
Rekrutmen Komunitas Penulis Otoritas Jasa Keuangan (KPOJK) telah dibuka. Penasaran nggak sih apa saja keuntungan menjadi KPOJK?
- Coaching dan Mentoring – punya banyak ide menulis? tapi bingung menguraikannya? TENANG! dengan menjadi bagian dari KPO kamu punya privillige untuk dapet coaching dan mentor yang sudah ahli di bidang penulisan dan tema yang kamu pilih
- BELAJAR TERUS; TERUS BELAJAR – sebagai seorang insan OJK, tentunya kita nggak boleh cepet puas dengan ilmu yang kita punya. Nah, di KPOJK, sering loh diadakan webinar untuk lebih improve gaya tulisan kamu
- Dapet undangan jalur ordal – Naaaah sebagai bagian dari KPOJK yang aktif menulis, nantinya setiap semester atau tahunan, KPOJK juga sering loh dapet undangan khusus untuk pertemuan dengan Dewan Direksi, dan orang-orang keren lainnya.
PENASARAN ADA KEUNTUNGAN APA LAGI??? jangan lupa join yaaa dengan KPOJK. kami tunggu!
Gaesss, pada tahun 2025 ini Komunitas Penulis OJK akan menerbitkan 3 (tiga) buku ya.
- Buku Kumpulan Cerpen
- Buku Kumpulan Artikel Opini
- Book Chapter: Digital Finance
Bagi rekan rekan yang ingin terlibat sebagai Tim Penerbitan Buku tersebut, silahkan daftar di link berikut:
http://bit.ly/PanitiaKPO
ditunggu ya….

Komunitas Penulis OJK
#Bersama Menginspirasi
Oleh: Yosua Rinaldy (Kantor OJK Papua)
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian Cendrawasih Pos, 22 Februari 2025
Salah satu proklamator negeri kita yaitu Bapak Mohammad Hatta pernah berkata, “Tak ada harta pusaka yang sama berharganya dengan kejujuran.” Suatu kalimat yang memiliki makna kebaikan yang sangat dalam dan patut diteladani. Namun sangat disayangkan, maraknya tindakan-tindakan penipuan keuangan di negara kita saat ini mencerminkan masih banyak orang di Indonesia yang tidak meneladani kalimat indah nan bijaksana dari Bapak Muhammad Hatta. Akan tetapi, bukan berarti kita semua tidak bisa berkontribusi untuk memberantas penipuan keuangan. Kita pun dapat berkontribusi untuk menghindari dan memastikan orang-orang sekitar kita menghindari modus-modus penipuan keuangan sehingga meminimalisasi potensi korban para pihak pelaku penipuan tersebut.
Modus Penipuan Keuangan
Tahap awal kita berkontribusi memberantas penipuan keuangan dapat dimulai dengan mengenali dan mewaspadai modus-modus penipuan keuangan. Secara garis besar, modus-modus penipuan keuangan yang seringkali terjadi belakangan ini berkaitan empat skema yaitu Skema Ponzi, Skema Biaya Di Muka, Skema Phishing, dan Skema Salah Transfer. Mari kita mengenal lebih jauh skema-skema dimaksud.
- Skema Ponzi
Skema ini diambil dari nama Charles Ponzi yang merupakan salah satu pelaku penipuan keuangan terbesar dalam sejarah. Kisah penipuan keuangan Charles Ponzi terjadi sekitar tahun 1920 di negara Amerika Serikat dimana Ponzi menjanjikan orang-orang yang menempatkan dana padanya akan mendapatkan keuntungan 50% dalam 45 hari dan 100% dalam 90 hari. Ponzi menawarkan janji tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya memiliki cara untuk memanfaatkan dana-dana yang diterima tersebut untuk memperoleh keuntungan yang besar. Kenyataannya, Ponzi tidak pernah memiliki kemampuan untuk memanfaatkan dana-dana tersebut untuk memperoleh keuntungan besar yang dijanjikan tersebut. Skema Ponzi ini dapat berjalan dengan cara Ponzi membayarkan janji keuntungan pihak yang menempatkan dana awal kepada dirinya dengan menggunakan dana pihak lain yang menempatkan dana kepadanya. Gampangnya, misalkan Budi menempatkan dana 1.000 kepada Ponzi bulan Januari dan pada bulan Februari Hasan menempatkan dana 1.000 kepada Ponzi, janji keuntungan kepada Budi pada bulan Februari dibayarkan Ponzi lewat dana yang ditempatkan Hasan tadi dan bukan dari keuntungan bisnis yang dilakukan Ponzi. Praktik seperti itu berjalan terus menerus sampai pada masa dimana jumlah penempatan dana peserta baru tidak mampu mengimbangi dana yang harus disiapkan Ponzi untuk membayarkan janji keuntungan kepada peserta lama. Ketika mayoritas peserta tidak mendapatkan janji keuntungan dan menuntut pengembalian dana, Ponzi tidak dapat mengembalikan dana tersebut sehingga mengakibatkan banyaknya peserta yang menjadi korban penipuan dan mengalami kerugian material karena dana yang ditempatkan tidak kembali.
Skema Ponzi ini sudah banyak terjadi juga di Indonesia walaupun terkadang dalam praktiknya seringkali bercampur dengan Skema Piramida seperti contohnya kasus Pandawa Group. Melalui perkembangan teknologi saat ini, banyak juga kejadian Skema Ponzi yang lebih canggih seperti beberapa kasus penipuan keuangan Investasi Online Robot Trading dimana para pelaku menjanjikan keuntungan besar dengan mempromosikan bahwa Robot Trading yang mereka miliki punya kemampuan berinvestasi di berbagai macam instrumen keuangan dengan pencapaian return yang sangat besar.
- Skema Biaya Di Muka (Advanced Fee)
Praktik biaya di muka sebagaimana kita tahu bersama pada umumnya bukanlah hal ilegal. Namun praktik biaya di muka dapat menjadi ilegal jika terdapat tindakan penipuan di dalamnya. Skema Biaya Di Muka diawali dengan pelaku penipuan menjanjikan suatu manfaat tertentu kepada orang-orang dengan syarat membayarkan sejumlah uang kepada pelaku, padahal sejak awal janji tersebut telah direncanakan untuk tidak direalisasikan para pelaku. Bahkan, terkadang janji dari para pelaku relatif mustahil terealisasi namun pada saat penawaran digambarkan kepada orang-orang seakan-akan janji tersebut relatif mudah untuk direalisasikan para pelaku.
Beberapa contoh kejadian yang pernah terjadi di Indonesia yaitu kasus permintaan uang pendaftaran dengan janji menyelesaikan kredit di perbankan, kasus permintaan uang dengan janji “pembersihan” kredit bermasalah/macet pada Informasi Debitur (iDeB) yang tercatat pada SLIK OJK, dan permintaan uang dengan janji dibantu pencairan kredit pada lembaga jasa keuangan.
- Skema Phishing
Skema ini semakin berkembang di era pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Kata “Phishing” terinspirasi dari kata “Fishing” yang artinya memancing. Sesuai dengan asal katanya, skema ini diawali dengan pelaku penipuan memancing korban dengan tawaran yang menggiurkan diikuti dengan instruksi-instruksi yang perlu dilakukan korban. Instruksi-instruksi tersebut pada dasarnya merupakan upaya penipuan agar korban membocorkan atau memberikan data pribadi kepada pelaku. Jika korban tergiur dan mengikuti instruksi dari pelaku tersebut, maka pelaku akan menerima data pribadi yang seringkali dapat digunakan untuk mengakses bahkan merampas dana korban yang disimpan pada lembaga jasa keuangan.
Di Indonesia, skema ini muncul dengan berbagai wujud seperti janji hadiah, janji diskon atas barang tertentu, janji tiket murah, dan janji-janji menggiurkan lainnya. Namun Skema Phishing ini sendiri semakin berkembang seperti munculnya cara merampas data pribadi melalui file APK yang seakan-akan merupakan file undangan acara yang jika diklik oleh korban maka perangkat yang digunakan oleh korban dapat dibajak dan diakses pelaku.
- Skema Salah Transfer
Sesuai namanya, secara ringkas skema ini dilakukan pelaku penipuan dengan berpura-pura salah mentransfer dana kepada korban. Setelah itu, jika korban baik secara sadar atau tidak sadar menggunakan dana tersebut, maka pelaku akan menuntut pengembalian dana tersebut dengan bunga yang sangat besar. Di Indonesia, skema Salah Transfer seringkali dilakukan oleh Pinjaman Online (Pinjol Ilegal).
Keempat skema tersebut terutama tiga skema yang dibahas paling awal secara umum memiliki beberapa kesamaan yaitu seringkali muncul dengan menceritakan sejarah sukses pelaku yang luar biasa (yang biasanya kisah rekaan pelaku), memberikan janji-janji yang manis nan indah, dan menghadirkan urgensi kuat untuk mendorong orang segera ambil bagian pada dimaksud. Harus diakui, bahwa para pelaku penipuan keuangan ilegal seringkali bukan hanya pandai dalam memanipulasi angka namun pandai juga dalam memanipulasi psikis dan perasaan dari orang yang ditargetkan untuk menjadi korban. Itulah sebabnya setelah kita mengenal keempat skema yang umum digunakan dalam penipuan keuangan, perlu dipahami juga bahwa salah satu elemen penting seseorang untuk menangkal penipuan keuangan bukan hanya tingkat pemahaman seseorang atas pengelolaan keuangan namun kedewasaan emosional seseorang itu dalam menanggapi penawaran-penawaran keuangan yang memberikan janji yang fantastis namun cenderung tidak realistis.
Mengatasi Penipuan Keuangan
Lalu, bagaimana mengatasi modus-modus penipuan keuangan? Pertama, pahami kecerdasan dalam pengelolaan keuangan yang mencakup pemahaman atas prinsip 2L (Legal dan Logis) dalam memanfaatkan produk-produk keuangan. Prinsip Legal berarti memastikan setiap pihak atau penyelenggara yang menawarkan investasi memiliki izin dari dari regulator/lembaga berwenang. Prinsip Logis berarti memastikan apakah keuntungan atau imbal hasil yang dijanjikan masuk akal dan realistis. Tentunya pemahaman atas prinsip legal dan logis tersebut pun dapat berfungsi optimal dalam penerapannya jika kita memahami ragam produk-produk keuangan yang legal. Itulah sebabnya perlu bagi kita semua untuk senantiasa meningkatkan literasi keuangan dengan memahami hak dan kewajiban konsumen dan lembaga jasa keuangan dalam penggunaan produk-produk keuangan.
Kedua, amankan dan rahasiakan data pribadi dengan baik. Pahami bahwa kebocoran data pribadi merupakan salah satu jalan masuk pelaku kejahatan keuangan sehingga data pribadi perlu senantiasa dijaga kerahasiaannya. Kepedulian atas pengamanan data pribadi pada saat mengakses internet pada perangkat elektronik juga penting dengan menghindari penggunaan aplikasi keuangan online dengan jaringan Wi-Fi umum/publik, mengakses tautan-tautan yang mencurigakan, dan memastikan perangkat elektronik dilengkapi software atau aplikasi pengamanan yang memadai dan up to date.
Ketiga, jaga kedewasaan emosional dalam pengambilan keputusan keuangan apalagi keputusan terkait nilai uang nominal besar. Tidak dipungkiri keempat modus penipuan keuangan tadi turut menjerat juga orang-orang dengan latar belakang pendidikan yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan kecerdasan keuangan dari sisi pemahaman harus diiringi juga dengan kedewasaan emosional yang baik. Tidak jarang korban penipuan keuangan ilegal sebenarnya memiliki literasi keuangan yang tidak buruk. Namun dikarenakan keinginan untuk cepat kaya dengan instan dan tergiur dengan kesuksesan orang sekitarnya (pelaku penipuan atau jaringannya), korban memilih untuk “mempertaruhkan” banyak hartanya dan akhirnya terjerat dalam penipuan keuangan yang merugikan dirinya. Itulah sebabnya kedewasaan emosional perlu untuk membatasi hasrat tidak sehat dalam diri terutama dalam pengelolaan keuangan.
Pada dasarnya ketiga cara untuk mengatasi modus penipuan keuangan tadi memang mudah untuk diucapkan, namun belum tentu mudah untuk diterapkan. Namun untuk masa depan diri, keluarga, dan orang sekitar kita, maka kita harus senantiasa berupaya yang terbaik menerapkan tiga cara tersebut. Kiranya kita semua dapat terhindar dari modus penipuan keuangan dan senantiasa mengelola keuangan dengan baik.
Jika Anda ingin mengecek legalitas produk jasa keuangan yang berizin OJK, dapat dilakukan dengan mengakses informasi melalui situs web resmi OJK, Kontak 157, atau WhatsApp ke 081157157157. Materi edukasi lain dalam rangka peningkatan literasi keuangan dapat diakses juga melalui media sosial resmi OJK dan situs web lms.ojk.go.id. Akhir kata, mari bersama-sama bijaksana dalam mengelola keuangan demi kehidupan yang sejahtera dan sukacita bersama orang-orang terkasih kita.

Sudah nggak sabar ingin menjadi anggota resmi Komunitas Penulis OJK?
Jangan lewatkan kesempatan keren ini….
Boleh juga mengajak rekan kerja anda untuk segera daftar melalui link: https://www.ipojk.id/daftarkpo3
Komunitas Penulis OJK
#Bersama Menginspirasi
Oleh: Riani Sagita
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi, Oktober 2024.
Penduduk Jepang terkenal memiliki rentang hidup yang cukup panjang. Bahkan di Desa Ogimi, Prefektur Okinawa, rentang hidup rata-rata penduduknya mencapai lebih dari100 tahun. Tidak heran, daerah ini memiliki julukan “the village of longevity”. Kenapa bisa seperti itu?
Hector Garcia dan Frances Mirales memberikan ulasan yang menarik dalam buku “IKIGAI: The Japanese Secret to a Long and Happy life”. Berdasarkan riset yang mereka lakukan, mereka sampai pada satu Kesimpulan bahwa alasan orang di Desa Ogimi Panjang umur adalah IKIGAI atau the purpose of life.
IKIGAI merupakan kombinasi yang ditemukan dari 4 hal: what you love, what you are good at, what you can be paid for, and what the world’s needs. Ketika seseorang telah menemukan tujuan hidupnya, maka IKIGAI akan memberikan sebuah kepuasan, kebahagiaan, dan makna hidup yang akan menjadi alasan untuk beraktivitas setiap harinya.
Saking tingginya semangat hidup mereka, konsep “retirement” tidak berlaku di Jepang. Tidak ada penduduk Jepang yang benar-benar retire, mereka tetap melakukan apa yang mereka suka agar dapat terus aktif. Hal ini juga tercemin dari kehidupan orang tua di Jepang yang masih selalu aktif berjalan kaki, bersepeda atau hiking walaupun sudah memasuki usia lanjut. (more…)
oleh: Christiansen Frisilya Br Perangin Angin
Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Bisnis Indonesia, 1 Februari 2025
Keberhasilan sosok Kaluna dalam film Home Sweet Loan mengumpulkan uang Rp300 juta untuk membeli rumah menjadi buah bibir masyarakat beberapa waktu terakhir. Diceritakan dalam film itu, Kaluna berhasil mengumpulkan uang tersebut dengan cara berhemat dan mengelola keuangannya dengan baik. Sikap Kaluna sangat berbeda dengan pengelolaan keuangan yang dilakukan Tika dalam film Paylater.
Tika sangat gemar berbelanja meskipun belum memiliki pekerjaan dan pendapatan yang tetap. Tidak hanya menggunakan uang dari gajinya, Tika pun gemar berbelanja dengan menggunakan fasilitas Buy Now Pay Later (BNPL) atau sering dikenal dengan paylater. Kegemaran belanja dengan paylater ini akhirnya menjerumuskan Tika ke kubangan utang, penagih utang datang ke kantor dan rumahnya. Cita-cita untuk memiliki aset, masa depan dan pensiun yang cerah akhirnya terjerembab karena utang dan pengelolaan keuangan yang buruk.
Paylater merupakan jenis pembiayaan jangka pendek yang memungkinkan konsumen membeli barang/jasa dengan membayar di kemudian hari. Paylater adalah utang yang harus dibayar oleh konsumen sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Paylater ditawarkan oleh berbagai perusahaan fintech, pembiayaan dan perbankan.
Peningkatan penetrasi internet di masyarakat menjadi pupuk tumbuh suburnya penggunaan paylater. BPS mencatat pada tahun 2023, sekitar 87% rumah tangga di Indonesia pernah mengakses internet, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 86%.
Data ini sejalan dengan laporan dari We Are Social 2024. Masyarakat yang berbelanja melalui internet mencapai 175 juta orang dengan nilai transaksi mencapai US$ 50 miliar, meningkat dari tahun sebelumnya, di mana 171 juta orang berbelanja dengan total transaksi US$ 46,6 miliar.
Generasi muda yang akrab dengan teknologi dan memilih layanan yang cepat serta mudah menjadikan paylater sebagai alternatif pembiayaan. Kemudahan akses mendapatkan paylater, proses pengajuan yang singkat, serta terintegrasi dengan platform e-commerce memungkinkan konsumen untuk membeli barang secara cicilan tanpa pemeriksaan kredit tradisional.
Gaya hidup Fear of Missing Out (FOMO), You Only Live Once (YOLO), Fear of Other People’s Opinion (FOPO) pun menjerumuskan generasi muda ke pola hidup konsumtif. Hal ini diperburuk dengan adanya perilaku doom spending yang dilakukan generasi muda akhir-akhir ini. Doom spending berarti kecenderungan berbelanja tanpa memperhatikan kondisi keuangan dan tingkat urgensi barang tersebut.
Data Kredivo dan KataData dalam Laporan Perilaku Pengguna Paylater Indonesia 2024 menjelaskan bahwa dari 2 juta responden, 70,5% konsumen menggunakan paylater saat belanja daring. Penggunaan paylater juga sering digunakan untuk membayar tagihan di aplikasi transportasi dan pembelian tiket perjalanan. (more…)
Oleh: RR Erinna Salsabila R
Cerpen ini merupakan Juara 1 Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT ke 7 Komunitas Penulis OJK
Eleanor menatap layar jam tangan pintarnya. Dua tiga empat lima – lima menit sebelum bus kota terakhir melintas dan mengangkutnya. Berteman sepi dengan ponsel genggam yang mati dan percikan air hujan yang bocor dari atap halte di sisi kiri, ia mencoba menghibur diri. Mata cokelatnya menelisik poster iklan yang tertata rapih pada dinding halte. Salah satu iklan permen dengan wara jenama “Hijaukan Bumi dengan Permen Candy” menarik perhatiannya. Permen Candy menawarkan inovasi bungkus karton khusus dengan klaim ramah lingkungan.
“Hmm…sudah pasti polietilena,” gumam Eleanor sambil tersenyum tipis. Ia menghela nafas panjang. Mantan juara satu nasional olimpiade kimia di bangku SMA itu tahu betul komposisi material dari karton khusus yang digunakan.
Hujan deras masih mengguyur kota Greenhaven malam itu. Dari bilik halte, Eleanor menatap salah satu bangunan megah di pusat distrik finansial yang sering kali menjadi titik temu. Bank Greenhaven; simbol kepercayaan publik terhadap keuangan berkelanjutan. Reputasinya dibangun di atas portofolio investasi hijau yang membanggakan. Pembangkit listrik tenaga surya, pengelolaan limbah, dan perumahan ramah lingkungan menjadi program utama pilar pendanaan. Di hadapan Eleanor, kini bus kota membunyikan klaksonnya – memberi tanda ia harus bergegas dari lamunanya.
Pagi itu, tigabelas kali telepon masuk ke ponsel Eleanor. Ia terhenyak dari tidurnya dan mendapati pesan singkat dari Inspektur Miller – teman lamanya di kepolisian:
‘08:52. Alfred Hartman – analis senior Bank Greenahven, dilaporkan hilang secara misterius.’
Seketika Eleanor bergegas. Ia tahu panggilan ini penting untuknya.
Berbekal jas cokelat tebal dan payung hitam, ia tiba di tempat kejadian. Lantai marmer dan pajangan antik menyambut Eleanor dengan megahnya di lantai 12 A Bank Greenhaven. Ia menganalisa tempat kejadian perkara – meja kerja Alfred di sudut kanan dekat jendela.
“Apa yang kita miliki, Inspektur?” tanyanya kepada Inspektur Miller.
“Minim bukti. Menurut para pegawai, Alfred terakhir terlihat bekerja hingga larut malam. Tidak ada hal yang aneh, kan?” Ucap Inspektur Miller dengan sedikit keraguan sembari mengantar Eleanor mendekati meja kerja Alfred yang berantakan dan dipenuhi catatan.
“Menarik,” gumam Eleanor sambil tersenyum tipis. Ia kemudian membuka laporan keuangan Alfred dan membaca tulisan tangan pada laporan itu dengan pelan, “Jejak Hijau – Halaman 23.”
“Laporan ini berisi analisis tentang dampak ESG dalam portofolio Bank Greenhaven. Tapi apa hubungannya dengan hilangnya Alfred?” (more…)
Yuks Gaesss, kesempatan belajar bersama Komunitas Penulis OJK datang lagi. Kali ini kita akan belajar Menulis Opini bersama Redaksi Harian Bisnis Indonesia.
Catat ya: Rabu, 19 Februari 2025. pukul 16.30 WIB s.d selesai.
Segera kontak panitia. Jangan sampai kelewat………

Komunitas Penulis OJK
#Bersama Menginspirasi
Oleh; M. Fajrul Syam
Pengelola Klinik Menulis KPOJK
Di sebuah pagi yang cerah, sinar mentari menari lembut di atas atap bangunan yang sedang dibangun. Di tengah hiruk-pikuk proyek yang sedang berlangsung, tiga tukang batu bekerja dengan ritme yang serupa. Mereka memulai hari dengan semangat dan berkumpul di lokasi pembangunan, masing-masing membawa alat dan keahlian yang sama. Namun, meskipun aktivitas yang dijalani tampak serupa, ada satu hal yang membedakan mereka — visi dalam hati dan pikiran.
Tukang batu pertama tampak menjalankan pekerjaannya seolah-olah rutinitas belaka. Bagi dia, tugas hari itu hanyalah memasang batu bata, satu demi satu, tanpa memikirkan hasil akhir yang lebih besar. Di balik setiap gerakan, ada keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin, tanpa mempedulikan rapi atau tidaknya susunan batu bata tersebut. Ia hanya terpaku pada momen “kerja saja” hingga waktu penyerahan tiba.
Di sisi lain, tukang batu kedua memandang pekerjaannya dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Baginya, setiap batu bata yang terpasang adalah bagian penting dari sebuah tembok yang kokoh. Ia menyusun batu bata dengan cermat, memastikan setiap celah diisi dengan rapi sehingga tembok yang dibangun tampak lurus dan kuat. Bagi dia, kualitas adalah kunci, dan setiap detail kecil memiliki peran besar dalam membentuk hasil kerja yang memuaskan.
Namun, di antara keduanya, tukang batu ketiga menampakkan semangat yang jauh melampaui urusan sepele pemasangan batu bata. Dengan mata yang berbinar penuh harapan, ia berkata, “Saya sedang membangun gedung sekolah yang kokoh, indah dan megah.” Bagi tukang batu ketiga, setiap batu bata yang dipasang adalah fondasi dari sebuah karya besar, sebuah sekolah yang akan memberikan harapan baik kepada siswa yang sedang menempuh pendidikan, sekolah yang akan mewujudkan cita — cita anak — anak di kampung tersebut dapat belajar dan mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas. dan kebahagiaan bagi wali murid yang dapat menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.. Visi itu menyulut semangatnya, membuatnya bekerja dengan sepenuh hati, tanpa lelah, hingga akhirnya impian itu terwujud dalam bentuk bangunan yang menakjubkan.
Suatu ketika, di tengah kesibukan yang sama, datanglah seorang pria bijak yang berjalan pelan menyusuri lokasi proyek. Dengan senyum ramah, ia mendekati ketiga tukang batu itu dan bertanya, “Bapak-bapak, sedang apa nih?”
Tukang batu pertama dengan sikap acuh berkata, “Lihat, saya lagi sibuk kerja.”
Tukang batu kedua menjawab, “Saya sedang cari uang, Pak,” sambil kembali fokus pada tugasnya.
Namun, tukang batu ketiga mengembalikan senyum itu dengan penuh keyakinan, “Saya sedang membangun sekolah yang kokoh dan megah. Nanti, sekolah ini akan menjadi tempat anak-anak belajar dengan semangat, menjadi saksi bahwa setiap usaha kecil dapat berubah menjadi kebaikan yang besar.”
Pertanyaan sederhana itu membuka cermin batin bagi sang pria bijak. Ia termenung sejenak, menyadari bahwa jawaban yang berbeda mencerminkan cara pandang yang sangat berbeda pula terhadap pekerjaan dan kehidupan. Tiga cara berpikir itu menggambarkan bagaimana visi seseorang bisa menentukan seluruh perjalanan hidupnya.
Bayangkan, tukang batu pertama — yang hanya terpaku pada rutinitas tanpa makna yang mendalam — akan terus terjebak dalam pekerjaan yang tak memberikan kepuasan batin. Ia bekerja keras namun hasilnya hanya sebatas menumpuk batu bata tanpa nilai tambah yang berarti. Sementara tukang batu kedua, yang meskipun sadar akan pentingnya kualitas, menjalani pekerjaan semata-mata untuk imbalan materi, sehingga semangatnya mudah pudar ketika tantangan datang.
Tukang batu ketiga, sebaliknya, memiliki visi yang melampaui rutinitas. Baginya, setiap batu bata adalah bagian dari impian yang besar — membangun sekolah yang tidak hanya menjadi bangunan fisik, melainkan juga simbol harapan dan manfaat bagi banyak orang. Visi inilah yang mendorongnya untuk bekerja dengan penuh dedikasi, tekun, dan sepenuh hati. Ia rela melewati kelelahan dan rintangan, karena di balik setiap tetes keringat, ada keyakinan bahwa hasil kerjanya akan membawa perubahan yang positif.
Cerita ini mengajarkan kita bahwa, dalam setiap aspek kehidupan, visi adalah bahan bakar utama yang menyalakan semangat dan dedikasi. Tak peduli apakah kita sedang menjalankan tugas sehari-hari, menuntut ilmu, atau mengejar impian besar seperti menyelesaikan skripsi atau tesis, memiliki visi yang jelas adalah kunci untuk mencapai hasil maksimal. Visi yang melampaui sekadar “bekerja untuk bekerja” menjadi alasan kuat untuk terus maju, meskipun tantangan menghadang. (more…)
Oleh: Alya Nabila (Departemen Hukum)
#Cerpen ini merupakan Juara 2 Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT ke -7 Komunitas Penulis OJK
Alora tumbuh di Panti Asuhan Dahayu, bangunan sederhana yang penuh dengan tawa keceriaan dan bisik kerinduan yang sesekali singgah. Baginya, melukis adalah pelarian sekaligus gairahnya, cara ia menyulam keindahan dari kepingan masa lalu yang selalu ia coba rangkai, namun tak pernah bisa ia dekap dengan erat.
Suatu hari, sebuah kabar menyebar di seluruh penjuru kota. Safwan, seorang seniman ternama dengan karya impresionis yang memukau, mengumumkan bahwa ia sedang mencari seorang protégé atau murid didik. Ratusan jiwa penuh harapan berduyun-duyun mendaftar, mengejar kesempatan yang mungkin hanya datang sekali dalam seumur hidup. Prisa, kepala pengasuh panti asuhan yang selalu melihat kemampuan dalam diri Alora, mendorongnya untuk turut meraih mimpi.
“Aku hanya gadis dari panti asuhan, Bu” ujar Alora dengan penuh keraguan, “Bagaimana mungkin sosok seistimewa Safwan memilihku untuk menjadi muridnya?”
“Talenta bukanlah soal dari mana kamu berasal, nduk” jawab Prisa dengan nada meyakinkan, “Namun tentang kemana langkahmu akan membawa aspirasimu”.
Setelah kalimat tersebut meresap dalam sanubarinya, Alora pun mengumpulkan keberanian untuk mendaftarkan diri, membangunkan impian yang selama ini terpendam.
—
Beberapa minggu kemudian, sebuah surat tiba, mengundang Alora untuk mengikuti wawancara. Alora sampai mencubit pipinya beberapa kali untuk meyakinkan bahwa pertemuannya dengan Safwan adalah kenyataan.
“You have an eye for detail,” nilai Safwan sambil membolak-balik skesta-sketsa yang Alora lampirkan, “And hunger for something more”.
Selang beberapa bulan, Alora mulai belajar melukis bersama Safwan, mengilhami setiap ilmu dengan tekun. Sesi melukis berlangsung di galeri seni Safwan yang teduh, dikelilingi karya yang seakan berbicara dengan jiwa. Beberapa kali, mereka melukis di alam terbuka, dikelilingi oleh bukit dan sungai yang tenang. Alora mendapati dirinya terinspirasi oleh sinar mentari yang menari di atas dedaunan. Safwan mengajarinya untuk melihat lebih dari sekadar yang kasat mata, tetapi juga menangkap esensi dari apa yang ia lukis. Pelajaran melukis berjalan secara intens dan menyegarkan, namun ketegasan Safwan terhadap satu aturan unik membuat Alora penasaran: setiap lukisan harus dimulai dengan goresan huruf “L”.
“It centers your focus” Safwan menginstruksikan dengan singkat. “Never skip it!”
—
Suatu hari, di bawah cahaya galeri yang redup, benak Alora tergelitik untuk mengajukan pertanyaan, “Pak Safwan, apa yang mendorong anda untuk melukis?” (more…)