Oleh: Supriyono (Direktur Pengendalian Kualitas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK)
Gerimis sore itu belum nampak akan reda. Gayatri masih termenung di ruang tamu yang hanya diisi oleh seonggok sofa lusuh berbau tengik. Pikiran Gayatri kalut bukan main. Sudah beberapa bulan anak-anaknya belum membayar SPP. Sedangkan, Dhana-suaminya, masih tergolek lumpuh di tempat tidur dengan ditemani televisi tua. Gayatri tahu betapa batin suaminya menjerit dan meronta. Luka batin suaminya lebih dari luka fisiknya.
Lima tahun lalu semua impian Dhana dan Gayatri dimulai. Keduanya menyatukan tekad menjalani hidup bersama selamanya. Status Dhana saat itu hanya pekerja kantor rendahan, diperusahaan rintisan yang sedang berkembang. Setahun setelah menikah, keduanya diberikan momongan seorang bayi lelaki yang dinamai Baraja. Demi merawat bayi mungilnya, atas seizin Dhana, Gayatri melepas statusnya sebagai karyawati di sebuah toko roti tak jauh dari tempat mereka tinggal.
Hari hari indah dilalui keluarga kecil itu. Kehidupan berjalan mengalir. Rutinitas kehidupan kota melahap waktu tanpa sisa. Pagi hari Gayatri akan bangun paling awal untuk menyiapkan segala sesuatu jelang suaminya berangkat kerja. Tak terasa waktu berlalu dan Baraja pun telah mulai sekolah di TK sebelah musholla kompleks. Baraja pun tak lagi sendiri karena Sasha -adiknya yang lucu- telah menjadi teman bermainnya saat menunggu ayahnya pulang kerja. Gayatri dengan tekun merawat anak-anaknya. Dia tahu suaminya semakin sibuk dan sedikit waktu di rumah seiring karirnya yang merangkak naik.
“Bun, hari ini Ayah pulang agak telat ya.” Dhana meminta ijin di ujung sambungan telpon.
“Iya, Ayah. Sudah dua bulan ini Ayah sering sekali pulang larut malam. Tetap jaga kesehatan, Yah,” jawab Gayatri dengan sabar.
“Maaf ya, Bun. Soalnya Ayah diminta bos untuk ikut tim penyiapan perusahaan yang mau go public. Mumpung ada kesempatan perusahaan-perusahaan kecil bisa go public. Kata bos Ayah, ini kesempatan besar kuntuk dapat dana murah dari bursa,” jelas Dhana panjang lebar berusaha membuat Gayatri mengerti.
Gayatri kadang hanya mengiyakan karena tak paham benar apa yang disampaikan suaminya. Dia hanya yakin semuanya baik untuk keluarga kecilnya. Ia sangat percaya terhadap segala hal yang dilakukan oleh suaminya. Sering lewat tengah malam Dhana baru pulang ke rumah dan pagi subuh sudah bersiap berangkat kerja lagi.
“Bunda, Ayah berangkat dulu ya,” pamit Dhana pagi itu dengan raut wajah berseri.
“Ayah kenapa nggak sarapan dulu?” tanya Gayatri melihat sarapan yang disiapkannya tidak disentuh suaminya.
“Tenang, Bun… Hari ini di kantor ada syukuran potong tumpeng. Perusahaan Ayah hari ini melantai di bursa,” jawab Dhana sambil menstarter motornya.
“Hati-hati, Ayah. Semoga lancar acara melantainya,” sahut Gayatri meski tetap tidak paham apa itu arti melantai. Ia hanya tahu rutinitas hariannya terus berlanjut. Selesai antar anak sekolah, Gayatri baru memiliki sedikit waktu luang untuk sejenak merebahkan badan. Namun hari ini ada sedikit rasa tak enak melintas dalam pikirannya. Ketika sebuah nomor tak dikenal muncul dilayar HP nya.
“Halah paling tawaran asuransi atau pinjol ini,” gumam Gayatri sambil mereject panggilan di telepon genggamnya.
Tut… Tut…Hp nya Kembali dihubungi nomor tak dikenal. Telepon genggam Gayatri terus berbunyi. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengangkatnya.
“Halo… siapa nih? Saya nggak butuh asuransi, apalagi kartu kredit. Suami saya pegawai biasa!” seru Gayatri tegas sebelum orang yang menelponnya berkata apa-apa.
“Maaf, Bu, apakah ini dengan istri pak Dhana?” suara di ujung telpon terdengar tegas.
“Betul. Pak Dhana sudah berangkat kerja. Ada apa?”
“Kami dari Polsek Kramat, Bu. Kami mau menginformasikan kalau pak Dhana kecelakaan. Tadi pagi bertabrakan dengan pemotor yang melawan arah.”
“Yang benar, Pak?! Bapak jangan coba tipu-tipu ya!” Gayatri langsung waspada. Ia telah sering mendengar modus penipuan semacam ini.
“Tidak, Bu, kami serius. Saya akan kirimkan foto Bapak agar ibu percaya. Selanjutnya, silakan Ibu segera ke RS Seger Waras. Pak Dhana saat ini kami rujuk ke sana untuk mendapatkan perawatan.”
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun…” bisik Gayatri dengan suara bergetar sambil memandang foto suaminya yang terbaring tak berdaya di dalam ambulans.
***
Sepekan sudah Dhana dirawat di rumah sakit, namun luka yang dideritanya belum ada tanda-tanda segera pulih. Dokter baru saja menjelaskan dan memintanya bersabar serta lebih banyak berdoa. Rupanya benturan keras dengan pemotor yang melawan arah membuat Dhana jatuh dengan posisi yang tidak menguntungkan. Punggungnya menghantam aspal terlebih dulu. Sudah seminggu, kedua kaki Dhana belum bisa digerakkan. Dokter memprediksikan bahwa ada potensi Dhana akan lumpuh selamanya. Bayangan kelam berkelindan dibenak Gayatri. Sudah seminggu ini ongkos bolak-balik ke rumah sakit cukup memakan jatah dapurnya. Sebagai istri pegawai biasa, tak banyak tabungan yang bisa disisihkannya. Untungnya yang Gayatri dengar, sementara ini biaya rumah sakit ditanggung oleh Jasa Raharja. Walau untuk mengurusnya perlu surat ini itu yang tidak gratis. Namun, selepas ini ia tak tahu lagi siapa yang akan menanggung biayanya. Informasi dari petugas rumah sakit, seharusnya dari BPJS Ketenagakerjaan atau BPJS Kesehatan dapat menanggungnya.
“Mohon maaf, Bu, PT Amplasindex, Tbk. tidak mengikutsertakan karyawannya di program BPJS Ketenagakerjaan.”
“Mohon maaf, Bu, suami Ibu tidak terdaftar di BPJS Kesehatan.”
Seperti tersambar petir Gayatri mendengar penjelasan dari petugas di BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa perusahaan suaminya yang katanya melantai di bursa, namun tak mengikusertakan karyawannya ke BPJS yang seharusnya menjadi kewajiban pemberi kerja.
Sementara itu, pemotor yang menabrak suaminya hanya mengalami luka ringan. Selepas perawatan di IGD, ia sudah bisa pulang. Beberapa kali ia dipanggil aparat untuk dimintai keterangan. Ia pun sempat menemui Gayatri dan meminta maaf dengan muka memelas karena tak bisa membantu apa-apa. Gayatri pun tak sampai hati, karena pemotor itu pun hanya seorang ojol.
Selepas dari rumah sakit, Dhana, yang dulu seorang pekerja yang rajin dan gagah, kini harus menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur. Kecelakaan itu merenggut mimpinya.Separo tubuhnya kini lumpuh. Dhana merasa hanya menjadi beban bagi keluarga kecilnya. Kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi. Pada malam hari, ketika anak-anak sudah tidur, Gayatri akan duduk di samping Dhana dan berbicara dengan lembut. Mereka akan bercerita tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi kecil yang mereka simpan di hati.
Gerimis masih belum mau pergi. Gayatri semakin dibekap pikiran kalut. Sayup-sayup suara televisi di kamar suaminya mengabarkan protes masyarakat atas rencana pemberlakuan asuransi wajib bagi pemiilik kendaraan. Asuransi yang akan memberi perlindungan lebih baik bagi korban kecelakaan lalu lintas seperti suaminya. Sementara running text di televisi mengabarkan penolakan politisi atas rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Running text juga menampilkan breaking news terkait harga saham PT Amplasindex, Tbk. terpuruk ke level terendah yang berpotensi merugikan investor ratusan miliar rupiah.
“Ya Rabb, semoga tak ada lagi korban kecelakaaan lalu lintas tanpa perlindungan memadai seperti suamiku,” bisik Gayatri lirih.
Senja telah beranjak dan di luar gelap semakin pekat.