Oleh: Panny Malangsari Mulyadi (Bendahara Komunitas Penulis OJK)
“Mustahil orang se-kaya-raya itu jatuh miskin di usia senja. Mustahil anak-anak dan kerabatnya yang terpandang bertindak acuh dan tidak peduli nasib orang tua dan keluarga yang terpuruk. Mustahil gosip tetangga tentang keluarga paling terpandang se-jagad kampung yang jatuh miskin itu benar”, gumamku dalam hati.
Sepulang kerja di malam yang gerimis itu, aku melihat keriuhan orang-orang yang berkumpul di depan pagar rumah Pak Bina, orang terkaya di kampung kami, seorang pensiunan pejabat dan pengusaha sukses, memiliki pendidikan paling tinggi, gelar akademik paling banyak, dengan anak-anak yang juga tidak kalah berpendidikan. Orang-orang yang berkumpul itu bukan saja warga kampung, tapi juga ada banyak di antaranya membawa kamera seperti wartawan, dan juga aparat kepolisian. Keriuhan orang sampai membuat macet jalan menuju rumah, jalan di kampung yang biasanya sepi dan hanya diisi suara jangkrik.
Karena penasaran, akupun menghentikan motorku sejenak dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Aku bertanya kepada orang yang membawa kamera yang aku duga wartawan untuk menghindari spekulasi informasi. Ternyata dugaanku benar, dia adalah salah satu jurnalis dari media yang terkenal bernama Andi yang beritanya setiap hari menjadi konsumsiku. Betapa terkejutnya aku ketika dia mengatakan bahwa di rumah itu terdapat penggerebekan bandar judi online dan bandar narkoba terbesar di negeri ini dan diduga dioperasikan oleh pemilik rumah. Tak berselang lama, aku melihat Pak Bina keluar dari rumahnya dengan tangan diborgol bersama beberapa orang yang kami kenal sebagai mitra bisnis Pak Bina. Tidak ada guratan wajah kriminal dari orang-orang yang ditangkap Polisi itu. Semuanya tampak bersahaja dan penuh dengan intelektualitas. “Ah, mungkin ini baru tahap dugaan”, pikirku.
Di tengah malam yang semakin gelap dan hujan yang semakin deras, akupun memutuskan untuk pulang ke rumah yang jaraknya hanya sekitar 700 meter dari rumah Pak Bina. Setelah sampai rumahpun rasa penasaranku masih tertinggal dengan pertanyaan-pertanyaan seputar alasan mengapa Pak Bina sampai menjadi bandar judi online dan bandar narkoba. Sementara hidup yang dijalani Pak Bina merupakan gambaran hidup yang sempurna di dunia dan menjadi idaman semua orang. Dengan gelimang harta, tahta, anak-anak yang berhasil, menjadikan masa pensiun Pak Bina sangat cerah dan orang kampung selalu menyebut harta Pak Bina tidak akan habis 7 turunan. “Tapi ah sudahlah mungkin ada alasan lain yang membuat beliau nekat seperti itu dan kita tidak akan pernah tahu tingkat kebutuhan dan keinginan orang lain”, gumamku.
Keesokan malamnya, aku yang menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Desa dipanggil Pak RW untuk membahas hasil investigasi polisi atas kasus Pak Bina. “Nak Adam, maaf memanggil malam-malam karena ada hal yang ingin saya bahas dengan Nak Adam selaku Ketua Karang Taruna terkait kasus yang menjerat Pak Bina. Ini saya sampaikan sebagai pembelajaran kaum muda di Desa kita dengan contoh nyata atas pengelolaan keuangan yang salah di masa produktif”, Pak RW membuka pembicaraan.
“Dari apa yang Bapak ketahui, keluarga Pak Bina merupakan keluarga yang sangat terpandang bahkan orang tua beliau merupakan Saudagar yang sangat kaya raya. Belum lagi anak keturunannya juga banyak yang menjadi pejabat pemerintahan, salah satunya Pak Bina. Namun ternyata benar kata pepatah, jangan menilai seseorang dari bungkusnya yaitu jabatan, harta, dan semua yang tampak dari luar. Pak Bina bisa senekat itu menjalankan aktivitas ilegal karena terlilit hutang akibat kalah bermain judi. Pak Bina menjadi gelap mata karena aset yang menjadi warisan yang ada di luar kota sudah habis terjual untuk membayar hutang. Karena keinginan Pak Bina untuk bertanggung jawab atas tindakannya dan untuk menebus rasa bersalahnya kepada keluarga, 5 tahun lalu Pak Bina menjual tanah dan sawah yang ada di Desa tetangga untuk modal bisnis ilegal yaitu menjadi bandar judi online dan bandar narkoba yang menawarkan keuntungan sangat besar dengan perputaran uang sangat cepat. Setelah mendapat keuntungan, Pak Bina malah menggunakan uang yang didapat untuk bermain judi di luar negeri dan membeli barang-barang konsumtif. Sejak Pak Bina gemar berjudi, keluarganya sudah meninggalkan beliau karena jengah dan tidak mau terlibat atas tindakan ilegalnya. Polisi pun sudah menyelidiki aktivitas ilegal di rumah Pak Bina 3 tahun belakangan ini dan setelah bukti cukup, dilakukan penggerebekan. Bapak harap hal ini menjadi pembelajaran kita semua atas bahaya judi terhadap masa depan dan masa tua kita”, sambung Pak RW.
Berita terkait Pak Bina menjadi topik yang hangat, tidak hanya dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat Desa, tapi juga di media cetak, online, dan pemberitaan di televisi. Bagaimana tidak, di sebuah Desa yang jauh dari hingar bingar kehidupan hedonisme dan tanpa gemerlap lampu di malam hari, bersarang bandar judi online sekaligus bandar narkoba terbesar di negeri ini. Bak pepatah anak muda masa kini “mau heran tapi nyata”, sangat tepat menggambarkan kondisi Desa yang jarang orang tahu bahkan mungkin berpikir Desa kami ada di luar peta.
Hari demi hari terus berlalu dan garis Polisi masih melintang di rumah Pak Bina. Tak satu orang keluarga pun tampak berkunjung ke rumah itu meskipun hanya sekedar memastikan keadaan rumah, kecuali pihak bank yang beberapa kali berkunjung sekaligus bertanya kepada warga sekitar terkait Pak Bina dan keluarganya. Pihak bank berujar bahwa Pak Bina memiliki hutang Rp500 miliar dengan jaminan rumah yang menjadi TKP. Karena pinjamannya sudah macet, kemungkinan pihak bank akan melakukan penyitaan rumah tersebut.
Memoriku lantas berkelana ke saat-saat Pak Bina digerebek, tidak ada satu orang pun keluarganya yang mendampingi, hanya tampak beberapa orang ART yang keluar dari rumah tersebut yang turut serta diborgol. Ucapan Pak RW mungkin benar bahwa keluarga Pak Bina sudah enggan berhubungan dengan beliau apalagi dengan status beliau sebagai pelaku kejahatan. Dan judi adalah awal menuju pusaran kejahatan yang tiada akhir yang bisa merusak hubungan keluarga, pertemanan, bahkan masa depan.
Berselang tiga bulan, hari keputusan Pengadilan pun tiba. Seluruh warga Desa menyaksikan meskipun tengah sibuk di sawah karena bulan ini masuk masa tanam. “Tok”, Hakim memutuskan Pak Bina mendapat hukuman seumur hidup dan denda sebesar Rp300 miliar. Putusan tersebut lebih ringan dibanding tuntutan Jaksa yaitu hukuman mati karena Pak Bina dikenakan pasal berlapis. Pak Bina langsung diboyong ke Nusa Kambangan, ke suatu lokasi Lapas yang sangat ditakuti Narapidana dengan tingkat pengamanan yang sangat ketat. Semua warga Desa yang menyaksikan menangis karena tidak menyangka orang sebaik Pak Bina yang layak untuk dikagumi dan dijadikan sebagai Tokoh Panutan bisa tergelincir oleh judi. Pak RW pun berinisiatif untuk mengunjungi Pak Bina pada hari Minggu dengan mengajak aku dan meminta warga untuk membuat berbagai panganan yang disukai beliau.
Perjalanan ke Nusa Kambangan dari Desa kami ditempuh dalam waktu 7 jam dan beberapa kali kami harus melewati pos-pos pemeriksaan. Sesampainya di Lapas, kami hanya diizinkan berkomunikasi singkat dengan Pak Bina selama 15 menit. Kulihat Pak Bina yang ada di hadapanku berbeda dengan Pak Bina yang kukenal 3 bulan lalu. Badannya kurus, kulitnya kering bersisik, rambutnya tidak terawat dengan tatapan kosong, seolah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari kehidupan ini. Pak RW yang kukenal sebagai seorang yang bijaksana terus menyemangati Pak Bina untuk tetap optimis dan positif menjalani hidup, meskipun tiada dukungan keluarga apalagi harta benda yang selama ini menjadi aksesoris yang menghiasi status sosial Pak Bina.
Tak kusangka, Pak Bina kemudian berpesan kepada kami “hindarilah judi sejauh mungkin. Jangan coba-coba, jangan penasaran, dan jangan terpengaruh ajakan teman atau orang lain untuk bermain judi. Karena judi adalah media untuk mengantarkan manusia kepada sifat tamak, sombong, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, meskipun harus ditempuh dengan melanggar norma agama dan sosial. Jangan sampai ada orang lain seperti saya, menjalani masa senja dengan kelabu yaitu menjalani usia senja dengan keterpurukan, ketidakjelasan tujuan hidup, kahilangan keluarga, kehilangan harta benda, kehilangan akses keuangan termasuk asuransi dan dana pensiun, tidak meninggalkan warisan kepada anak cucu meskipun warisan akan perilaku berakhlak, serta penyesalan yang terus membayangi sampai ke liang lahat”.
Mantap dan keren Kak Panny, cerpen bermuatan pesan edukasi