Oleh: Riani Sagita

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi Juni 2020

Banyak hikmah dari pandemi COVID-19. Salah satunya adalah waktu. Kita memiliki banyak waktu untuk belajar hal baru. Dalam rangka menyukseskan program OJK Tangkas untuk lebih peduli lingkungan, kita dapat mulai belajar hidup minim sampah. Istilah kerennya zero waste lifestyle. Kebiasan ini bisa menjadi dasar memasuki kehidupan Adaptasi Kebiasaan Baru.

Sebelum lebih jauh, mari kita belajar sedikit tentang mengapa kita perlu menjalani gaya hidup minim sampah. Saat ini, kita cenderung berada pada siklus linear economy, yakni sistem perekonomian yang bergerak secara satu arah. Produk yang kita gunakan memiliki batas akhir pemakaian. Kebanyakan dari kita mengambil sumber daya alam untuk dikonsumsi tanpa kita pikirkan bagaimana cara menggantinya. Pada akhirnya, sisa konsumsi kita hanya akan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Salah satu tujuan zero waste adalah mendorong masyarakat untuk beralih dari linear economy menjadi circular economy. Dalam circular economy, kita bisa menyiasati penggunaan sumber daya alam yang terbatas. Juga dapat membuat sistem penggunaan sumber daya alam dapat dikembalikan lagi ke alam sehingga dapat mengurangi limbah dan polusi.

Definisi sederhana yang menggambarkan zero waste lifestyle adalah gaya hidup dengan meminimalisasi sampah ke landfill/TPA. Mengacu situs www.sustaination.id, ada lima cara (5R), yaitu:

  • Refuse, menolak barang yang benar-benar tidak kita perlukan;
  • Reduce, mengurangi barang yang tidak kita perlukan dengan cara decluttering;
  • Reuse, menggunakan kembali barang yang sudah kita miliki;
  • Recycle, mendaur ulang barang yang kita gunakan, untuk kita gunakan kembali; dan
  • Rot, mengompos atau membusukkan sampah organik.

Banyak yang beranggapan bahwa hidup minim sampah itu mahal. Kenyataannya tidak. Terkadang yang bikin mahal adalah keinginan kita untuk membeli banyak alat pendukung yang unik dan instagramable. Jadinya mengurangi esensi hidup minim sampah itu sendiri yang seharusnya mengurangi buang sampah. Perlu tekad bulat dan niat teguh untuk memulai hidup minim sampah. Selanjutnya, kita kupas hal sederhana apa saja yang bisa kita lakukan untuk hidup minim sampah.

  1.  Refuse

Hal pertama yang bisa kita lakukan  adalah menolak. Contohnya menolak penggunaan single use plastic seperti sedotan. Jika kita memiliki reusable straw, kita bisa menggunakannya. Namun jika tidak, tidak perlu beli, kita masih bisa minum tanpa sedotan.

  • Reusable Bag 

Bawalah tas belanja dan gunakan saat kita belanja ke pasar, supermarket, atau minimarket. Gunakan tas yang sudah kita miliki. Apapun bahannya tidak masalah, selama dapat berfungsi untuk membawa barang belanjaan. Sebisa mungkin harus selalu dibawa agar saat ke supermarket tidak perlu membeli reusable bag demi tidak menggunakan plastik. Membeli terus reusable bag tidak lebih baik karena emisi yang digunakan untuk membuatnya lebih besar daripada membuat plastik.

  • Reusable Bottle/Cup

Gunakan botol apapun tanpa harus membeli baru. Banyak dari kita pasti sudah memiliki botol minum. Ingat, tidak perlu membeli yang baru. Bawa saja botol yang kita punya kemanapun kita pergi. Jangan lupa untuk selalu mengisinya dengan air sehingga dapat mengurangi kemungkinan kita membeli air mineral dalam kemasan. Bagi kamu yang suka kopi, jangan lupa untuk membawa juga reusable coffee cup.

  • Kotak Makan

Kotak makan beserta cutlery merupakan benda yang wajib kita bawa saat berpergian. Dengan membawa kotak makan sendiri, kita bisa menyimpan sisa makanan saat makan di restoran atau dapat kita gunakan untuk membeli makanan take away tanpa perlu menggunakan kemasan dari toko malah dapat menimbun sampah. Dengan kita membawa dan menggunakan alat makan sendiri, selain mengurangi sampah, pasti lebih higienis sehingga dapat mengurangi potensi tertularnya virus COVID-19.

  • Ask/Say

Memulai gaya hidup minim sampah mengharuskan kita untuk selalu bertanya dan meminta. Kita bisa selalu menyampaikan kepada penjual toko jika kita tidak perlu sedotan pada minuman kita. Kita bisa juga mengatakan kita bawa tempat sendiri untuk makanan take away atau untuk menggunakan reusable cup saat ada di coffee shop.

2. Stop/Reduce Buying Things 

Berhenti atau setidaknya mengurangi barang yang tidak kita butuhkan. Menjalankan gaya hidup minim sampah harus diiringi dengan kesadaran untuk tidak membeli barang yang tidak kita butuhkan yang hanya akan berpotensi berakhir di TPA.

3. Pilah Sampah

Pilah sampah merupakan salah satu tahap awal kita untuk recycle. Sayangnya masyarakat Indonesia belum terbiasa untuk melakukan pilah sampah ini. Padahal di beberapa tempat umum sudah disediakan tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan non-organik. Kita bisa mulai untuk memisahkan sampah menjadi beberapa kategori seperti botol kaca, kertas, karton, botol plastik, organik, elektronik, dan sampah lain yang tidak dapat di daur ulang. Kalau kita memang tidak cukup kreatif mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang baru, kita bisa serahkan sampah yang bisa didaur ulang ke bank sampah terdekat melalui pemulung atau melalui komunitas daur ulang sampah.

4. Rot

Kita sudah memasuki tahap akhir dari zero waste lifestyle. Maksud dari rot sendiri itu membusukkan sampah organik menjadi pupuk kompos. Kita dapat menggunakan composter jika memiliki lahan tanah terbatas. Tapi, buat yang memiliki halaman luas, bisa nih menggunakan cara dengan membuat lubang biopori.

Pada awalnya, mungkin sedikit repot ketika melakukan hal-hal di atas. Namun untuk memulainya, kita bisa mencoba dengan menyimpan perlengkapan makan-minum tersebut di kantor. Bagi yang membawa kendaraan, juga bisa selalu membawanya setiap hari.

Sama halnya dengan efek pandemi COVID-19, awalnya kita tak biasa kerja di rumah dan rapat jarak jauh, lama-lama terbiasa dan menikmati.

Kita punya kebiasaan baru. Salah satu sisi positif pandemi adalah berkurangnya polusi sehingga kita dapat menghirup udara yang lebih baik. Ini terjadi karena dipaksa oleh COVID-19. Kontribusi terhadap lingkungan seharusnya dapat kita lakukan tanpa paksaan. Limbah dan polusi dapat kita reduksi melalui kesadaran dan peran kita. Saatnya memulai Adaptasi Kebiasaan Baru dibarengi dengan kebiasaan baru, minim sampah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window