Oleh: Yunita Meldasari
Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian KOMPAS, 6 November 2021
Generasi 90-an yang dimaksud di sini adalah istilah untuk generasi yang menghabiskan masa remajanya di tahun 1990-an. Generasi Lupus, yang hobinya main sepatu roda, dan nongkrong di Melawai. Jika dihitung usia mereka sekarang, berkisar sekitar kurang lebih 44 s.d 51 tahunan. Bagi pekerja, usia tersebut adalah sinyal bahwa persiapan menghadapi masa pensiun perlu diprioritaskan. Sejauh mana keuangan dikelola sehingga di masa pensiun nanti tidak ‘kaget’ dan mendadak men-transfer beban finansial ke generasi berikutnya, dengan kata lain, menyemai bibit-bibit Generasi Sandwich baru.
Istilah Generasi Sandwich sendiri merupakan istilah yang semakin akrab di telinga kita, bahkan mungkin sebagian kita, tanpa sadar, mengalaminya. Dikutip dari beberapa referensi, Generasi Sandwich adalah istilah untuk menggambarkan kondisi seseorang yang harus menanggung hidup tiga generasi, yakni orang tuanya, diri sendiri, dan anaknya, persis seperti isi roti sandwich yang terjepit.
Di era tahun 90-an, dikenal kisah populer “Si Doel Anak Sekolahan”, yang berjuang menjadi tukang insinyur demi memperbaiki nasib keluarganya. Pendobrak stigma keluarga Betawi yang seringkali dicap negatif. Perjuangan si Doel, tidak lain, sebagai upaya agar keturunannya nanti tidak menjadi Generasi Sandwich, seperti dirinya.
Berbagai faktor dapat menjadi pemicu lahirnya Generasi Sandwich, namun yang kerap dijumpai adalah kegagalan orang tua dalam mengelola keuangannya, sehingga mewarisi beban turunan kepada anaknya, demikian seterusnya. Terlebih lagi, tantangan dalam mengelola keuangan, kini semakin kompleks, dikarenakan secara tak terduga, dampak pandemi membuat jutaan pekerja terpaksa dirumahkan.
Generasi 90-an, yang tidak lama lagi akan menghadapi pensiun, harus pintar-pintar merancang arsitektur keuangannya. Untuk mencegah hadirnya Generasi Sandwich yang baru, berikut beberapa tips bagi Generasi 90-an, dan generasi lain tentunya, dalam menghadapi masa pensiun:
- Mulailah menghitung dana pensiun
Relakah kita menurunkan standar gaya hidup di masa pensiun dibandingkan dengan saat kita masih bekerja? Pertanyaan ini tentu terlintas di benak kita. Rela tidak rela, kita harus mulai berhitung untuk mempersiapkan dana yang sesuai dengan standar gaya hidup kita pada masa pensiun nanti. Berbagai aplikasi telah tersedia untuk mempermudah kita menghitung kebutuhan dana pensiun. Sederhananya adalah, semakin tinggi standar gaya hidup kita, maka semakin besar dana yang dibutuhkan, artinya semakin banyak dana yang harus kita alokasikan dari sekarang.
- Jangan tunda investasi hidup sehat
Investasi yang paling mudah dan murah adalah kesehatan. Ade Rai mengungkapkan, seringkali orang menganggap kesehatan adalah sesuatu yang tidak perlu diupayakan. Padahal, mudah dan murah, bukan berarti berdiam diri berpangku tangan. Berolahraga rutin, mengkonsumsi makanan yang bergizi, tentunya perlu dilakukan dengan konsisten. Pos pengeluaran terbesar saat pensiun umumnya adalah biaya pengobatan. Kondisi kesehatan yang semakin menurun, seiring bertambahnya usia, menuntut alokasi biaya pengobatan yang lebih besar dari biasanya. Strateginya, imbangi dengan membiasakan hidup sehat dari sekarang. Gaya hidup sehat tokoh Generasi 90-an, seperti Dewi Hughes, Sophie Navita, misalnya, dapat menjadi inspirasi.
- Asuransi kesehatan, wajib punya
Tidak ada yang dapat menjamin kita akan terbebas dari penyakit, meskipun upaya yang kita lakukan untuk menjaga kesehatan sudah semaksimal mungkin. Itulah urgensinya memiliki asuransi kesehatan. Bukan saja untuk diri kita, tapi juga orang tua dan anak-anak kita. Pastikan untuk memilih asuransi kesehatan BPJS atau yang telah terdaftar dan diawasi OJK. Pelajari, pahami, yakini aturan main dalam kontrak asuransi. Jangan gampang tergoda dengan janji manis Agen Asuransi. Jangan sampai di kemudian hari, merasa tertipu oleh produk asuransi, hanya karena kita yang lalai mencermati ketentuannya.
- Aset konsumtif vs aset produktif
Evaluasi kembali, apakah aset konsumtif yang kita miliki saat pensiun, benar-benar masih kita butuhkan, misalnya, rumah atau mobil yang kita miliki. Saat bekerja kita membutuhkan rumah yang lokasinya strategis, dengan pertimbangan dapat menghemat energi dan waktu karena dekat dengan kantor. Atau, kebutuhan mobil yang lebih dari satu, karena mobilitas keluarga yang cukup tinggi. Namun, setelah pensiun, apakah kebutuhannya masih sama? Bisa jadi tidak, status pensiun otomatis mengurangi mobilitas kita, terutama untuk datang ke kantor. Hal ini dapat dijadikan pertimbangan, untuk pindah ke rumah yang berlokasi di pinggiran kota, atau menjual mobil yang tidak sering digunakan lagi, sehingga kelebihan dananya bisa digunakan untuk ditabung atau dibelikan aset produktif.
- Jangan lupa bahagia
Pensiun, atau berhenti bekerja dari kantor, bukanlah berarti berhenti menjadi produktif. Berbagai kesibukan bisa dilakukan untuk mengisi waktu dan terutama membahagiakan diri sendiri. Berkebun, membaca buku, bercengkerama dengan teman-teman sebaya, dapat memunculkan hormon kebahagiaan yang membangun imunitas tubuh.
Generasi 90-an terkenal sebagai generasi tangguh yang telah melewati hari-harinya yang tidak mudah. Masih ingat, zaman saat dihukum berdiri dengan satu kaki di depan kelas? Bagi Generasi 90-an, mestinya pensiun bukanlah mimpi buruk, tetaplah produktif sehingga energi bahagia yang timbul dapat menangkis penyakit kronis, yang berisiko menjebol kondisi keuangan.