Oleh: Gita Chairina R
Pengurus KPOJK Bidang Layanan Klinik Menulis
Tok… tok… tok…
Aku tersentak dalam lamunan, refleks kaki kananku langsung menginjak pedal gas. Mobilku tersendat kemudian mati, rupanya aku sedang tidak menginjak kopling. Handphone yang sedang aku genggam di tangan kiri sontak terjatuh. Aku menoleh ke kaca sambil merogoh kembali mencari handphone. Di luar sedang gerimis, tampak tersorot dari lampu pinggir jalan berdiri seorang bapak paruh baya, mungkin seusia almarhum bapak jika masih hidup. Wajahnya sedikit sangar, dengan kaos yang sedikit kedodoran dan menggunakan rompi lusuh menjajakan koran-koran yang masih sangat banyak. “Hampir saja Pak, kalau saja bukan mobil manual mungkin sudah kuterebos lampu merah ini” gumamku dalam hati. Lalu aku berikan tangan kananku mengisyaratkan tidak ingin membeli. Ia hanya mematung masih berusaha. Lalu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau dan aku berlalu.
Aku masih sering terkaget-kaget. Masih deg-degan rasanya seminggu lalu aku terjatuh dari motor. Situasi dan jamnya serupa, sekitar pukul 20.30 WIB dan sedang gerimis, aku memaksimalkan laju gas dan tiba-tiba dari arah berlawanan mobil SUV menabrak. Ajaibnya meski aku merasa terpelanting, ternyata aku masih bisa pulang ke rumah. Kalau kata ibu, namaku bagaikan doa, Andaka yang berarti pria yang kuat dan Tangguh dalam bahasa jawa. Bagaimana tidak kuat, aku anak pertama dari 4 bersaudara. Adik di bawahku persis berkebutuhan khusus yang memerlukan biaya perawatan rutin. Adik yang satunya masih SMK dan adik bungsuku masih SMP. Kedua adikku cukup semangat membantu ibu berjualan kue yang sering diinfokan melalui instagram atau status whatsapp. Namun, sudah pasti mau tidak mau aku menjadi tulang punggung keluarga saat ini.
Tidak pernah terpikir olehku bahwa isu keuangan akan menghampiri kehidupan dewasaku. Dulu bapak memiliki toko buku cukup besar yang tidak pernah sepi pengunjung. Dari perlengkapan sekolah sampai buku-buku terjemahan luar negeri memenuhi rak-rak toko buku bapak. Aku masih ingat sepulang sekolah saat SD dulu, aku sering mampir ke toko bapak. Aku duduk di lantai sambil membuka buku bacaan bergambar yang menjadi contoh buku dijual. Aku juga ingat bagaimana sering mampir ke dapur katering ibu, mencicipi berbagai tester kue dan lauk-pauk yang enak-enak. Jika ditanya apa cita-citaku saat SD, pasti aku menjawab ingin menjadi pengusaha, entah usaha apa, yang penting mau jadi pengusaha sukses seperti bapak dan ibu. Apalagi bapak sering mengatakan kepadaku ketika menjemput sekolah “Aka, kalau kamu mau punya usaha nanti harus sabar dan semangat, bapak sudah sisihkan tabungan mudah-mudahan bisa mendukung Aka nanti saat dewasa, seperti bapak juga dibantu eyang pada awalnya”.
Rejeki bapak memang bisa dibantu eyang yang juga berkecukupan saat itu, istilah anak jaman sekarang punya privilege. Rasanya ingin berdialog dengan bapak saat ini bahwa sabar dan semangat sudah menjadi amunisi sehari-hariku. Sayangnya dengan sabar dan semangat aku belum menjadi pengusaha kaya seperti bapak dulu. “Aka hanya karyawan IT Pak, masih ikut orang, belum bisa punya usaha sendiri. Tapi masih untung ada kerjaan” celotehku yang kerap aku sampaikan saat ke makam bapak tiap bulan. Rasa rindu tetap menyelimuti meskipun hampir 13 tahun bapak meninggalkan kami. Tapi perasaan kecewa tetap berkecambuk di dadaku. Aku kira bapak akan cukup banyak meninggalkan warisan.
Masih terbayang dalam ingatanku selama beberapa tahun terakhir sebelum bapak meninggal dunia, usaha bapak dan ibu semakin menurun. Aku semakin sering mendengar bapak dan ibu bertengkar perihal keuangan yang semakin buruk. Andai saja bapak tidak terpengaruh dengan kawan-kawan tongkrongan sesama pengusaha yang selalu mengajak bapak membeli kupon atau lotre. Mungkin saja tidak akan memperburuk keadaan. Mungkin saja aku tidak harus sekeras ini menghidupi keluarga. Hampir setiap minggu dulu aku temukan kertas-kertas bertuliskan nomor urut cukup panjang yang terlipat-lipat kusut di laci dashboard, di kantong baju dan celana bapak, bahkan di tempat sampah yang tak sengaja kutemui. Hari-hari bapak kian suram, jarang lagi aku dijemput sekolah oleh bapak apalagi berdialog tentang cita-cita. Tapi saat masih jaya dulu aku juga sempat melihat bapak bersama kawan-kawannya membahas SDSB. Dulu aku kira bapak dan kawan-kawannya menjalankan sebuah kegiatan himpunan pengusaha untuk bakti sosial karena aku mendengar kepanjangannya adalah “Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah”. Ternyata bentuknya mirip seperti kupon atau lotre yang membuat bapak kecanduan beberapa tahun belakangan tersebut. Bapakku yang aku kenal sabar dan semangat, namun bapakku yang juga aku kenal menjadi pemarah dan lupa keluarga.
Nelangsa hidupku semakin nyata ketika 2 tahun sebelum bapak meninggal dunia, terjadi keributan di depan toko buku bapak. Ada sekitar 4 orang berbadan besar berteriak menagih hutang, katanya bapak berhutang ratusan juta dan belum bisa membayarkan. Ratusan juta pokok hutangnya, belum dengan bunganya. Bagai mimpi buruk seperti di film, aku tak menyangka bagaikan orang miskin seketika melihat situasi seperti itu. Bapak yang sudah seperti tidak sehat membalas berteriak akan membayar nanti ketika kupon atau lotrenya tembus sambil menghamburkan kertas-kertas yang aku sering temukan beberapa tahun tersebut. Tetangga berteriak “si pemain judi!” Tersadar aku bahwa selama ini bapak masuk perangkap judi. Aku kira janji melunasi hutang tersebut akan bapak lakukan, sayangnya bapak keburu kembali ke Ilahi. Mengapa begini bapak?
Tok… tok… tok…
Kuketuk pintu rumah, akhirnya aku tiba juga di rumah setelah perjalanan pulang kantor. Dengan perasaan yang masih sering cemas semingguan ini, tampaknya aku perlu beristirahat segera. Tanpa menunggu lama, pintu dibuka. Ibu yang dengan wajah muram membuka pintu segera. Aku sampai terperanjat, karena biasanya aku harus berteriak dahulu dan itupun ibu akan lama membuka. Ibu masih diam saja, aku tahu ibu masih khawatir mengetahui kecelakaan lalu lintasku seminggu lalu. Apalagi motor yang kubeli dengan tabungan ringsek. Akhirnya aku harus menggunakan mobil peninggalan bapak peugeot 406, satu-satunya harta yang tidak dirampas debt collector, entah gimana ceritanya. Aku sangat bersyukur masih bisa bekerja, kasihan ibu kalau aku meninggal saat itu. Ngeri membayangkannya!
Aku ingat bagaimana bapak meredakan ibu ketika marah dulu. Ibu harus diberikan waktu sendiri dulu, tapi tetap dirayu. Jadi aku peluk saja ibu meski tidak dibalas. Ibu masih diam dan badannya mematung. Tiba-tiba aku teringat bahwa aku harus segera mengecek pesan whatsapp pada handphone. Hampir sebulan ini aku tak bisa berhenti untuk mengabaikan pesan pada handphone. Bukan tentang kerjaan rutinku di kantor, tetapi mantan manajer dari perusahaan lama yang mengirimkan pesan “Aka, slot games buatan kamu menarik, kamu emang staf handal, sayang dulu pandemi dirumahkan”, “Aka, nanti kita bisa bilang bos besar supaya kamu ditawari dengan gaji lebih besar dari tempat sekarang”, “Aka, kamu bisa buat situs slot lebih menarik lagi kan?”, “Aka, slot games dibilang gacor sama netizen, good job! Tunggu pembayaran nanti ya” berpuluh-puluh pesan pujian karena kehandalan aku tentang menciptakan situs aplikasi. Dilema sebenernya, aku menyadari aplikasi yang aku buat adalah tentang judi secara online. Aku tak mau seperti bapak dulu. Tapi tawaran pembayarannya sangat tinggi, berperang batin aku, tapi aku bukan pemain seperti bapak, aku hanya pembuat aplikasi dan menurutku banyak aplikasi serupa. Sepengetahuanku pun artis-artis ada yang mengiklankan tapi juga tidak ada berita penangkapan. Jadi aku berpikir hanya sebagai pembuat aplikasi layaknya aplikasi games dan tidak akan terlibat lebih jauh, aku punya limit.
Pesan pujian kemudian berubah drastis menjadi makian dan ancaman “Aka, bodoh kamu kenapa bisa ketahuan. Investor bubar, tidak ada backingan. Kamu yang akan dipenjara karena kamu pembuat”. Gemetar aku, bertubi-tubi pesan whatsapp yang sudah aku block nomornya pun tetap menghantui dengan nomor baru atau bahkan sms dan telepon tanpa nomor. Mengapa hanya aku yang dikejar-kejar?
Judi (judi), menjanjikan kemenangan
Judi (judi), menjanjikan kekayaan
Bohong (bohong)…
Aku matikan lagu di radio tersebut. Bisa-bisanya lagu tentang judi. Tampak aku seperti orang stress, “apakah aku tampak seperti bapak pada saat dikeroyok debt collector saat itu? Aku bukan pemain yang jelas-jelas kecanduan seperti bapak dulu” teriak aku dalam kesendirian. Tiba-tiba di lampu merah diketuknya lagi kaca mobilku. Aku lihat bapak loper koran kemarin. Ia menawari koran-koran yang masih banyak, terbaca salah satu headline news besar “OJK Konsisten Dukung Upaya Pemberantasan Aktivitas Judi Online” dan ia menunjuk tanggal koran 2 Agustus 2024. Aku yang masih histeris tiba-tiba tersadar tanggal 2 Agustus adalah tanggal ulang tahun ibu seminggu lalu. Aku mengecek handphone segera tertulis tanggal hari ini: 2 Agustus 2024. Gemetar badanku tidak paham apa yang terjadi, kemudian langsung aku tancap gas segera mungkin. Dalam bayangan spion masih nampak bapak loper koran berdiri dengan koran-korannya yang banyak. Tanpa melihat lampu lalu lintas, aku tiba-tiba terkaget dengan kemunculan mobil SUV dari simpangan kiri, lalu aku banting stir ke kanan dan setengah badan mobil masuk parit cukup lebar. Aku tidak sadar beberapa saat setelahnya.
“Aka, Alhamdulillah kamu sadar. Aka, dengar ibu nak? Dokter anak saya sudah sadar!” Aku mendengar teriakan ibu dan aku melihat langit-langit ruangan. Dokter langsung melakukan pemeriksaan dan berkata “Mas Andaka, Alamdulillah sudah melewati masa kritis setelah seminggu”.
“Aku masih hidup ya Allah terima kasih. Aku tidak mau mati sekarang. Aku masih punya banyak asa. Aku harus selesaikan semua masalah yang ada. Aku tidak tega pada ibu dan adik-adikku. Aku harus lebih baik dari hidup bapak dulu. Ampuni aku dan bapak ya Allah” dalam hatiku yang tidak bisa aku ungkapkan dalam perkataan.
Judi (judi), meracuni kehidupan
Judi (judi), meracuni keimanan