Oleh: Gita Chairina R (Departemen Perizinan, Pemeriksaan Khusus dan Pengendalian Kualitas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun)
Cerpen ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi April 2025.
Langit mendung menggelayut diiringi desir angin sejuk terasa syahdu. Telah rampung shalat ied secara khusyuk. Selepas shalat, segera aku cium tangan ibu sambil meminta maaf. Ibu juga berkata, “nanti jangan lupa salim sama bapak”. Keluargaku tergolong kasual, pada hari lebaran tidak ada tradisi sungkeman. Meminta maaf dilakukan dengan salim sebagaimana juga dilakukan pada hari-hari biasa seperti ketika akan berangkat kerja. Aku juga tidak pernah mudik karena meskipun berketurunan Jawa Tengah, seluruh keluarga juga sudah tinggal lama di Jakarta. Biasanya hari lebaran hanya aku habiskan dengan memakan menu ketupat di rumah dan sore harinya akan nyekar ke makam eyang di Jeruk Purut. Baru pada keesokan harinya akan ke rumah saudara bapak yang dituakan, itu pun masih di sekitar Jakarta Selatan.
Sambil merapikan sajadah, aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak bertatap muka dengan tetangga-tetangga yang terlanjur kutandai dengan ‘label’ heboh. Kalau heboh hanya sekedar berswafoto dengan busana baru tidak menjadi masalah bagiku. Tapi kalau jadi ‘target’ basa-basi rasanya ingin mengelus dada. Salah satunya adalah kejadian tahun lalu dengan Ibu Mirna, tetangga depan rumah persis. Dulu waktu kecil aku akrab bermain dengan anak bungsunya, namun seiring waktu dia bersekolah dan lanjut bekerja di Irlandia aku tidak pernah tahu kabarnya.
Lebaran tahun lalu adalah puncak meletupnya rasa sabarku. Kala itu Ibu Mirna berkata, “Reina sibuk kerja terus sampai keliatan saat lebaran saja. Mau jadi miliarder ya?”, kemudian ditambahkan lagi, “makanya punya suami Rei biar ga kerja terus, coba tanya ibu bapakmu pasti sudah mau menimang cucu. Kamu terlalu pendiam kali, coba juga kurusin badan pasti nanti cepat nikah”. Aku sebenarnya sudah cukup terbiasa mendengar obrolan iseng semacam itu seperti saat kumpul keluarga atau keseharian di kantor. Aku yang cenderung pendiam dan biasanya hanya bergumam di dalam hati secara spontan dan entah pikiran dari mana langsung menyambar “Tante kayaknya kesepian ya, lebaran saja sendirian”. Seketika Ibu Mirna dan beberapa tetangga lain yang mendengar langsung kikuk. Aku ingat saat itu ibu terpana sesaat dan segera pamit lebih dulu sambil menasihatiku sepanjang jalan. Sejak lebaran itu aku tidak pernah berpapasan lagi dengan Ibu Mirna dan semakin ingin menarik diri untuk menghindari berjumpa dengan tetangga-tetangga yang tergolong heboh tersebut.
Sesampai di depan rumah segara aku salim dengan Bapak. Bapak segera mencegahku masuk rumah, “Reina kita ke rumah tetangga-tetangga dulu bersalaman lebaran.” Aku mengangguk tipis seraya menjawab “tapi tidak ke rumah dia ya pak” ujarku sambil menunjuk rumah Ibu Mirna. “Astagfirullah nak tidak boleh dendam, ibu tahu seberapa seringnya kamu mendapatkan perkataan yang tidak nyaman” ucap ibu. Rumah Ibu Mirna kami sambangi terakhir. Beberapa tetangga lain yang sudah menunggu di luar pagar tampak mengurungkan niatnya karena pintu tertutup rapat. Ibu menekan bel dua kali dan akhirnya Mbok Tuti yang merupakan asisten rumah tangga membuka pagar. Mbok Tuti panik menyampaikan kalau Ibu Mirna sedang terbaring di tempat tidur, serangan stroke kedua. Sontak kaget aku mendegarnya, terlebih lagi aku jadi teringat eyang yang sempat sakit stroke lama sebelum meninggal. Rumahnya sangat sepi, sepertinya ketiga anaknya tidak ada yang pulang ke Indonesia. Ibu dan tetangga perempuan lainnya masuk ke kamar Ibu Mirna. Tak berapa lama ibu memanggilku mengatakan aku dicari oleh Ibu Mirna. “Maaf Re, maaf … maaf” ucap Ibu Mirna terbata-bata berusaha mengatupkan bibirnya yang bergetar sambil berusaha menggapai tanganku kesulitan. Seketika hatiku menjadi iba. “Saya minta maaf ya tante, atas perkataan dan perbuatan yang menyinggung” balasku.
Aku bergegas mengambil masakan-masakan di rumah untuk dibawa ke rumah Ibu Mirna. Bersama dengan tetangga-tetangga lain yang tidak memiliki agenda mudik, kami akan merayakan santap lebaran di rumah Ibu Mirna. Benar juga kata orang, seharusnya tetangga menjadi keluarga terdekat. Mereka hadir di sekeliling kita dan bisa menjadi pertolongan pertama ketika darurat. Aku ingin menebus ucapanku tahun lalu yang mengatakan Ibu Mirna kesepian. Langit masih kelabu dan angin masih bertiup pelan. Sejuknya seperti rasa amarahku yang padam. Lebaran ini terasa indah. Kata ‘maaf’ tadi sungguh berharga. Hatiku terasa penuh dan utuh seperti tidak ada lagi yang patah.