Oleh: Alya Nabila

Departemen Hukum OJK

(Cerpen ini pertama kali diterbitkan di Majalah Integrasi Edisi Juli 2025)

Sosok itu selalu datang pada jam yang sama: 17.15, duduk di bangku ketiga dari jendela, memesan kopi hitam tanpa gula. Hening. Tak melontar sepatah kata. Ia tidak pernah menatap langsung ke siapa pun, bahkan saat memesan.

Tapi aku mengingat wajahnya—bukan karena rupanya mencolok, tapi karena ketenangannya mencekam. Seperti seseorang yang telah berdamai dengan rahasia yang terlalu dalam untuk diucapkan.

Aku barista di rest area kilometer 75. Tidak ada yang istimewa dari tempat ini. Kecuali ia yang perlahan mengulik rasa penasaranku. Awalnya aku hanya mencatat pola. Rabu, selalu pakai jaket hitam, membaca koran. Tangannya bersih—terlalu bersih. Namun kukunya…kehitaman. Seperti baru mengubur sesuatu dengan tergesa.

Suatu sore, ia meninggalkan korannya. Di dalamnya ada kertas kecil—dengan torehan tulisan tangan halus:

“Sudah sampai mana kamu mencari dirimu?”

Tidak ada nama. Tidak ada maksud jelas. Tapi entah mengapa aku merasa itu ditujukan padaku.

Sejak itu, aku tertarik memperhatikannya. Mobilnya selalu sama, tapi pelat nomornya berubah. Ia pernah datang dengan mobil pelat L, lalu minggu berikutnya pelat AB. Seolah datang dari tempat yang tak tercatat.

Aku menanyakan ke petugas keamanan. Mereka mengernyit. Tak ada yang mengingat wajahnya. Tak ada yang tahu mobilnya. Seolah hanya aku yang melihatnya.

Tapi dia nyata. Aku bahkan mulai menunggu kedatangannya. Rasanya seperti menanti halaman akhir dari novel misteri yang pelan-pelan menyatu dengan hidupmu sendiri.

Hingga malam itu datang. Hujan mencakar jendela seperti ingin masuk. Jam sudah hampir pukul enam dan dia belum datang. Lalu aku melihat mobilnya, pelan-pelan parkir, tapi ia tidak turun. Kupaksa diriku menghampiri.

Namun saat aku mengetuk jendela, tidak ada siapa-siapa di dalam.

Mobil kosong. Mesin mati. Tapi kopi hangat sudah tersaji di cup holder.

Aku mundur. Detak jantungku menggila. Aku yakin dia belum sempat masuk ke dalam kafe. Bagaimana bisa kopinya sudah ada di sana?

Aku kembali ke dalam, seluruh tubuh gemetar. Tiba-tiba di atas meja langganannya, ada kertas kecil lain:

“Kamu tidak benar-benar hidup, jika kamu hanya berlalu.”

Malam itu aku tak bisa tidur. Aku menggali berita lama, berharap menemukan apa pun. Lalu manik mataku menangkapnya—foto pria itu. Korban kecelakaan lima tahun lalu di Kilometer 75. Jaket hitam. Luka bakar. Tewas seketika.

Sejak malam itu, ia tak pernah kembali. Tapi bangku ketiga dari jendela tetap aku bersihkan setiap sore. Dan kopi hitam tanpa gula tetap muncul. Entah siapa yang meletakkan. Tak ada yang mengaku.

Awalnya aku dibayangi rasa takut yang dahsyat. Ketakutan itu menggerogoti relungku—sampai rasanya susah tidur dan jantung terus berpacu tiap aku sendirian. Tapi makin lama kupikirkan, mungkin…pria tersebut bukan sekadar sosok gaib. Mungkin ia adalah bentuk teguran. Refleksi dari apa yang sudah lama kupendam. Bahwa aku telah lama menjadi hantu bagi hidupku sendiri—berjalan tanpa arah, tapi tidak hadir. Menyeduh kopi, tapi lupa bagaimana merasakan hangatnya.

Sempat terpikir untuk resign. Kabur. Mulai dari nol. Tapi setelah lama merenung, aku memutuskan bertahan. Bukan karena berani—namun karena aku ingin mencoba cara baru. Aku mulai menyapa pelanggan, mengingat nama mereka. Aku belajar mendengarkan, bukan sekadar melayani. Hidup ini bukan hanya tentang bekerja sampai lewat senja, tetapi tentang hadir sepenuhnya, bahkan di tempat paling sepi. Aku mulai hadir, bukan sekadar lewat.

Pada akhirnya aku memahami:

Hidup bukanlah soal seberapa jauh langkah menapak, melainkan seberapa utuh kau hadir di setiap persimpangan yang mengguncang jiwa.

Sebab bisa jadi, yang kau temui di tengah senja, bukan orang asing—melainkan bayangan dari dirimu sendiri, yang diam-diam menunggu untuk ditemukan, di tempat yang paling sunyi dari perhatianmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window