Oleh RR. Erinna Salsabila
Departemen Perizinan dan Manajemen Krisis Perbankan
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi Maret 2025
Mudik Lebaran selalu menjadi ritual sakral—perjalanan pulang yang tak sekadar menjejak tanah kelahiran, tetapi juga menyelami kembali akar diri. Tahun ini, langkahku tertuntun menuju desa kecil di Jawa Tengah, tempat Eyangku merajut hari-hari dalam harmoni. Hamparan tegalan yang menguning, semilir angin yang membelai dedaunan, dan aroma tanah basah selepas hujan menyambutku dengan kehangatan yang tak tergantikan. Tapi bukan itu yang paling menggetarkan. Melainkan diam yang penuh makna. Diam yang membuat pikiranku sibuk bertanya—tentang siapa aku, dari mana aku berasal, dan apa sebenarnya yang kucari selama ini.
Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh dengan literatur Barat, aku sering terpesona oleh konsep-konsep modern seperti sustainability, mindfulness, slow living, dan stoicism. Ironisnya, dalam pencarian itu, aku alpa bahwa nilai-nilai tersebut telah lama bersemayam dalam budaya sendiri. Kearifan Jawa hanya mampir sebentar dalam hidupku: lewat pitutur yang tak sempat kudengar utuh, lewat upacara adat yang kupandang dari balik layar ponsel. Aku terlalu sibuk mencintai hal-hal asing, tanpa sadar telah berpaling dari rumah yang sebenar-benarnya. Seperti musafir yang mengabaikan peta warisan leluhur, aku tersesat dalam labirin dunia lain—padahal jawabannya terhampar di halaman rumah sendiri.
Kampung ini sabar. Ia menungguku untuk kembali. Dan pelan-pelan, aku mulai paham. Di sini, keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan bait nafas kehidupan. Batik, misalnya, adalah manifestasi slow fashion yang telah mengakar sejak dulu. Dalam tiap guratnya, terselip sabar yang sunyi, cinta yang tak terucap, dan kisah yang terus hidup. Setiap motif adalah pesan bisu dari masa lalu. Tak lekang oleh tren, tak tunduk pada musim. Batik bukan hanya kain—ia adalah warisan yang ditulis dengan tangan dan kesadaran, lalu diwariskan dengan penuh penghormatan.
Di dapur Eyang, aroma gudeg yang dimasak sejak subuh menyergapku. Pekat dan sabar, seperti menyimpan rahasia waktu. Makanan di sini bukan sekadar asupan; ia adalah medium bertutur. Setiap uap yang mengepul dari kuali seperti membawa pesan: tentang hidup yang tak perlu tergesa, tentang bumi yang harus dihormati.
Konsep slow process food? Kami, orang Jawa, sudah lama punya versinya sendiri: pawon anget—dapur yang selalu hangat karena makanan selalu “di-nget”, dihangatkan kembali. Bukan karena pelit, tapi karena itulah cara kami bertahan hidup. Dulu, mencari bahan makanan tak semudah sekarang. Sekali masak, harus cukup untuk hari ini, besok, lusa. Maka terciptalah gudeg, brongkos, ayam kanil, telur pindang yang semakin sering dipanaskan, justru makin empuk, makin meresap, makin nikmat. Makanan di sini seperti diajak berbincang oleh waktu; tidak lekas habis, tidak pula terburu-buru untuk diselesaikan.
Dan kalau cuma punya tulang? Kami tak mengeluh. Tengkleng, sop tetelan, balungan—hidangan hasil filosofi nrimo ing pandum. Menerima yang ada, mengolah secukupnya, menyantap dengan syukur. Filosofi mindfulness dan stoikisme dalam versi ndeso; tidak membuang, tidak menyia-nyiakan. Sampah makanan? Hampir tak ada. Apa pun yang tersisa kembali ke tanah, masuk ke joglangan—lubang kecil di sudut kebun. Orang modern menyebutnya kompos; kami menyebutnya kebiasaan. Bungkus makanan pun bukan plastik, melainkan daun jati, daun pisang, atau besek dari anyaman bambu. Siklus kehidupan berputar harmonis; bersumber dari bumi, kembali ke semesta. Persis manifestasi sustainability.
Bahkan tegalan, kebun di belakang rumah, bukan milik sistem perkebunan monokultur warisan kolonial. Di sana tumbuh apapun yang bisa tumbuh dan dimakan: singkong, pisang, rebung, cabai, bayam, dan kelor. Istilah kerennya heterokultur, meski kami tak pernah menyebutnya begitu.
Aku duduk bersisian dengan Eyang di atas dipan bambu tua di tepi tegalan. Suara jangkrik mulai menggema, seolah menyanyikan lagu pulang yang lama terlupa. Langit perlahan berwarna jingga, seperti lukisan Tuhan yang terlalu indah untuk diabadikan hanya lewat kamera. Eyang menatap jauh ke tegalan, matanya teduh; menyimpan seribu cerita yang belum sempat ia tuturkan.
“Kasihan ya, generasimu…” katanya lirih, nyaris seperti gumam yang sengaja dilepaskan angin. “Hidupnya sempit. Makanan saja susah dicari, tanah pun tak lagi bisa ditanami. Tinggal pun saling berhimpitan, berlomba-lomba membangun tinggi… tapi makin jauh dari bumi.” Ia menarik napas pelan. “Padahal dulu, dari tegalan ini saja, kami bisa makan cukup. Lebih dari cukup. Masih bisa berbagi ke tetangga yang tidak punya.”
Aku terdiam, si anak kota yang merasa tahu banyak soal keberlanjutan, mendadak bungkam. Seluruh teori yang kupelajari tentang sustainability terasa hambar di hadapan sepetak tanah yang dirawat dengan tangan dan cinta. Eyang, tanpa sadar, sedang membacakan manifestonya sendiri; tentang hidup yang cukup, tentang warisan yang tak boleh hilang.
Dan sore itu, aku tahu, aku tak hanya mudik. Aku melangkah pulang. Pulang pada akar. Pada suara yang dulu kupinggirkan. Pada tanah yang mengajarkan keberlanjutan bukan lewat kata, tapi lewat kehidupan.