Oleh: Mohammad Amin
Akhir akhir ini aku sering bertanya, apa bedanya ilusi dengan kenyataan
Rasanya baru kemarin, engkau bilang akan memperindah taman di depan rumah
Malam ini, engkau bilang harus segera pergi
Adakah saat kita akan bersama lagi?
Nanti, saat bunga matahari sudah mekar, aku akan kembali.
Jakarta, 28 November 2025
Written by Latasya Puan Nagari (a Legal Assistant Manager at Indonesia’s Financial Services Authority (OJK);
Edited by Viddy Firmandiaz (a Consultant in Policy & Strategy at South Pole).
This article was published on The Jakarta Post, January 29, 2026.
Since early 2025, Indonesia has experienced economic uncertainty, which become a deep concern from the investors. Moreover, waves of uncertainties in multiple sectors and the global crisis become supporting evidence of how volatile the economy of Indonesia is.
In such an environment with high levels of uncertainty, retail investors are longing to secure their portfolio in safe-haven assets such as gold. Gold has been regarded as a reliable safe-haven during periods of crisis. Amid international geopolitical issues and trade friction in several regions around the globe, global gold prices have rallied significantly. By October 2025, gold prices have climbed above $4,000 per ounce, up to 55% year-to-date. J.P. Morgan forecasts that strong gold demand will drive prices toward $5,000 by the end of 2026 and rise further to $5400 per ounce by the end of 2027. In Indonesia, the gold price has increased up to Rp2,41 million per gram, jumped 59% since the start of 2025.
As attractive options, while trusted, gold pose two main challenges. First, access to gold in Indonesia is largely limited to physical gold through outlets like Antam, UBS, and Galeri 24. In 2025, high demand from investors has made the availability of gold bars significantly scarce. Antam, a well-known internationally certified gold bar producer in Indonesia, is unable to provide a required amount of gold bars daily. In addition to that, purchasing gold is restricted to fixed amount of 1 gram, 2 grams, 5 grams, and so on. These constraints lead to the second challenge, liquidity. Investors must accumulate certain amounts of gold before they can buy or sell it, reducing its flexibility. In today’s fast-moving economy surrounded by retail and middle-income investors, this model is increasingly unfit. Investors must bear storage and security costs, face wide market spreads, and experience limited liquidity.
Gold Exchange-Traded Funds (Gold ETFs) offer a modern solution to preserve the need to have gold as a safe-haven. The Gold ETFs allow investors to gain exposure to the price of gold through the stock exchange. It is backed by physical gold, but unlike traditional purchases, it enables investors to buy and sell with no predetermined amount, opportunities for shared ownership, real-time trading, and low transaction costs. Investors can store it without worrying about safe deposit boxes or minimum weight requirements. In fact, the gold prices that surged in 2025 are also driven by the high demand from Gold ETF investors. In the last quarter of 2025, gold represents 2.8% of the total Assets Under Management (AUM) of global equities.
In ASEAN, Singapore, with its Gold ETFs – SPDR Gold Shares (SPDR) that first listed in 2006 have provided a liquid and cost-efficient access to gold, utilising certified bullion gold as its underlying assets. The presence of SPDR backed by physical bullion enhances Singapore’s position as a regional investment and commodity hub that is safe, transparent, and globally connected. It is recorded by the end of September 2025, SPDR’s AUM hits $3.2 billion at the end of September 2025, making Singapore become Asia’s gold storage amid the global volatility.
The idea of Gold ETFs in Indonesia ahead of 2026 is a critical step toward democratising access to one of the world’s most reliable financial hedges. Beyond its product structure, Gold ETFs add value by aligning with modern investment behaviour by offering real-time access, flexible transaction sizes, market-driven, and transparent pricing.
However, despite those advantages, just like any other ETF instruments, Gold ETFs are not without risks. These products have sometimes been used for short-term speculation, which can amplify prices volatility more than the gold they represent. If not designed well, investors might face extra costs that is not due to fundamental shifts.
Therefore, investors need a product that is transparent, credible, and easy to trade, while protected by an advanced regulation. Hence, some aspects need to be regulated by Otoritas Jasa Keuangan (OJK) as the institution that will rule the existence of Gold ETFs in Indonesia. First, the transparent information of the underlying assets of the Gold ETFs. Investors must be able to access the information on the gold’s purity level, authenticity, value, and volume. Therefore, the underlying assets of Gold ETFs in Indonesia must be standardised and certified by reliable sources such as the London Bullion Market Association and Indonesia National Standard. Second, introduce a price stabilisation mechanism to align Gold ETFs prices with fundamentals, similar to methods used in other ETF instruments such as cash creation and in-kind redemption. With the right framework, Gold ETFs can become both safe and practical for everyday investors.
The future of investing must be adaptive, inclusive, and protective. In that future, gold still matters. But how we access it must change. With Gold ETFs, Indonesia can finally bridge the gap between traditional wealth preservation and modern financial access.
Oleh; RA Intan Amalia
(Cerpen ini pertama kali diterbitkan sebagai bagian dari Buku Sisi Lain)
Raju datang ke desa itu dengan tugas sederhana: memberi pelatihan literasi keuangan sebagai program pelaksanaan budaya kerja di OJK. Ia mengira ini akan seperti biasa: presentasi, foto seremonial, lalu pulang. Tapi sejak menjejak tanah desa, ia merasakan suatu keganjilan: malam yang terlalu sunyi, tatapan yang terlalu cepat dialihkan, dan tak satu pun senyuman warga yang benar-benar sampai ke mata.
Setiap sore, warga berkumpul di bawah pohon angsana besar di alun-alun. Pohon itu menjadi pusat semua kegiatan, saksi bisu berbagai pertemuan penting. Bahkan bagi Raju yang tak percaya takhayul, tempat itu terasa berbeda. Sejuknya tak menyegarkan, tapi seperti menggantungkan udara. Di sana, Raju pertama kali melihat Vasthi, seorang perempuan cerdas, anggun, dan dihormati. Wajahnya menenangkan, ucapannya mengikat perhatian. Ia tampak mengenal semua warga satu per satu dan kisah hidup mereka dengan tulus. Ia tokoh sentral desa itu. Denyut dari jantung yang menggerakkan segalanya.
Vasthi membangun sistem tabungan yang tak hanya ekonomis, tapi juga emosional. Tak sekadar menjual konsep uang, tapi memupuk harga diri dan harapan warga. Ia meyakinkan para suami keras kepala, ibu-ibu skeptis, dan pemuda putus asa. Dalam rapat, semua mata otomatis mengarah padanya. Kepala desa pun menunduk saat ia bicara. Bukan karena takut, tapi karena percaya. Tapi di mata Raju, senyum Vasthi menyimpan rahasia. Tatapannya tajam, namun samar-samar memancarkan keletihan. Seolah ia menjaga sesuatu yang lebih besar dari sekadar angka.
Raju menyadari bahwa semua akses ke data keuangan melewati Vasthi. Setiap catatan yang ia minta selalu “masih diperbarui.” Beberapa warga tampak enggan bicara saat ditanya detil soal simpanan mereka. Buku yang ditunjukkan padanya terlalu bersih, tidak seperti dokumen lapangan yang semestinya penuh koreksi. Semuanya tampak dikurasi. Ia mencium aroma manipulasi, sesuatu yang pernah ia hadapi sebelumnya dalam kasus kredit topengan yang pernah ia tangani. Tapi yang membuatnya ragu adalah: semakin ia menyelidiki, semakin besar rasa ingin tahunya terhadap Vasthi.
Ada malam-malam ia melihat bayangan Vasthi melintasi jalan desa sendirian, lalu menghilang di balik gudang tua. Saat ia ikuti, tak ada siapa-siapa. Sekali waktu, ia menemukan setumpuk kertas yang tampaknya berisi daftar nama dan jumlah uang, tapi semuanya tersobek rapi. Terkadang Raju mendapati anak-anak bermain peran menjadi “Bu Vasthi” saat main sekolah-sekolahan, meniru kalimat-kalimat seperti, “Kita menabung bukan untuk hari ini, tapi untuk esok yang lebih ringan.” Pengaruh Vasthi terasa nyata, bahkan dalam permainan polos anak-anak.
Semakin lama ia mengenal Vasthi, semakin sulit baginya untuk tidak terpikat. Vasthi bagaikan teka-teki yang ingin ia pecahkan, namun tak ingin ia selesaikan. Ia mencoba mengalihkan fokus ke tugasnya, tapi pikirannya selalu kembali ke cara Vasthi menyebut namanya dengan intonasi lembut yang nyaris menggoda, atau bagaimana bahunya sedikit miring saat tertawa pelan, bahkan caranya duduk, menyilangkan kaki sambil menatap langit-langit, menyiratkan pemikiran yang lebih dalam dari yang diucapkan.
Ia tahu seharusnya menjaga jarak, terlebih waktunya yang hanya seminggu di desa itu hampir usai, tapi setiap percakapan dengan Vasthi terasa seperti permainan bayangan. Kadang lembut, kadang menguji. Ada keintiman yang menggantung di udara, tanpa pernah benar-benar diucapkan. Mereka berbincang tentang kota, tentang kemiskinan, tentang luka-luka masa lalu. Dan sesekali, ada jeda yang terlalu panjang di antara kalimat mereka, seolah keduanya sedang menahan sesuatu.
Vasthi memiliki latar belakang yang keras; ayahnya meninggalkan keluarga saat ia kecil karena terlilit utang, Ibunya harus bekerja di ladang dari pagi hingga malam. Vasthi tumbuh dalam kehampaan dan kemiskinan, dan sejak muda ia bersumpah akan menjaga agar tak ada perempuan lain yang mengalami nasib serupa. Itulah yang membuatnya memulai program tabungan warga. Namun seiring waktu, rasa tanggung jawab itu berubah menjadi obsesi.
Raju menemukan petunjuk pertama saat mendengar keluhan seorang ibu tentang tabungan yang tak bisa diambil kembali. Pengaduan lain mulai bermunculan, pelan tapi pasti. Ia meminta bantuan seorang pemuda desa, Ardi, yang selama ini dikenal sebagai tangan kanan Vasthi. Ardi bukan hanya sekadar pembantu logistik di setiap pelatihan. Ia menyerap pelajaran dengan cepat, dan bahkan beberapa warga lebih nyaman bertanya padanya daripada langsung pada Vasthi. Ia mengagumi Vasthi bukan hanya sebagai pemimpin, tapi sebagai simbol harapan. Ia sering bercerita bagaimana Vasthi pernah mengubah cara pandangnya tentang uang, martabat, dan masa depan. Baginya, Vasthi seperti mercusuar di tengah kabut.
Namun Ardi tidak pernah menyentuh atau diperbolehkan melihat pelaporan keuangan warga secara rinci. Semua pencatatan dan laporan bulanan tetap menjadi ranah eksklusif Vasthi. Dan sekarang, ketika kecurigaan mulai tumbuh, Ardi mendapati dirinya berada di persimpangan antara kesetiaan dan kebenaran. Bersama-sama, mereka membandingkan laporan bulanan desa. Ketika rasa curiga semakin menguat, Raju bertanya apakah mereka bisa membuka gudang yang selama ini digunakan Vasthi untuk menyimpan dokumen tabungan. Ardi terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan.
“Awalnya hanya Bu Vasthi yang memegang kuncinya. Tapi beberapa bulan lalu, beliau minta tolong aku ganti gembok karena yang lama sudah karatan. Aku diam-diam menyimpan satu salinan kuncinya untuk berjaga-jaga saja,” kata Ardi lirih.
Dengan tangan sedikit gemetar, Ardi membuka gembok besi yang menggantung di pintu gudang kayu itu. Di dalamnya mereka menemukan bukti pencatatan ganda, dan nama-nama yang tidak sesuai dengan daftar setoran.
Ketika Raju mengonfrontasi Vasthi, ia tidak menyangkal. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya tampak letih, seperti seseorang yang akhirnya menyerah untuk terus menyangkal sesuatu yang berat. Ia duduk perlahan, lalu berkata pelan, “Sejak awal, aku tahu ini bukan cara yang ideal. Tapi coba bayangkan, Raju… ada lima ibu yang datang padaku dalam seminggu, menangis karena tidak bisa menyekolahkan anaknya. Ada nenek-nenek yang tidak berani berobat karena tidak punya biaya. Sistem formal terlalu lambat, terlalu jauh. Jadi aku ambil keputusan. Aku salurkan dana dari kelompok satu ke kelompok lain. Seperti pinjaman, ya. Tapi tidak ada bunga. Tidak ada tekanan. Hanya kepercayaan dan kebutuhan.”
Ia menghela napas. “Aku tahu, aku seharusnya meminta izin. Tapi kalau aku minta, aku harus menjelaskan. Kalau aku jelaskan, mereka akan ragu. Dan ketika ragu, mereka akan memilih diam. Jadi aku pilih diam duluan.”
Ia menunjukkan daftar warga yang diam-diam ia bantu—perempuan yang dipukuli suaminya, anak-anak yang harus bayar sekolah, dan seorang nenek yang butuh operasi. “Aku tidak ambil sepeser pun untuk diriku sendiri. Tapi ya… tetap saja, aku menyimpang.”
Vasthi menangis malam itu, bukan karena takut ditangkap, tapi karena lelah. Setelah lama terdiam, ia menatap Raju dalam-dalam dan berkata, “Kau tahu rasanya jadi satu-satunya yang tahu semua kebohongan ini? Aku ingin ada seseorang, satu saja, yang tahu kebenarannya sebelum semuanya runtuh. Dan entah kenapa, aku memilihmu.”
Ia menarik napas panjang. “Mereka mengira aku sempurna. Tapi aku ini cuma seseorang yang terlalu lama pura-pura kuat. Aku tidak minta kau maafkan aku, Raju. Aku hanya ingin kau tahu: semua ini… tidak semata-mata karena uang. Tapi karena aku tidak tahan melihat sistem ini gagal. Karena kalau sistem ini gagal, mereka akan kembali merasa bahwa tidak ada yang bisa dipercaya. Dan saat kepercayaan itu hilang, bukan hanya tabungan yang hancur, tapi juga semangat mereka untuk bertahan hidup.”
“Kalau kau akan melaporkan aku, lakukanlah. Tapi jangan biarkan semangat mereka mati.”
Raju berdiri lama di ambang pintu rumah panggung tempat Vasthi tinggal. Angin malam mengibaskan rambutnya, dan sorot matanya masih tajam meski basah. “Aku tahu kau membenciku sekarang,” katanya. “Tapi kau juga tahu, kau mengerti aku lebih dari siapa pun.”
Raju tak menjawab. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu: ia tak bisa membenci Vasthi. Justru di titik itulah, kesadaran menyelinap perlahan. Vasthi telah memainkan peran yang sangat mirip dengan lembaga keuangan formal: mengumpulkan dana masyarakat, menyalurkannya sesuai kebutuhan, dan menjaga arusnya agar tetap berputar. Tapi tidak ada dokumen. Tidak ada kontrak. Tidak ada persetujuan tertulis dari mereka yang ‘menabung’ maupun mereka yang ‘dipinjami’.
Semua bergerak di atas dasar satu hal: kepercayaan. Dan ketika sistem itu goyah, bukan hanya uang yang dipertaruhkan, tapi juga manusia-manusia yang selama ini menggantungkan harapan pada seorang perempuan yang tak pernah meminta imbalan. Vasthi bukan sekadar melanggar aturan. Ia mempertaruhkan kredibilitas konsep kepercayaan itu sendiri.
Ada sesuatu dalam diri Vasthi yang tak bisa ia kategorikan menjadi hitam atau putih.
Raju melaporkan temuan tersebut ke OJK, dan Vasthi menyerahkan diri secara sukarela ke otoritas yang berwajib. Beberapa bulan kemudian, Raju kembali ke desa. Kali ini, ia datang bersama tim OJK dalam program resmi literasi dan pemberdayaan keuangan desa. Di bawah pohon angsana, Ardi kini memimpin kelas literasi, tapi kali ini tidak lagi sendirian. Raju duduk di sisinya, mendampingi sebagai pembina dan fasilitator dari OJK, memastikan bahwa program berjalan dengan akuntabilitas dan pengawasan yang jelas. Warga mulai percaya pada sistem baru yang bukan hanya lebih transparan, tapi juga terhubung langsung dengan lembaga formal. Pohon angsana itu kembali menjadi pusat pembelajaran, bukan karena karisma satu orang, tapi karena kepercayaan yang dibangun bersama.
Raju duduk di bawah pohon itu, mendengar tawa anak-anak. Ia ingat kata-kata terakhir Vasthi sebelum ditahan: “Kejujuran kadang butuh pengkhianatan kecil, semoga pengkhianatanku menyelamatkan mereka.”
Tatapan terakhirnya masih membekas, penuh luka, dan anehnya, penuh cinta.
5 Januari 2018-5 Januari 2026
Komunitas Penulis OJK
Bersama Menginspirasi
Pengantar Buku Komunitas Penulis OJK 2025
Perjalanan tidak sekadar tentang seberapa jauh kita melangkah. Tidak sekedar tentang seberapa lama kita telah berjalan. Tidak sekadar tentang berapa tikungan yang telah kita lewati. Tidak sekadar tentang seberapa tinggi gunung yang telah kita daki. Perjalanan akan terasa hampa apabila kita lupa memberi makna.
Menemukan makna perjalanan bukan hasil dari proses yang instan. Sebagian dihasilkan dari keterlibatan, kesadaran dan pemecahan masalah. Sebagian lagi ditentukan oleh cita-cita, komitmen, dan value.
Tidak terasa, Pengurus Komunitas Penulis OJK periode ini telah memasuki tahun ketiga. Artinya, sudah saatnya regenerasi. Lalu, apa makna perjalanan Komunitas Penulis OJK yang perlu diteruskan kepada generasi berikutnya?
Berani Memulai dan Menjaga Konsistensi
Kita tidak pernah tahu apakah dapat melakukan sesuatu sampai kita berani memulai. Seperti pepatah “practice makes perfect”, pada awal melakukan sesuatu kemungkinan besar masih belum sempurna. Banyak hal yang perlu diperbaiki, banyak hal yang masih belum difahami, banyak pengorbanan yang harus ditanggung dan lain sebagainya. Tidak perlu takut gagal. Semakin sering gagal berarti semakin dekat dengan keberhasilan. Di sinilah seni berani memulai.
Pepatah ini akan menjadi harmoni indah jika dipadukan dengan pepatah lain “al istiqomah khoirun min alfi karomah.” Setelah berani memulai, fase berikutnya adalah menjaga konsistensi. Tentu banyak tantangan dan godaan dalam menjaga konsistensi. Ini adalah kunci. Konsistensi akan menghasilkan sesuatu yang terlihat tidak mungkin. Bukankah tetesan air yang berlangsung terus menerus akan dapat membuat batu berlubang?
Melayani Anggota dan Keluarga Besar OJK
Melayani sebagai pilihan bahasa cinta merupakan kredo Pengurus Komunitas Penulis OJK (KPOJK). Entah, bahasa cinta ini dianggap klise atau tidak. Komitmen Pengurus tidak akan berubah: Komunitas harus berkontribusi dalam peningkatan skill menulis anggota dan keluarga besar OJK.
Porgram dirancang dan dilaksanakan secara sistematis. Workshop dan pelatihan menulis untuk menumbuhkan minat dan pembekalan skill secara umum. Klinik Menulis untuk praktik menulis, konsultasi dan finalisasi tulisan. Penerbitan naskah melalui Majalah Integrasi, Website keraktelor.id dan penerbitan buku untuk tolok ukur kualitas tulisan. Lomba Menulis baik menulis artikel populer maupun menulis cerita pendek untuk menambah motivasi insan OJK. Paduan program yang cukup kuat untuk menjadi landasan pengembangan skill anggota KPOJK dan keluarga besar OJK.
Berupaya Lebih Baik
Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Doktrin ini boleh jadi oleh sebagian orang hanya dianggap sebagai mantra yang cocok untuk mengisi kelas motivasi. Bagi kami, kalimat tersebut adalah energi untuk terus berkembang, untuk terus berjalan, untuk terus berproses dan memastikan Komunitas tidak terjebak pada rasa bosan.
Rutinitas yang telah mapan tetap dilanjutkan, dengan memberi sentuhan pengembangan. Tahun ini, pada momentum ulang tahun ke 14 Otoritas Jasa Keuangan, KPOJK kembali mempersembahkan buku karya anggota KPOJK sebagai hadiah ulang tahun. Kisah ini telah dimulai tahun lalu, dengan menerbitkan Buku Diorama Keuangan Berkelanjutan Indonesia pada ulang tahun ke 13 Otoritas Jasa Keuangan.
Kisah tahun ini lebih semarak. Komunitas menghadirkan 3 (tiga) buah buku: Orde Digital (2 jilid), Sisi Lain (Kumpulan Cerita Pendek Keuangan) dan Bunga Rampai Artikel Sektor Jasa Keuangan: Gagasan dan Narasi Untuk Negeri. Ini ikhtiar kami untuk dapat memberikan yang lebih baik. Kepada seluruh Tim yang terlibat dalam penyusunan buku-buku tersebut, Pengurus mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas kerja keras dan komitmennya untuk mewujudkan cita-cita Komunitas Penulis OJK.
Setidaknya makna perjalanan itu sudah cukup sebagai bekal awal bagi Komunitas Penulis OJK untuk melanjutkan jalan pengabdian di OJK. Masih banyak makna-makna perjalanan lain yang dapat diresapi dari jejak langkah yang akan semakin panjang. Organisasi yang baik memberi kontribusi bagi anggota dan lingkungannya. Mari bersama-sama kita melangkah, menemukan makna dari setiap episode kisah perjalanan Komunitas Penulis OJK. Bersama Menginspirasi.
Pengurus Komunitas Penulis OJK
Periode 2023-2025
Mohammad Amin (Ketua) Gressia Melissa (Sekretaris)
Oleh: Annisa Ika Rahmawati
Departemen Pengawasan Lembaga Mikro dan Jasa Keuangan lainnya
(Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi, Edisi Oktober 2025)
Digitalisasi telah merevolusi kehidupan manusia saat ini. Tidak hanya dalam konteks penggunaan smartphone dan internet namun telah terintegrasi dalam segala aspek aktivitas rutin sehari-hari.
Per tahun 2023 pengguna ponsel di Indonesia mencapai 214,5 juta. Sedangkan penetrasi internet di Indonesia telah mengalami peningkatan 55 persen dalam 10 tahun terakhir. Dari angka 24,23 persen pada tahun 2013 menjadi 79,50 persen pada tahun 2024 (Celios, 2025). Secara demografi, pengguna internet pun didominasi Gen Z dan Milenial. Total pengguna internet milenial mencapai 62,39 juta, sedangkan Gen Z sebesar 57,64 juta (Celios, 2025).
Perkembangan digitalisasi yang masif ini di satu sisi membawa manfaat bagi ketersediaan informasi secara cepat dan beragam. Di sisi lain, digitalisasi juga memiliki risiko dan dampak negatif seperti akses terhadap pornografi, kejahatan cyber, dan efek kecanduan digital.
Pada tahun 2022, UNICEF menyatakan bahwa 1% sampai dengan 20% pengguna internet di kalangan anak-anak di enam negara ASEAN telah mengalami beberapa bentuk cyberbullying. Antara lain dalam bentuk eksploitasi seksual dan pelecehan seksual online. Sedangkan di Indonesia sendiri, berdasarkan laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada tahun 2024, terdapat 41 kasus anak yang menjadi korban pornografi dan cybercrime.
Melihat data tersebut, keluarga sebagai entitas terkecil dalam masyarakat memiliki andil krusial dalam melindungi anggota keluarga dari potensi kejahatan dan efek negatif cyber tersebut.
Keluarga Sebagai Garda Terdepan Literasi Digital
UNESCO mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan untuk mengakses, mengelola, memahami, mengintegrasikan, mengkomunikasikan, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara aman dan tepat melalui teknologi digital untuk ketenagakerjaan, pekerjaan dan kewirausahaan.
Literasi digital bukan hanya terkait kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi seperti smartphone, komputer, atau internet, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap etika digital, keamanan siber, serta kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang beredar secara online.
Orang tua memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan secara fundamental, termasuk literasi digital. Hal ini tidak terlepas dari peran orang tua sebagai figur terdekat bagi anak, baik secara fisik maupun emosional dan intensitas interaksi dengan anak-anak. Peran aktif keluarga dalam literasi digital dapat dilakukan melalui pembuatan kesepakatan atau aturan keluarga dalam hal penggunaan perangkat digital dan monitoring implementasinya.
Dalam konteks yang lebih luas, peran orang tua dapat diwujudkan dalam 4 hal pokok. Pertama, orang tua sebagai kurator informasi keluarga. Di tengah arus informasi digital beredar, tidak semua informasi terjamin kepercayaannya. Hoaks, disinformasi, dan berita palsu banyak tersebar luas. Dalam hal ini, orang tua dapat memposisikan diri sebagai garda terdepan dalam menyaring, memverifikasi, dan menyampaikan informasi yang dipastikan kebenarannya kepada anggota keluarga.
Kedua, ibu sebagai pendidik digital pertama anak. Rumah merupakan tempat pertama kali anak-anak mengenal perangkat digital. Melalui tontonan video edukatif, bermain game, atau aktivitas pembelajaran daring. Seorang ibu yang memahami penggunaan internet akan dapat secara kritis dan bijak melakukan filter konten yang sesuai dengan usia, mengatur waktu layar (screen time), serta mengajarkan etika digital sejak dini. Hal ini dapat mencegah anak-anak dari paparan konten negatif seperti kekerasan, pornografi, hoaks, dan kejahatan siber.
Ketiga, melindungi keamanan digital anak. Keamanan digital atau digital safety adalah aspek penting dalam literasi digital. Anak-anak yang aktif menggunakan internet sangat rentan terhadap berbagai ancaman seperti cyberbullying, phishing, penipuan online, hingga predator digital. Orang tua harus memiliki kesadaran membimbing dan melindungi anak-anak menghadapi risiko-risiko ini serta mengajarkan mereka cara menjaga privasi identitas secara digital.
Keempat, orang tua sebagai teladan penggunaan teknologi yang bijak. Anak-anak merupakan peniru ulung orang tua. Oleh karena itu, kebiasaan digital orang tua, akan memengaruhi pola perilaku digital anak-anaknya. Seorang ayah atau ibu yang memberikan keteladanan dengan tidak terlalu sering bermain media sosial, mengoptimalkan internet untuk hal produktif, serta menerapkan waktu offline yang berkualitas akan membentuk anak yang memiliki kesadaran baik pula dalam melakukan aktivitas digital.
Selamat tahun baru rekan rekan. Mengawali tahun 2026, Komunitas Penulis OJK punya tantangan super seru lho….
Ikut ya…

Boleh kok untuk sekadar menghilangkan penat.
Boleh juga kalau sekadar ingin mencoba sesuatu yang baru.
Boleh juga kalau ingin mendapatkan hadiah.
atau……….
Temukan alasan kamu sendiri……………
Pada hari Senin, 22 Desember 2025, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Bapak Mirza Adityaswara mengundang Komunitas Penulis OJK sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Komunitas Penulis OJK dalam perayaan hari Ulang Tahun ke 14 Otoritas Jasa Keuangan. Pada momentum har ulang tahun ini, KPOJK menyelenggarakan Lomba Menulis dan Menerbitkan 4 (empat) buah buku sebagai hadiah ulang tahun OJK.
Pengurus KPOJK diwakili oleh Mohammad Amin selaku Ketua Komunitas didampingi sejumlah Pengurus dan pemenang Lomba Menulis dan para penulis buku. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Mirza Adityaswara menyampaikan dukungannya terhadap eksistensi Komunitas Penulis OJK yang dinilai mampu menjadi wadah kreatif bagi insan OJK.
Beliau melakukan dialog langsung dengan para penulis mengenai empat buku yang telah diterbitkan oleh KPOJK. Keempat karya tersebut adalah Orde Digital: Gagasan Pengembangan Keuangan Digital, Bunga Rampai Artikel Sektor Jasa Keuangan: Gagasan dan Narasi untuk Negeri, Sisi Lain: Kumpulan Cerita Pendek Keuangan, serta Orde Digital: Strategi Implementasi Keuangan Digital.
Selain membahas isi buku, Bapak Mirza juga menunjukkan ketertarikan yang besar untuk mengenal lebih dekat profil setiap penulis. Beliau mendalami latar belakang pemikiran para penulis dalam menyusun materi, baik yang bersifat teknis mengenai regulasi keuangan maupun karya fiksi seperti kumpulan cerita pendek. Hal ini menunjukkan perhatian pimpinan terhadap pengembangan literasi dan kapasitas berpikir kritis di lingkungan internal organisasi.
Para penulis dan pemenang lomba menulis HUT ke-14 OJK juga berkesempatan memaparkan poin-poin penting dari karya mereka. Diskusi berjalan interaktif, di mana Bapak Mirza memberikan arahan strategis agar tulisan-tulisan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi pemangku kepentingan dan masyarakat luas. Audiensi ini menjadi momentum penting dalam menyelaraskan gagasan kreatif penulis dengan visi strategis OJK ke depan, terutama dalam menghadapi tantangan di era ekonomi digital.
Pertemuan ditutup dengan apresiasi tinggi dari Bapak Mirza Adityaswara atas semangat dan dedikasi yang ditunjukkan oleh Komunitas Penulis OJK. Beliau berharap agar tradisi menulis ini terus dipupuk dan ditingkatkan kualitasnya, sehingga dapat menjadi rujukan berharga bagi perkembangan sektor jasa keuangan di Indonesia (ARH).
Gaesssss, keren banget kan ketemu pemenang Lomba Menulis 2025?
Yuks lagi……..
kali ini kita akan ketemu juara kedua. Jangan lewatkan!

Gaessss, ingin ketemu pemenang Lomba Menulis tahun ini?
Yuks, hadir di acara Meet The Winner. Untuk yang pertama ini akan hadir juara Ketiga ya……….

