Yukss hadir…

sharing sekalian cek cek update penulisan buku cerpen.

Read More →

Oleh: Ananda Ramadhani

Tulisan ini pertamakali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi April 2025

Hari Kartini diperingati sebagai simbol perjuangan perempuan dalam meraih hak untuk belajar, berkarya, dan menentukan masa depan. Di masa kini, semangat itu terus hidup—salah satunya dalam sosok para ibu bekerja, yang menjalani peran ganda dengan penuh tanggung jawab. Tak sedikit pegawai perempuan di lingkungan Otoritas Jasa Keuangan yang menjalani rutinitas sebagai ibu menyusui (busui) sambil tetap berkontribusi aktif di dunia kerja.

Bagi para ibu, menyusui bukan hanya soal kasih sayang, tetapi juga soal perencanaan yang matang—mirip sekali seperti menyusun laporan. Ada target harian, strategi pencapaian, dan evaluasi berkala yang dilakukan hampir setiap hari. Tidak jarang busui yang menyusun “strategi dan rencana produksi” ASI seperti menyusun proyeksi bulanan: berapa mili liter per hari, berapa kali pumping, dan kapan waktu terbaik untuk melakukannya.

Setiap pagi, proses membuka kulkas bisa terasa seperti membuka dashboard performa. Jika jumlah ASI meningkat, ada rasa lega. Namun jika turun, berbagai analisis segera dilakukan. Apakah booster sudah optimal? Bagaimana manajemen stres yang memengaruhi produksi ASI? Perlukah metode pumping diubah? Tak jarang, proses ini mirip evaluasi laporan keuangan—serius, terstruktur, dan tentu bikin deg-degan.

Beragam strategi pun dicoba. Mulai dari konsumsi daun katuk, smoothies warnawarni, teknik power pumping, hingga mencoba ASI booster yang sedang viral di media sosial. Semua dilakukan demi mendukung produksi yang optimal. Di tengah upaya itu, ada pula “monitoring eksternal”: komentar keluarga atau kerabat yang membandingkan pengalaman menyusuinya dengan kondisi sekarang.

Terkadang emosional kerap muncul, meski tak selalu terlihat. Namun di balik segala upaya dan tantangan tersebut, ada pelajaran penting yang terus muncul: menyusui bukan sekadar tentang jumlah, tapi tentang ketekunan dan cinta. Bukan soal seberapa banyak ASI yang dihasilkan, tapi seberapa besar komitmen yang diberikan seorang ibu, bahkan ketika kondisi tidak selalu ideal.

Di lingkungan kerja seperti OJK, banyak pegawai perempuan yang merasakan manfaat dari dukungan institusi—mulai dari ketersediaan ruang laktasi, fleksibilitas waktu, hingga rekan kerja dan atasan yang memberi ruang bagi ibu menyusui untuk menjalankan perannya tanpa rasa bersalah. Bentuk dukungan ini mungkin tampak sederhana, tapi dampaknya sangat besar bagi keberlanjutan semangat kerja dan keseimbangan hidup pegawai.

Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang menciptakan ruang yang adil dan suportif bagi perempuan masa kini. Termasuk ruang untuk menyusui, merawat, dan tetap berkontribusi secara profesional. Sejatinya, perempuan tidak perlu memilih antara karier atau keluarga. Dengan dukungan lingkungan kerja yang inklusif dan empatik, mereka bisa menjalani keduanya secara utuh. Mari terus hidupkan semangat Kartini di lingkungan kerja— dengan saling memahami, saling mendukung, dan menciptakan sistem yang berpihak pada kesejahteraan bersama.

 

Read More →

by

KORBAN

Oleh: Supriyono (Direktur Pengendalian Kualitas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK)

Gerimis sore itu belum nampak akan reda. Gayatri masih termenung di ruang tamu yang hanya diisi oleh seonggok sofa lusuh berbau tengik. Pikiran Gayatri kalut bukan main. Sudah beberapa bulan anak-anaknya belum membayar SPP. Sedangkan, Dhana-suaminya, masih tergolek lumpuh di tempat tidur dengan ditemani televisi tua. Gayatri tahu betapa batin suaminya menjerit dan meronta. Luka batin suaminya lebih dari luka fisiknya.

Lima tahun lalu semua impian Dhana dan Gayatri dimulai. Keduanya menyatukan tekad menjalani hidup bersama selamanya. Status Dhana saat itu hanya pekerja kantor rendahan, diperusahaan rintisan yang sedang berkembang. Setahun setelah menikah, keduanya diberikan momongan seorang bayi lelaki yang dinamai Baraja. Demi merawat bayi mungilnya, atas seizin Dhana, Gayatri melepas statusnya sebagai karyawati di sebuah toko roti tak jauh dari tempat mereka tinggal.

Hari hari indah dilalui keluarga kecil itu. Kehidupan berjalan mengalir. Rutinitas kehidupan kota melahap waktu tanpa sisa. Pagi hari Gayatri akan bangun paling awal untuk menyiapkan segala sesuatu jelang suaminya berangkat kerja. Tak terasa waktu berlalu dan Baraja pun telah mulai sekolah di TK sebelah musholla kompleks. Baraja pun tak lagi sendiri karena Sasha -adiknya yang lucu- telah menjadi teman bermainnya saat menunggu ayahnya pulang kerja. Gayatri dengan tekun merawat anak-anaknya. Dia tahu suaminya semakin sibuk dan sedikit waktu di rumah seiring karirnya yang merangkak naik.

“Bun, hari ini Ayah pulang agak telat ya.” Dhana meminta ijin di ujung sambungan telpon.

“Iya, Ayah. Sudah dua bulan ini Ayah sering sekali pulang larut malam. Tetap jaga kesehatan, Yah,” jawab Gayatri dengan sabar.

“Maaf ya, Bun. Soalnya Ayah diminta bos untuk ikut tim penyiapan perusahaan yang mau go public. Mumpung ada kesempatan perusahaan-perusahaan kecil bisa go public. Kata bos Ayah, ini kesempatan besar kuntuk dapat dana murah dari bursa,” jelas Dhana panjang lebar berusaha membuat Gayatri mengerti.

Gayatri kadang hanya mengiyakan karena tak paham benar apa yang disampaikan suaminya. Dia hanya yakin semuanya baik untuk keluarga kecilnya. Ia sangat percaya terhadap segala hal yang dilakukan oleh suaminya. Sering lewat tengah malam Dhana baru pulang ke rumah dan pagi subuh sudah bersiap berangkat kerja lagi.

“Bunda, Ayah berangkat dulu ya,” pamit Dhana pagi itu dengan raut wajah berseri.

“Ayah kenapa nggak sarapan dulu?” tanya Gayatri melihat sarapan yang disiapkannya tidak disentuh suaminya.

“Tenang, Bun… Hari ini di kantor ada syukuran potong tumpeng. Perusahaan Ayah hari ini melantai di bursa,” jawab Dhana sambil menstarter motornya.

“Hati-hati, Ayah. Semoga lancar acara melantainya,” sahut Gayatri meski tetap tidak paham apa itu arti melantai. Ia hanya tahu rutinitas hariannya terus berlanjut. Selesai antar anak sekolah, Gayatri baru memiliki sedikit waktu luang untuk sejenak merebahkan badan. Namun hari ini ada sedikit rasa tak enak melintas dalam pikirannya. Ketika sebuah nomor tak dikenal muncul dilayar HP nya.

“Halah paling tawaran asuransi atau pinjol ini,” gumam Gayatri sambil mereject panggilan di telepon genggamnya.

Tut… Tut…Hp nya Kembali dihubungi nomor tak dikenal. Telepon genggam Gayatri terus berbunyi. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengangkatnya.

“Halo… siapa nih? Saya nggak butuh asuransi, apalagi kartu kredit. Suami saya pegawai biasa!” seru Gayatri tegas sebelum orang yang menelponnya berkata apa-apa.

“Maaf, Bu, apakah ini dengan istri pak Dhana?” suara di ujung telpon terdengar tegas.

“Betul.  Pak Dhana sudah berangkat kerja. Ada apa?”

“Kami dari Polsek Kramat, Bu. Kami mau menginformasikan kalau pak Dhana kecelakaan. Tadi pagi bertabrakan dengan pemotor yang melawan arah.”

“Yang benar, Pak?! Bapak jangan coba tipu-tipu ya!” Gayatri langsung waspada. Ia telah sering mendengar modus penipuan semacam ini.

“Tidak, Bu, kami serius. Saya akan kirimkan foto Bapak agar ibu percaya. Selanjutnya, silakan Ibu segera ke RS Seger Waras. Pak Dhana saat ini kami rujuk ke sana untuk mendapatkan perawatan.”

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun…” bisik Gayatri dengan suara bergetar sambil memandang  foto suaminya yang terbaring tak berdaya di dalam ambulans.

***

Sepekan sudah Dhana dirawat di rumah sakit, namun luka yang dideritanya belum ada tanda-tanda segera pulih. Dokter baru saja menjelaskan dan memintanya bersabar serta lebih banyak berdoa. Rupanya benturan keras dengan pemotor yang melawan arah membuat Dhana jatuh dengan posisi yang tidak menguntungkan. Punggungnya menghantam aspal terlebih dulu. Sudah seminggu, kedua kaki Dhana belum bisa digerakkan. Dokter memprediksikan bahwa ada potensi Dhana akan lumpuh selamanya. Bayangan kelam berkelindan dibenak Gayatri. Sudah seminggu ini ongkos bolak-balik ke rumah sakit cukup memakan jatah dapurnya. Sebagai istri pegawai biasa, tak banyak tabungan yang bisa disisihkannya. Untungnya yang Gayatri dengar, sementara ini biaya rumah sakit ditanggung oleh Jasa Raharja. Walau untuk mengurusnya perlu surat ini itu yang tidak gratis. Namun, selepas ini ia tak tahu lagi siapa yang akan menanggung biayanya. Informasi dari petugas rumah sakit, seharusnya dari BPJS Ketenagakerjaan atau BPJS Kesehatan dapat menanggungnya.

“Mohon maaf, Bu, PT Amplasindex, Tbk. tidak mengikutsertakan karyawannya di program BPJS Ketenagakerjaan.”

“Mohon maaf, Bu, suami Ibu tidak terdaftar di BPJS Kesehatan.”

Seperti tersambar petir Gayatri mendengar penjelasan dari petugas di BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa perusahaan suaminya yang katanya melantai di bursa, namun tak mengikusertakan karyawannya ke BPJS yang seharusnya menjadi kewajiban pemberi kerja.

Sementara itu, pemotor yang menabrak suaminya hanya mengalami luka ringan. Selepas perawatan di IGD, ia sudah bisa pulang. Beberapa kali ia dipanggil aparat untuk dimintai keterangan. Ia pun sempat menemui Gayatri dan meminta maaf dengan muka memelas karena tak bisa membantu apa-apa. Gayatri pun tak sampai hati, karena pemotor itu pun hanya seorang ojol.

Selepas dari rumah sakit, Dhana, yang dulu seorang pekerja yang rajin dan gagah, kini harus menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur. Kecelakaan itu merenggut mimpinya.Separo tubuhnya kini lumpuh. Dhana merasa hanya menjadi beban bagi keluarga kecilnya. Kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi. Pada malam hari, ketika anak-anak sudah tidur, Gayatri akan duduk di samping Dhana dan berbicara dengan lembut. Mereka akan bercerita tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi kecil yang mereka simpan di hati.

Gerimis masih belum mau pergi. Gayatri semakin dibekap pikiran kalut. Sayup-sayup suara televisi di kamar suaminya mengabarkan protes masyarakat atas rencana pemberlakuan asuransi wajib bagi pemiilik kendaraan. Asuransi yang akan memberi perlindungan lebih baik bagi korban kecelakaan lalu lintas seperti suaminya. Sementara running text di televisi mengabarkan penolakan politisi atas rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Running text juga menampilkan breaking news terkait harga saham PT Amplasindex, Tbk. terpuruk ke level terendah yang berpotensi merugikan investor ratusan miliar rupiah.

“Ya Rabb, semoga tak ada lagi korban kecelakaaan lalu lintas tanpa perlindungan memadai seperti suamiku,” bisik Gayatri lirih.

Senja telah beranjak dan di luar gelap semakin pekat.

Read More →

Oleh: Gita Chairina R (Departemen Perizinan, Pemeriksaan Khusus dan Pengendalian Kualitas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun)

Cerpen ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi April 2025.

Langit mendung menggelayut diiringi desir angin sejuk terasa syahdu. Telah rampung shalat ied secara khusyuk. Selepas shalat, segera aku cium tangan ibu sambil meminta maaf. Ibu juga berkata, “nanti jangan lupa salim sama bapak”. Keluargaku tergolong kasual, pada hari lebaran tidak ada tradisi sungkeman. Meminta maaf dilakukan dengan salim sebagaimana juga dilakukan pada hari-hari biasa seperti ketika akan berangkat kerja. Aku juga tidak pernah mudik karena meskipun berketurunan Jawa Tengah, seluruh keluarga juga sudah tinggal lama di Jakarta. Biasanya hari lebaran hanya aku habiskan dengan memakan menu ketupat di rumah dan sore harinya akan nyekar ke makam eyang di Jeruk Purut. Baru pada keesokan harinya akan ke rumah saudara bapak yang dituakan, itu pun masih di sekitar Jakarta Selatan.

Sambil merapikan sajadah, aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak bertatap muka dengan tetangga-tetangga yang terlanjur kutandai dengan ‘label’ heboh. Kalau heboh hanya sekedar berswafoto dengan busana baru tidak menjadi masalah bagiku. Tapi kalau jadi ‘target’ basa-basi rasanya ingin mengelus dada. Salah satunya adalah kejadian tahun lalu dengan Ibu Mirna, tetangga depan rumah persis. Dulu waktu kecil aku akrab bermain dengan anak bungsunya, namun seiring waktu dia bersekolah dan lanjut bekerja di Irlandia aku tidak pernah tahu kabarnya.

Lebaran tahun lalu adalah puncak meletupnya rasa sabarku. Kala itu Ibu Mirna berkata, “Reina sibuk kerja terus sampai keliatan saat lebaran saja. Mau jadi miliarder ya?”, kemudian ditambahkan lagi, “makanya punya suami Rei biar ga kerja terus, coba tanya ibu bapakmu pasti sudah mau menimang cucu. Kamu terlalu pendiam kali, coba juga kurusin badan pasti nanti cepat nikah”. Aku sebenarnya sudah cukup terbiasa mendengar obrolan iseng semacam itu seperti saat kumpul keluarga atau keseharian di kantor. Aku yang cenderung pendiam dan biasanya hanya bergumam di dalam hati secara spontan dan entah pikiran dari mana langsung menyambar “Tante kayaknya kesepian ya, lebaran saja sendirian”. Seketika Ibu Mirna dan beberapa tetangga lain yang mendengar langsung kikuk. Aku ingat saat itu ibu terpana sesaat dan segera pamit lebih dulu sambil menasihatiku sepanjang jalan. Sejak lebaran itu aku tidak pernah berpapasan lagi dengan Ibu Mirna dan semakin ingin menarik diri untuk menghindari berjumpa dengan tetangga-tetangga yang tergolong heboh tersebut.

Sesampai di depan rumah segara aku salim dengan Bapak. Bapak segera mencegahku masuk rumah, “Reina kita ke rumah tetangga-tetangga dulu bersalaman lebaran.” Aku mengangguk tipis seraya menjawab “tapi tidak ke rumah dia ya pak” ujarku sambil menunjuk rumah Ibu Mirna. “Astagfirullah nak tidak boleh dendam, ibu tahu seberapa seringnya kamu mendapatkan perkataan yang tidak nyaman” ucap ibu. Rumah Ibu Mirna kami sambangi terakhir. Beberapa tetangga lain yang sudah menunggu di luar pagar tampak mengurungkan niatnya karena pintu tertutup rapat. Ibu menekan bel dua kali dan akhirnya Mbok Tuti yang merupakan asisten rumah tangga membuka pagar. Mbok Tuti panik menyampaikan kalau Ibu Mirna sedang terbaring di tempat tidur, serangan stroke kedua. Sontak kaget aku mendegarnya, terlebih lagi aku jadi teringat eyang yang sempat sakit stroke lama sebelum meninggal. Rumahnya sangat sepi, sepertinya ketiga anaknya tidak ada yang pulang ke Indonesia. Ibu dan tetangga perempuan lainnya masuk ke kamar Ibu Mirna. Tak berapa lama ibu memanggilku mengatakan aku dicari oleh Ibu Mirna. “Maaf Re, maaf … maaf” ucap Ibu Mirna terbata-bata berusaha mengatupkan bibirnya yang bergetar sambil berusaha menggapai tanganku kesulitan. Seketika hatiku menjadi iba. “Saya minta maaf ya tante, atas perkataan dan perbuatan yang menyinggung” balasku.

Aku bergegas mengambil masakan-masakan di rumah untuk dibawa ke rumah Ibu Mirna. Bersama dengan tetangga-tetangga lain yang tidak memiliki agenda mudik, kami akan merayakan santap lebaran di rumah Ibu Mirna. Benar juga kata orang, seharusnya tetangga menjadi keluarga terdekat. Mereka hadir di sekeliling kita dan bisa menjadi pertolongan pertama ketika darurat. Aku ingin menebus ucapanku tahun lalu yang mengatakan Ibu Mirna kesepian. Langit masih kelabu dan angin masih bertiup pelan. Sejuknya seperti rasa amarahku yang padam. Lebaran ini terasa indah. Kata ‘maaf’ tadi sungguh berharga. Hatiku terasa penuh dan utuh seperti tidak ada lagi yang patah.

Read More →

Anggota KPOJK keren kan…

 

Read More →

Oleh: Yosua Rinaldy, Kepala Bagian Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Kantor OJK Papua &

Salama Simbong Malewa, Pengawas Pertama Kantor OJK Papua

Pada bulan Mei 2025 lalu, OJK bersama BPS telah mengumumkan hasil Survey Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Nasional tahun 2025. Suatu kabar yang menggembirakan karena berdasarkan SNLIK 2025 dimaksud, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mengalami peningkatan dimana pada tahun 2024 tercatat 65,43% meningkat menjadi 66,46% pada tahun 2025.

Peningkatan literasi keuangan dimaksud dan angka yang menunjukan bahwa lebih dari separuh masyarakat Indonesia telah memiliki literasi keuangan yang baik tentu menghadirkan optimisme tentang bagaimana masyarakat Indonesia kedepan mengoptimalkan produk-produk jasa keuangan dalam rangka mendukung kesejahteraan hidup. Namun demikian, fenomena-fenomena adanya orang yang terjerat pinjaman online ilegal, investasi bodong, dan judi online masih tetap ada sampai saat ini. Begitupun juga fenomena-fenomena pengelolaan keuangan yang tidak bijak yang berkaitan dengan isu Fear Of Missing Out (FOMO), kerugian investasi karena lemahnya manajemen risiko, dan ketidaksanggupan menyelesaikan pinjaman karena banyaknya dana pinjaman yang hanya digunakan untuk konsumsi berlebihan dan kelemahan mengangsur sejak awal.

Berbicara tentang fenomena pengelolaan keuangan, menarik bahwa banyak penelitian terkini yang menunjukan bahwa literasi keuangan bukanlah satu-satunya yang mempengaruhi perilaku pengelolaan keuangan individu. Salah satunya penelitian Nadia Asandimitra dan Achmad Kautsar pada tahun 2019 yang mengambil sampel 200 dosen universitas di Indonesia menyatakan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap perilaku manajemen keuangan. Begitu pun juga penelitian Dewi Rahmayanti pada tahun 2022 yang mengambil sampel 300 orang di Bengkulu menyatakan bahwa internal locus of control dan kecerdasan spiritual berpengaruh positif terhadap perilaku manajemen keuangan. Penelitian-penelitian tersebut merupakan dasar yang kuat dalam kehidupan sosial kita semua, bahwa pengelolaan keuangan kita bukan hanya dipengaruhi oleh tingkat literasi keuangan namun juga kecerdasan emosional dan spiritual.

 

Kecerdasan Emosional

Siapa yang tidak kenal Sir Isaac Newton? Sir Isaac Newton merupakan fisikawan ternama yang terkenal dengan banyak penemuannya yang salah satunya yaitu teori gravitasi yang dikaitkan dengan kisah apel jatuh dari pohon. Siapapun yang menempuh sekolah tingkat SMP dan SMA pasti pernah mendengar namanya yang selalu menjadi bagian kurikulum mata pelajaran IPA. Namun siapa yang menyangka bahwa seorang Isaac Newton yang tentunya sangat jago dalam hitung-hitungan pernah “buntung” juga saat berinvestasi.

Sekitar tahun 1720-an, Sir Isaac Newton pernah terseret dalam antusiasme pasar liar dengan membeli saham perusahaan South Sea Company. Kala itu, nilai saham South Sea Company sempat meningkat sangat drastis. Kondisi tersebut mengakibatkan Sir Isaac Newton merasa takut “ketinggalan” dalam berinvestasi pada South Sea Company dan akhirnya menempatkan dana tanpa analisis fundamental yang memadai atas kondisi dan prospek perusahaan. Sir Isaac Newton pada akhirnya kehilangan 20.000 poundsterling sebagai dampak dari jebloknya saham South Sea Company pasca munculnya isu atas besarnya hutang dan dugaan penipuan serta korupsi pada South Sea Company.

Jason Zweig dari Wall Street Journal memberikan satu kutipan untuk Newton, “Dia bisa menghitung setiap gerakan benda-benda langit, tapi bukan kegilaan orang-orang di pasar saham.” Pengalaman Sir Isaac Newton menjadi sebuah kisah peringatan yang menggambarkan bagaimana orang yang sangat cerdas pun bisa terbawa nafsu dan emosi keserakahan dalam pengelolaan keuangan. Kisah Sir Isaac Newton merupakan cerminan betapa pentingnya literasi keuangan berdampingan juga dengan kecerdasan emosional.

Daniel Goleman sebagai ahli di bidang kecerdasan emosional menyatakan bahwa kecerdasan emosional mencakup lima aspek utama, yaitu kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Terkait pengelolaan keuangan, ini berarti kemampuan pengelolaan emosi diri mencakup lima aspek dimaksud pada pengelolaan keuangan. Ini mencerminkan penguasaan yang baik atas lima aspek dimaksud dapat mendukung pondasi pengelolaan keuangan.

Pertama, kesadaran diri. Dalam menerapkannya, maka seseorang wajib menyadari apa saja hal-hal yang cenderung mudah mempengaruhi sisi emosionalnya dalam pengelolaan keuangan. Misalnya, jika seseorang sadar mudah tergoda untuk konsumtif berlebihan ketika melihat barang-barang yang dijual online, maka seseorang tersebut perlu melakukan langkah-langkah untuk menghindari atau membatasi penggunaan e-commerce.

Kedua, pengendalian diri. Dalam menerapkannya, maka seseorang perlu untuk mengendalikan diri agar dapat menerapkan disiplin pengelolaan keuangan. Misalnya dengan menahan sikap konsumtif berlebihan agar dapat menyisihkan pendapatan untuk menambah tabungan dan/atau investasi. Contoh lainnya yaitu disiplin setiap bulannya mempedomani perencanaan/penganggaran keuangan yang telah disusun berkaitan pembagian alokasi pendapatan bulanan seperti alokasi 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi.

Ketiga, motivasi. Dalam menerapkannya, maka seseorang perlu untuk memotivasi diri terkait tujuan pengelolaan keuangan. Misalnya dengan konsisten mengelola keuangan yang baik dengan harapan yang jelas yaitu hidup sejahtera bersama keluarga. Contoh lainnya seperti cita-cita untuk dapat sejahtera secara finansial dengan harapan dapat mendukung peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan sosial orang-orang yang berkesusahan atau berkekurangan selama ini.

Keempat, empati. Dalam menerapkannya, maka seseorang perlu untuk memahami bahwa dia tidak hidup sendiri dan pengelolaan keuangan yang baik juga dapat bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Misalnya, dalam mengelola keuangan kita telah mempertimbangkan bukan hanya keinginan pribadi kita namun juga kebutuhan keluarga kita, serta menjadi sosok yang mendukung keluarga untuk bersama-sama bijaksana dalam mengelola keuangan.

Kelima, keterampilan sosial. Dalam menerapkannya, maka seseorang perlu untuk menjalin hubungan, berkomunikasi, dan bahkan bekerjasama dengan baik bersama orang lain dalam pengelolaan keuangan. Misalnya, dalam mengelola keuangan kita membangun komunikasi yang baik dengan orang lain dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan. Hal ini mengingat peningkatan kualitas pengelolaan keuangan bukan hanya didapat melalui pembelajaran mandiri namun terkadang melalui sharing bersama orang lain baik orang sekitar, para pelaku usaha jasa keuangan, maupun orang-orang yang memiliki banyak pengalaman atau ahli di bidang keuangan.

Kelima aspek kecerdasan emosional dimaksud tentunya sangat berkaitan satu sama lain serta sangat relevan dalam mendukung penerapan pengelolaan keuangan.

 

Kecerdasan Spiritual

Di sisi lain, kecerdasan spiritual sangat mendukung pengelolaan keuangan melalui fungsinya sebagai kompas moral manusia. Kecerdasan spiritual hadir memberikan kita nilai, makna, dan tujuan hidup yang lebih tinggi dalam pengelolaan keuangan. Seseorang dengan kecerdasan spiritual yang tinggi tentunya akan memandang bahwa tujuan akhir dari pengelolaan keuangan bukan hanya berbicara tentang dirinya dan keluarganya namun berbicara juga tentang kepedulian terhadap sesama dan bentuk pelayanan kepada TUHAN. Kisah berikut ini bisa menjadi contoh dan teladan kita atas penerapan kecerdasan spiritual dalam pengelolaan keuangan.

Bagi pencinta sepakbola, tentu tidak asing dengan nama Sadio Mane. Bagaimana tidak, dia terkenal dengan berbagai prestasi di lapangan hijau khususnya ketika bermain di Liverpool dengan mempersembahkan satu trofi Liga Premier, satu trofi Liga Champions, satu trofi juara Piala Super Eropa, satu trofi Piala Dunia Antar-Klub, satu trofi FA Cup dan satu trofi EFL Cup. Bersama tim nasional negaranya Senegal, Sadio Mane juga sukses mempersembahkan juara Piala Afrika pada tahun 2021 lalu dan gelar runner up pada 2019.

Di balik pencapaian luar biasa Sadio Mane sebagai pesepakbola, Sadio Mane juga terkenal sebagai muslim yang taat dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sadio Mane tidak melupakan dari mana dia berasal. Dirinya senantiasa taat beribadah di Masjid dan banyak menunjukan kepedulian sosial ke kampung halamannya yang sebelumnya sering berkekurangan yaitu Bambali, Senegal. Kisah kepedulian sosialnya yang populer yaitu mengeluarkan dana sekitar US$350.000 atau setara Rp5 miliar untuk membangun sekolah, menyumbangkan US$693.000 atau Rp9,9 miliar pada 2021 untuk pembangunan rumah sakit, membangun masjid, memberikan laptop masing-masing seharga 400 dolar kepada siswa berprestasi terbaik di SMA, dan menyediakan jaringan 4G di kampung halamannya Bambali, Senegal.

Karir Sadio Mane sampai saat ini terus berlanjut dan seluruh pencapaiannya yang luar bisa tetap tidak mengubah kepribadiannya yang cenderung tampil sederhana. Keberhasilan Sadio Mane dalam mengelola keuangan bukan hanya mampu mensejahterakan dirinya namun juga mensejahterakan warga di Bambali, Senegal.

Namun kisah Sadio Mane yang tetap sederhana, taat agama, dan fokus menggunakan berkat harta yang dimiliki untuk mensejahterakan warga kampung halamannya dapat menjadi teladan bahwa kecerdasan spiritual berperan penting dalam pengelolaan keuangan. Mungkin pencapaian keuangan kita nantinya belum tentu bisa menyamai atau melampaui Sadio Mane, namun kemampuan pengelolaan keuangan yang baik tentu dapat membantu kita untuk turut berkontribusi mendukung kesejahteraan sosial bersama.

 

Menuju Pengelolaan Keuangan yang Seimbang dan Bermakna

Pada akhirnya, pengelolaan keuangan yang baik bukan hanya berbicara tentang pengetahuan dan kemampuan yang tergambar dalam literasi keuangan. Pengelolaan keuangan membutuhkan juga kemauan yang baik dalam pengelolaan keuangan yang tergambar dalam kecerdasan emosional dan spiritual.

Literasi keuangan yang baik dengan dukungan kecerdasan emosional yang matang dan kecerdasan spiritual yang kuat tentunya dapat mendukung pengelolaan keuangan masyakarat Indonesia yang baik. Dengan pengelolaan keuangan masyarakat Indonesia yang baik, maka kita sebagai bangsa dapat melangkah lebih maju dalam mewujudkan kehidupan finansial yang seimbang, berkelanjutan, dan bermakna.

Read More →

Oleh: Mohammad Amin (Ketua Komunitas Penulis OJK)

Perjalanan selalu menyimpan misteri, kata orang bijak bestari

Angin tidak pernah memberi tahu putik, pada serbuk sari yang mana ia akan dibawa

Kasih dan kuasa berkelindan dalam asa sejahtera bagi semua

Inikah akhir perjamuan kita? Bisik putik pada kelopak bunga yang berubah warna

Hari-harimu akan tetap bermakna, tidak karena menjadi apa atau bersama siapa

Senja yang pernah kita rangkai akan ku tanam di pelataran bersama sekuntum Kenanga

Agar serpih-serpih air suci telaga memancarkan pendar-pendar warna pelangi

Nanti, pada suatu rindu, akan aku kirimkan bunga bersulam emas bermahkota cinta.

 

Jakarta,   Oktober 2023

(Puisi ini telah dibacakan dalam acara perpisahan Deputi Komisioner Pengawas PPDP pada Bulan Oktober 2023. Keunikan Puisi ini terletak pada susunan huruf awal dari setiap baris).

Read More →

Oleh: Teuku Maulana Ardiansyah

Di sebuah kota kecil bernama Marpoyan Damai, ada seorang gadis bernama Namira. Namira adalah seorang pelajar yang cerdas dan rajin serta memiliki cita-cita tinggi. Namun, meskipun rajin belajar, Namira seringkali mengabaikan satu hal yang penting dalam kehidupannya: manajemen keuangan. Setiap bulan, uang jajan dari orang tuanya seringkali habis dalam sekejap tanpa memikirkan konsekuensinya.

Suatu hari, Namira mengajak teman-temannya Violin dan Rinjani untuk bermain di rumahnya. Mereka tertawa, bercanda dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Setelah beberapa jam berlalu, Rinjani bertanya, ”Namira bagaimana kamu mengelola uang jajanmu? Saya lihat terakhir kali kamu bilang ingin menabung untuk membeli buku cerita tapi uang selalu habis.”

Namira merasa cemas dan tertekan dengan pertanyaan tersebut. “Sebenarnya saya tidak tahu harus bagaimana untuk mengeluarkan uang jika sudah ada yang ingin dibeli,”jawab Namira jujur.  karena tinggal beberapa hari sebelum orang tuanya memberikan uang lagi.

Violin yang mendengar percakapan tersebut, memiliki ide, “Kenapa kita tidak belajar mengelola keuangan secara bersama-sama? Mungkin kita bisa membuat perencanaan keuangan individu kita sendiri.”

Namira terkejut dan merasa senang dengan ide tersebut, “Itu ide yang bagus! Saya ingin belajar supaya tidak terus-terusan bingung dengan uang jajan ini.”

Mereka pun sepakat untuk bertemu di perpustakaan sekolah setiap Senin sore. Dalam pertemua mereka, Rinjani menjadi moderator dan menjelaskan tentang pentingnya memiliki anggaran. Dia mengajarkan konsep sederhana: mencatat pemasukan dan pengeluaran. “Dengan cara ini, kita bisa memantaunya dan tahu berapa banyak uang yang kita miliki.” kata Rinjani.

Violin yang juga sering kewalahan dalam pengelolaan uang jajannya, setuju. “Saya pernah mendengar tentang menabung juga. Kita membagi uang kita ke dalam beberapa pos, misalnya pos untuk kebutuhan sehari-hari, pos untuk menabung dan pos untuk hiburan. Dengan begitu, kita tahu berapa yang bisa kita pakai untuk bersenang-senang.”

Namira mengangguk, “Baiklah, mari kita mulai! Kita bisa membuat tabel sederhana bagi diri kita masing-masing.”

Saat pulang dari sekolah, Namira bertemu dengan neneknya yaitu nenek Siti yang sedang duduk di teras rumah. Kemudian Namira menceritakan hasil diskusinya dengan teman-teman. Nenek Siti tersenyum dan berkata, “Ayo kita bicarakan tentang uang dan cara mengelolanya. Mungkin kamu bisa belajar sesuatu yang berguna.”

Dengan penuh perhatian, Namira mendengarkan neneknya. “Uang itu penting tapi yang lebih penting adalah bagaimana cara mengelolanya. Pertama-tama buatlah rencana dimana kamu harus mencatat uang yang dimiliki dan daftar barang yang ingin kamu beli”, jelas Nenek Siti.

Namira tertarik, “Jadi saya harus memiliki semacam anggaran ya Nek?”

“Ya betul!” jawan nenek Siti, “Kedua, sisihkan uang untuk ditabung seperti menabung sedikit dari uang jajanmu setiap minggu. Dengan cara itu, kamu dapat membeli sesuatu yang lebih besar di kemudian hari.”

Nenek Siti kemudian mengeluarkan beberapa dolar kecil dari dompetnya. “Ini adalah uang yang nenek tabung selama bertahun-tahun. Uang ini didapat dari penjualan hasil kebun dan sedikit uang saku setiap bulan. Lihat, bisa jadi sangat banyak apabila kita konsisten menabung.”

Namira melihat dolar-dolar kecil tersebut dengan takjub. “Saya ingin punya tabungan seperti itu, Nek!”

“Setiap kali kamu mendapatkan uang, cobalah untuk menyisihkan setidak sepertiga untuk ditabung. Yang penting adalah disiplin dan kesabaran.” kata nenek Siti.

Setelah belajar dari hal tersebut, Namira kemudian menceritakan hal tersebut kepada Rinjani dan Violin serta mulai menerapkan apa yang telah diajarkan. Mereka membuat catatan setiap kali mendapatkan uang, baik yang berasal dari uang jajan ataupun hadiah. Mereka juga mulai menyisihkan sejumlah uang untuk ditabung setiap minggu. Lama kelamaan, mereka merasa senang melihat tabungannya bertambah. Pada akhir bulan, mereka berkumpul kembali untuk melihat perkembangan masing-masing. Ternyata, semua dari mereka berhasil menabung lebih banyak daripada bulan sebelumnya. Namira dan teman-temannya terkejut ketika melihat bahwa dia bisa mengumpulkan uang lebih untuk menabung

Selama beberapa bulan, mereka terus menerapkan rencana keuangan mereka. Namira dan teman-temannya merasa lebih terampil dalam mengelola keuangan dan lebih bertanggung jawab atas keuangan pribadi mereka. Mereka pun telah belajar untuk tidak hanya berfokus pada pengeluaran semata tetapi pentingnya menabung dan investasi.

Sejak saat itu, Namira dan teman-temannya tidak lagi menghabiskan uang jajannya secara sembarangan. Suatu sore, saat mereka berkumpul di perpusatakaan, Namira merasa bangga, “Kita telah melakukan hal yang hebat! Saya merasa lebih percaya diri dengan keuangan. Kini saya bisa mengatur keuangan dengan lebih baik!”

Rinjani mengusap dadanya dan berkata, “Ini semua adalah perjalanan kita. Kita harus terus berbagi pengetahuan dan mendukung satu sama lain.”

Violin menambahkan, “Kita juga bisa mengajarkan teman-teman yang lain tentang apa yang telah kita pelajari. Semakin banyak yang tahu, semakin baik untuk semuanya.”

Dengan semangat baru, mereka menjadi lebih bijaksana dalam mengelola keuangan dan membantu satu sama lain dalam perjalanan keuangan mereka. Selain itu, bahkan dapat membantu teman-teman yang lain untuk belajar menabung dan memahami pentingnya pendidikan keuangan. Mereka sadar bahwa pendidikan keuangan tidak hanya membuatnya lebih mandiri tetapi juga memberikan kebebasan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dengan usaha yang tepat.

Mereka pun berjanji untuk terus belajar tentang pengelolaan keuangan dan menerapkan prinsip yang diajarkan oleh nenek Siti. Dengan cara ini, tidak hanya dirinya, tetapi juga teman-teman bisa meraih impian mereka.

Kota kecil Marpoyan Damai tidak hanya menjadi lebih cerah dengan pengetahuan keuangan bagi remaja, tetapi juga menciptakan generasi yang lebih cerdas dan bertanggung jawab dalam hal pengelolaan keuangan. Dan semua dimulai dari sebuah percakapan sederhana di rumah Namira.

Pada akhirnya, Namira sudah memiliki uang yang cukup dari hasil tabungannya. Ia akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah buku cerita yang sudah lama ia inginkan. Dengan penuh rasa bangga, ia pergi ke toko buku dan membeli buku tersebut tanpa rasa penyesalan. Tidak hanya itu, Namira menjadi seorang pemimpin di antara teman-temannya mengajarkan tentang keuangan dan menanamkan pentingnya manajemen keuanga sejak dini.

Ketika kembali dari toko buku, Namira menceritakan kepada Nenek Siti tentang kebahagiannya. “Saya bisa membeli buku yang saya inginkan, Nek! Semua karena saya menabung!”

Nenek Siti bangga, “Lihat, Nak? Dengan mengelola keuangan dengan baik, kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Ini adalah sebuah pelajaran penting yang akan membantumu di masa depan.”

Begitulah kisah Namira dan teman-temannya yang berhasil melampaui tantangan keuangan dan pengetahuan yang baik dan kerjasama yang tiada henti.

Read More →

by

Call For Cerpen

Bapak, Ibu dan rekan rekan yang punya kisah menarik tentang asuransi, dana pensiun, penjaminan dan BPJS, perbankan, pasar modal, pinjaman daring, pinjaman online, pembiayaan, keuangan syariah, modal ventura, lembaga keuangan mikro, keuangan digital dan lain-lain, yuks kita narasikan dalam bentuk cerita pendek….
Komunitas Penulis OJK akan menerbitkannya dalam bentuk buku kumpulan cerpen tahun ini.

Info lebih lanjut kontak Panitia ya… (Sdri. Yovanita-0821-4047-8779 atau Sdr. Guntur-0852-1594-6119).

 

 

Read More →

oleh: Imansyah

Co-Founder Komunitas Penulis OJK

Tulisan ini menjadi refleksi diri sendiri saat mengikuti seleksi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) beberapa saat yang lalu. Rangkaian seleksi yang dimulai dari seleksi administrasi, asesmen oleh konsultan Daya Dimensi Indonesia (DDI), test Kesehatan di RSPAD Gatot Subroto dan wawancara oleh Panitia Seleksi yang dipimpin oleh Menteri Keuangan, sungguh keseluruhan proses telah meninggalkan catatan perjalanan hidup yang sangat berharga. Bijak sekali untuk tidak menjadi takabur karena boleh jadi ini jalan Allah Swt menunjukkan cara untuk semakin paham akan hakikat diri sendiri.

 

Ikhtiar untuk memahami diri sendiri sejatinya sarat dengan makna. Bukan mengapa tapi boleh ingat akan nasihat ulama bahwa “man arofa nafsahu faqod arofa robbahu”. Siapa yang mampu memahami hakikat dirinya, sesungguhnya ia akan mampu memahami Tuhannya, In shaa Allah. Jadi berikhtiar untuk terus memahami diri sendiri bukan suatu proses yang dipandang sederhana dan mudah dicapai. Sembari itu, terlintas pula akan konsep Johari Window yang disampaikan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham pada tahun 1955 dengan 4 (empat) kuadrannya yang seperti jendela (window). Bila ingin konsep ini diaplikasikan kepada diri sendiri, maka boleh sangat bila setiap insan berikhtiar untuk menilai diri sendiri sedang ada di kuadran yang mana. Adakah dia paham bahwa dirinya tidak paham, atau dia paham bahwa dirinya paham. Lalu adakah dia tidak paham bahwa dirinya paham, atau dia tidak paham bahwa dirinya tidak paham. Berada di kuadran yang disebut terakhir semestinya tidak menjadi pilihan yang bijak.

 

Tidak mudah bahkan tidak ada limit waktu untuk memastikan seorang insan mampu mentahbiskan diri sudah migrasi dari satu kuadran ke kuadran yang lain sehingga kualitas diri “faqod arofa robbahu” sudah tergapai. Lantas, bagaimana korelasinya proses memahami diri dengan doa yang acap disampaikan oleh seorang dai kala mengakhiri ceramahnya dengan penutup “billaahittaufiq wal hidayah”.

 

Frasa di atas boleh dimaknai sebagai ungkapan akan sebuah pertanggungjawaban dari setiap apa yang disampaikan baik salah maupun yang benar. Kalimat penutup ini menjadi doa yang penting untuk mengisyaratkan bahwa manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan baik dalam bentuk lisan, pikiran, hingga perbuatan. Dikatakan “Al-insaanu makanul khotoq wa nisyaan”. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Untuk itu, kepada yang hadir didoakan semoga mendapat petunjuk jalan yang lurus yang diridhoi oleh Allah Ta’aala.

Bila sudah dipahami makna seluruhnya, maka boleh juga bila masih penasaran untuk paham makna “taufik” dan “hidayah” secara terpisah. Bukan untuk tujuan yang nyeleneh tapi agar kontekstual situasi dan kondisinya tepat. Dari referensi yang ada, “taufik” itu adalah sebuah kekuatan yang dijadikan oleh Allah untuk hambaNya yang sesuai dengan ridha dan cintaNya. Adapun “hidayah” itu sebuah petunjuk yang dapat membawa seseorang kepada tempat yang dituntut dan dituju. Rada susah untuk dipahami. Tapi sederhananya bisa dimaknai seperti ini. “Taufik” itu, apabila diri berniat jahat, maka itu akan dihalangi oleh Allah. Tapi bila diri ingin berlaku baik, maka Allah akan berikan banyak kemudahan. Setelah dimudahkan, Allah akan beri “hidayah”, akan dituntun, difasilitasi dan dilindungi karena perjalanan insan di dunia sejatinya memang perlu perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

 

Sebagai akhir, so then kesempatan mengikuti seleksi LPS itu bolehlah dimaknai sudah berniat baik dan semoga senantiasa dituntun dan dilindungi oleh Allah Swt. Semoga juga “billahittaufiq wal hidayah” senantiasa menjadi pedoman semua orang dalam merampungkan perjalanan hidup di dunia. Wallaahu a’lam bissawab.

Jakarta, Jelang Idul Adha 1446 H

*) Pandangan pribadi, diambil dari beberapa sumber.

Read More →

Close Search Window