Oleh: Sehrenneta Bella Fiona (Kantor OJK Jambi)
Cerpen ini Merupakan Pemenang Favorit Lomba Menulis Cerpen Dalam Rangka HUT ke-7 Komunitas Penulis OJK
Di Sihanoukville ini, kendati hanya sendirian, Bujang masih lebih merasakan tenteram ketimbang di rumahnya nun jauh di Indonesia sana. Menghabiskan hari-hari dengan bekerja dengan pekerja sesama dari Indonesia. Tapi Bujang juga tidak mau terus bekerja disini.
Bujang merupakan panggilannya, dulu sang Datuk* memberikan nama pemain bola andalan dunia kepada Bujang, yakni Zidane, jangan tanya perihal persetujuan ayahnya, karena ayah Bujang saat itu yang masih di kelas 3 SMA tidak dianggap layak untuk memberikan nama anaknya sendiri, begitupun ibu Bujang.
Bujang hadir di dunia ketika kedua orangtuanya sama-sama tidak siap, meskipun telah ditentang habis-habisan oleh kedua orangtuanya, ibu Bujang nekat lari ke perbatasan kota bersama kekasihnya, ayah Bujang. 6 bulan kemudian Bujang lahir.
Sejak kecil Bujang sudah memiliki kecerdasan di atas rata-rata
“Aku tidak suka pelajaran satu tambah satu, aku sudah bisa perkalian!”
Saat SMP Bujang sering diikutsertakan gurunya untuk lomba cerdas cermat tingkat provinsi, dan setidaknya title juara tiga selalu dibawa pulang oleh Bujang. Ketika itu ayah Bujang mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan BUMN dengan tunjangan rumah dinas, semua kebutuhan Bujang dan dua adiknya bisa terpenuhi, hal yang belum pernah Bujang maupun keluarganya rasakan.
Ibu Bujang tidak cukup bijak untuk mengelola keuangan mereka, serta ayah Bujang tidak cukup kuasa untuk menahan sang istri. Yang Bujang tahu, ibu Bujang langsung membeli spring bed baru, TV baru (dua sekaligus! Untuk kamar dan ruang keluarga), kulkas dua pintu, serta kipas angin untuk masing-masing kamar mereka. Hal ini juga merupakan pembuktian, sebab selama ini ibu Bujang selalu merasa diremehkan karena putus sekolah dan hamil diluar nikah. Lihatlah saat ini, suaminya sudah sukses!
Status ayah Bujang sebagai pegawai BUMN membuat pengajuan kredit di bank maupun leasing semudah membalikkan telapak tangan.
‘ahh sudahlah, tidak apa-apa, selama jadi pegawai masih aman’ pikir ayah Bujang.
Dan perkiraan ayah Bujang meleset, ayah Bujang dipecat dari BUMN tersebut karena ketahuan pencatatan palsu, mereka diusir dari rumah dinas, dan ayah Bujang bingung bagaimana membayar hutang-hutangnya. Saat itu Bujang baru akan masuk SMA, hanya dua tahun Bujang merasakan kenikmatan sebagai anak pegawai BUMN.
Kehidupan Bujang dilanjutkan dengan menumpang dirumah peninggalan buyutnya, rumah panggung di lingkungan yang disebut sebagai slum area dari buku pelajaran geografinya. Daerah ini masuk daftar hitam para account officer bank dan leasing. Yang berani masuk hanya ‘mba-mba’ berbadan getol agen Mekaar, pinjaman berkelompok ini cukup berhasil karena sifat masyarakat masih cukup komunal.
Tontonan yang cukup menghibur Bujang adalah kejar-kejaran antara polisi dan BNN dengan salah satu bandar, warga yang sudah terbiasa akan berkumpul di sekitar rumah si bandar, beberapa ada yang bertaruh berapa lama orang yang ditangkap itu ditahan polisi, akan ada yang menjawab dua minggu, beberapa lagi satu minggu.
“Mana ada! Si Juned kemarin cuma tiga hari ditahan, habis itu keluar dia” kata Bang Mamad. Bujang yang duduk tak jauh dari Bang Mamad memandang takjub, hanya tiga hari, rekor baru. Biasanya tetangga Bujang akan ditahan seminggu, dan beberapa ada yang sampai bulanan, bisa jadi sesajennya tidak cukup untuk membuka teralis pintu tahanan itu.
“Iya, katanya Si Juned bayar segini” Bang Amri memperagakan angka 5.
Bujang bergidik ngeri, sebagian besar pemuda di lingkungannya sudah sangat akrab dengan barang haram itu. Untungnya Bujang masih dianggap sebagai pendatang, sehingga tidak terlalu bergaul dengan pemuda disekitar rumah buyutnya. Tapi tidak berlaku untuk ayah Bujang, suatu siang sepulang sekolah, jantung Bujang seperti dihentak, Bujang melihat ayahnya tidur di selasar rumah, dan terdapat bong tak jauh ayahnya tidur.
Suram.
Hanya itu yang Bujang rasakan, hidupnya sudah cukup morat-marit. Ditambah ibunya baru mengabari bahwa Bujang akan punya adik lagi.
Bujang saat itu hanya ingin lari saja.
Geram.
Bujang dan adik-adiknya sudah hidup susah, ditambah pula akan ada anggota keluarga baru, apa tidak bisa ibunya menggunakan kontrasepsi saja, atau malah, ibunya tidak sanggup untuk sekedar membeli pil KB. Seharusnya ada larangan bagi orang miskin punya anak banyak.
Sial.
Bujang mendapatkan istilah yang tepat untuk hidupnya.
Selang sehari sebelum lahiran, ayahnya mesti pontang panting mencari pinjaman, ternyata selama ini tidak terpikirkan oleh ayah-ibu Bujang untuk mengurus BPJS. Padahal sembilan bulan itu bukan waktu yang sebentar. Adiknya baru bisa dibawa pulang seminggu kemudian, ketika ayahnya sudah mendapatkan pinjaman dan melunasi biaya rumah sakit.
“Bujang, aku dengar kau pintar mainin komputer” Bang Mamad tiba-tiba datang kerumah Bujang, matanya menakar Bujang dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Ternyata hari itu Bujang sudah diprospek Bang Mamad. Tidak butuh waktu lama setelah percakapan dengan Bang Mamad, Bujang dibawa ke Jakarta. Pengalaman pertama Bujang naik pesawat. Sungguh mendebarkan! Bang Mamad pun juga baru pertama kali naik pesawat. Keduanya sama-sama gugup dan takjub.
“Nanti kau ikuti saja aku, jangan banyak tanya ya” setelah mereka mendarat kembali takjub dengan bandara yang luasnya sama seperti ibukota kecamatan. Bujang mengikuti langkah kaki sok tahu Bang Mamad.
“Gading” Ucap Bang Mamad ke loket travel.
“Yang ini ke Bandung pak, kalau mau ke Gading bisa naik taxi atau Damri” petugas menunjukkan lokasi Damri.
Malamnya Bujang sampai di lokasi, bangunan komplek apartemen low rise, Bang Mamad langsung menghampiri penjaga keamanan. Pekerjaan pertama Bujang adalah menjadi tenaga IT, cuma itu kata Bang Mamad. Bujang tidak berani bertanya banyak takut Bang Mamad marah.
Setelah beberapa bulan Bujang sudah terbiasa di tempat ini, pekerjaan tidak terlalu berat, hanya perlu menyesuaikan beberapa keyword sebagai SEO, agar situs yang dikelola bosnya mudah ditemukan oleh orang-orang. Gajinya pun cukup besar ditambah tunjangan tempat tinggal berupa kamar untuk dua orang dilengkapi AC, TV, dan kamar mandi dalam. Dari pekerjaan ini Bujang selalu mengirimkan uang ke rumah untuk keluarganya dan sebagian lagi Bujang minta ibunya untuk ditabung, disini Bujang tidak perlu uang banyak karena semua sudah ditanggung bos.
Akan tetapi dalam tiga bulan bekerja, sudah dua kali Bujang dibangunkan subuh-subuh, padahal dia baru tidur jam 1 malam. Bujang dan pekerja lainnya dibawa ke polisi setempat, dan baru bisa keluar jam 9 pagi. Selama dua kali diperiksa di kantor polisi, Bujang selalu melihat seseorang yang memakai pakaian safari dengan raut wajah tegang, orang ini selalu membawa pouch tebal dan tak henti-hentinya menelepon. Mereka baru diperbolehkan pulang ketika orang ini selesai menelepon entah siapa.
“Sudah tidak aman Bujang, ayo kita balik dulu urus paspor, kau mau kan ikut ke Kamboja” Bang Mamad tampak mengemasi barang-barangnya sepulang dari kantor polisi.
Setibanya di rumah, terlihat sebuah mobil LCGC parker halaman, di selasar tampak adik perempuannya sedang bercengkrama dengan seorang yang Bujang tebak pasti pacar adiknya.
“Sudah ibu belikan mobil Bujang, ini dari uang tabunganmu, adikmu juga tidak perlu kepanasan ke sekolah, kan sayang kalau anak perempuan jadi hitam karena kena panas matahari, nanti siapa yang mau” ucap ibu Bujang dengan raut gembira.
Bujang terduduk lemas.
“Tidak apa-apa Bujang, kalau adikmu pakai mobil ke sekolah, setidaknya lelaki yang mendekati adikmu juga anak orang kaya, nanti adikmu bisa menikah dengan orang kaya juga Bujang. Untuk saat ini kau hanya perlu rutin transfer, karena uang tabunganmu hanya cukup untuk DP nya saja” ucapan ibu Bujang turut diamini oleh sang adik.
Mengurus paspor yang Bujang rencanakan dua minggu sengaja dipercepat menjadi seminggu, Bujang sudah tidak sanggup melihat tingkah laku ibunya, adik perempuan yang sibuk pacaran, serta ayahnya yang selalu teler.
Selama ini kampung halaman, yang Bujang dengar dari ibunya sudah jarang penggerebekan terjadi, orang-orang disini lebih asik dengan handphone-nya masing-masing, kios tempat top up saldo uang elektronik laris didatangi orang-orang dengan nominal top up beragam, mulai dari Rp20.000,- hingga jutaan. Sepertinya hasil kerja Bujang cukup berdampak.
Paspor telah siap, pakaian tidak perlu dibawa banyak karena bisa dibeli nanti, dan Bujang tidak perlu repot-repot minta ibunya mempersiapkan masakan untuk bekal, karena ibunya pun juga tidak bisa memasak. Jika Bujang rindu masakan Indonesia tidak terlalu masalah selama di perantauannya nanti, berdasarkan info yang Bujang terima dari Bang Mamad, disana sudah banyak warung Lamongan dan rumah makan Padang.
Keberangkatan Bujang kali ini sendirian, sebab Bang Mamad ditangkap polisi karena ikut menghisap ‘bong´, meskipun penggerebekan sudah jarang, polisi tetap mendatangi kampungnya. Bang Mamad butuh waktu lama untuk keluar dari tahanan karena uang tabungannya pun sudah habis untuk barang haram itu serta menyewa pacar bayaran selama berada di kampung.
Di Sihanoukville ini, kendati hanya sendirian, Bujang lebih merasakan tenteram ketimbang di rumahnya nun jauh di Indonesia sana. Menghabiskan hari-hari dengan bekerja dengan pekerja sesama dari Indonesia. Tapi Bujang juga tidak mau terus bekerja disini. Hasil uang haram tidak akan baik untuk kehidupannya, sedikit demi sedikit Bujang menabung untuk kursus Bahasa Jepang dan persiapan pindah ke Jepang. Bujang lebih memilih untuk menjadi partime daripada punya andil merusak kehidupan banyak orang, termasuk hidupnya sendiri.
“Salauh batimba luko bapampeh matai babangon”
Salah bertimbang luka berpampasan mati berbangun – setiap ada kesalahan harus ada imbangan hukumannya, orang harus berpikir benar dahulu baik-baik sebelum terlanjur. Bagaimanapun sesuatu hukuman itu tidak enak dirasakan * *
Bujang tahu, awal hidupnya merupakan sebuah kesalahan, dan Bujang tidak mau akhir hidupnya berakhir kesalahan pula.
*Datuk: Bapak dari orang tua; Kakek
** Seloko Adat Jambi