Oleh: Harry Irfan

Departemen Pemeriksaan Khusus dan Pengawasan Perbankan Daerah

(Tulisan ini tela diterbitkan di Majalah Integrasi Edisi Juli 2025)

 

Film Sore: Istri dari Masa Depan dapat dikatakan sebagai salah satu film Indonesia terbaik, tidak hanya tahun ini tetapi juga dalam beberapa tahun terakhir—bahkan mungkin beberapa tahun ke depan. Jarang sekali sebuah film mampu meninggalkan kesan emosional yang begitu mendalam; selepas menonton, hati terasa hangat, ada sedikit rasa kehilangan, namun juga penuh keikhlasan. Hype dan ulasan positif yang beredar tentang film ini terasa sangat beralasan. Bahkan jika ada yang menganggapnya overrated, penulis yakin Sore layak menerima seluruh apresiasi tersebut.

Dari sisi visual, Sore mengusung konsep sederhana namun menghadirkan estetika yang kuat. Latar tempatnya minimalis, tetapi setiap adegan tampak seperti lukisan yang sarat makna. Pemilihan warna yang lembut dan pencahayaan natural semakin memperkuat kualitas visualnya. Ditambah dengan lanskap yang apik dan presisi, penonton benar-benar dimanjakan oleh setiap gambar yang tersaji.

Alur ceritanya mengalir rapi, dengan karakter yang dibangun kuat serta ritme penceritaan yang tepat sehingga durasi dua jam terasa berlalu begitu cepat. Akting para pemeran utama, Sheila Aisha dan Dion Wiyoko, terasa natural dengan chemistry yang kuat. Mereka didukung oleh aktor pendukung yang tampil solid, termasuk karakter Marko yang memberi sentuhan humor pada porsi yang tepat.

Dari aspek audio, Sore memadukan musik latar dan original soundtrack dengan sangat harmonis. Bahkan keheningan dalam beberapa adegan mampu meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagi penonton. Film ini membuktikan bahwa kekuatan sebuah cerita yang jujur dan detail yang digarap sepenuh hati dapat lebih menyentuh daripada sekadar mengejar plot twist.

Sore bukan sekadar karya sinema yang indah. Lebih dari itu, film ini mengajak penonton untuk merefleksikan cara kita memandang masa depan. Di balik alur yang hangat, terselip pesan penting: masa depan sering kali tidak berjalan sesuai rencana.

Sore menyampaikan dengan lembut bahwa masa depan penuh ketidakpastian. Mungkin tidak berkaitan secara langsung, namun jika dicermati lebih jauh, film ini juga membawa pesan agar kita belajar menata hidup dengan bijak—bukan hanya pola hidup yang sehat, tetapi juga penataan keuangan yang baik. Dengan pijakan yang kokoh, kita akan lebih siap ketika sesuatu tak berjalan sesuai harapan..

Ini bukan film tentang masa depan, tapi pengingat untuk kita agar hadir di masa sekarang. Sore bukanlah film yang berakhir ketika kredit bergulir. Justru pada saat itulah proses perenungan dimulai—mendorong kita untuk lebih hadir di masa kini, namun tetap bijak merencanakan hari esok.

Apresiasi yang tinggi patut disampaikan kepada Yandy Laurens dan seluruh tim produksi yang telah menghadirkan karya penuh makna ini. Semoga pesan yang dibawa Sore dapat menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidup yang terencana, termasuk dari sisi keuangan, akan membantu kita menghadapi hal-hal yang tidak terduga di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window