJK, 2024). Sistem ini menggantikan layanan BI checking yang sebelumnya dijalankan oleh Bank Indonesia.

Informasi yang disediakan dalam SLIK meliputi identitas debitur, jumlah pinjaman berjalan, riwayat pembayaran, tunggakan, hingga status kolektibilitas. SLIK memungkinkan deteksi terhadap debitur yang memiliki riwayat pembayaran buruk atau tengah memiliki banyak pinjaman di berbagai lembaga keuangan. Hal ini penting dalam menghindari praktek peminjaman berlapis yang menjadi penyebab utama terjadinya gagal bayar.

Dampak dari penerapan SLIK pada industri pindar ini membawa angin segar tersendiri buat Penyelenggara Pindar maupun Pengguna. Pertama, meningkatkan kualitas portofolio kredit. Dengan data yang akurat dan kredibel, Pindar dapat menyaring peminjam dengan risiko tinggi, sehingga menekan angka kredit bermasalah (NPL).

Kedua, menjaga keberlangsungan usaha Pindar itu sendiri. Ketika risiko kredit bisa ditekan, keberlanjutan usaha lebih terjamin karena dana yang disalurkan lebih banyak kembali dalam bentuk pembayaran tepat waktu.

Ketiga, meningkatkan kepercayaan publik dan lender terhadap pindar. Dalam beberapa tahun terakhir, maraknya pinjol ilegal dan praktik penagihan yang melanggar etika membuat reputasi industri ini menurun. Dengan pemanfaatan data SLIK, maka hanya borrower layak yang akan didanai sehingga mengurangi risiko gagal bayar dan dapat meningkat kepercayaan publik dan lender terhadap Industri Pindar.

Keempat, memperluas akses keuangan secara bertanggung jawab. Masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan bisa mengakses kredit melalui Pindar dengan perlindungan dan pengawasan yang memadai.

Bagaimana Penyelenggara Pindar Menyikapi

Pendaftaran penyelenggara Pindar sebagai Pelapor SLIK paling lambat dilakukan pada 31 Juli 2025. Adapun sejak menjadi Pelapor SLIK terdapat grace period pelaporan sampai dengan tanggal 12 pada Bulan keempat. Diharapkan Pindar memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan kelengkapan teknis yang diperlukan.

Adapun langkah yang dapat dilakukan antara lain, pertama, melakukan persiapan teknis pendukung seperti sistem, data, jaringan, perangkat komputer. Dengan infrastruktur yang siap dan memadai akan mempermudah proses transisi ke SLIK. Kedua, menyesuaikan model credit scoring dengan menambahkan komponen SLIK agar lebih prudent. Dengan penambahan model yang terintegrasi SLIK diharapkan proses analisis kredit menjadi lebih akurat dan terukur.

Ketiga, menunjuk PIC pelaporan SLIK. PIC ini tidak hanya bertanggung jawab pada masa transisi namun juga operasional kedepannya, termasuk apabila terdapat kendala terkait SLIK. Keempat, Penyelenggara agar memanfaatkan momentum menjadi pelapor SLIK, guna memperbaiki proses e-KYC yang lebih akurat, sehingga penerapan tata kelola dan manajemen risiko menjadi jauh lebih kuat.

Read More →

Panitia penyusunan Buku Kumpulan Cerpen KPOJK mengucapkan terima kasih kepada seluruh insan OJK yang telah mengirimkan naskah cerpennya. Selanjutnya naskah akan direviu oleh Tim Editor.

Tunggu info berikutnya ya…..

 

Read More →

Oleh: Gressia Melissa

Sekretaris Komunitas Penulis OJK

Departemen Pengawasan Bank Swasta

(Tulisan ini telah dipublikasikan pertama kali di Majalah Integrasi Edisi Juni 2025)

Ada kalanya saya merasa dunia ini terlalu cepat. Waktu berjalan seperti sedang dikejar sesuatu, dan kita semua terjebak dalam lomba yang tak ada garis akhirnya. Bangun pagi langsung disambut notifikasi. Belum membuka mata sepenuhnya, kepala sudah penuh dengan to-do list. Pekerjaan, balasan pesan, jadwal meeting.. semuanya berdesak-desakan, meminta perhatian kita sepanjang hari sejak pagi hingga larut.

Mungkin itu sebabnya saya jatuh cinta pada rutinitas kecil yang saya jalani hampir tiap hari: naik bajaj.

Setiap senja di perjalanan pulang dari kantor, saya menyusuri jalanan kota di atas bajaj yang berisik. Seringkali bajajnya sudah tua, bangkunya keras, dan mesinnya menderu seperti protes. Tapi di sanalah saya menemukan ruang. Ruang untuk bernapas. Untuk diam. Untuk berjeda dan menemukan ketenangan sejati, sejenak.

Dan yang membuat saya semakin terikat pada kebiasaan ini adalah para sopir bajaj itu sendiri. Mereka bukan sekadar pengemudi. Mereka adalah penjaga cerita. Mereka hidup di sela-sela era digital, dengan ritme yang berbeda.

Hampir semuanya tidak punya smartphone. Tak sedikit yang bahkan tak tahu cara mengoperasikan aplikasi transportasi. Ketika saya tanya kenapa tidak bergabung dengan ojek online agar semakin banyak peluang menarik penumpang, jawabannya hampir selalu sama:

|  “Saya nggak ngerti, Neng. Nggak bisa pakai HP.”

Mendengar itu, saya tercekat. Ada sesuatu yang menyesak di dada, sulit dijelaskan.

Saya yang terbiasa hidup dengan layar di tangan, yang bisa mengakses dunia hanya dengan koneksi internet, tiba-tiba disadarkan bahwa ada banyak orang yang hidup tanpa semua itu. Dunia ’jaman now’ yang kita jalani, yang menuntut semua orang untuk terus terkoneksi, terus responsif, terus aktif, ternyata tidak bisa diakses oleh semua orang. Ada yang tertinggal. Ada yang tidak ikut. Tapi mereka tetap hidup. Tetap bekerja. Dan mereka baik-baik saja dengan caranya sendiri. Bahkan, dalam beberapa hal, mungkin lebih hadir daripada kita.

Mereka tidak sibuk mengecek rating. Tidak cemas kalau baterai habis. Tidak merasa terputus dari dunia saat sinyal hilang. Karena dunia mereka bukan di dalam layar, melainkan di depan mata. Di tengah debu jalanan. Di percakapan ringan dengan penumpang.

Naik bajaj bersama mereka membuat saya merasa lebih terhubung, bukan secara digital sebagaimana relasi yang dihadirkan gawai. Saya bisa mendengar cerita mereka, tawa mereka, kesedihan mereka, dan harapan kecil mereka untuk hari itu, dengan emosi yang nyata tanpa emoticon. Tentang makna menjadi manusia yang tidak sibuk mengejar waktu, tapi cukup untuk merasakan sore yang perlahan meredup.

Di satu sisi jalan, saya melihat kendaraan-kendaraan modern melaju cepat: mobil listrik yang melaju dalam senyap dan pengendara ojol yang melintas dengan mata terpaut ke arah ponsel. Sisi lainnya, ada satu-dua pejalan kaki yang tak sempat menatap langit karena sibuk membalas pesan—pemandangan yang tak sepenuhnya asing karena diam-diam mencerminkan diri saya sendiri, yang tak jarang beraktivitas secara tergesa tanpa menghiraukan sekitar, nyaris seperti berjalan dalam mode autopilot.

Sementara para sopir bajaj, yang nyaris tidak punya akses terhadap teknologi canggih, justru menghadirkan interaksi yang paling manusiawi.

”  Dari mereka saya belajar: koneksi yang paling berharga tidak selalu membutuhkan jaringan.

Kadang, untuk bisa benar-benar merasakan hidup, kita harus disconnect. Menarik diri dari kebisingan digital, dari tuntutan untuk terus produktif, dari ketergantungan terhadap kecepatan. Kita butuh ruang kosong dan jeda sejenak. Karena justru dalam keheningan itulah kita bisa reconnect. Dengan dunia di sekitar. Dengan orang-orang yang hadir secara fisik. Dan dengan diri sendiri yang sering kita lupakan dalam hiruk pikuk layar dan sinyal.

Bajaj mungkin bukan kendaraan paling nyaman. Tapi ia mengantar saya ke tempat yang tak pernah dijangkau kendaraan lain: tempat di mana saya bisa berhenti sejenak dan menjadi pengingat agar tidak lupa caranya hidup pelan-pelan.

 

Read More →

by

Asuranti, Namaku

Oleh: Supriyono

Direktur Pengendalian Kualitas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun

Asuranti tersenyum melihat dirinya di cermin. Ya kini rambutnya sudah beruban. Namun wajahnya masih nampak cerah. Jejak kecantikannya masih terlihat nyata. Cermin tak pernah bohong. Ya, namanya Asuranti. Mungkin terdengar aneh di telingamu. Namanya mengandung sejarah, yang tak kalah aneh bila aku ceritakan.

Kedua orangtuanya berjodoh. Perkaranya ya asuransi. Tak terduga, tapi nyata. Berasal dari keluarga cukup berada, suatu saat mobil calon ayahnya bersenggolan dengan mobil calon ibunya. Tak sengaja. Senggolan cukup keras, membuat mobil calon ibunya tegores dalam cat pintunya. Calon ibunya marah seketika, namun calon ayahnya tenang saja. “saya yang tanggung jawab” katanya. “nona bawa saja kebengkel saja, semua saya yang tanggung”. Sang Nona terkejut sekaligus lega setengah tak percaya “apakah tuan tahu, ini mobil mahal harganya. Tuan kira betulin pintu murah harganya?”. “tidak mengapa, saya yang tanggung jawab” jawabnya mantap, toh ada asuransi, batinnya . Si Nona tersenyum lega, menggantikan raut marah wajahnya. Senyum yang menggores hati sang pria.

Dari senggolan mobil, percakapan terjalin. Saling membuka diri, menautkan hati. Bagai agen asuransi, lima kali bertemu closing akhirnya. Sang Nona memantapkan hati, bersanding dengan sang Tuan. Setahun perkawinan, lahirlah dia. DIsandangnya nama Asuranti. “kenapa abang namakan anak kita Asuranti” tanya ibunya setengah protes. “ini untuk mengenang pertemuan kita dik, waktu abang betulin mobil adik, semuanya ditanggung asuransi” ayahnya menjawab dengan senyum tipis, setengah nyengir.”begitu ya, pantas waktu itu abang tenang saja. Sampai aku pun terpesona” ibunya tertawa. Diumumkan dengan bubur merah putih, resmi sudah namanya Asuranti.

Lahirnya pun dirumah sakit VIP yang semuanya ditanggung asuransi. Ayahnya telah menyiapkan asuransi untuk sepanjang hidupnya.  Semenjak dia mampu mengingat masa kecilnya, semua ada cerita asuransinya.

“nak, tak terasa besok hari pertama sekolahmu” kata ayahnya suatu waktu. Asuransi berbinar-binar wajahnya. Membayangkan esok hari dia akan mengenakan seragam barunya. Dia masuk sekolah elit, kata neneknya. “yah kata nenek sekolah adik mahal”. “iya nak, tapi ayah sudah menyiapkan semuanya untukmu, asuransi pendidikanmu cukup untuk biaya sekolahmu” kata ayahnya. Asuransi hanya tersenyum, dia bangga punya ayah yang sadar asuransi.

Di lain waktu, Asuranti tiba tiba kaget. Di rumahnya sudah ada mobil baru. “hadiah ulang tahun 17 mu” seru ayahnya. “beneran yah? Wah terimakasih ayah” pekiknya. “ya, ayah sudah cairkan sebagian asuransi”.

Hidupnya tak pernah lepas dari asuransi, sesuai nama pemberian ayahnya. Ayah dan ibunya kini telah memasuki masa pensiun. Pensiun yang indah. Dengan anuitas asuransi yang cair tepat waktu. Damai bersama anak dan cucu. Ya, Asuranti telah memberinya tiga cucu yang lucu. Premius, Profitri, dan Paidi nama yang diberikan kakeknya. Ketiganya masa depan Asuranti. Asuranti bertekad memberinya Pendidikan terbaik, agar kelak ketiga anaknya membawa keluarga besar Asuranti mendunia.

Bercermin, Asuranti sadar, uban di kepalanya menjadi tanda bila dirinya tak lagi muda. Namun hati dan pikirannya gembira, karena telah ada ketiga anaknya yang akan meneruskan legacy keluarganya.

____

Read More →

Close Search Window