Penulis: Supriyono

Tio, masih mengenakan setelan outfit pekerja kantoran branded, mengenggam erat tepi ranjang itu. Ini hari ketujuh Ibunya berbaring di sana, di balik seprai putih rumah sakit terbaik di kota itu. Selang-selang dan jarum infus menancap ditubuh ibunya. Sensor dan kabel-kabel menempel di dada, tangan, dan kaki. Wajahnya yang dahulu tegas kini tampak tirus, tubuhnya digerogoti oleh sel-sel kanker stadium akhir yang telah bersamanya selama delapan tahun terakhir. Delapan tahun perjuangan melawan rasa sakit yang membakar tubuhnya, namun anehnya, wajah itu justru memancarkan ketenangan yang teramat dalam. Namun bau antiseptik yang tajam di ruang ICU dan bunyi ritmis dari layar bedside monitor yang kian melemah memicu kecemasan merambat dihati Tio.

Pikiran Tio melayang. Gambaran masa lalu perjuangan ibunya berputar bagai cerita mini seri di kepalanya. Dari memori terdalamnya, dia ingat satu hantaman keras yang menghantam ibunya. Saat dia masih kelas 5 SD, hantaman keras serasa meruntuhkan langit asa keluarganya. Ayahnya, yang bekerja di dinas pemadam kebakaran, mengalami sebuah kecelakaan kerja saat memadamkan api di sebuah gudang tekstil yang merenggut jiwa Ayahnya beserta harapan-harapan seluruh keluarga. Masih belum sepenuhnya paham, Tio hanya ingat ibunya pingsan, ketika jenazah ayahnya yang tak lagi utuh diantar ke rumahnya di sebuah gang sempit di pojok kota kecamatan. Sementara dua adiknya yang masih kecil-kecil turut menangis keras tanpa sepenuhnya paham apa yang terjadi.

Sepeninggal ayahnya, Tio menyaksikan perjuangan ibunya sebagai single parents dengan tiga anak kecil. Status PNS golongan 2 disebuah kantor kecamatan memaksa ibunya memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan Tio dan adik-adiknya. Dia dan ibunya tidak punya waktu untuk meratap berlama-lama. Tio sebagai anak sulung, mau tak mau harus membantu ibunya semampunya. Sambil menyelesaikan sekolah di kota kabupaten, Tio bekerja serabutan. Sementara ibunya, saban pagi, setelah mengubur kesedihannya di bawah bantal, Ibunya harus bangun jam empat subuh, memasak nasi uduk untuk dititipkan di warung. Menyiapkan kebutuhan sekolah dua adiknya yang kadang masih menangis merindukan pelukan ayahnya. Dilain waktu, ibunya juga menerima pesanan kue-kue dari kawan kantornya dan juga tetangga yang punya hajat. Ibunya selalu menjaga diri dari rejeki tak jelas. Beberapa kali ibunya menolak bantuan atasannya untuk diberi honor dari surat tugas fiktif ketika ibunya berkeluh kesah soal uang semester anaknya yang telat dibayar.

Perjuangan dan doa Ibunya tidaklah sia-sia. Kini Tio telah mapan, memiliki usaha sendiri dibidang logistik yang sedang berkembang. Sementara dua adiknya juga telah mandiri secara ekonomi. Dinda, adik perempuannya yang dulu hampir putus kuliah, kini menjadi seorang akuntan dengan karir cemerlang pada kantor akuntan publik besar. Adik bungsunya, Rian,yang dulu sering menumpahkan adonan kue Ibu, telah tumbuh menjadi seorang arsitek muda yang karyanya mulai dikenal di ibu kota.

Secara materi dan karier, Tio dan adik-adiknya telah berhasil mendaki tebing kemiskinan yang dulu hampir menggulung mereka. Rumah sempit di ujung gang telah berganti dengan hunian nyaman di kawasan menengah di kota kecamatan. Motor bebek tua peninggalan sang ayah sudah lama dilebur menjadi sejarah. Namun, di tengah semua kemapanan itu, ada satu tamparan keras pelajaran dari ibunya yang mendarat di batin mereka.

Palu godam Kembali datang delapan tahun lalu, tepat 3 bulan setelah Ibunya pensiun dini dari jabatannya sebagai Kepala Seksi di kantor kecamatan karena kondisi fisiknya yang mendadak drop. Saat itu Ibunya divonis menderita kanker. Tio, Dinda, dan Rian panik luar biasa. Sebagai anak-anak yang baru saja mencicipi kesuksesan finansial, mereka langsung berpikir untuk patungan membiayai pengobatan kanker yang selangit, bahkan bersiap menguras tabungan mereka. Namun, di hari mereka mengumpulkan berkas medis, Ibunya dengan tangan gemetar menyerahkan sebuah map berwarna hijau yang nampak sudah tersimpan lama.

“Pakai ini, Nak,” bisik Ibunya kala itu.

Ketika Tio membuka map tersebut, matanya membelalak. Di dalamnya terdapat selembar polis asuransi jiwa dan penyakit kritis atas nama Ibunya. Nilai asuransinya cukup untuk mengcover seluruh biaya pengobatan kanker, rawat inap kelas satu, hingga obat-obatan terbaik yang tidak ditanggung BPJS milik pensiunan seperti Ibunya.

“Ibu… punya asuransi?” tanya Dinda dengan suara tercekat, membaca tanggal dimulainya polis tersebut.

Polis itu ternyata sudah dibeli Ibunya sejak lama—tepat tiga tahun setelah ayahnya, meninggal dunia.

Seketika itu juga, dada ketiga anaknya bagai dihantam godam besar. Mereka merasa tertampar oleh sebuah kesadaran yang teramat perih. Mereka teringat kembali masa-masa sulit dahulu. Masa-masa di mana mereka harus makan telur dadar yang dibagi empat. Masa-masa di mana mereka melihat ibunya memakai jas hujan yang robek dan ditambal selotip ketika harus pergi bekerja di tengah hujan. Ternyata, di tengah segala keterbatasan ekonomi yang mencekik, di antara sisa gaji seorang ASN golongan 2 yang habis sebelum tanggal lima belas, Ibunya diam-diam menyisihkan beberapa ratus ribu setiap bulan demi membayar premi asuransi. Dia memotong anggaran makannya sendiri, menahan diri untuk tidak pernah membeli baju baru, hanya agar anak-anaknya memiliki jaring pengaman jika suatu hari nanti tubuhnya yang ringkih ini menyerah pada takdir.

Sementara mereka—Tio, Dinda, dan Rian—yang kini memiliki penghasilan puluhan juta rupiah per bulan, selalu menganggap asuransi sebagai hal yang tidak penting. Mereka merasa uang mereka yang melimpah sudah cukup untuk melindungi diri dari segala risiko. Mereka terlalu sombong dengan angka-angka di rekening mereka. Kesombongan itu ambyar kala mengetahui bahwa ibunya, dengan segala keterbatasan, memiliki kearifan hidup dan cinta yang jauh lebih visioner daripada mereka.

“Ibu sengaja menyiapkannya sejak dulu,” kata Ibunya dengan senyum lemah saat ingatan itu berputar kembali di benak Tio. “Ibu tidak punya warisan tanah atau emas untuk kalian. Ibu hanya tidak ingin, jika Ibu menyusul Ayah, kalian harus menanggung utang atau kesusahan lagi untuk mengobati Ibu.”

Lamunan Tio terhenti, ketika monitor disamping ranjang ibunya mengeluarkan bunyi bip panjang diiringi lampu merah berkedip cepat. Garis di monitor itu perlahan-lahan mendatar. Bunyi statis yang panjang memecah keheningan ruangan. Biiiiiiiiippp….

Reflek, Tio berteriak memanggil perawat jaga. Adik-adiknya yang menunggu di koridor ruang ICU bergegas memaksa masuk…

Tepat pukul sebelas lewat delapan belas malam, Ibunya menghembuskan napas terakhirnya. Matanya terpejam, wajahnya menyisakan seulas senyum tipis di bibirnya yang pucat. Tidak ada kejang, tidak ada raungan kesakitan. Kanker yang bersarang di tubuhnya selama tujuh tahun itu akhirnya melepaskan cengkeramannya, kalah oleh kedamaian jiwa seorang wanita yang tahu tugasnya di dunia telah selesai dengan paripurna.

Tio menggenggam tangan ibunya yang mulai mendingin, menciumnya dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Dinda memeluk pundak Rian yang tergugu di sudut tempat tidur. Ibu mereka telah pergi menemui sang Ayah, meninggalkan mereka dalam kemandirian yang utuh.

Keesokan harinya, pemakaman Ibunya menjadi peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan oleh Tio dan adik-adinya, bahkan warga sekitar. Sejak ambulan yang membawa jenazah Ibunya tiba di rumah duka, jalanan didepan rumah dipenuhi oleh para pelayat. Tetangga dan sanak Saudara, beberapa rekan-rekan sejawat Ibunya dari kantor kecamatan dan puluhan wajah-wajah inosen yang Tio tak mengenalnya. Mereka adalah anak-anak dengan pakaian koko dan gamis yang bersahaja bersama seorang pria paruh baya berwajah teduh yang mengenakan peci hitam. Wajah-wajah mereka basah oleh air mata yang tulus. Mereka berdiri berjejer di sepanjang jalan, memberikan penghormatan terakhir.

Tio yang sedang menggotong keranda ibunya tertegun. Benaknya bertanya-tanya, siapakah mereka. Setelah prosesi pemakaman selesai dan tanah merah telah gembur menutupi peristirahatan terakhir Ibunya, Tio menghampiri pria berpeci tersebut.

“Maaf, Pak… kalau boleh tahu, Bapak dan anak-anak ini dari mana?” tanya Tio sambil mengusap sisa air matanya.

Pria itu tersenyum haru, menatap papan nisan bertuliskan Rosa Amalia binti Ahmad. “Saya Ustaz Mansur, pengasuh Yayasan Yatim Piatu Darul Khair di ujung kecamatan, Mas. Kami datang untuk mengantar Ibu Rosa. Beliau adalah malaikat pelindung anak-anak kami.”

Dinda dan Rian mendekat, mendengarkan dengan saksama.

“Malaikat pelindung?” tanya Dinda bingung.

“Iya, Mbak. Sejak almarhum suami Bu Rosa meninggal belasan tahun lalu, Bu Rosa selalu datang ke yayasan kami setiap bulan. Beliau selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk membeli beras dan susu untuk anak-anak yatim kami. Bahkan, ketika beliau divonis sakit tujuh tahun lalu, kiriman bantuan itu tidak pernah putus. Beliau bilang, uang itu adalah bentuk rasa syukurnya karena anak-anaknya sudah sukses dan mandiri,” jelas Ustaz Mansur dengan suara bergetar.

Ustaz Mansur kemudian merogoh selembar kertas dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Tio. “Ini titipan dari Bu Rosa sebulan yang lalu, Mas. Beliau bilang, kalau beliau sudah tidak ada, tolong sampaikan ini pada anak-anaknya.”

Tio membuka lipatan kertas itu. Di dalamnya tertulis tulisan tangan Ibunya yang rapi, yang sangat Tio kenal:

Untuk Tio, Dinda, dan Rian, anak-anak Ibu yang hebat.

 

Jika kalian membaca surat ini, artinya Ibu sudah bertemu dengan Ayahmu. Jangan menangis terlalu lama, karena Ibu sudah sangat bahagia sekarang.

 

Anak-anakku, Ibu titipkan anak-anak yatim di Yayasan Darul Khair kepada kalian. Dulu, saat Ayahmu meninggal dan Ibu kebingungan membesarkan kalian dengan gaji yang kecil, Ibu selalu percaya bahwa Allah-lah yang menjaga kalian melalui tangan-tangan orang baik yang tidak kita kenal. Maka, cara Ibu berterima kasih adalah dengan menjaga anak-anak yatim itu semampu Ibu.

 

Sekarang, kalian sudah berkecukupan. Ingatlah, sebagian dari harta yang kalian miliki adalah hak mereka yang membutuhkan. Jagalah diri kalian dari risiko dunia dengan bijak, seperti Ibu yang selalu berusaha melindungi kalian dengan asuransi yang dulu Ibu siapkan. Namun yang terpenting, lindungilah akhirat kalian dengan sedekah.

 

Ibu menyayangi kalian, selalu.

Tangis ketiga bersaudara itu kembali pecah di bawah langit pekuburan yang teduh dengan awan-awan putih berarak. Kali ini, rasa sedih dan kekaguman pada Ibunya bercampur menjadi satu. Ibu sederhana yang merencanakan kehidupan dan kematian dengan paripurna.

Bekasi, Maret 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window