Oleh: Gressia Melissa

Sekretaris Komunitas Penulis OJK

Departemen Pengawasan Bank Swasta

(Tulisan ini telah dipublikasikan pertama kali di Majalah Integrasi Edisi Juni 2025)

Ada kalanya saya merasa dunia ini terlalu cepat. Waktu berjalan seperti sedang dikejar sesuatu, dan kita semua terjebak dalam lomba yang tak ada garis akhirnya. Bangun pagi langsung disambut notifikasi. Belum membuka mata sepenuhnya, kepala sudah penuh dengan to-do list. Pekerjaan, balasan pesan, jadwal meeting.. semuanya berdesak-desakan, meminta perhatian kita sepanjang hari sejak pagi hingga larut.

Mungkin itu sebabnya saya jatuh cinta pada rutinitas kecil yang saya jalani hampir tiap hari: naik bajaj.

Setiap senja di perjalanan pulang dari kantor, saya menyusuri jalanan kota di atas bajaj yang berisik. Seringkali bajajnya sudah tua, bangkunya keras, dan mesinnya menderu seperti protes. Tapi di sanalah saya menemukan ruang. Ruang untuk bernapas. Untuk diam. Untuk berjeda dan menemukan ketenangan sejati, sejenak.

Dan yang membuat saya semakin terikat pada kebiasaan ini adalah para sopir bajaj itu sendiri. Mereka bukan sekadar pengemudi. Mereka adalah penjaga cerita. Mereka hidup di sela-sela era digital, dengan ritme yang berbeda.

Hampir semuanya tidak punya smartphone. Tak sedikit yang bahkan tak tahu cara mengoperasikan aplikasi transportasi. Ketika saya tanya kenapa tidak bergabung dengan ojek online agar semakin banyak peluang menarik penumpang, jawabannya hampir selalu sama:

|  “Saya nggak ngerti, Neng. Nggak bisa pakai HP.”

Mendengar itu, saya tercekat. Ada sesuatu yang menyesak di dada, sulit dijelaskan.

Saya yang terbiasa hidup dengan layar di tangan, yang bisa mengakses dunia hanya dengan koneksi internet, tiba-tiba disadarkan bahwa ada banyak orang yang hidup tanpa semua itu. Dunia ’jaman now’ yang kita jalani, yang menuntut semua orang untuk terus terkoneksi, terus responsif, terus aktif, ternyata tidak bisa diakses oleh semua orang. Ada yang tertinggal. Ada yang tidak ikut. Tapi mereka tetap hidup. Tetap bekerja. Dan mereka baik-baik saja dengan caranya sendiri. Bahkan, dalam beberapa hal, mungkin lebih hadir daripada kita.

Mereka tidak sibuk mengecek rating. Tidak cemas kalau baterai habis. Tidak merasa terputus dari dunia saat sinyal hilang. Karena dunia mereka bukan di dalam layar, melainkan di depan mata. Di tengah debu jalanan. Di percakapan ringan dengan penumpang.

Naik bajaj bersama mereka membuat saya merasa lebih terhubung, bukan secara digital sebagaimana relasi yang dihadirkan gawai. Saya bisa mendengar cerita mereka, tawa mereka, kesedihan mereka, dan harapan kecil mereka untuk hari itu, dengan emosi yang nyata tanpa emoticon. Tentang makna menjadi manusia yang tidak sibuk mengejar waktu, tapi cukup untuk merasakan sore yang perlahan meredup.

Di satu sisi jalan, saya melihat kendaraan-kendaraan modern melaju cepat: mobil listrik yang melaju dalam senyap dan pengendara ojol yang melintas dengan mata terpaut ke arah ponsel. Sisi lainnya, ada satu-dua pejalan kaki yang tak sempat menatap langit karena sibuk membalas pesan—pemandangan yang tak sepenuhnya asing karena diam-diam mencerminkan diri saya sendiri, yang tak jarang beraktivitas secara tergesa tanpa menghiraukan sekitar, nyaris seperti berjalan dalam mode autopilot.

Sementara para sopir bajaj, yang nyaris tidak punya akses terhadap teknologi canggih, justru menghadirkan interaksi yang paling manusiawi.

”  Dari mereka saya belajar: koneksi yang paling berharga tidak selalu membutuhkan jaringan.

Kadang, untuk bisa benar-benar merasakan hidup, kita harus disconnect. Menarik diri dari kebisingan digital, dari tuntutan untuk terus produktif, dari ketergantungan terhadap kecepatan. Kita butuh ruang kosong dan jeda sejenak. Karena justru dalam keheningan itulah kita bisa reconnect. Dengan dunia di sekitar. Dengan orang-orang yang hadir secara fisik. Dan dengan diri sendiri yang sering kita lupakan dalam hiruk pikuk layar dan sinyal.

Bajaj mungkin bukan kendaraan paling nyaman. Tapi ia mengantar saya ke tempat yang tak pernah dijangkau kendaraan lain: tempat di mana saya bisa berhenti sejenak dan menjadi pengingat agar tidak lupa caranya hidup pelan-pelan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window