Oleh: Riani Sagita
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi, Oktober 2024.
Penduduk Jepang terkenal memiliki rentang hidup yang cukup panjang. Bahkan di Desa Ogimi, Prefektur Okinawa, rentang hidup rata-rata penduduknya mencapai lebih dari100 tahun. Tidak heran, daerah ini memiliki julukan “the village of longevity”. Kenapa bisa seperti itu?
Hector Garcia dan Frances Mirales memberikan ulasan yang menarik dalam buku “IKIGAI: The Japanese Secret to a Long and Happy life”. Berdasarkan riset yang mereka lakukan, mereka sampai pada satu Kesimpulan bahwa alasan orang di Desa Ogimi Panjang umur adalah IKIGAI atau the purpose of life.
IKIGAI merupakan kombinasi yang ditemukan dari 4 hal: what you love, what you are good at, what you can be paid for, and what the world’s needs. Ketika seseorang telah menemukan tujuan hidupnya, maka IKIGAI akan memberikan sebuah kepuasan, kebahagiaan, dan makna hidup yang akan menjadi alasan untuk beraktivitas setiap harinya.
Saking tingginya semangat hidup mereka, konsep “retirement” tidak berlaku di Jepang. Tidak ada penduduk Jepang yang benar-benar retire, mereka tetap melakukan apa yang mereka suka agar dapat terus aktif. Hal ini juga tercemin dari kehidupan orang tua di Jepang yang masih selalu aktif berjalan kaki, bersepeda atau hiking walaupun sudah memasuki usia lanjut.
Berdasarkan pengalaman pribadi ketika menempuh S2 di Jepang, banyak penduduk usia lanjut di Jepang menjadi volunteer untuk komunitas-komunitas sosial. Diantaranya, walking tour community. Dalam komunitas ini, orang yang menjadi pemandu acara adalah seorang tua yang ingin belajar Bahasa Inggris. Jadi, mereka belajar Bahasa Inggris dengan praktik sebagai pemandu acara.
Selain IKIGAI, masih banyak kebijaksanaan lain yang dapat kita adopsi sebagai gaya hidup sehari-hari. 6 kebijaksanaan yang paling penting adalah: HARA HACHI BU, KAIZEN, WABI SABI, SHIKATA GA NAI, GAMAN dan SHU-HA-RI.
HARA HACHI BU atau eat until you are 8/10 full. Kebijaksanaan ini mengajarkan agar seseorang makan dengan hanya mengisi perut sampai dengan 80%. Filosofi ini sangat penting karena makan sampai terlalu kenyang akan membuat seseorang malas untuk bergerak, sehingga dapat menggangu kesehatan.
KAIZEN atau continuous improvement. Kebijaksanaan ini mengajarkan agar seseorang membuat perubahan kecil atau perbaikan berkelanjutan dalam semua aspek kehidupan sehingga dapat terus bertumbuh dan mencapai hasil yang baik dalam jangka Panjang. Dengan Kaizen, kita dapat mengembangkan growth mindset dan mencapai continuous improvement pada banyak aspek kehidupan kita.
WABI SABI atau the cham of flow. Kebijaksaan ini mengajarkan agar seseorang dapat menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan. Filosofi ini memegang tiga prinsip dasar bahwa tidak ada yang abadi, tidak ada yang selesai, dan tidak ada yang sempurna. Wabi-sabi mendorong kita untuk menghargai kehidupan yang sederhana, apa adanya, dan alami. Wabi-sabi juga berarti menerima kekurangan diri sendiri dan kekurangan orang lain dengan lapang dada.
SHIKATA GA NAI atau acceptance and letting go. Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa seseorang tidak bisa mengatasi semua hal sesuai dengan kemauannya. Oleh karena itu, fokus seseorang untuk mengendalikan apa yang dapat kita kendalikan. Kebijaksanaan ini tidak berarti menyerah dan pasrah pada keadaan. Namun menerima bahwa beberapa hal terjadi di luar kendali kita dan kita harus dapat menemukan cara untuk terus maju, atau move-on.
GAMAN atau Stay strong and control how to react. Kebijaksaan ini mengajarkan tentang “kesabaran, ketekunan, dan toleransi,” untuk bertahan dalam situasi sulit. Poin penting dari Gaman adalah enduring difficult situations with self-control and dignity. Penting untuk dimengerti bahwa bahwa seseorang tidak dapat mengendalikan apa yang akan terjadi kepada dirinya. Namun, seseorang dapat mengendalikan sikap dan tindakan sebagai reaksi atas hal tersebut.
SHU-HA-RI atau Learning and mastery. Shu-Ha-Ri merupakan konsep seni bela diri yang dapat diadaptasi ke dalam berbagai bidang, termasuk pengembangan diri. Shu-Ha-Ri menekankan pentingnya mengikuti tradisi dan belajar dari orang lain, sebelum dapat mengembangkan cara atau pendekatannya sendiri. Melalui Shu-Ha-Ri, kita dapat mencapai menguasai bidang yang kita sukai sekaligus mengembangkan kreativitas dan inovasi.
Kebijaksanaan-kebijaksanaan di atas, sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan lebih menarik lagi jika dipadukan dengan kebijaksanaan-kebijaksanan Bangsa Indonesia yang sudah menyatu dalam diri kita. Dengan begitu, kita dapat menjalani hidup dengan lebih baik dan bahagia.