Oleh: Mohammad Amin (Ketua Komunitas Penulis OJK)

Tulisan ini telah dterbitkan di Majalah Integrasi Edisi Februari 2025

Dalam berbagai kesempatan, saya sering mengajak rekan rekan insan OJK untuk menjadi anggota Komunitas Penulis. Fakta yang menarik, tidak sedikit insan OJK yang tidak mau menjadi anggota Komunitas Penulis OJK karena takut kalau diminta untuk membuat tulisan.

Merespon hal tersebut, saya selalu bilang bahwa di Komunitas Penulis ini kita dapat bersama-sama belajar menulis. Tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar praktik menulis memalui Klinik Menulis yang disediakan oleh Komunitas Penulis OJK.

Menulis memang tidak mudah. Banyak aspek teknis dan non teknis yang menjadi penghalang bagi seseorang untuk menghasilkan tulisan.

Aspek Non Teknis

Dari sekian banyak penghalang, aspek utama yang menjadi faktor penentu adalah semangat menulis. Seringkali seseorang memiliki banyak gagasan, cerita dan bahan untuk dituangkan dalam tulisan. Namun, karena tidak memiliki semangat yang cukup, tulisan hanya menjadi angan-angan. Kesibukan yang akhirnya menjadi dalih bagi seseorang untuk memaklumi kegagalan menghasilkan tulisan.

Dalam konteks ini, seseorang harus dapat memotivasi dirinya sendiri untuk menulis. Alam fikiran diberikan stimulus bahwa menulis merupakan kebutuhan ruhani. Menulis merupakan sarana healing yang cerdas dan bermartabat. Menulis merupakan cara kita untuk berkontribusi bagi kemajuan peradaban.  Menulis merupakan sarana healing yang cerdas dan bermartabat. Dan lain sebagainya.

Aspek Teknis

Sedangkan dari aspek teknis, aspek utama yang menjadi faktor penentu adalah kemampuan dalam menggali ide cerita/ide tulisan dan menyajikannya dalam sebuah skema tulisan yang sistematis.

Ide cerita sangat berpengaruh terhadap daya tarik sebuah tulisan. Meminjam istilah dalam Ilmu Ekonomi, ide cerita merupakan “syarat perlu (necessary condition)” bagi sebuah tulisan yang berkelas. Apabila ide cerita yang disampaikan merupakan gagasan baru atau gagasan yang belum pernah diperbincangkan, masyarakat akan cenderung mengapresiasi tulisan tersebut.

Menemukan ide baru ini yang seringkali menjadi pekerjaan rumah bagi para penulis pemula. Cara mudah untuk menemukan ide baru ini adalah menggunakan cara berfikir yang tidak biasa. Kalau menggunakan cara berfikir yang biasa, gagasan yang kita sampaikan kemungkinan besar akan biasa-biasa saja. Sebagai contoh, gagasan bank sampah merupakan hasil dari cara berfikir yang tidak biasa. Pada awal kemunculannya, tulisan mengenai bank sampah sangat menarik untuk dibaca dan dieksplorasi oleh publik.

Menggali ide cerita ini sangat erat kaitannya dengan pengalaman, informasi, diskusi dan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang digeluti sehari-hari. Semakin banyak bacaan seseorang, semakin tinggi Pendidikan seseorang, semakin rajin berdiskusi, semakin cepat membangun nalar kritis untuk menemukan gagasan baru.

Namun demikian, menemukan gagasan baru saja tidak cukup. Kebutuhan lanjutannya adalah menyajikan gagasan tersebut secara menarik dan sistematis. Teknik penyajian ini sangat berpengaruh terhadap sampai atau tidaknya pesan yang ingin disampaikan penulis. Penyajian yang baik akan memudahkan pembaca untuk memahami gagasan yang disampaikan. Selain itu, Jika seseorang ingin tulisannya diterbitkan di media massa, penyajian ini juga terkait dengan persyaratan teknis dari setiap media massa. Kalau ide cerita merupakan syarat perlu, teknik penyajian ini merupakan syarat cukup (sufficient condition).

Sebagai gambaran, tulisan yang menarik cenderung ringkas dan bernas. Ringkas artinya penggunaan kalimat secara efisien dan tidak bertele-tele. Sedangkan bernas artinya tulisan penuh berisi dengan gagasan baru dan argumentasi pendukungnya.

Kalau saat ini kita masih kesulitan dalam mengatasi kedua hal tersebut, jangan patah arang. Kata kunci untuk mengatasinya adalah terus mencoba. Kemampuan menulis akan semakin matang dengan praktik membuat tulisan sampai selesai. Kalau kita selalu menyerah pada saat baru menulis beberapa paragraf, selamanya kita tidak akan pernah dapat menghasilkan sebuah tulisan.

Banyak orang menyerah karena terjebak dalam kekhawatiran terhadap kualitas tulisannya. Padahal kita selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki kualiats tulisan dalam proses penyuntingan naskah. Jadi, tulis saja apa yang ada dalam fikiran. Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window