Oleh: Yusak Liestia Ramagit S
Cerpen ini merupakan Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Dalam Rangka HUT ke-7 Komunitas Penulis OJK
Sejak kecil Bahul sering bermimpi. Saking seringnya, aktivitas itu tidak dapat dibedakan apakah kebetulan atau memang suka bermimpi. Ia sendiri tidak dapat, ibunya juga tidak. Mimpi Bahul juga tidak dibatasi waktu, baik sembari terlelap maupun terjaga, Bahul pokoknya bermimpi. Bagi Bahul, mimpi bukan sekadar mimpi, melainkan lebih mendekati firasat. Pernah suatu ketika ia bermimpi dihinggapi kupu-kupu sambil makan durian. Keesokan harinya, pamannya yang dari Jakarta datang berkunjung dan memberinya uang jajan yang sangat banyak. Entah bagaimana caranya Bahul selalu tahu makna firasat dari mimpinya.
Bahul juga sering bermimpi tentang sosok laki-laki yang entah bagaimana selalu menganggapnya sebagai anak sendiri. Ia memang tidak pernah melihat ayahnya karena ayahnya meninggal ketika ia masih berumur dua tahun. Tiap kali selesai bermimpi, ia selalu menceritakan mimpinya kepada ibunya.
Untuk urusan bermimpi, Bahul juga tidak seperti kebanyakan orang, terkhusus di saat-saat ia bermimpi sambil terjaga. Ia tetap aktif dan sigap, tidak seperti kebanyakan orang yang bermimpi di siang bolong. Tiap pagi sebelum matahari meninggi, Bahul sudah selesai membersihkan warung ibunya, lengkap dengan penataan semua keperluan jualan ibunya. Sebelum ibunya tuntas memasak menu kesepuluh nasi rames hari itu, dari kertas dan daun bungkus, karet gelang, sendok plastik, sampai kantung plastik, semua sudah tertata rapih sebelum ibunya keluar dari dapur untuk menata jualan nasi ramesnya.
Bahul membantu ibunya tanpa paksaan asalkan ibunya tidak melarang dia bermimpi. Ia pernah bercerita bahwa ia bermimpi suatu saat warung nasi rames ibunya akan menjadi restoran besar dan terkenal yang mengalahkan warung Bang Haji yang kebetulan juga menjual nasi rames dan hanya berjarak 300 meter dari warung ibunya. Mendengar itu, ingin sekali ibunya melarang ia mengumbar omong kosong itu tapi melihat kerajinan dan kegigihan Bahul dalam membantunya berdagang, ibunya tidak sampai hati mengatakannya. Seringkali ibunya hanya mengiyakan atau sekadar mengangguk sambil tetap fokus menyiapkan lauk pauk.
“Ul, kamu boleh bermimpi tapi ingat ojo grusa-grusu ya. Nasihat ibu, kadang kita perlu waktu yang sangat panjang untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita,” ujar ibunya sambil mengaduk nasi di dandang.
“Tenang bu. Kalau Bahul berhasil dapat uang yang banyak, warung ibu pasti bisa jadi besar dan terkenal.”
“Yo wis ndang nggolek kerjoan. Kamu kan sudah lulus kuliah. Si Kiyar katanya sudah dapat kerjaan loh, Ul.” Kepulan uap membumbung tinggi sembari ibu Bahul memindahkan nasi ke bakul.
“Bahul bantu ibu jualan saja ya. Bahul bosan ditolak terus.”
“Lho, pengennya lamar kerja sekali langsung diterima gitu toh? Kalau gitu, semua orang juga pasti mau, Ul.”
“Inget ya,” lanjut ibunya, “seberapa banyak dan besarnya mimpimu tapi kalau kamu ora sabaran dan tidak tekun, mimpi hanyalah mimpi, Ul. Dadi wong kui ojo pingine mung sak dheg sak nyet.”
“Nggeh, Ndoro.”
“Kamu itu kalau dibilangin orang tua nggak diperhatikan malah dibuat becandaan.”
“Iya, bu. Bahul pasti bisa cari kerja secepatnya. Bahul pamit dulu ya bu, mau ke rumah Maman, mau update CV bareng.”
Jarak antara rumah Bahul dan rumah Maman tidak terlalu jauh, keduanya berada di gang yang sama yaitu Gang Buntu. Rumah Maman hanya terpisah satu rumah dari rumah Bahul. Di antaranya terdapat rumah Pak Latip. Seperti namanya, gang ini buntu sehingga akses keluar masuk warga hanya melalui gapura depan. Gang Buntu tidak lebar tapi tidak sempit. Rumah-rumah warga Gang Buntu juga tidak besar tapi tidak kecil. Tidak ada rumah yang memiliki pekarangan. Bibir rumah menempel persis pada jalanan gang. Pernah suatu kali anak Pak RT yang belum lulus SMP belajar motor di gang, dan entah bagaimana menyelonong masuk melanggar pintu depan rumah Bu Romlah. Motornya pun meringsek di sofa. Sejak itu, warga menjejer pot bunga, tong sampah, jemuran baju, atau barang bekas di depan rumah dengan dalih mengantisipasi kalau ada kejadian petaka motor menyelonong masuk ke rumah warga. Jalanan Gang Buntu pun kian sempit.
Sempitnya Gang Buntu memberikan kesan yang intim di antara warga. Seperti sekarang, Bahul dapat mendengar jelas dengkuran Pak Latip yang sedang tidur di sofa ketika melintas di depan rumahnya. Begitu pula, setiap berita entah fakta atau hanya desas-desus sangat cepat menyebar ke seantero Gang Buntu.
“Ul, kayaknya aku belum niat cari kerja,” jelas Maman setelah Bahul menanyakan progres update CV untuk keperluan melamar pekerjaan.
“Lho, kenapa Man? Kamu sudah dapat kerjaan?”
“Aku mau investasi kayak si Ijun. Lihat tuh Ijun baru beli HP baru hasil investasi hanya sebulan. Katanya sih keuntungan investasinya fix 20 persen per bulan. Keren banget kan.”
“Serius nih?” Bahul penasaran.
“Beneran, tuh buktinya si Ijun. Awalnya dia ditawarin temannya yang kerja di Koperasi Bernas dan karena imbalannya 20% akhirnya si Ijun mau naruh duit di situ.”
“Menarik, sih. Tapi emang kamu punya uangnya untuk investasi?” Bahul penasaran.
“Tenang, nih lihat.”
Maman menyodorkan HP-nya. Bahul makin penasaran.
“Jadi, aku pinjam uangnya dari platform ini buat investasi. Gampang kan, Ul?”
Karena urung membuat CV bareng, Bahul pun pamit. Di perjalanan pulang, ia mengurungkan niat untuk segera pulang. Ia memutuskan untuk singgah di pos ronda. Ia berniat untuk menceritakan investasi dengan imbal hasil 20% per bulan itu ke ibunya. Ia berharap ibunya mau berinvestasi di koperasi itu sehingga mimpi-mimpinya dapat cepat terwujud, salah satunya mengembangkan warung nasi rames ibunya.
Angin bersilir-silir membuai Bahul di tengah hiruk pikuk pikirannya. Lambat laun, pikiran Bahul melambat dan akhirnya tenang. Mimpi pun datang menghampiri Bahul.
***
“Icarus, jangan terbang terlalu tinggi dan mendekati matahari. Panasnya dapat melelehkan sendi-sendi sayap yang kau pakai itu!”
Bahul bingung, sejak kapan namanya berganti Icarus. Ia menoleh ke lelaki yang mengingatkanya. Tatapan mata lelaki itu menyiratkan keseriusannya.
“Terbang? Sejak kapan aku bisa terbang?”
“Lihat anakku, aku membuat sepasang sayap untuk kau dapat terbang tinggi.”
Mendengar itu, Bahul lekas menghampiri cermin yang kebetulan tergantung di dekat ia berdiri. Benar, sepasang sayap telah terpasang menutupi bahu dan punggungnya. Sayap itu lebar dan putih berkilau seperti sayap malaikat. Yang lebih membingungkan lagi, Bahul bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ia ayahnya. Kenapa lelaki itu menyapanya “anakku”. Ia ingin menanyakan pada lelaki itu. Entah kenapa ia merasa lelaki itu berwajah mirip dengannya. Berada di dekat lelaki itu, ia merasakan kehangatan, keakraban, tapi sekaligus juga keasingan dan kecanggungan. Karena ia bingung dengan perasaannya ini, Bahul mengurungkan niat bertanya.
Seketika ia merasakan angin silir-semilir.
“Nak, agar kau tak tersesat ketika terbang, lihat dulu peta angkasa ini.”
Lelaki itu menyodorkan gulungan kertas yang memuat peta angkasa. Ruang angkasa ini terbagi menjadi dua bagian besar, atas dan bawah. Di atas terdapat surga, di bawah terdapat neraka. Mencermati peta itu, Bahul iseng dalam hati kenapa surga selalu di atas, neraka di bawah, tapi tidak pernah sebaliknya. Lagi-lagi, rasa canggung pada lelaki itu membuyarkan pikirannya. Lantas, di sisi timur terdapat matahari, di sisi barat terdapat bulan. Peta yang cukup sederhana, pikir Bahul. Ia yakin dapat mengingatnya dengan gampang.
“Jangan kau terbang ke timur ya, Nak! Di situ ada matahari. Sayapmu bisa rusak dan kau bisa jatuh dari ketinggian.” Lelaki itu mengingatkan lagi.
Bahul tidak tahu harus menjawab apa. Mendadak, angin yang tadinya silir-semilir berubah menjadi sangat kencang. Deru angin yang kencang itu menerbangkan Bahul dan sayapnya. Bahul ketakutan! Semakin tinggi angin membawa ia terbang mengangkasa! Ia panik sambil mecoba mengepak-ngepakkan sayapnya.
Setelah beberapa kali mencoba, ia berhasil mengendalikan sayapnya dengan sesekali mengepakkannya. Terbang dengan sayap pun menjadi aktivitas yang menyenangkan. Sesekali ia melayangkan pandang ke bumi, melihat deretan rumah-rumah penduduk yang semakin lama terlihat mengecil. Seberapa luas angkasa ini Bahul tidak tahu. Ia terus mengepakkan sayapnya tinggi.
Tiba-tiba ada cahaya yang terang di ujung angkasa sana, entah barat atau timur, Bahul tidak dapat menentukan karena ternyata angkasa sangat luas tidak seperti di peta. Ia penasaran apakah sumber cahaya itu berasal dari matahari atau bulan. Awalnya ragu, tapi ia berniat untuk mencari tahu. Maka ia mendekati cahaya itu. Semakin dekat, semakin terang cahaya itu. Tapi tidak terlihat oleh Bahul apakah itu matahari atau bulan. Ia pun semakin terpacu untuk mendekati sumber cahaya itu dengan kecepatan tinggi! Mendadak dari arah cahaya itu muncul Ijun dan Maman memegang sebuah palang besi yang besar bertuliskan “KOPERASI BERNAS”. Mereka juga melaju kencang ke arah Bahul.
Kecepatan laju sayap Bahul terlampau tinggi. Celaka! Bahul tidak sempat belajar cara mengurangi kecepatan dengan menggunakan sayap ini. Bahul tidak bisa mengendalikan laju kecepatan.
Mati aku!, pikir Bahul. Sedikit lagi ia menabrak palang besi itu. Sementara itu, suara lelaki itu berteriak dari bawah.
“Icarus, jangaann… Kau nanti mati, Naakkk!”
Bahul ketakutan, ia menutupi mukanya dengan sayapnya sambil berusaha untuk membanting arah ke sebelah barat. Tapi tubuhnya terasa lemah dan tak berdaya, entah karena takut, panik, atau mungkin sudah mati. Untuk terakhir kalinya, ia mengumpulkan segenap tenaga untuk memutar haluan. Ia menghitung dalam hati. Satu.. dua.. tiga! Ia pun memutar balik badannya.
***
Brakk… Bahul terjatuh dari dipan pos ronda. Mana yang lebih menyita perhatiannya ia tidak bisa menentukan, jantungnya yang meletup-letup atau rasa sakit karena terjatuh dari dipan. Dengan tertatih, ia memutuskan untuk berjalan pulang.
Di rumah, Bahul menceritakan rencana investasi dan mimpinya kepada ibunya sambil bersemangat. Mendengar cerita itu, ibunya hanya berkomentar sambil sepintas lalu.
“Ul, mana ada investasi yang menjanjikan hasil 20%. Percaya ibu, itu investasi bodong!”
Bahul mengangguk.