Oleh: Yunita Meldasari

(Departemen Penegakan Integritas dan Audit Khusus)

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Harian KOMPAS, 18 Juni 2022

Serial Layangan Putus yang viral dan mengaduk-aduk hati para perempuan se-Indonesia, memberikan pembelajaran bagi para perempuan, untuk siap menghadapi segala kondisi yang terjadi.  Termasuk kondisi yang tidak pernah diharapkan perempuan mana pun, ditinggalkan pasangan karena wanita lain, seperti halnya Kinan yang ditinggal Mas Aris. Terlepas dari itu, sebagai perempuan, memang sudah seharusnya siap untuk hidup mandiri, berwawasan, dan tidak mengandalkan pasangan sepenuhnya. Perempuan, harus terus membekali diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan, termasuk kecerdasan finansial.

Berdasarkan hasil Survey Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2019, yang diselenggarakan OJK, indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen dan indeks inklusi keuangan mencapai 76,19 persen. Tingkat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap keuangan sebesar 38,03%, sedangkan tingkat pemanfaatan masyarakat terhadap produk dan jasa layanan keuangan, sebesar 76,19%. Kesenjangan antara tingkat pemahaman dan pemanfaatan terhadap produk/jasa layanan keuangan ini, akan menimbulkan risiko bagi masyarakat, antara lain penipuan, kerugian, bahkan peneroran. Untuk memitigasi risiko, perempuan harus memiliki kecerdasan finansial, karena tuntutan jabatan dalam keluarga, yaitu sebagai:

  1. CFO Keluarga

Perempuan, khususnya Ibu, diberikan amanah untuk mengelola keuangan keluarga. Lazimnya, Ibulah yang mengalokasikan penghasilan yang tersedia agar dapat memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga. Dalam kondisi darurat, di saat banyak kebutuhan pengeluaran tidak terduga, Ibu pula yang diandalkan menjaga keseimbangan keuangan keluarga. Sukses tidaknya pengelolaan keuangan keluarga akan banyak dipengaruhi strategi Ibu dalam mengelola keuangan.

  1. Role Model Keluarga

Sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya, bagaimana cara Ibu mengelola keuangan akan cenderung menginspirasi anak-anaknya. Kebiasaan baik anak dapat dibentuk Ibu sejak dini agar tidak tercipta perilaku konsumtif yang di kemudian hari sulit untuk diubah, seperti gaya hidup boros, kebiasaan berutang, impulsive buying dan lain sebagainya. Seorang Ibu, yang terbiasa mengkonsumsi sesuatu karena keinginan, bukan kebutuhan, akan menginspirasi anaknya untuk melakukan hal yang sama Seorang Ibu sudah semestinya melek literasi keuangan agar tidak terjebak menjadi korban, yang akhirnya meruntuhkan mimpi indah keluarga.

Kecerdasan finansial seorang Ibu, memagari pengelolaan keuangan agar berjalan sesuai harapan, terpenuhinya kebutuhan kini dan masa depan keluarga, antara lain melalui:

  1. Perencanaan Keuangan

Dalam mewujudkan mimpi keluarga, dibutuhkan sumber daya finansial, yang perlu direncanakan sejak awal. Definisikan kebutuhan finansial dengan baik, identifikasi risiko keuangan apa saja yang akan dihadapi, rencanakan strategi keuangan yang akan dilakukan, termasuk mitigasi risikonya. Dan jangan lupa, siapkan plan B-nya.

  1. Pencatatan Keuangan

Transaksi keuangan yang terjadi setiap hari memerlukan pencatatan keuangan yang semestinya dilakukan secara harian juga. Dengan banyaknya bermunculan aplikasi, pencatatan keuangan harian tidak lagi seribet yang dibayangkan. Laporan Keuangan pun akan mudah dihasilkan.

Melalui Laporan Keuangan, Ibu dapat mengevaluasi strategi keuangan yang telah dilakukan. Mengatur kembali pos pengeluaran mana yang perlu dipangkas, dan mana yang masih bisa ditambah, sebagaimana bunyi suatu quote, “rezeki di tangan Tuhan, pengeluaran di tangan Ibu.”

  1. Prioritas Dana Darurat

Sesuai namanya, dana ini digunakan untuk menghadapi kondisi darurat. Pandemi Covid yang telah berjalan hampir dua tahun, adalah salah satu contoh kondisi darurat yang berdampak pada keuangan keluarga. Ketika dana darurat tidak tersedia, imbasnya bukan hanya menjadi ancaman terhadap keuangan keluarga, namun juga ancaman bagi keutuhan rumah tangga. Jadi, mulailah hitung jumlah dana darurat yang perlu disiapkan, pastikan dana tersebut aman dan bebas risiko, serta yang terpenting lagi, pertimbangkan kemudahan akses dan likuiditasnya.

  1. Bijak Berutang

Kebutuhan meminjam uang, dalam batas tertentu, adalah hal lumrah yang dihadapi oleh keluarga. Namun demikian, bukan alasan untuk membenarkan transaksi utang konsumtif. Kepraktisan dan kecepatan memperoleh pinjaman banyak ditawarkan berbagai pinjaman online (pinjol). Sudah selayaknya hal ini diimbangi dengan kecermatan dan kehati-hatian Ibu dalam memilih pinjol yang ada. Pastikan, sudah terdaftar dan berizinkah di website OJK, cermati platform dan persyaratannya.

  1. Gaya Hidup Investasi

Gaya hidup investasi idealnya ditanamkan sejak membangun kehidupan berkeluarga. Semakin awal berinvestasi, semakin pasti mimpi keluarga terwujud. Gencarnya penawaran investasi di berbagai media, yang melibatkan kalangan influencer, merupakan cara pelaku memanfaatkan kenaifan masyarakat. Kecerdasan berinvestasi merupakan syarat mutlak bagi Ibu, sebagai perancang masa depan anak-anaknya. Kiat berinvestasi yang terpenting adalah 2 L: legalitas dan logis. Legalitas? Cek produk investasi, benarkah telah terdaftar dan berizin di website OJK. Logis?

Waspada terhadap produk investasi yang menjanjikan keuntungan (imbal hasil) besar, dalam waktu singkat, dan bebas risiko. Teruslah belajar mengelola keuangan dengan memanfaatkan platform yang disediakan OJK, seperti Sikapi Uangmu. Gunakan fasilitas layanan konsumen OJK, Aplikasi Portal perlindungan Konsumen (APPK) dalam memenuhi kebutuhan informasi dan menyampaikan pengaduan. Selamat mewujudkan mimpi keluarga, perempuan Indonesia, it’s your dream!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window