Oleh; Try Utomo

Cerpen ini merupakan pemenang favorit Lomba HUT-ke 7 Komunitas Penulis OJK

Di sebuah negeri magis bernama Eldoria, di mana unicorn berkeliaran bebas dan menara kristal menjulang tinggi, ada sebuah kota modern bernama Vynord. Kota ini terkenal sebagai pusat perdagangan sihir. Namun, lebih dari sekadar mantra dan ramuan, Vynord memiliki sesuatu yang unik—pasar magis bernama “Pasar Senja Ajaib.” Pasar ini hanya terbuka selama tiga jam saat matahari hampir terbenam. Para penyihir dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sana untuk berdagang bahan-bahan magis, mantra kuno, hingga investasi ajaib.

Liora adalah seorang penyihir muda berusia 21 tahun, baru saja lulus dari Akademi Sihir Eldara, sebuah kastil megah yang berdiri di atas tebing dengan pemandangan laut yang tak berujung. Rambutnya panjang dan bergelombang, berwarna cokelat keemasan. Ia sering mengikat rambutnya dengan pita biru tua—warna khas Akademi Eldara—sebagai simbol kebanggaannya atas pencapaian kelulusannya.

Matanya berwarna hijau zamrud, tajam dan penuh rasa ingin tahu, mencerminkan semangat belajarnya selama bertahun-tahun di Eldara. Namun, terkadang, sorot matanya menampakkan keraguan, terutama ketika ia dihadapkan pada situasi baru yang belum pernah ia alami. Kulitnya cerah, dengan rona merah muda alami di pipinya, memberikan kesan segar dan sehat khas seseorang di usia mudanya. Sebuah tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit menghiasi sisi leher kirinya, yang dipercaya membawa keberuntungan bagi penyihir muda seperti dirinya.

Di Akademi Eldara, Liora telah mempelajari berbagai mantra, mulai dari sihir dasar hingga teori-teori kompleks tentang energi magis. Namun, salah satu pelajaran penting yang jarang disentuh di sana adalah pengelolaan kekayaan magis, suatu hal yang kini ia sadari sangat penting untuk memulai hidup mandirinya. Dengan impian besar untuk membuka toko ramuan sendiri, ia meninggalkan Eldara, membawa bekal ilmu sihir dan keberanian, tetapi dengan sedikit pengalaman praktis.

Postur tubuh Liora ramping, dengan tinggi sekitar 165 cm, cukup tinggi untuk wanita muda di dunianya. Ia mengenakan jubah sederhana berwarna abu-abu, dihiasi bordir emas di bagian kerah dan ujung lengan, hadiah kelulusan dari Akademi Eldara. Sepasang sepatu bot kulit cokelat yang dipenuhi sedikit bekas goresan menunjukkan bahwa ia telah berjalan jauh untuk sampai ke Pasar Senja Ajaib, tempat ia berharap menemukan awal dari perjalanan barunya.

Di pinggangnya, tergantung tas selempang kecil berbahan kulit, penuh dengan catatan mantra, alat-alat sihir, dan beberapa botol kecil berisi ramuan yang telah ia racik sendiri. Sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk daun oak—hadiah dari ibunya—tergantung di lehernya, menjadi pengingat akan dukungan keluarga yang selalu menyemangatinya.

Ketika Liora berkeliling di Pasar Senja Ajaib, indra penciumannya segera diserbu oleh campuran aroma yang memikat dan tak biasa, seolah setiap wewangian di pasar ini dirancang untuk membangkitkan rasa takjub. Udara sore yang lembap membawa hembusan wangi hangat rempah-rempah magis—kayu manis, cengkeh, dan jahe—yang bercampur dengan aroma misterius dari daun akar sihir yang berpendar di sudut gerai-gerai.

Di dekat sebuah kios ramuan penyembuhan, uap keemasan mengepul dari kuali besar, memancarkan aroma menenangkan lavender, mint, dan rosemary. Wangi ini berpadu dengan bau segar tanah basah yang berasal dari pot-pot tanaman Mandragora yang dipajang rapi di depan beberapa toko. Aroma bunga malam yang lembut melayang-layang di udara, seperti sebuah bisikan magis yang menenangkan hati.

Di atas nya, lentera-lentera beraroma melayang perlahan, memancarkan wangi manis madu bunga liar dan vanila. Cahaya mereka yang lembut mengisi pasar dengan suasana damai, sementara aroma citrus dari minyak magis di gerai-gerai terdekat menambahkan sentuhan segar yang menyeimbangkan segalanya.

Saat ia berjalan lebih jauh, setiap langkah membawa sensasi baru. Pasar ini tidak hanya tempat perdagangan, tetapi juga sebuah simfoni aroma yang membawa siapa saja yang mengunjungi ke dalam dunia sihir yang hidup, penuh misteri, dan keajaiban. Liora tersenyum kecil—bagi seorang penyihir muda, pengalaman ini adalah awal yang menjanjikan untuk perjalanan yang baru dimulai.

Ia menghentikan langkahnya dan berdiri terpaku di depan papan pengumuman yang terbuat dari kayu ek tua. Papan itu penuh dengan tawaran investasi: “Tanaman Mandragora dengan Dividen Tumbuh Setiap Purnama,” “Kristal Energi Abadi dengan Potensi Keuntungan 200%,” hingga “Saham Menara Sihir Ordo Utara.”

“Apa yang harus kupilih?” gumamnya sambil menggaruk kepala. “Semua ini terdengar menguntungkan, tapi juga berisiko.”

Seorang mendengar gumamannya.

Orlan adalah seorang penyihir tua yang telah hidup lebih dari 130 tahun, namun matanya yang berwarna biru kelabu masih memancarkan kebijaksanaan yang tajam. Rambut putihnya, yang panjang dan sering kali terikat asal-asalan di belakang kepalanya, terlihat seperti awan tipis di bawah cahaya lentera magis. Janggutnya yang lebat dan penuh uban menjuntai hingga dada, memberikan kesan seorang bijak yang telah menyaksikan perubahan zaman di dunia sihir.

Kulitnya cokelat tua, penuh kerutan yang mencerminkan pengalaman panjang hidupnya. Tangan Orlan yang besar dan kekar, meski mulai kehilangan kekuatannya, memiliki bekas luka kecil di sana-sini, tanda dari masa-masa penuh tantangan saat ia masih muda. Tubuhnya sedikit membungkuk karena usia, tetapi langkahnya tetap mantap, seolah tongkat kayu tua yang selalu ia bawa adalah bagian dari dirinya, bukan sekadar alat bantu. Tongkat itu terbuat dari kayu ek hitam dengan ukiran rune kuno yang menyimpan sihir pelindung—salah satu peninggalan yang ia buat sendiri ketika masih menjadi murid muda di Akademi Sihir Eldara.

Orlan mengenakan jubah tua yang penuh tambalan dari berbagai warna, masing-masing dijahit dengan rapi oleh tangannya sendiri. Tambalan itu bukan hanya penanda perjalanan panjangnya, tetapi juga menyimpan sihir kecil sebagai perlindungan dan pengingat akan tempat-tempat yang pernah ia datangi. Sabuk kulit yang melingkari pinggangnya memiliki banyak kantong kecil yang penuh dengan bahan-bahan magis: kristal energi, debu bintang, dan botol ramuan kecil yang tampaknya selalu siap digunakan.

Meski hidupnya telah lama berlalu dari kemewahan atau kekuasaan, Orlan dikenal di Pasar Senja Ajaib sebagai mentor bagi banyak penyihir muda. Ia sering ditemukan duduk di bangku kayu dekat kios ramuan, memberikan nasihat kepada siapa saja yang mau mendengarkan. Orlan memiliki reputasi sebagai penyihir yang memahami dunia dengan cara yang lebih mendalam daripada kebanyakan orang. Ia percaya bahwa sihir tidak hanya ada di dalam mantra, tetapi juga dalam cara seseorang mengelola hidupnya—termasuk kekayaan magis. Di balik wajahnya yang penuh garis usia, tersembunyi humor yang halus, sering kali ditunjukkan melalui senyuman kecil atau candaan lembut.

Dengan suara serak tetapi tenang, ia berbicara seperti seorang pendongeng yang mampu membuat setiap kata menjadi pelajaran.

“Pemula, ya?” tanyanya dengan senyum ramah.

Liora mengangguk malu-malu. “Iya, Tuan. Saya baru saja lulus dan ingin mencoba berinvestasi. Tapi semua ini terlihat rumit.”

Orlan tertawa kecil. “Ah, dunia investasi memang seperti itu, baik di dunia manusia maupun dunia sihir. Namun, ada prinsip dasar yang perlu kau pahami sebelum melangkah lebih jauh. Mari, duduklah bersamaku.”

Ada keraguan yang terbersit dalam hati Liora. Bagaimana mungkin dia bisa mempercayai orang yang baru ia temui. Pria tua ini bahkan belum memperkenalkan namanya. Namun pikiran-pikiran itu dikalahkan oleh rasa ingin tahunya serta impiannya yang besar.

Liora akhirnya mengikuti Orlan. Mereka duduk di sebuah bangku kayu dekat gerai yang menjual ramuan penguat energi. Lentera kecil melayang di atas mereka, menciptakan suasana hangat.

“Investasi itu seperti mantra, Liora. Jika kau tidak memahami strukturnya, kau bisa terkena ledakan balik. Pertama-tama, kau harus tahu apa tujuanmu. Apa yang ingin kau capai dengan investasi ini?”

“Saya ingin menumbuhkan kekayaan saya agar bisa membuka toko ramuan sendiri suatu hari nanti,” jawab Liora penuh harap.

“Tujuan yang baik,” ujar Orlan sambil mengangguk. “Namun, ingatlah, jangan menaruh seluruh energimu dalam satu jenis investasi. Diversifikasi adalah kunci. Bagilah antara saham Menara Sihir, tanaman Mandragora, dan kristal energi.”

Hari itu, Liora membeli tiga bibit Mandragora, menyimpan sebagian besar energinya di tabungan kristal sihir yang aman, dan mengambil sebagian kecil saham di Menara Sihir Ordo Utara.

Bulan demi bulan berlalu. Mandragora yang ditanam Liora tumbuh dengan baik, memberikan hasil stabil setiap purnama. Saham Menara Sihir menunjukkan kenaikan perlahan meski sempat turun karena badai magis. Namun, suatu hari, ia mendengar kabar buruk: salah satu proyek Menara Sihir gagal total, menyebabkan nilai sahamnya turun drastis.

Liora panik. “Haruskah aku menjual semuanya sekarang?” pikirnya.

Teringat nasihat Orlan, ia memutuskan untuk melakukan penelitian. Setelah menggali informasi, ia menemukan bahwa Menara Sihir sedang merencanakan proyek baru dengan potensi besar. Dengan keberanian, ia memutuskan untuk tetap memegang sahamnya, sambil menambah investasi kecil pada Mandragora yang lebih stabil.

Setahun kemudian, Liora berhasil mengumpulkan cukup kekayaan untuk membuka toko ramuannya di sudut desa sihir. Toko itu kecil, tetapi hangat, dengan tanaman Mandragora yang subur di depan pintunya. Pada hari pembukaan, Orlan datang sebagai tamu kehormatan.

“Kau telah belajar dengan baik, Liora,” katanya sambil menyeruput teh ramuan. “Ingatlah, investasi bukanlah sihir instan. Ini adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kedisiplinan.”

Liora tersenyum. “Nasihat Anda telah mengubah hidup saya. Terima kasih, Tuan.”

Dan demikianlah, di dunia sihir sekalipun, prinsip-prinsip keuangan yang bijak tetap menjadi kunci kesuksesan.

Argentae lumen, pandu langkahku,
Bijak kelola, setiap nilai ku.
Dengan ilmu, kekayaan bertumbuh,
Harta dan hikmah dalam padu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window