oleh: Imansyah
Co-Founder Komunitas Penulis OJK
Tulisan ini menjadi refleksi diri sendiri saat mengikuti seleksi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) beberapa saat yang lalu. Rangkaian seleksi yang dimulai dari seleksi administrasi, asesmen oleh konsultan Daya Dimensi Indonesia (DDI), test Kesehatan di RSPAD Gatot Subroto dan wawancara oleh Panitia Seleksi yang dipimpin oleh Menteri Keuangan, sungguh keseluruhan proses telah meninggalkan catatan perjalanan hidup yang sangat berharga. Bijak sekali untuk tidak menjadi takabur karena boleh jadi ini jalan Allah Swt menunjukkan cara untuk semakin paham akan hakikat diri sendiri.
Ikhtiar untuk memahami diri sendiri sejatinya sarat dengan makna. Bukan mengapa tapi boleh ingat akan nasihat ulama bahwa “man arofa nafsahu faqod arofa robbahu”. Siapa yang mampu memahami hakikat dirinya, sesungguhnya ia akan mampu memahami Tuhannya, In shaa Allah. Jadi berikhtiar untuk terus memahami diri sendiri bukan suatu proses yang dipandang sederhana dan mudah dicapai. Sembari itu, terlintas pula akan konsep Johari Window yang disampaikan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham pada tahun 1955 dengan 4 (empat) kuadrannya yang seperti jendela (window). Bila ingin konsep ini diaplikasikan kepada diri sendiri, maka boleh sangat bila setiap insan berikhtiar untuk menilai diri sendiri sedang ada di kuadran yang mana. Adakah dia paham bahwa dirinya tidak paham, atau dia paham bahwa dirinya paham. Lalu adakah dia tidak paham bahwa dirinya paham, atau dia tidak paham bahwa dirinya tidak paham. Berada di kuadran yang disebut terakhir semestinya tidak menjadi pilihan yang bijak.
Tidak mudah bahkan tidak ada limit waktu untuk memastikan seorang insan mampu mentahbiskan diri sudah migrasi dari satu kuadran ke kuadran yang lain sehingga kualitas diri “faqod arofa robbahu” sudah tergapai. Lantas, bagaimana korelasinya proses memahami diri dengan doa yang acap disampaikan oleh seorang dai kala mengakhiri ceramahnya dengan penutup “billaahittaufiq wal hidayah”.
Frasa di atas boleh dimaknai sebagai ungkapan akan sebuah pertanggungjawaban dari setiap apa yang disampaikan baik salah maupun yang benar. Kalimat penutup ini menjadi doa yang penting untuk mengisyaratkan bahwa manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan baik dalam bentuk lisan, pikiran, hingga perbuatan. Dikatakan “Al-insaanu makanul khotoq wa nisyaan”. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Untuk itu, kepada yang hadir didoakan semoga mendapat petunjuk jalan yang lurus yang diridhoi oleh Allah Ta’aala.
Bila sudah dipahami makna seluruhnya, maka boleh juga bila masih penasaran untuk paham makna “taufik” dan “hidayah” secara terpisah. Bukan untuk tujuan yang nyeleneh tapi agar kontekstual situasi dan kondisinya tepat. Dari referensi yang ada, “taufik” itu adalah sebuah kekuatan yang dijadikan oleh Allah untuk hambaNya yang sesuai dengan ridha dan cintaNya. Adapun “hidayah” itu sebuah petunjuk yang dapat membawa seseorang kepada tempat yang dituntut dan dituju. Rada susah untuk dipahami. Tapi sederhananya bisa dimaknai seperti ini. “Taufik” itu, apabila diri berniat jahat, maka itu akan dihalangi oleh Allah. Tapi bila diri ingin berlaku baik, maka Allah akan berikan banyak kemudahan. Setelah dimudahkan, Allah akan beri “hidayah”, akan dituntun, difasilitasi dan dilindungi karena perjalanan insan di dunia sejatinya memang perlu perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
Sebagai akhir, so then kesempatan mengikuti seleksi LPS itu bolehlah dimaknai sudah berniat baik dan semoga senantiasa dituntun dan dilindungi oleh Allah Swt. Semoga juga “billahittaufiq wal hidayah” senantiasa menjadi pedoman semua orang dalam merampungkan perjalanan hidup di dunia. Wallaahu a’lam bissawab.
Jakarta, Jelang Idul Adha 1446 H
*) Pandangan pribadi, diambil dari beberapa sumber.