Oleh: Dyah Mustika

(Anggota Komunitas Penulis OJK)

Tulisan ini telah diterbitkan di Majalah Srikandi Edisi 18: 2025.

Pemberitaan negatif tentang anak-anak begitu deras masuk ke dalam pikiran kita saat ini.  Sebut saja beberapa kasus seperti bullying di sekolah, anak depresi yang akhirnya bunuh diri, anak-anak yang terekspos pornografi, tawuran antar pelajar dan anak kecanduan gadget. Berita-berita tersebut setiap hari memenuhi ruang diskusi dan berseliweran di media sosial. Kata Data menggambarkan setidaknya 2% kelompok usia 15-24 tahun mengalami depresi. Remaja yang bunuh diri, berdasarkan Peneliti Badan Riset Nasional terjadi sebanyak 985 kasus atau 45% dari keseluruhan jumlah kasus. Lebih jauh lagi, Indonesia menempati peringkat keempat di global dan kedua di ASEAN dalam jumlah kasus pornografi anak di ruang digital.

Sementara, pemerintah telah mencanangkan Visi Indonesia Emas 2045, yang menggagas menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, maju, adil dan makmur pada saat peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia di tahun 2045.  Pada tahun tersebut, Indonesia akan mengalami bonus demografi yaitu jumlah penduduk 70% dalam usia produktif (15-64 tahun). Melihat pemberitaan miris tentang perilaku negative anak-anak Indonesia sekarang, pemerintah dan masyarakat perlu mengambil langkah yang proaktif dan strategis agar cita-cita Indonesia Emas tercapai.

Di tengah bisingnya kondisi di masyarakat, marilah sejenak menengok bagaimana perilaku dan sikap anak-anak kita? Apakah anak-anak kita terpapar perilaku negatif di atas? Apakah anak-anak kita gampang menyerah, sering marah atau sering berbohong, sering takut bahkan tidak terlihat semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari? Mengapa anak-anak kita harus mempunyai karakter yang tangguh dalam mencapai Indonesia Emas?

Akar penyebab terjadinya kasus-kasus di atas dapat disebabkan beberapa faktor, antara lain faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor lingkungan. Dari ketiga faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor keluarga. Mengingat keluarga adalah tempat awal anak-anak untuk tumbuh dan berkembang sejak lahir hingga dewasa. Keluarga, sebagai unit masyarakat terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, berfungsi sebagai tempat edukasi dan pewarisan tradisi. Hal ini menjadikan ayah dan ibulah yang menggariskan dan menanamkan karakter anak dari kecil hingga remaja bahkan dewasa.

Kita sadari bahwa tantangan kehidupan anak-anak zaman now dibandingkan generasi zaman dulu sangat jauh berbeda. Karakter anak-anak saat ini sangat dipengaruhi dengan teknologi karena hampir seluruh waktunya berhadapan dengan smartphone, berhadapan dengan segala sesuatu yang serba digital serta lifestyle yang serba instan. Oleh karena itu, pemahaman karakter anak sesuai zaman dan cara membangun karakter yang positif untuk menghadapi tantangan di masa depan anak menjadi pemahaman yang sangat penting bagi ayah dan ibu sebagai orang tua.

Mengenali Emosi Anak sebagai Langkah Awal Pembentukan Karakter

Karakter merupakan sifat, watak, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak yang membedakan seseorang dengan yang lain. Hubungan antara karakter dengan emosi sangat erat. Keduanya dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Emosi yang berulang, baik positif maupun negatif, dapat mempengaruhi karakter seseorang.

David R.Hawkins dalam bukunya yang berjudul “Power vs Force : An Anatomy Of Consciousness, The Hidden Determinants of Human Behavior” mengungkapkan hasil risetnya selama 20 tahun tentang tingkat kesadaran manusia. Hawkins menjelaskan suatu model yang menggambarkan level kesadaran dari tingkat terendah sampai kesadaran tingkat tertinggi. Tingkat terendah menurut Hawkins merupakan emosi-emosi negatif yaitu malu, rasa bersalah, apatis, sedih, takut, keinginan, marah, sombong, sedangkan tingkat selanjutnya merupakan emosi-emosi positif yaitu berani, yakin, optimis, penerimaan, memahami, cinta, suka cita, damai dan pencerahan.

Dr. Aishah Dahlan, doctor praktisi Neuroparenting Skill menyatakan bahwa jika kita ingin mendidik anak agar anak dapat mengendalikan emosi atau mempunyai emosi yang positif, cara pertama yang paling mudah adalah mengenali emosi yang sedang dirasakan anak. Dalam kehidupan sehari-hari sebagai contoh suatu saat kita mendapati anak sedang  mengalami kegagalan dalam suatu perlombaan, maka kita perlu pahami bahwa anak sedang mengalami emosi negatif.  Selanjutnya, agar emosi negative tersebut tidak menjadi karakter, orang tua perlu mengarahkan emosi negative tersebut berpindah ke level emosi positif seperti sikap penerimaan (acceptance) atas kegagalan tersebut. Orang tua dapat memberikan pemahaman akan artinya menang kalah dalam suatu kompetisi. Selain itu, dapat pula dilakukan dengan pendekatan religi dengan menanamkan pentingnya nilai kesabaran dan mempraktekkan sikap berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Anak yang berkarakter tangguh sesungguhnya adalah anak-anak yang mempunyai emosi di level spektrum emosi yang positif. Hal ini karena anak yang mempunyai karakter tangguh ditandai dengan kemampuan untuk bertahan, dapat pulih dari kesulitan atau tekanan, serta memiliki ketahanan mental saat mengalami situasi yang sulit. Selain itu, anak yang berkarakter tangguh mempunyai optimisme, tekun, kemampuan beradaptasi serta dapat mengendalikan diri.

Jika kita sebagai orang tua mengamati bahwa anak kita telah mempunyai emosi di level yang positif, tugas kita selanjutnya adalah menjaga agar emosi positif tersebut menjadi karakter dan tidak menurun ke level yang negatif. Hal ini mengingat emosi yang dimiliki anak sangat rentan berubah sesuai dengan lingkungan sekitarnya.

Menjadi Teladan karena Anak Belajar dari Mencontoh

Kita memahami bahwa anak-anak belajar banyak dari contoh yang mereka lihat di sekeliling mereka terutama orang tua. Anak akan meniru dari yang mereka amati.  Terlebih lagi jika anak beranjak dewasa, mereka membutuhkan role model yang mereka panuti. Mereka akan sangat mudah mematahkan perintah kita untuk berbuat suatu kebaikan ketika kita tidak melakukannya. Dapat dibayangkan situasinya ketika sang anak diminta jangan merokok oleh sang ayah yang perokok. Contoh lain, ketika kita meminta anak kita jangan pemarah, tetapi anak sering melihat sang ibu selalu marah-marah di rumah.

Orang tua terutama ibu adalah guru pertama bagi anak-anak. Tidak mudah menjadi seorang guru yang dapat diteladani. Membutuhkan kesadaran yang mendalam serta kerja sama yang sangat baik antara ayah dan ibu. Tantangan setiap keluarga berbeda, terutama jika ayah dan ibu keduanya bekerja.

Pengalaman penulis sebagai ibu bekerja, meskipun waktu bersama anak tidak bisa sepanjang hari, namun penulis selalu memberikan foto-foto kegiatan yang dilakukan penulis di grup whatsapp keluarga. Misalnya, foto ketika penulis menjadi pembicara dalam sosialisasi atau momen kegiatan gen Z insan OJK di kantor yang dapat dijadikan inspirasi bagi anak-anak penulis yang menjelang dewasa.

Posisi sebagai teladan bagi anak-anak pun ternyata tidak cukup hanya di rumah saja. Orang tua harus juga berupaya menjadi teladan yang baik di lingkungan keluarga besar, lingkungan tetangga dan institusi tempat bekerja. Sering kita dengar pemberitaan media massa mengenai pejabat publik yang melakukan korupsi, kekerasan kepada bawahan bahkan perselingkuhan. Di era keterbukaan informasi ini, tentunya anak akan mengetahui dengan mudah perilaku buruk orang tua tersebut dan berpotensi merusak karakter anak. Selain itu, emosi anak akan menjadi negatif.

Jangan Lelah, Ibu. Jangan Meninggalkan Generasi yang Lemah

Membentuk karakter anak yang tangguh bukan pekerjaan yang mudah. Membutuhkan nafas panjang dalam menghadapi tantangan yang kondisi lingkungan anak-anak yang semakin kompleks. Oleh karena itu adalah wajar ketika seorang ibu justru mengalami depresi karena menghadapi perilaku dan karakter anak-anak yang negatif dan tidak sesuai yang diharapkannya. Untuk menghindari hal tersebut, orang tua khususnya seorang ibu membutuhkan  mental habits atau kebiasaaan pola pikir yang teguh dalam menjalankan tugasnya sehari-hari dalam membentuk karakter anak.

Mental habits yang dapat dilakukan antara lain adalah menerima (acceptance) atas kondisi yang terjadi atau karakter yang dimiliki anak-anak. Acceptance juga merupakan salah satu emosi positif yang perlu ditanamkan bagi orang tua. Selanjutnya, reframing yaitu upaya mengubah pola pandang kita atas hal negatif menjadi hal yang positif. Misalnya, ketika kita lelah dan bosan terus menerus memberikan pengertian yang baik kepada anak sehingga kita mengalami putus asa dan frustasi, kita mereframing pikiran negatif tersebut bahwa frustasi yang muncul justru memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih respon yang tepat. Terakhir, kebiasaan pola pikir yang baik dilakukan adalah diam sejenak (stillness) ketika suatu saat kita mengalami yang di luar batas ketahanan kita. Sikap diam sejenak untuk menghindari sikap yang reaktif. Hal ini memberikan kesempatan bagi otak kita untuk mengeluarkan keputusan yang berdampak lebih positif.

Penutup

Anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kita sewaktu kecil. Segala dinamika kejadian yang terlihat sekarang, belum pernah terbayangkan bagi kita sebagai orang tua. Sebagai unsur masyarakat terkecil, keluarga merupakan pondasi awal dalam membangun peradaban. Kita, sebagai ibu, mendapatkan hak Istimewa (privilege) menjadu guru pertama yang mengukir karakter mereka.

Kita menyadari bahwa  membentuk anak yang berkarakter tangguh merupakan proyek yang tanpa batas waktu. Namun setiap kita, waktu demi waktu: memahami emosi, menjadi teladan, serta  terus bereksplorasi dalam pembentukan karakter anak agar menjadi tangguh, di situlah jejak abadi peninggalan kebaikan kita sebagai seorang ibu dan kontribusi kita kepada negara dalam mencapai Indonesia Emas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window
↑