
[Klinik Menulis: Waktunya Mengasah Bakat dan Mengukir Cerita! 📝✨]
Hai teman-teman! 👋
Apakah kamu ingin memperdalam kemampuan menulis atau sekadar menyalurkan ide kreatif yang terpendam? Yuk, gabung di Klinik Menulis! 🎉
Klinik ini dirancang khusus untuk kamu yang ingin:
✅ Mengasah keterampilan menulis
✅ Mendapatkan bimbingan dari penulis berpengalaman
✅ Mengembangkan kreativitas menulis
✅ Mempersiapkan naskah untuk publikasi
Tidak perlu khawatir jika kamu merasa pemula. Klinik Menulis ini terbuka untuk semua level, baik kamu yang baru mulai maupun yang sudah memiliki pengalaman menulis. Kami akan membantu kamu mengembangkan gaya dan keunikan menulismu! 😍✍️
Apa yang akan kamu dapatkan?
🔍 Sesi interaktif dan latihan menulis
📚 Tips & trik dari penulis berpengalaman
🎯 Konsultasi langsung tentang karya tulis kamu
Jangan lewatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan menulis dan berbagi inspirasi dengan teman-teman sesama penulis! ✨
“Daftar Sekarang dan Temukan Gaya Menulismu!”
https://bit.ly/RegKlinikMenulisBatch1-2025
Selamat menulis dan sampai jumpa di Klinik Menulis! 😊✍️
Komunitas Penulis OJK
Bersama Menginspirasi
Oleh: RA Intan Rizky Amalia
Cerpen ini merupakan pemenang favorit Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT ke-7 Komunitas Penulis OJK
Pasar tradisional adalah jantung kehidupan di Desa Cempaka. Setiap pagi, para pedagang dari berbagai daerah datang untuk menjual hasil bumi, rempah-rempah, dan kerajinan tangan. Ada suara tawar-menawar, riuhnya orang berlalu-lalang, dan bau segar dari sayur-mayur yang baru dipanen. Pasar ini telah berdiri selama puluhan tahun, menjadi tempat pertemuan antara yang kaya dan yang miskin, yang tua dan yang muda, antara mereka yang ingin mencari nafkah dan yang sekadar menikmati keramaian. Namun, belakangan ini, pasar tersebut dihantui oleh bayang-bayang ketakutan.
Kelompok preman yang dipimpin oleh Jabrik, seorang pria besar dan berkarisma, telah mulai mengambil alih tempat itu. Mereka memaksa pedagang untuk membayar sejumlah uang perlindungan, mengancam dengan kekerasan jika ada yang menolak. Para pedagang yang sebelumnya hidup dalam damai kini merasa ketakutan, dan pasar yang dulu ramai dengan suka cita kini dipenuhi dengan ketegangan.
Pagi itu, Damar tiba di pasar dengan keranjang penuh hasil panennya. Ia melihat ketegangan yang terlihat jelas. Beberapa pedagang tampak cemas, sementara beberapa preman berkeliling mengawasi setiap kios. Jabrik berdiri tegap di depan pintu pasar, seolah menjadi penguasa tempat itu.
“Apa yang terjadi?” tanya Damar kepada Bu Minah, seorang pedagang sayur yang sudah lama ia kenal.
“Jabrik dan anak buahnya datang setiap minggu. Mereka memaksa kami untuk membayar perlindungan. Jika kami tidak membayar, barang dagangan kami bisa-bisa dirusaknya,” jawab Bu Minah dengan wajah penuh kekhawatiran.
Damar mengangguk pelan. Ia tahu masalah ini serius, tetapi juga sadar bahwa kekerasan bukan solusi. Ia teringat pelajaran dari kakeknya, seorang pendekar silat, tentang pentingnya kecerdasan dalam menghadapi tantangan. “Kekuatan sejati,” kata kakeknya dulu, “tidak hanya terletak pada fisik, tetapi juga pada kemampuan berpikir dan bertindak bijak.” (more…)
Oleh: Alya Nabila
Departemen Hukum
Setiap pagi, sesaat setelah fajar menyingsing, Dirga mengayuh sepedanya melintasi lingkungan perumahan yang masih terlelap. Di pundaknya tergantung tas penuh koran, siap ia antar ke rumah-rumah. Sudah setahun ia menggeluti rutinitas ini, tetapi ada satu rumah yang selalu membuat bulu kuduknya bergidik—rumah di ujung jalan, suram dan tampak tak terawat, berpenghuni seorang lelaki tua yang seakan tidak benar-benar menginginkan koran yang diantarkan kepadanya.
Penghuni rumah itu tak pernah menunjukkan ekspresi ramah. Beliau tak pernah melontarkan ucapan terima kasih maupun memberikan sekadar anggukan. Ia hanya mengambil koran dari tangan Dirga, lalu melesat ke dalam rumah dengan sunyi. Namun, beliau juga tak pernah meminta langganan korannya dihentikan.
Meski selalu diterima dengan cekatan, Dirga memperhatikan bahwa lelaki tua itu seringkali gemetar saat ia menggenggam koran pemberiannya. Buku-buku jarinya pucat dan berurat, seolah-olah menggenggam kenangan yang terlalu erat untuk dilepaskan.
***
Suatu pagi, seperti biasa, Dirga berhenti di depan rumah lelaki tua. Ia menekan bel.
Hening.
Tak ada derap langkah kaki, tak ada derit suara pintu yang terbuka. Akan tetapi, tiba-tiba, Dirga merasakan sesuatu—sepasang manik mata yang mengawasinya. Ia menoleh ke jendela, dan di balik tirai yang koyak, tampak dua bola mata yang kelam dan tak berkedip, menelusuri setiap gerak geriknya.
Jantung Dirga bergedup. Ia terpaku, merasakan desakan nalurinya untuk bergegas pergi. Saat ia bergerak, sorot mata tersebut tetap mengikutinya, penuh kewaspadaan, diliputi sesuatu yang ia tak pahami—seperti rasa kecurigaan yang berakar dalam.
Lalu, dengan cepat, tirai itu ditutup. Atmosfer keheningan hampir menekan, seolah dunia menahan napas. Aroma lembap kayu yang samar menyentuh hidung Dirga, membuat kulitnya merinding. (more…)
oleh: Danu Patria P. Nusa (Departemen Perbankan Syariah)
Perubahan cuaca yang cukup ekstrim dan tidak dapat diprediksi belakangan ini kembali mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga lingkungan dalam rangka pencegahan perubahan iklim. Berbagai wacana untuk berkontribusi dalam mencegah pemanasan global pun kembali menjadi pembicaraan masyarakat, salah satunya yaitu penggunaan kendaraan listrik.
Menyambut hal tersebut, untuk mendukung peralihan ke kendaraan listrik dalam rangka mengurangi emisi karbon, pemerintah saat ini sedang berencana untuk memberikan subsidi yang cukup besar untuk pembelian mobil atau motor listrik baru. Namun demikian, terdapat kelompok yang cukup skeptis dengan hal ini, mengingat saat ini pembangkit listrik di Indonesia masih didominasi oleh bahan bakar kotor terutama batu bara. Artinya, menggunakan mobil listrik hanya akan memindahkan gas buangnya saja dari jalan raya ke lokasi pembangkit listrik.
Menjawab keraguan tersebut, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam suatu kesempatan menjelaskan bahwa meskipun listrik yang digunakan seluruhnya berasal dari pembangkit tenaga batu bara, mobil listrik tetap mengeluarkan emisi lebih sedikit daripada mobil konvensional. Darmawan mencontohkan pemakaian 1 liter bensin di mobil biasa yang setara dengan penggunaan energi 1,2 kwh di mobil listrik. Untuk mengolah 1 liter bensin menjadi energi gerak, mobil konvensional akan menghasilkan 2,4 kilogram CO2. Sementara untuk menghasilkan 1,2 kwh energi di mobil listrik, pembangkit batu bara hanya akan mengeluarkan setengahnya yaitu 1,2 kg CO2. Pengurangan emisi karbon tersebut akan semakin tinggi apabila porsi penggunaan energi terbarukan dalam pembangkit listrik di Indonesia semakin besar.
Namun demikian, menghitung pengurangan emisi mobil listrik juga harus dilihat dari proses manufakturnya. Produksi mobil listrik rata-rata menghasilkan 40% lebih banyak emisi karbon karena proses ekstraksi dan pengolahan mineral seperti cobalt, nikel, dan litium dalam produksi baterai membutuhkan sumber daya yang besar. Dengan memperhitungkan hal tersebut, untuk dapat mengimbangi jejak karbon yang dihasilkan dari proses produksinya, pengurangan emisi karbon mobil listrik hanya akan dapat terasa dalam penggunaan jangka panjang. (more…)
Oleh; Try Utomo
Cerpen ini merupakan pemenang favorit Lomba HUT-ke 7 Komunitas Penulis OJK
Di sebuah negeri magis bernama Eldoria, di mana unicorn berkeliaran bebas dan menara kristal menjulang tinggi, ada sebuah kota modern bernama Vynord. Kota ini terkenal sebagai pusat perdagangan sihir. Namun, lebih dari sekadar mantra dan ramuan, Vynord memiliki sesuatu yang unik—pasar magis bernama “Pasar Senja Ajaib.” Pasar ini hanya terbuka selama tiga jam saat matahari hampir terbenam. Para penyihir dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sana untuk berdagang bahan-bahan magis, mantra kuno, hingga investasi ajaib.
Liora adalah seorang penyihir muda berusia 21 tahun, baru saja lulus dari Akademi Sihir Eldara, sebuah kastil megah yang berdiri di atas tebing dengan pemandangan laut yang tak berujung. Rambutnya panjang dan bergelombang, berwarna cokelat keemasan. Ia sering mengikat rambutnya dengan pita biru tua—warna khas Akademi Eldara—sebagai simbol kebanggaannya atas pencapaian kelulusannya.
Matanya berwarna hijau zamrud, tajam dan penuh rasa ingin tahu, mencerminkan semangat belajarnya selama bertahun-tahun di Eldara. Namun, terkadang, sorot matanya menampakkan keraguan, terutama ketika ia dihadapkan pada situasi baru yang belum pernah ia alami. Kulitnya cerah, dengan rona merah muda alami di pipinya, memberikan kesan segar dan sehat khas seseorang di usia mudanya. Sebuah tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit menghiasi sisi leher kirinya, yang dipercaya membawa keberuntungan bagi penyihir muda seperti dirinya.
Di Akademi Eldara, Liora telah mempelajari berbagai mantra, mulai dari sihir dasar hingga teori-teori kompleks tentang energi magis. Namun, salah satu pelajaran penting yang jarang disentuh di sana adalah pengelolaan kekayaan magis, suatu hal yang kini ia sadari sangat penting untuk memulai hidup mandirinya. Dengan impian besar untuk membuka toko ramuan sendiri, ia meninggalkan Eldara, membawa bekal ilmu sihir dan keberanian, tetapi dengan sedikit pengalaman praktis.
Postur tubuh Liora ramping, dengan tinggi sekitar 165 cm, cukup tinggi untuk wanita muda di dunianya. Ia mengenakan jubah sederhana berwarna abu-abu, dihiasi bordir emas di bagian kerah dan ujung lengan, hadiah kelulusan dari Akademi Eldara. Sepasang sepatu bot kulit cokelat yang dipenuhi sedikit bekas goresan menunjukkan bahwa ia telah berjalan jauh untuk sampai ke Pasar Senja Ajaib, tempat ia berharap menemukan awal dari perjalanan barunya. (more…)
Oleh: Muhammad Arif
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi, Desember 2024
Bagi insan OJK, nama-nama seperti Basel, IOSCO, IAIS, atau IASB mungkin sudah tidak asing lagi1. Lembaga-lembaga ini memiliki peran sentral dalam menetapkan standar yang menjadi acuan utama bagi sektor keuangan di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia.
Namun, dalam industri keuangan syariah, terdapat pula lembaga-lembaga lain yang memiliki peran strategis dalam menyusun standar global yang kompatibel dengan prinsip syariah. Seiring pesatnya perkembangan industri keuangan syariah, yang mencapai nominal USD 3,3 triliun dan tergolong signifikan di 16 yurisdiksi menurut laporan IFSB tahun 2023, keberadaan standar-standar ini menjadi semakin krusial.
Artikel ini akan membahas tiga lembaga utama yang berperan dalam penyusunan standar global keuangan syariah serta relevansinya bagi Indonesia sebagai salah satu pemain kunci dalam industri ini.
AAOIFI: Pelopor Standar Akad dan Akuntansi Syariah
Didirikan pada tahun 1991 di Bahrain, Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) berfokus pada penyusunan standar keuangan syariah, terutama terkait akad dan akuntansi. Saat ini, AAOIFI memiliki anggota dari 45 negara, dengan beberapa yurisdiksi seperti Bahrain dan Pakistan yang menjadikan standar yang diterbitkannya sebagai acuan resmi.
Meskipun tidak menjadi acuan resmi di Indonesia, standar AAOIFI kerap dijadikan referensi dalam pengembangan kebijakan keuangan syariah nasional. Sebagai contoh, fatwa DSN-MUI nomor 152 tahun 2022 mengenai akad wakalah bi al-istitsmar turut mempertimbangkan Shariah Standard AAOIFI nomor 46 yang membahas akad serupa. (more…)
Oleh: Sehrenneta Bella Fiona (Kantor OJK Jambi)
Cerpen ini Merupakan Pemenang Favorit Lomba Menulis Cerpen Dalam Rangka HUT ke-7 Komunitas Penulis OJK
Di Sihanoukville ini, kendati hanya sendirian, Bujang masih lebih merasakan tenteram ketimbang di rumahnya nun jauh di Indonesia sana. Menghabiskan hari-hari dengan bekerja dengan pekerja sesama dari Indonesia. Tapi Bujang juga tidak mau terus bekerja disini.
Bujang merupakan panggilannya, dulu sang Datuk* memberikan nama pemain bola andalan dunia kepada Bujang, yakni Zidane, jangan tanya perihal persetujuan ayahnya, karena ayah Bujang saat itu yang masih di kelas 3 SMA tidak dianggap layak untuk memberikan nama anaknya sendiri, begitupun ibu Bujang.
Bujang hadir di dunia ketika kedua orangtuanya sama-sama tidak siap, meskipun telah ditentang habis-habisan oleh kedua orangtuanya, ibu Bujang nekat lari ke perbatasan kota bersama kekasihnya, ayah Bujang. 6 bulan kemudian Bujang lahir.
Sejak kecil Bujang sudah memiliki kecerdasan di atas rata-rata
“Aku tidak suka pelajaran satu tambah satu, aku sudah bisa perkalian!”
Saat SMP Bujang sering diikutsertakan gurunya untuk lomba cerdas cermat tingkat provinsi, dan setidaknya title juara tiga selalu dibawa pulang oleh Bujang. Ketika itu ayah Bujang mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan BUMN dengan tunjangan rumah dinas, semua kebutuhan Bujang dan dua adiknya bisa terpenuhi, hal yang belum pernah Bujang maupun keluarganya rasakan.
Ibu Bujang tidak cukup bijak untuk mengelola keuangan mereka, serta ayah Bujang tidak cukup kuasa untuk menahan sang istri. Yang Bujang tahu, ibu Bujang langsung membeli spring bed baru, TV baru (dua sekaligus! Untuk kamar dan ruang keluarga), kulkas dua pintu, serta kipas angin untuk masing-masing kamar mereka. Hal ini juga merupakan pembuktian, sebab selama ini ibu Bujang selalu merasa diremehkan karena putus sekolah dan hamil diluar nikah. Lihatlah saat ini, suaminya sudah sukses!
Status ayah Bujang sebagai pegawai BUMN membuat pengajuan kredit di bank maupun leasing semudah membalikkan telapak tangan.
‘ahh sudahlah, tidak apa-apa, selama jadi pegawai masih aman’ pikir ayah Bujang. (more…)
Oleh: Yusak Liestia Ramagit S
Cerpen ini merupakan Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Dalam Rangka HUT ke-7 Komunitas Penulis OJK
Sejak kecil Bahul sering bermimpi. Saking seringnya, aktivitas itu tidak dapat dibedakan apakah kebetulan atau memang suka bermimpi. Ia sendiri tidak dapat, ibunya juga tidak. Mimpi Bahul juga tidak dibatasi waktu, baik sembari terlelap maupun terjaga, Bahul pokoknya bermimpi. Bagi Bahul, mimpi bukan sekadar mimpi, melainkan lebih mendekati firasat. Pernah suatu ketika ia bermimpi dihinggapi kupu-kupu sambil makan durian. Keesokan harinya, pamannya yang dari Jakarta datang berkunjung dan memberinya uang jajan yang sangat banyak. Entah bagaimana caranya Bahul selalu tahu makna firasat dari mimpinya.
Bahul juga sering bermimpi tentang sosok laki-laki yang entah bagaimana selalu menganggapnya sebagai anak sendiri. Ia memang tidak pernah melihat ayahnya karena ayahnya meninggal ketika ia masih berumur dua tahun. Tiap kali selesai bermimpi, ia selalu menceritakan mimpinya kepada ibunya.
Untuk urusan bermimpi, Bahul juga tidak seperti kebanyakan orang, terkhusus di saat-saat ia bermimpi sambil terjaga. Ia tetap aktif dan sigap, tidak seperti kebanyakan orang yang bermimpi di siang bolong. Tiap pagi sebelum matahari meninggi, Bahul sudah selesai membersihkan warung ibunya, lengkap dengan penataan semua keperluan jualan ibunya. Sebelum ibunya tuntas memasak menu kesepuluh nasi rames hari itu, dari kertas dan daun bungkus, karet gelang, sendok plastik, sampai kantung plastik, semua sudah tertata rapih sebelum ibunya keluar dari dapur untuk menata jualan nasi ramesnya.
Bahul membantu ibunya tanpa paksaan asalkan ibunya tidak melarang dia bermimpi. Ia pernah bercerita bahwa ia bermimpi suatu saat warung nasi rames ibunya akan menjadi restoran besar dan terkenal yang mengalahkan warung Bang Haji yang kebetulan juga menjual nasi rames dan hanya berjarak 300 meter dari warung ibunya. Mendengar itu, ingin sekali ibunya melarang ia mengumbar omong kosong itu tapi melihat kerajinan dan kegigihan Bahul dalam membantunya berdagang, ibunya tidak sampai hati mengatakannya. Seringkali ibunya hanya mengiyakan atau sekadar mengangguk sambil tetap fokus menyiapkan lauk pauk.
“Ul, kamu boleh bermimpi tapi ingat ojo grusa-grusu ya. Nasihat ibu, kadang kita perlu waktu yang sangat panjang untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita,” ujar ibunya sambil mengaduk nasi di dandang.
“Tenang bu. Kalau Bahul berhasil dapat uang yang banyak, warung ibu pasti bisa jadi besar dan terkenal.”
“Yo wis ndang nggolek kerjoan. Kamu kan sudah lulus kuliah. Si Kiyar katanya sudah dapat kerjaan loh, Ul.” Kepulan uap membumbung tinggi sembari ibu Bahul memindahkan nasi ke bakul.
“Bahul bantu ibu jualan saja ya. Bahul bosan ditolak terus.”
“Lho, pengennya lamar kerja sekali langsung diterima gitu toh? Kalau gitu, semua orang juga pasti mau, Ul.”
“Inget ya,” lanjut ibunya, “seberapa banyak dan besarnya mimpimu tapi kalau kamu ora sabaran dan tidak tekun, mimpi hanyalah mimpi, Ul. Dadi wong kui ojo pingine mung sak dheg sak nyet.”
“Nggeh, Ndoro.”
“Kamu itu kalau dibilangin orang tua nggak diperhatikan malah dibuat becandaan.”
“Iya, bu. Bahul pasti bisa cari kerja secepatnya. Bahul pamit dulu ya bu, mau ke rumah Maman, mau update CV bareng.” (more…)
Komunitas Penulis OJK (KPOJK) mengucapkan terima kasih atas partisipasi dari insan OJK dalam Lomba Menulis Cerpen yang khusus diselenggarakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-7 KPOJK. Secara keseluruhan terdapat 55 naskah cerpen yang masuk ke Panitia.
Setelah melalui proses diskusi Dewan Juri, ditetapkan pemenang Lomba Menulis Cerpen sebagai berikut:

Selamat kepada seluruh Pemenang. Ditunggu karya-karya berikutnya.
Tetap Semangat kepada seluruh Peserta, pada saatnya anda akan menjadi Juara.
Jakarta, 5 Februari 2025
Komunitas Penulis OJK
#Bersama Menginspirasi
Oleh: Christiansen Frisilya Br Perangin Angin
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian KOMPAS, 15 Januari 2022
Memasuki tahun baru, tentu kita semua memiliki resolusi dan harapan yang ingin dicapai pada tahun ini, menikah salah satunya. Nah, menikah merupakan komitmen jangka panjang yang membutuhkan tanggung jawab serta persiapan yang matang. Salah satunya dari segi perencanaan keuangan.
Perencanaan keuangan oleh calon pengantin bertujuan untuk merencanakan masa depan keluarga yang lebih baik serta menyesuaikan pola keuangan yang dimiliki. Pola keuangan sebelum dan sesudah menikah akan mengalami perubahan, baik dari segi tujuan, jangka waktu, maupun alokasi pendapatan yang dimiliki.
Pembahasan mengenai kondisi keuangan masing-masing pihak hendaknya dilakukan sebelum menikah, misalnya sumber pendapatan yang sudah ada atau kemungkinan menambah sumber pendapatan lain, pengelolaan keuangan berdasarkan tujuan dan prioritas, tanggung jawab, serta utang yang dimiliki. Pembahasan ini penting dilakukan agar masing-masing pihak memiliki gambaran kondisi keuangan pasangan dan menjadi salah satu pertimbangan tujuan keuangan ke depan.
Berikut beberapa hal yang perlu dibahas bersama oleh calon pengantin. Pertama, tujuan keuangan keluarga. Tujuan keuangan hendaknya dibicarakan secara terbuka bersama pasangan agar memiliki kesepahaman dan saling mendukung dalam menjalankan kehidupan bersama ke depan. (more…)