oleh Adrian I. Siregar – tim Inovasi Komunitas Penulis OJK dan Analis Senior Direktorat Pengembangan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP)
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi.
“The difficulty lies, not in the new ideas, but escaping from the old ones”(John Maynard Keynes)
Tulisan merupakan manifestasi dari akal budi manusia. Jejak tulisan pertama yang ditemukan dalam sejarah manusia adalah 5,000 tahun sebelum masehi (SM) pada bangsa Sumeria dengan huruf paku dan bangsa Mesir dengan hieroglif. Baru pada 3,000 tahun sebelum masehi (SM) alfabet kuno muncul di Kanaan, Palestina sebagai sejarah pertama alfabet yang kita tahu hari ini. Sebelumnya manusia hanya dapat berkomunikasi dengan bahasa lisan yang tidak dapat meninggalkan legacy bagi kebudayaan setiap suku dan bangsa dalam sejarah umat manusia selama ini. (sumber: Historia.id).
Dalam rangka ulang tahun ke-6 Komunitas Penulis OJK (KPO OJK) pada 5 Januari 2024 yang lalu, KPOJK melakukan survei untuk memotret perilaku dan kebiasaan menulis dan membaca anggota komunitas.
Terdapat 4 (empat) temuan penting dari survei ini. Pertama, terkait dengan alasan tidak sering menulis. Alasan yang paling besar adalah “tidak ada waktu”. Sebesar 40% responden yang memiliki hambatan ini. Selain itu, ternyata 30% responden memiliki alasan ‘susah dapat ide’, dan 16% ‘Tidak tahu mulai dari mana’. Hal ini mengindikasikan bahwa proses awal dari mulai menulis itu lah yang sebenarnya menjadi kendala utama selama ini. Apalagi menentukan ide atau tema awal dalam menulis.
Kedua, terkait dengan mentor. 54,7% responden saat ini tidak memiliki mentor dalam menulis, di sisi lain, responden merasa butuh mentor. Sedangkan 20,8% responden rmemiliki mentor namun bukan merupakan atasan langsung dan responden 20,8% merasa mentor tidak dibutuhkan dan dapat belajar secara otodidak. Pada dasarnya mentor sangat penting dalam memberi masukan dari perspektif pembaca, sehingga memberi perspektif pihak ketiga yang mungkin penulis tidak bisa merasakan akibat bias secara psikologis (cognitive biases).
Ketiga, terkait kepuasan dengan hasil tulisan. Hanya 5,7% dari responden anggota KPO yang memiliki persepsi ‘Sangat Puas’ dan 32,1% response memiliki persepsi ‘Lumayan Puas’ dengan kualitas tulisan mereka saat ini. Hal ini menjadi indikasi perlunya peningkatan confidence level insan OJK dalam menulis. Pada dasarnya dalam peran insan OJK sebagai regulator sektor jasa keuangan, kemampuan menulis ini adalah salah satu hal fundamental yang menjadi dasar pagi pengembangan kompetisi lebih lanjut seperti critical thinking dan policy analysis.
Keempat, terkait dengan Preferensi. 48,1% responden menyatakan memiliki preferensi menulis opini di media cetak dibandingkan dengan tulisan akademik (21,2%), cerita pendek (11,5%), dan buku/catatan harian (11,5%). Ketika pertanyaan difokuskan pada kebiasaan membaca, 45,3% responden lebih memilih membaca buku non-fiksi, 17% responden memilih buku fiksi, dan 17% responden memilih koran.
Membaca dapat memberikan banyak manfaat seperti mencerahkan imajinasi, memberikan perpektif baru, membangun kepercayaan diri, dan membantu tumbuh secara mental dan emosional. Terkadang seseorang belum aktif membaca karena belum cukup membaca dengan berbagai variasi literatur seperti buku fiksi, buku nonfiksi, buku puisi, buku cerita rakyat, dan lain-lain. Dengan era digitalisasi yang terus berkembang banyak format digital dan mode berlangganan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Perlu disadari memahami diri sendiri dan preferensinya tidak kalah penting dalam konteks menulis dan membaca. (sumber: Gramedia.com)
Dengan melihat hasil survei tersebut, dapat disimpulkan bahwa kehadiran Komunitas Penulis OJK menjadi sangat penting sebagai wadah bagi insan OJK untuk meningkatkan minat menulis dan meningkatkan kualitas tulisan. Pengurus KPOJK berkomitmen untuk memfasilitasi kebutuhan anggota melalui program yang terstruktur dan terukur. Diantaranya, pelatihan/workshop menulis, klinik menulis, dan lomba menulis.