Oleh: Mohammad Amin
Ketua Komunitas Penulis OJK
(Cerita pendek ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi Mei 2024)
Sudah hampir dua bulan ini, percakapan di lereng Bukit Manggar penuh dengan kegalauan. Apakah mereka masih dapat bertahan pada Festival Bunga musim depan?
“Lang, sebenarnya kami semua sangat berharap kepadamu. Ayolah Lang, kembali seperti awal kami mengenalmu”. Kata Kenanga setengah merajuk.
”Saya tahu, kamu bisa Lang. Lebih dari bisa” Kata Seroja menimpali, dengan muka sendu.
”ini kalian semua pada ngapa sih…. ” balas Telang, agak acuh tak acuh.
“Bukan begitu Lang, minggu lalu orang tuaku terkejut saat tahu kita gagal total di Festival Bunga tahun ini” terang Melati menjelaskan panjang lebar, agak kesal dengan respon Telang.
“kalian sendiri kenapa nggak mau berusaha? festival itukan bukan hanya tanggung jawab saya” jawab Telang tajam menghunjam perasaan teman-temannya.
Persahabatan mereka telah terjalin cukup panjang. Lima tahun lalu, mereka dalam waktu yang hampir bersamaan, sampai di Bukit Manggar untuk mengejar mimpi yang serupa. Untuk belajar menjadi bunga yang memahami makna menjadi bunga. Bukan sekedar menjadi bunga hiasan pesta semata.
Pada musim-musim sebelumnya, mereka selalu memukau pada Festival Bunga. Para penghuni pegunungan, terkesima dengan keberhasilan Perguruan Bukit Manggar mempersembahkan kuntum kuntum bunga yang nyaris sempurna.
” Untuk apa sih kita menjadi juara Festival Bunga? Itu nggak penting. Piala yang setiap tahun kita bangga-banggakan itu, sejatinya kosong, tidak ada isinya” Telang mencoba mengajak teman-temannya berfilosofi.
Hanya asap api unggun bekas membakar singkong yang memenuhi isi kepala mereka. Tidak ada satu patah katapun yang terlontar.
”Hmmmm, harum betul bau singkong bakar kalian, masih ada nggak?” tiba-tiba Guru Phatu muncul masih lengkap dengan kostum lapangan.
Telang dan teman-temannya segera mencium tangan penuh hormat begitu melihat Guru yang sangat mereka kagumi.
”mohon maaf Guru, kami tidak menyadari kalau Guru sudah kembali” kata Seroja, merasa bersalah karena tidak berjaga di Pos Piket Malam.
”nggak apa-apa, sudah saatnya tugas Piket Malam diserahkan kepada adik-adik kalian. Mereka juga perlu belajar memahami perubahan alam dan berlatih kedisiplinan”
”Memang bijak” batin Seroja.
”Kami antarkan singkong bakarnya ke Ndalem Guru….” Melati berinisiatif agar mereka tidak rikuh melanjutkan diskusi yang belum selesai.
”Nggak usah, kita makan bareng-bareng di sini saja. kebetulan tadi saya mampir ke Perguruan Bukit Sebelah. Mereka menghidangkan masakan yang lezatnya tidak terkira.” Kata Guru Phatu sambil mengeluarkan beberapa bungkus makanan dari tas cangklong perbekalannya.
”Baik Guru, dari aromanya sudah terasa lezatnya” Kata Kenanga yang terkenal paling jago masak di antara mereka.
”Tetapi, sejatinya mereka sedang kehilangan asa. Mereka merasa apa yang selama ini dikerjakan hanya sia-sia”. Guru Phatu membuat murid-muridnya penasaran.
”Lalu, aku diminta Guru Phakku untuk menasehati murid-muridnya” Lanjut Guru Phatu.
”Apa yang Guru nasehatkan kepada mereka?” tanya murid-muridnya hampir serempak.
”Tidak banyak. Aku hanya menyampaikan tiga hal kepada mereka”. Guru Phatu menata kata sembari membersihkan bajunya dari serpihan kulit singkong bakar.
”Pertama, aku katakan kepada mereka, tidak ada kebaikan yang sia-sia. Walaupun tidak ada yang memuji, walaupun kelihatannya tidak ada dampaknya bagi hidup kita saat ini. Pada saatnya kita akan mengerti, bahwa kita akan terbantu karena wasilah kebaikan kita tersebut” Kenanga dan Seroja mengangguk-angguk tanda mengerti.
”Kedua, jika kita berusaha melakukan hal-hal terbaik, kita telah menghidupkan peluang kita sendiri untuk mendapatkan hal yang terbaik dalam hidup ini. Benar, mendapatkan hal terbaik bukan artinya mendapatkan piala, bukan semata berusaha menjadi juara. Mendapatkan hal terbaik, artinya kita dapat memberikan sesuatu yang lebih baik dari orang lain. Inilah makna juara sejati” Sambung Guru Phatu semakin dalam.
Hening. Tidak satupun muridnya yang berani menyela.
”Ketiga, kebaikan yang kita lakukan dapat menjadi ladang tabungan amal jariyah bagi kita. Anak-anakku, kita mungkin tidak menyadari kalau orang-orang di sekitar kita memperhatikan dan mengamati apa yang kita lakukan. Bisa jadi seseorang melakukan suatu kebaikan karena ingin mencontoh kita. Jika kita dapat menginspirasi kebaikan, insyaAllah pahala kebaikan orang tersebut, juga akan mengalir kepada kita.” Pungkas Guru Phatu menutup perbincangan malam itu.
Murid-murid Perguruan Bukit Manggar saling berpandangan, mereka merasa sama sama telah mendapatkan jawaban atas permasalahan yang menjadi kegelisahan selama ini.
Demak, Maret 2024