Oleh: Amalia Erlynandita dan Puspa Hapsari
(Naskah Cerita Pendek ini merupakan Juara Harapan 1 Lomba Menulis Cerita Pendek 2026)
30 November 2030
16.14 WIB
Kuputar kunci hingga mesin mati dan tanpa kusadari aku kembali menghela nafas Panjang. Yang kali ini bahkan lebih panjang dari pada helaan nafas sebelumnya, sepanjang senin di minggu kedua bulan November. Hujan menumbuk kaca mobil, sementara kepalaku sibuk mengulang kalimat-kalimat pitching untuk klien terakhir tahun ini. Satu proyek lagi. Satu target lagi untuk ditutup.
Kudorong pintu hijau emerald di depanku. Tergantung hiasan natal beserta loncengnya yang memunculkan samar suara kerincing. Mataku menyibak seisi ruangan berharap semoga kursi favoritku kosong. Di tempat inilah aku sering singgah—untuk bekerja, untuk berpikir, dan diam-diam, untuk bertahan.
Lagu Every Breath You Take mengalun dari sudut ruangan. Lanang—penyanyi tetap di kafe ini—tengah memetik gitarnya dengan wajah serius. Usianya baru lima belas tahun, tapi entah kenapa, kedewasaannya mengajarkanku banyak hal. Setiap kali menatap mata coklatnya, aku selalu terlempar ke satu malam 8 bulan lalu ketika segalanya terasa keruh.
Hujan di malam valentine itu tak seberisik pikiranku. Insomnia yang kualami akhir-akhir ini, seperti menunjukan ada satu peristiwa yang terus mengetuk, meminta diakui. Siang tadi, psikolog tempatku berkonsultasi menyebut gangguan tidur yang kualami bukan sekadar kelelahan.
“rootcausenya ada di kejadian evaluasi akhir tahun yang kamu hadapi kal… “ ucap Bu Gani, “ada bagian diri kamu yang terluka atas ucapan yang disampaikan oleh bosmu, padahal kamu merasa sudah melakukan yang terbaik”.
Kata-kata pedas yang kuterima terus berputar dibenakku. Aku teringat hari ketika tetap masuk kantor meski tubuhku diserang gejala tifus untuk tetap presentasi di hadapan klien, berharap itu cukup menjadi bukti loyalitas. Ternyata tidak. Sejak hari itu, ada sesuatu dalam diriku yang runtuh.
Setelahnya aku mulai mencari validasi dengan membeli hal yang tak benar-benar kubutuhkan. Travelling dengan dalih penyembuhan. Sampai hari ini, aku duduk disini, menatap angka-angka di layar laptop dan menyadari satu hal: aku kehilangan kendali—bukan hanya atas pikiranku, tapi juga uangku. Empat gelas cappuccino telah habis sambil jemariku terus mengetik di kolom-kolom Excel, mengevaluasi rekening koran yang baru kuminta dari bank. Saat itulah seorang anak remaja bermata coklat menghampiriku, mengembalikan selembar kertas yang terbawa angin.
Aku memperhatikannya berjalan kembali ke dekat panggung, lalu menyetorkan uang hasil manggungnya pada seorang lelaki bertubuh tambun dengan tato di lengannya. Dadaku mencelos
“kasian amat ya, nyanyi capek-capek malah dipalak orang, emang hidup ga adil ya, yang kerja keras siapa yang menikmati siapa” gumamku.
30 November 2030
16.20
Aku terenyak saat Lanang menghampiriku “Mbak, grogi ngga?” tanyanya.
“Iya, Nang. Nilai projectnya gede banget soalnya. Semoga klien yang kamu kenalin ini deal,” jawabku jujur.
“berprasangka baik aja mbaa, Aku yakin bisa deal hari ini.”
Aku tersenyum. Ia pamit kembali ke panggung, meninggalkanku bersama lantunan petikan gitar dan suara rinai hujan diluar sana yang mengisi ruang.
Aku Kembali teringat di hari saat aku menyusuri Jalan Pajajaran yang basah oleh hujan dengan mengenakan kebaya dalam rangka Kartini Day. Di balik pintu hijau emerald itu kulihat, anak bermata coklat tengah menyanyikan Sunflower milik Post Malon. Baru kali ini aku benar-benar mendengar suaranya—mungkin karena kepalaku terasa lebih ringan sepulang dari sesi terapi.
Ini adalah terapi keduaku, dan kunjungan kesepuluhku ke kafe ini dalam sebulan. Dari ruang terapi, aku belajar satu hal sederhana: melepaskan. Psikologku menyebutnya let them. Sebuah mantra pendek agar aku tak lagi terpenjara oleh persepsi dan ucapan orang lain. Waktu menunjukan tepat pukul 8 malam kulihat lagi anak itu, si mata coklat sedang menyetorkan uang pada lelaki-tambun-tukang-palak-bertato. Hatiku sakit. Tapi aku tidak bisa apa-apa hanya menghela nafas panjang.
Let them, batinku.
30 November 2030
16:39 WIB
Banyak orang bilang rasa makanan dan minuman bisa mambuat kita terlempar dalam ruang memori di masa lalu yang tidak pernah kita duga membawa kita Kembali ke momen yang mana. Daan saat ini sambil menunggu aku terlempar pada ingatan suatu malam di bulan Juni.
Malam itu aku pergi ke café dengan pintu berwarna emerald. Aku memesan latte no sugar, dan saat menengok ke panggung aku lihat si mata coklat tengah membereskan alat musiknya dan berjalan menuju lelaki tambun untuk menyetorkan uangnya. Lagi. Di pertemuan kali ini aku mencoba mengambil peran Let Me lanjutan dari Let Them Theory.
Kusapa si mata coklat dan kutawarkan untuk pesan minuman hangat, serta makan malam. Dia menolak tapi kupaksa dia untuk memesan. Awalnya dia ragu sampai akhirnya dipilihlah jus strawberry dan kwetiaw siram sapi. Kami lalu duduk satu meja dan mengobrol, hingga akhirnya aku tau dia adalah Lanang, siswa di SMA 3 Bogor. Aku tidak berani bertanya lebih, hanya mengobrol ngalor ngidul soal lagu dan ternyata mengobrol dan melakukan kebaikan kecil inimenjadi terapi tersendiri untukku.
30 November 2030
16:45 WIB
Sesekali aku mengintip riasanku lewat pantulan layar handphone, sambil beberapa kali melatih caraku tersenyum dan menata gesture tubuhku. Katanya 70% keberhasilan pitching adalah gesture dan mimik wajah. Kuedarkan mataku keseluruh ruangan sembari memutar seluruh adegan selama 8 bulan ini saat aku datang untuk tetap bertahan. Satu cuplikan kejadian berputar dikepalaku.
Waktu itu adalah malam ke-21 kami duduk bersama, kunjungan ke psikologku yang ke-9, dan entah keberapa kalinya aku singgah di kafe berpintu hijau emerald. Seperti biasa, sebelum menghampiriku, Lanang menyetorkan uang hasil manggungnya kepada lelaki bertubuh tambun bertato.
“Jus strawberry sama kwetiaw siram sapi lagi Nang?”
“Heheh klo mba ngga keberatan boleh…”
“Kamu suka banget kayanya”
“100 tahun aku disuruh makan itu setiap malam juga aku mau mbaa” dan kami tertawa.
Banyak yang akhirnya kuketahui dari Lanang. Ia yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Dia bernyanyi di café untuk membiayai sekolahnya. Seusai bernyanyi ia kembali ke panti untuk membantu adik-adiknya dan mengejar waktu belajar di pagi buta.
“Maaf ya aku nanya begini… kenapa kamu capek-capek nyanyi, tapi uangnya malah disetor ke om itu?” ucapku terus terang. “Kalau maaf ya, kamu dipalak, kamu bisa bilang ke aku, Nang. Jangan sampai kamu kecapekan sendiri.”
Lanang menyeringai kecil. “Mbak Kala kok tahu aku sering setor uang ke Om itu?”
“Ya iyalah,” sahutku cepat. “Aku udah berjuta kali nongkrong di sini.”
Ia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Mbak. Om itu baik kok… nggak kayak yang Mbak pikirin.”
“tapi nang….”
“tenang Mbak… kalo Lanang butuh pasti bilang Mbak Kala.” Jawabnya mantap. “Lagi pula ngga semua prasangka kita itu fakta loh. Boleh jadi yang kita pikirin ini Cuma asumsi aja kan?.”
Ucapan Lanang barusan menghantamku kuat. Bisa jadi yang orang pikir tentang kita itu hanya asumsi saja kan?. Itu bukan identitas kita. Ucapan pedas soal aku yang dianggap rebel itu hanya asumsi mereka. Bukan identitasku.
30 November 2030
16.53
Aku membuka laptopku dan membaca lagi poin-poin yang sudah aku siapkan. Sebagai konsultan bisnis, tidak hanya menganalisa aku pun memiliki target mencari client baru. Kulirik jam tangan dengan kalp coklat mahogany milikku, kurang tujuh menit menuju janji temu antara aku dan client-kenalan-Lanang yang sudah ku approach seminggu lalu.
” Mbak, client-nya udah di parkiran”. Mataku menatap Lanang dengan kemeja flannel warna hijau emerald yang persis dikenakannya sebulan lalu saat semesta dengan ajaib menunjukan caranya membantuku. Teringat aku pada obrolan malam itu
“Nang, pusing banget gue,”
“Kenapa, Mbak?” jawab Lanang sambil menstaples nota kasir.
“Aku masih butuh satu klien lagi.”
Lanang menoleh. “Mbak Kala tuh kerjanya apa sih?”. Aku kemudian menjelaskan singkat tentang pekerjaanku.
“kayaknya aku kenal orang yang lagi butuh bantuan orang kayak Mbak,” katanya santai.
“Serius, Nang?”
“Iya. Beliau ini kaya banget Mbak dan mau buka bisnis di dua puluh kota, tapi lagi bingung sistem dan SOP-nya.”
Aku menatap Lanang dengan wajah memohon dikenalkan.
Lanang belum menjawabku sata tiba-tiba datang Om-bertato kearah meja kami. Dia lagi, batinku.
“Mas, maaf tadi belum nyetor. Lagi bantuin bang Arsyad ngerapihin nota nih” jawab Lanang.
“Ok, thanks ya Nang. Besok datang lebih cepet ya, soalnya ada yang reservasi buat acara ulang tahun.”. ucapnya dengan nada tegas.
Lanang pun hanya menjawab siap-siap seperti budak korporat pada umumnya. Setelah pria itu menjauh aku lalu merepet lagi pada Lanang,
“kamu jangan Cuma siap-siap doang. Capek kerja malah diambil orang uangnya. Coba kamu dapet apa?”, dan lagi-lagi Lanang hanya terkekeh dan menjawabku dengan jawaban formatif. Ahh anak ini begitu polos dan baik.
30 November 2030
16.57
Aku tersadar saat Lanang mencolek lenganku dan berbisik “Mbak, client Mbak Kala sudah datang.”
Aku menoleh dan melihat Lelaki bertubuh tambun dengan tato di lengannya berjalan kearahku. Orang yang selama ini kupikir hanya bayangan gelap di café ini.
“Halo, Mbak Kala. Saya Burhan,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Kemarin kita sempat ngobrol lewat chat. Lanang banyak cerita tentang Mbak.”
Aku menatap Lanang, sedikit bingung.
“Iya, Mbak,” jawabnya sambil nyengir, “Mas Burhan ini yang punya café. Sudah lama Mas Burhan bantu aku ngelola uang manggung. Ada yang diinvestasiin, ada yang ditabung buat kebutuhan sekolah. Katanya, uang capek nggak boleh habis di hari yang sama.”
Kalimat itu jatuh pelan di dadaku. Aku tersenyum kecil dan malu pada caraku menilai. Barangkali benar kata psikologku: kita sering terjebak melihat hidup dari persepsi sendiri, lalu lupa bahwa tidak semua yang ada dibenak kita adalah fakta dan kebenaran.
Di luar, hujan masih turun. Tapi untuk pertama kalinya, kepalaku terasa terang.