Oleh: Gilang Lukmanul Hakim.
Tulisan ini merupakan Juara 1 Lomba Menulis dalam rangka HUT ke 13 OJK tahun 2024. Telah dipublikasikan di Harian KONTAN, 17 Januari 2025.
Kelompok kelas menengah Indonesia kian tergerus. Ironisnya, mereka memegang peran utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Jika salah penanganan, bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi.
Data BPS 2024 menunjukkan bahwa 9,48 juta orang keluar dari kelas menengah dalam lima tahun terakhir. Pada 2019, kelas ini mencapai 57,33 juta orang atau 21,45% populasi. Namun, angka itu anjlok menjadi 47,85 juta atau 17,13% pada 2024. Mereka jatuh ke kelompok rentan miskin.
Pandemi COVID-19 disebut sebagai biang keladi. Ekonomi global anjlok sejak 2019, menyebabkan banyak negara terjebak resesi. Permintaan konsumen menurun, produksi terhenti, pariwisata dan ritel terpukul, berujung pada gelombang PHK. Banyak yang terpaksa pindah ke sektor informal, rentan ketidakpastian, bahkan terjerat pinjaman online. Ini mempertegas kenyataan pahit, kelas menengah kian sulit bertahan.
Celakanya, kelas menengah adalah mesin penggerak perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2024) mengatakan kelas menengah menyumbang hampir setengah dari total pengeluaran rumah tangga nasional. Hal ini selaras dengan penelitian William Easterly (World Bank, 2000) dan Homi Kharas (Brookings, 2017) yang menunjukkan bahwa negara dengan kelas menengah besar cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi dan stabilitas politik.
Membuka lebih banyak lapangan kerja adalah keharusan. Menyemai bibit-bibit UMKM baru bisa jadi solusinya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2023) memaparkan data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM menyumbang lebih dari 60% PDB dan menyerap 97% tenaga kerja nasional. Angka yang tak bisa diabaikan.
LKM: Pendorong UMKM dan Inklusi Keuangan
Lembaga Keuangan Mikro (LKM) memegang peran strategis. LKM tak sekadar mengejar keuntungan. Lebih dari itu, LKM punya misi sosial untuk pengembangan masyarakat.
LKM juga penting dalam meningkatkan inklusi keuangan. Menurut World Bank, 97,74 juta orang dewasa Indonesia masih unbanked, terbesar keempat di dunia. Keuangan inklusif adalah pilar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Menurut data OJK, per April 2024 terdapat 247 LKM dengan total aset sekitar Rp1,58 triliun. Pinjaman atau pembiayaan yang disalurkan oleh LKM ini mencapai Rp1,02 triliun. Angka-angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan posisi yang sama tahun 2023.
Meski tumbuh, LKM identik dengan layanan yang seadanya, bunga tinggi, keterbatasan teknologi, dan pengurus yang kurang profesional. LKM perlu berinovasi dan berkolaborasi agar sepenuhnya bisa menjadi solusi efektif untuk membangkitkan kelas menengah. Setidaknya ada empat strategi yang perlu dilakukan.
Pertama, manfaatkan momentum pemerintahan baru. Salah satu program andalan pemerintahan Prabowo yang digadang-gadang sebagai prioritas utama adalah “Makan Bergizi Gratis”.
Selama lima tahun ke depan, program ini akan menyasar 82,9 juta penerima, dengan alokasi anggaran yang tak main-main, sekitar Rp71 triliun sudah disiapkan dalam RAPBN 2025. Prabowo juga kerap menekankan pentingnya swasembada pangan, sejalan dengan ambisi besar menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia.
Di sinilah LKM dapat berperan lebih aktif dengan menggenjot pembiayaan ke sektor pertanian dan peternakan. Bersinergi dengan pemerintah sebagai pembeli siaga, LKM punya peluang besar untuk menghidupkan kelompok tani baru. Langkah ini tak hanya memantapkan ketahanan pangan nasional, tapi juga memacu tumbuhnya sektor pertanian yang semakin mandiri dan berkelanjutan.
Kedua, transformasi digital. Proses onboarding konvensional yang memakan waktu harus diganti dengan teknologi modern yang lebih efisien. Penerapan Online KYC berbasis pengenalan wajah memungkinkan verifikasi data secara cepat dan aman. Layanan paperless pun mempercepat proses, membuat pengalaman nasabah lebih nyaman.
Tak berhenti di situ, LKM juga harus memanfaatkan teknologi seperti alternate data scoring untuk menilai risiko nasabah dengan lebih inklusif. Dengan memanfaatkan data alternatif, seperti riwayat pembayaran tagihan listrik atau telekomunikasi, LKM dapat menjangkau semakin banyak nasabah, termasuk mereka yang sulit terlayani oleh sistem keuangan konvensional.
Ketiga, perkuat modal untuk ekspansi. Salah satu langkah strategis adalah menggandeng pemerintah untuk menarik investasi dari family offices. Menurut International Institute for Management Development (2024), family offices kini mulai berpikir lebih luas. Dulu, mereka hanya fokus menjaga kekayaan. Sekarang, tujuannya semakin besar: meraih keuntungan finansial sekaligus memberi dampak sosial dan lingkungan yang positif.
Lihat saja The Nest, family office asal Belgia. Mereka punya visi investasi pada masa depan pangan. Komitmen mereka tegas, membangun sistem pangan yang lebih tangguh dengan teknologi inovatif yang ramah lingkungan. Ini sejalan dengan narasi Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
Keempat, inovasi produk investasi. LKM dan pemerintah perlu berinovasi dengan produk investasi untuk kalangan menengah. Saat ini, pilihan investasi mereka masih sangat terbatas. Berbeda dengan kelas atas yang punya pilihan lebih luas berkat modal besar.
Pemerintah, misalnya, dapat menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dengan LKM sebagai mitra distribusi. Minimal pembelian dibuat terjangkau, mulai dari Rp100 ribu, khusus menyasar kalangan menengah. Meski nominal kecil, kupon yang ditawarkan tetap harus menarik.
Tujuannya jelas, yaitu mengedukasi dan memotivasi kelas menengah untuk mulai membudayakan berinvestasi. Tentu, ini memerlukan terobosan penyesuaian regulasi pemerintah serta kesiapan teknologi dan SDM di LKM.
Kunci keberhasilan LKM akan bergantung pada sinergi antara inovasi, regulasi, dan kolaborasi yang kuat dengan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan. Jika semua komponen ini berjalan selaras, LKM akan memiliki pijakan kokoh untuk berkembang dan menjadi pemantik kebangkitan kelas menengah Indonesia. Pada akhirnya, langkah ini akan membawa Indonesia semakin dekat dengan visi Indonesia Emas 2045.