Oleh: RR Erinna Salsabila R

Cerpen ini merupakan Juara 1 Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT ke 7 Komunitas Penulis OJK

Eleanor menatap layar jam tangan pintarnya. Dua tiga empat lima – lima menit sebelum bus kota terakhir melintas dan mengangkutnya. Berteman sepi dengan ponsel genggam yang mati dan percikan air hujan yang bocor dari atap halte di sisi kiri, ia mencoba menghibur diri. Mata cokelatnya menelisik poster iklan yang tertata rapih pada dinding halte. Salah satu iklan permen dengan wara jenama “Hijaukan Bumi dengan Permen Candy” menarik perhatiannya. Permen Candy menawarkan inovasi bungkus karton khusus dengan klaim ramah lingkungan.

“Hmm…sudah pasti polietilena,” gumam Eleanor sambil tersenyum tipis. Ia menghela nafas panjang. Mantan juara satu nasional olimpiade kimia di bangku SMA itu tahu betul komposisi material dari karton khusus yang digunakan.

Hujan deras masih mengguyur kota Greenhaven malam itu. Dari bilik halte, Eleanor menatap salah satu bangunan megah di pusat distrik finansial yang sering kali menjadi titik temu. Bank Greenhaven; simbol kepercayaan publik terhadap keuangan berkelanjutan. Reputasinya dibangun di atas portofolio investasi hijau yang membanggakan. Pembangkit listrik tenaga surya, pengelolaan limbah, dan perumahan ramah lingkungan menjadi program utama pilar pendanaan. Di hadapan Eleanor, kini bus kota membunyikan klaksonnya – memberi tanda ia harus bergegas dari lamunanya.

Pagi itu, tigabelas kali telepon masuk ke ponsel Eleanor. Ia terhenyak dari tidurnya dan mendapati pesan singkat dari Inspektur Miller – teman lamanya di kepolisian:

‘08:52. Alfred Hartman – analis senior Bank Greenahven, dilaporkan hilang secara misterius.’

Seketika Eleanor bergegas. Ia tahu panggilan ini penting untuknya.

Berbekal jas cokelat tebal dan payung hitam, ia tiba di tempat kejadian. Lantai marmer dan pajangan antik menyambut Eleanor dengan megahnya di lantai 12 A Bank Greenhaven. Ia menganalisa tempat kejadian perkara – meja kerja Alfred di sudut kanan dekat jendela.

“Apa yang kita miliki, Inspektur?” tanyanya kepada Inspektur Miller.

“Minim bukti. Menurut para pegawai, Alfred terakhir terlihat bekerja hingga larut malam. Tidak ada hal yang aneh, kan?” Ucap Inspektur Miller dengan sedikit keraguan sembari mengantar Eleanor mendekati meja kerja Alfred yang berantakan dan dipenuhi catatan.

“Menarik,” gumam Eleanor sambil tersenyum tipis. Ia kemudian membuka laporan keuangan Alfred dan membaca tulisan tangan pada laporan itu dengan pelan, “Jejak Hijau – Halaman 23.”

“Laporan ini berisi analisis tentang dampak ESG dalam portofolio Bank Greenhaven. Tapi apa hubungannya dengan hilangnya Alfred?”

Di sudut laporan, Eleanor menemukan tulisan tangan Alfred: “CLEAN FALSE WORTH”. Sebuah anagram, pikir Eleanor. Senyumnya kembali merekah. “Banyak cerita dimulai dengan kehilangan, tapi misteri sejati dimulai dengan teka-teki,” ujarnya kepada dirinya sendiri.

Ehem, selamat pagi Yang Mulia Inspektur Miller dan…Nona?” sapa perempuan paruh baya dengan mengejutkan.

“Eleanor Finch, detektif swasta rekan kerja Inspektur Miller,” sambung Eleanor sambil mengulurkan tangan.

“Clara Moreau, CEO Bank Greenhaven. Senang bertemu anak muda yang bersemangat seperti Anda!” tutur Clara menyambut jabatan tangan Eleanor. “Pertama, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari insiden ini. Pers dan media sudah kami tertibkan. Semua kami lakukan untuk menjaga keberlanjutan, seperti core value dari bank ini.”

“Oh! Meja Alfred memang selalu berantakan,” sambung Clara. “Alfred – dia adalah sosok pegawai teladan yang selalu bekerja keras. Laporan keuangan itu mungkin hanya bagian yang belum diselesaikan dari pekerjaannya,” tuturnya saat melihat satu laporan keuangan dalam genggaman Eleanor.

“Lalu, apa penjelasan Anda tentang proyek tambang pada laporan ini?” Eleanor bertanya, menatap tajam ke arah Clara.

Well, seperti yang publik ketahui, kami di Bank Greenhaven sangat serius terhadap keberlanjutan,” kata Clara sambil menunjuk poster besar tentang proyek pengolahan limbah yang terpampang pada dinding tepat di belakang bahunya. “Pilar investasi kami adalah program pengelolaan limbah ramah lingkungan. Lalu… Tambang? Mungkin maksud Nona adalah proyek rehabilitasi lahan tambang?” Clara tersentak kecil sebelum tersenyum kembali. “Itu adalah salah satu proyek transisi energi kami. Tentu saja kami sudah memastikan semuanya sesuai standar.”

Eleanor mencium kejanggalan. Ia mencatat penjelasan itu tanpa berkomentar. Ia tahu betul sesuatu sedang disembunyikan.

Kembali ke kantornya, Eleanor menatap langit mendung dari balik jendela. Greenhaven – kota yang beratapkan langit abu-abu, udaranya selalu sendu, hujan dua empat tujuh namun nyaris semua tanaman layu. Ironis.

Ia kembali menyusuri jejak tulisan tangan Alfred di sudut laporan keuangan “CLEAN FALSE WORTH”. Ia teringat tentang anagram pada serial televisi favoritnya, Sherlock Holmes, satu dekade lalu.

Hmm…C-L-E-A-N-F-A-L-S-E-W-O-R-T-H,” gumamnya. Ia membuka permainan papan favoritnya – Scrabble – dan menyusun satu persatu huruf diatasnya.

“W-A-S-T-E-L-A-N-D-F-I-L-L-C-O-R-E. WASTE LANDFILL CORE,” teriak Eleanor dengan mata berbinar dan penuh semangat. Ia mengeluarkan spidol dan mulai merajut skenario yang membanjiri isi kepalanya.

Petunjuk ini krusial bagi Eleanor. ‘Waste Landfill’ menunjukkan proyek pengelolaan limbah yang menjadi salah satu portofolio hijau yang didanai Bank Greenhaven dan ‘Core’ menjadi fokus pendanaan utama Bank Greenhaven dalam menjalankan operasinya. Proyek pengelolaan limbah menjadi dalih untuk menyembunyikan alokasi dana yang sebenarnya digunakan untuk proyek yang tidak berkelanjutan, yaitu tambang batu bara – seperti yang ditemukan pada laporan keuangan Alfred pada halaman 23.

Dalam laptop Alfred yang berhasil diakses, Eleanor menemukan e-mail rahasia antara Clara dan perusahaan tambang. Dalam berbagai e-mail disebutkan “komisi keberlanjutan”—istilah halus untuk suap yang disamarkan sebagai biaya operasional.

Selain itu, Eleanor juga menemukan ribuan e-mail pengaduan masyarakat terkait proyek ‘investasi hijau’ yang didanai oleh Bank Greenhaven. Salah satunya merujuk pada e-mail Florence Walsh – seorang nasabah yang telah berinvestasi pada proyek energi terbarukan. Dalam e-mail-nya ia menuliskan “Mereka bilang uang saya digunakan untuk pengolahan limbah, tapi kenyataannya, tambang batu bara itu malah merusak tanah kami.”

Eleanor juga mencatat adanya transaksi mencurigakan senilai tiga juta dolar yang dialihkan ke perusahaan tambang melalui jalur investasi hijau palsu. “Greenwashing,” gumam Eleanor. Ia teringat definisi dari Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) – praktik pemasaran produk keuangan yang seolah-olah ramah lingkungan, namun tidak sesuai kenyataan.

Eleanor memeriksa catatan telepon Alfred. Satu panggilan terakhir mengarah ke sebuah gudang tua di pinggiran kota. Bersama Inspektur Miller, Eleanor mendatangi lokasi itu dan menemukan Alfred dalam kondisi lemah, terikat di kursi.

“Mereka mencoba membungkam saya,” kata Alfred dengan suara serak. “Saya menemukan bahwa sebagian besar investasi hijau bank hanyalah kedok.”

Alfred menyerahkan dokumen terakhir yang ia sembunyikan, memuat bukti kuat tentang greenwashing di Bank Greenhaven.

Dengan bukti di tangan, Eleanor mengonfrontasi Clara. “Anda tahu bahwa apa yang Anda lakukan melanggar prinsip DNSH (Do No Significant Harm),” kata Eleanor tegas. “Dana untuk energi terbarukan dialihkan ke tambang batu bara, dan Anda memalsukan data untuk mencapainya.”

Clara pun akhirnya mengakui, dengan dalih “Itu hanya bisnis,” katanya dingin. “Bank ini tidak akan bertahan tanpa langkah itu.”

Setelah wawancara dengan Clara, Eleanor menyadari bahwa ini bukan hanya masalah individu. Jejak transaksi menunjukkan keterlibatan pihak ketiga, yaitu perusahaan investasi global yang menggunakan Bank Greenhaven sebagai perantara – Moreau Inc. – pionir start up teknologi energi bersih dengan rekam jejak buruk terkait proyek tambang di Asia.

Dari dokumen Alfred, ia menemukan lebih banyak petunjuk berupa video dokumenter yang menandai berbagai lokasi tambang dan proyek energi terbarukan yang dipalsukan. Dokumenter ini membawa Eleanor ke sebuah desa kecil, di mana masyarakat setempat berkeluh kesah tentang janji palsu perusahaan tambang yang mengklaim mereka akan mendapatkan infrastruktur baru. “Mereka datang dengan janji,” kata seseorang bernama Florence Walsh, “tapi yang kami dapat hanyalah tanah yang rusak dan sungai yang tercemar.”

Persidangan terakhir telah usai, semua terdakwa diadili. Eleanor kembali ke meja kerja dan menyesap teh manisnya. Jemarinya lincah menari di atas keyboard laptopnya – tenggelam dalam pikirannya yang mulai tenang. Dalam tulisannya, ia tidak hanya membahas pentingnya literasi keuangan untuk mengenali praktik greenwashing, tetapi juga mengungkap bagaimana skema ini berhasil menembus celah regulasi yang ada.

Greenwashing bukan sekedar pelanggaran etika,” tulis Eleanor. “Lebih dari itu, greenwashing adalah kejahatan sistemik yang memungkinkan perusahaan dan lembaga keuangan mengeksploitasi kepercayaan masyarakat untuk keuntungan pribadi. Literasi keuangan adalah senjata terbaik untuk melawannya, tetapi itu saja tidak cukup. Kita membutuhkan regulasi yang tidak hanya kuat, tetapi juga penuh tekad untuk diterapkan tanpa kompromi.”

Eleanor mengungkapkan sebuah fakta yang mengejutkan publik. Ia mencatat nama Clara Moreau, CEO Bank Greenhaven sekaligus pemilik start up Moreau Inc. yang sebelumnya dianggap sebagai pendukung keberlanjutan.

“Saya menemukan korespondensi pribadi yang menyebutkan nama Clara Moreau sebagai arsitek utama dari sebagian besar proyek hijau yang dipalsukan. Clara bukan hanya penggerak skema ini, tetapi juga orang yang memanipulasi data untuk mengamankan pendanaan investor global untuk kepentingan pribadinya,” tulis Eleanor.

Eleanor menutup artikelnya dengan sebuah pertanyaan retoris yang menyayat: “Berapa banyak lagi Clara di luar sana, yang bersembunyi di balik layar angka-angka sempurna, menciptakan jejak hijau palsu yang membahayakan masa depan kita?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window