Oleh: Alya Nabila
Departemen Hukum
Setiap pagi, sesaat setelah fajar menyingsing, Dirga mengayuh sepedanya melintasi lingkungan perumahan yang masih terlelap. Di pundaknya tergantung tas penuh koran, siap ia antar ke rumah-rumah. Sudah setahun ia menggeluti rutinitas ini, tetapi ada satu rumah yang selalu membuat bulu kuduknya bergidik—rumah di ujung jalan, suram dan tampak tak terawat, berpenghuni seorang lelaki tua yang seakan tidak benar-benar menginginkan koran yang diantarkan kepadanya.
Penghuni rumah itu tak pernah menunjukkan ekspresi ramah. Beliau tak pernah melontarkan ucapan terima kasih maupun memberikan sekadar anggukan. Ia hanya mengambil koran dari tangan Dirga, lalu melesat ke dalam rumah dengan sunyi. Namun, beliau juga tak pernah meminta langganan korannya dihentikan.
Meski selalu diterima dengan cekatan, Dirga memperhatikan bahwa lelaki tua itu seringkali gemetar saat ia menggenggam koran pemberiannya. Buku-buku jarinya pucat dan berurat, seolah-olah menggenggam kenangan yang terlalu erat untuk dilepaskan.
***
Suatu pagi, seperti biasa, Dirga berhenti di depan rumah lelaki tua. Ia menekan bel.
Hening.
Tak ada derap langkah kaki, tak ada derit suara pintu yang terbuka. Akan tetapi, tiba-tiba, Dirga merasakan sesuatu—sepasang manik mata yang mengawasinya. Ia menoleh ke jendela, dan di balik tirai yang koyak, tampak dua bola mata yang kelam dan tak berkedip, menelusuri setiap gerak geriknya.
Jantung Dirga bergedup. Ia terpaku, merasakan desakan nalurinya untuk bergegas pergi. Saat ia bergerak, sorot mata tersebut tetap mengikutinya, penuh kewaspadaan, diliputi sesuatu yang ia tak pahami—seperti rasa kecurigaan yang berakar dalam.
Lalu, dengan cepat, tirai itu ditutup. Atmosfer keheningan hampir menekan, seolah dunia menahan napas. Aroma lembap kayu yang samar menyentuh hidung Dirga, membuat kulitnya merinding.
Dirga segera meletakan lembaran koran di depan pintu, kemudian melompat ke atas sepedanya dan mengayuhnya dengan kencang, meninggalkan rumah lelaki tua dengan jantung yang masih berdebar.
***
Keeseokan harinya, sepersekian detik setelah Dirga memencet bel rumah sang lelaki tua, sebuah suara menggelegar dari dalam.
“PERGI, SETAN!!! JANGAN GANGGU SAYA!!!”
Dirga tersentak. Suara tersebut terdengar penuh dengan kemurkaan.
Dirga terdiam, tangannya yang hendak menyerahkan koran seketika membeku di udara. Sebelum nalurinya mengambil alih, Dirga memutuskan untuk melemparkan koran ke teras, lalu melengos pergi tanpa berpikir dua kali.
***
Pagi berikutnya, teriakan sang lelaki tua kemarin hari masih melekat dengan segar di benak Dirga, namun ternyata peristiwa yang baru sudah menantinya. Di pintu rumah sang lelaki tua, sebuah kertas lusuh kini tertempel, hurufnya ditulis dengan tegas dalam huruf kapital:
JIKA ANDA TERUS MENGGANGGU SAYA, SAYA AKAN MELAPOR KE POLISI!!!
Dirga menghela napas panjang. Benar-benar lelaki tua yang aneh, dengusnya. Namun, ia punya tanggung jawab yang harus dilakukan. Ia bertekad tidak akan membiarkan seorang lelaki tua pemarah mengganggu rutinitas pekerjaannya.
Mulai dari hari itu, Dirga hanya melayangkan koran ke dalam halaman tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke arah rumah tersebut.
***
Hari-hari berlalu tanpa insiden. Dirga tidak pernah lagi bertatap muka dengan sang lelaki tua dan ia mulai melupakan rangkaian peristiwa aneh yang terjadi, hingga suatu pagi, suatu hal janggal membuatnya terpaku. Koran yang ia lempar kemarin masih tergeletak di halaman rumah. Lelaki tua mungkin seringkali berperilaku aneh, tetapi ia tidak pernah luput mengambil korannya.
Mungkin beliau sedang berpergian, pikir Dirga.
Dirga tetap menjalankan tugasnya seperti biasa, namun keesokan harinya, ia mendapati koran kemarin masih berada di posisi yang sama—dan kini, bertambah satu lagi.
Dan pada hari ketiga, jumlahnya menjadi tiga.
Koran-koran tersebut tergeletak tak tersentuh, tinta-tintanya mulai memudar di bawah terik matahari.
Apakah lelaki tua itu benar-benar tidak ada di rumah?
Ataukah ada suatu hal yang jauh lebih gelap sedang terjadi?
***
Pada hari keempat, Dirga tak mampu membendung firasat buruk yang merayapi dadanya. Tanpa ragu, ia bergegas menuju rumah Pak RT perumahan tersebut dan menceritakan apa yang ia lihat. Lantas dalam hitungan menit, beberapa warga berkumpul, dan secara bersama-sama mereka mendobrak pintu rumah sang lelaki tua.
Udara dalam rumah sang lelaki tua terasa berat, berdebu, dan hampa—menyergap mereka begitu pintu terbuka. Barang-barang berserakan, seolah waktu berhenti di dalamnya. Di lantai, sang lelaki tua terkapar, tubuhnya lemah, wajahnya tampak lesu dan cekung.
Dengan lekas, mereka membawanya ke rumah sakit terdekat dan sang lelaki tua segera ditangani oleh tenaga medis. Setelah hiruk pikuk mereda, Dirga duduk di luar ruang perawatan dengan kegelisahan yang tak ayal menyelimuti pikirannya. Ia tidak bisa menghindar dari rasa bersalah—batinnya berbisik bahwa seandainya ia menyadari lebih awal, mungkin lelaki tua itu tak akan tergeletak seorang diri seperti tadi.
***
Setelah beberapa jam yang menegangkan, dokter menyatakan bahwa beberapa hari ini sang lelaki tua mengalami dehidrasi parah dan kelelahan yang kondisinya berangsur memburuk sejak empat hari lalu. Jika tidak segera ditangani, dehidrasi dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gagal ginjal—bahkan kematian.
Dirga duduk di luar ruang perawatan dengan gelisah. Sesaat kemudian, Pak RT menghampirinya dengan napas berat.
“Kau tahu, sebetulnya Pak Obet menderita Alzheimer—penurunan daya ingat” ucap beliau lirih, “Itulah sebabnya ia sering bersikap aneh akhir-akhir ini. Sudah berulang kali kami menyerankankan beliau untuk ditemani oleh asisten rumah tangga, karena beliau hidup sebatang kara, namun beliau selalu bersikeras menolak”
Dokter pun mengamini bahwa berdasarkan rekam medis sang lelaki tua, Pak Obet, telah mengalami kemunduran daya ingat yang semakin parah. Rasa paranoidnya berasal dari trauma yang telah ia bawa selama puluhan tahun.
Dirga terdiam.
Perlahan, kepingan teka-teki mulai menyatu dalam pikirannya. Ia selalu berpikir bahwa Pak Obet hanyalah seorang penyendiri yang pahit terhadap kehidupan. Tetapi ternyata, terdapat hal yang jauh lebih dalam di balik kedinginannya yang menembus relung.
Namun demikian, Dirga masih digandrungi tanda tanya besar. Selama ini, ia hanya berusaha menjalankan tugasnya dengan baik, mengantarkan langganan koran setiap hari. Lantas, mengapa sang lelaki tua begitu tak menyukai kehadirannya?
Dirga pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruang perawatan, dimana didapatinya sang lelaki tua terbaring dengan selang infus—tak berdaya.
Saat kesadarannya pulih, pikiran sang lelaki tua menjadi sedikit lebih jernih, meskipun masih rapuh. Ia pun seketika menatap Dirga. Tatapan yang semula dipenuhi kecurigaan, kini berubah menjadi tatapan nanar yang pedih.
“Maaf, saya selalu mengira…anda adalah salah satu dari mereka” bisiknya pilu.
Dirga mengernyit. “Mereka?”
Pak Obet menarik napas panjang sebelum menjawab dengan suara serak. “Para penagih utang”
Selanjutnya, Pak RT turut mengisahkan bahwa rupanya, bertahun-tahun silam, Pak Obet adalah seorang pria yang terjerumus dalam utang. Kesalahan keuangan di masa mudanya telah menghancurkan segalanya—rumahnya disita, bisnisnya hancur, tabungannya lenyap, hingga istrinya, yang tak sanggup menghadapi hantaman badai itu, memutuskan untuk berpisah darinya.
Pak Obet pernah jatuh ke titik terendah.
Namun, ia tidak menyerah. Dengan sisa tenaga dan secercah harapan, ia membangun kembali hidupnya dari nol. Ia belajar untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, serta memahami pentingnya disiplin finansial. Akan tetapi, naasnya, meski hartanya berhasil pulih, luka pada alam bawah sadarnya tidak sepenuhnya sembuh. Ketakutan masa lalunya senantiasa membebaninya.
Ketika Alzheimer mulai merenggut ingatannya, garis antara masa lalu dan masa kini kian kabur. Setiap kali Dirga datang mengantar koran, Pak Obet tidak melihat sosok pemuda pengantar berita—yang ia pandang adalah hantu dari masa lalunya, para penagih utang yang datang untuk mengambil segalanya darinya sekali lagi. Persepsi Dirga terhadap lelaki tua itu selama ini hancur seketika. Semua kemarahan dan paranoia yang dialaminya bukan tanpa alasan. Memori Pak Obet tak lagi utuh. Ia hidup dalam masa lalu yang terdistorsi.
Dirga merasakan sesak di dadanya.
“Saya tidak pernah berniat menakuti anda” ujarnya pelan.
Pak Obet menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Kau telah menyelamatkan hidup saya, Nak”
Bibir Dirga mengulumkan senyum hangat.
Sebelum Dirga pamit, lelaki tua itu tiba-tiba mengenggam lengan tangan Dirga dengan erat, suaranya parau namun tegas.
“Nak, uang bisa datang dan pergi, tetapi kebijaksanaan finansial adalah harta yang sejati. Belajarlah mengelola apa yang kau miliki dan jangan berutang lebih dari yang mampu kau bayar!” tuturnya dengan nada bergetar namun penuh penekanan, “Utang bisa menghancurkan hidupmu, tetapi disiplin bisa membangunnya kembali. Jika kau tidak mengendalikan keuanganmu, maka keuanganmu yang akan mengendalikanmu!”
Saat Dirga melangkah keluar dan disambut sinar matahari, ia terhanyut dalam pikirannya tentang petuah Pak Obet, sang lelaki tua. Mungkin kekayaan sejati bukan terletak pada apa yang kita kumpulkan atau miliki, tetapi pada kemampuan kita untuk mempertahankan apa yang benar-benar bernilai ketika dunia menguji kita. Seiring langkahnya yang mantap, jalan yang terbentang di hadapan Dirga kini terasa lebih terang, lebih terarah, dan penuh harapan baru.
Satu hal yang pasti, Dirga tidak akan pernah memandang sang lelaki tua dengan cara yang sama lagi.