Oleh: Mochammad Isro Alfajri (Kantor OJK Provinsi Nusa Tenggara Barat)

(Naskah ini merupakan Juara 3 Lomba Menulis Cerita Pendek dalam rangka HUT Ke-8 Komunitas Penulis OJK 2026)

Di Desa Beleq, Lombok Tengah, sebuah Lumbung Bale tua masih berdiri kokoh di tengah kampung. Tiang kayunya mulai menghitam dimakan usia, namun atap alang-alangnya tetap terawat. Bagi warga, lumbung itu bukan sekadar tempat menyimpan padi, melainkan simbol kehidupan bersama penjaga harapan saat masa sulit datang. Saya, Raka, lahir dan besar di desa itu sebagai bagian dari Suku Sasak. Sejak kecil saya sudah akrab dengan lumbung tersebut. Setiap musim panen, saya ikut amaq mengangkut padi ke sana. Saya masih ingat aroma gabah yang baru dijemur, suara tawa para petani, dan kebiasaan makan bersama setelah pekerjaan selesai.

Amaq selalu berkata, “Rezeki tidak boleh dihabiskan hari ini. Sebagian harus disimpan, sebagian lagi harus dibagi.” Di rumah kakek, tersimpan beberapa lembar lontar tua yang dibungkus kain putih. Kakek sering membuka dan membacanya saat malam tertentu. Saya masih ingat tulisan halus di atas daun lontar yang sudah menguning, disimpan turun-temurun oleh keluarga kami. Kakek pernah berkata, “Ini warisan leluhur Sasak. Di dalamnya bukan hanya cerita raja dan perang, tapi juga cara hidup.” Belakangan saya tahu, lontar-lontar itu bagian dari ajaran yang mirip dengan Lontar Babad Lombok dan Tutur Sasak yang banyak disimpan di berbagai kampung. Di dalamnya terdapat pesan bahwa tanah, hasil panen, dan rezeki manusia sejatinya adalah titipan yang harus dikelola dengan jujur.

Namun saat kecil, saya belum memahami maknanya. Saya berpikir kehidupan kota jauh lebih modern dan praktis. Semua serba cepat, termasuk cara orang menghasilkan dan menggunakan uang. Setelah lulus kuliah, saya merantau ke kota. Di sana saya bekerja di perusahaan rintisan teknologi keuangan. Saya belajar tentang transaksi digital, investasi, dan pinjaman pindar. Saya kagum melihat orang bisa memindahkan uang hanya lewat sentuhan jari. Namun di balik kemudahan itu, saya juga melihat sisi gelapnya. Banyak teman kantor terlilit utang pinjaman pindar. Ada pula yang tertipu investasi bodong karena tergiur keuntungan besar dalam waktu singkat. Bahkan seorang rekan kerja kehilangan tabungan pernikahannya karena menjadi korban penipuan digital.

Saat itu saya mulai menyadari sesuatu: kemajuan teknologi tidak selalu diikuti pemahaman cara mengelola uang dengan bijak. Beberapa tahun kemudian, saya memutuskan pulang ke Lombok untuk membantu orang tua. Saya rindu suasana desa yang tenang. Namun kepulangan saya justru membuka mata terhadap masalah baru. Suatu malam, ibu berkata dengan wajah gelisah. “Tabungan ibu hilang, Nak. Katanya dapat hadiah undian, ibu diminta kirim kode. Setelah itu uang di rekening habis.”

Saya terdiam. Uang itu hasil panen dan jualan kecil ibu selama setahun. Yang membuat saya lebih kaget, beberapa tetangga juga mengalami hal yang sama. Ada yang tertipu investasi palsu, ada yang meminjam uang secara online tanpa memahami bunga dan dendanya. Desa kami yang dulu aman kini mulai terkena dampak kejahatan keuangan digital. Keesokan harinya, tokoh adat desa, Amaq Lalu, mengumpulkan warga di berugak dekat Lumbung Bale. Lelaki sepuh itu dikenal bijaksana dan dihormati seluruh warga. “Orang tua kita dulu menyimpan hasil panen di lumbung bersama,” katanya pelan namun tegas. “Kalau satu keluarga kekurangan, lumbung membantu. Itulah besiru, hidup saling menjaga.”

Beliau lalu menambahkan, “Dalam lontar Sasak juga diajarkan bahwa hasil bumi adalah amanah. Kalau kita serakah, rezeki akan cepat hilang. Kalau kita jaga bersama, kampung tetap kuat.” Saya teringat lontar milik kakek yang lama tak saya buka. Sepulang pertemuan itu, saya mencari kembali lembaran lontar yang tersimpan di rumah. Di sana tertulis ajaran tentang pentingnya kejujuran dalam berdagang, larangan mengambil hak orang lain, dan kewajiban membantu sesama saat kesulitan. Saya mulai memahami bahwa leluhur kami sebenarnya telah mengajarkan prinsip pengelolaan ekonomi jauh sebelum istilah literasi keuangan dikenal.

Keesokan harinya saya berkata kepada warga, “Mungkin kita perlu membuat lumbung baru. Lumbung pengetahuan, supaya semua bisa menjaga rezekinya.” Usul itu disambut anggukan warga. Dari diskusi sederhana itu lahirlah gagasan membuat “Lumbung Keuangan Desa”, sebuah gerakan belajar bersama tentang pengelolaan keuangan. Setiap minggu warga berkumpul. Saya membantu menjelaskan cara mengenali penipuan, pentingnya menjaga data pribadi, serta memilih layanan keuangan resmi. Anak-anak muda membantu orang tua memahami pesan mencurigakan di ponsel. Para ibu mulai mencatat pemasukan dan pengeluaran rumah tangga.

Dalam setiap pertemuan, Amaq Lalu sering mengingatkan ajaran lontar bahwa rezeki tidak boleh dihabiskan hanya untuk diri sendiri, tetapi harus memberi manfaat bagi keluarga dan masyarakat. Suasana desa perlahan berubah. Warung-warung kecil mulai berkembang karena pemiliknya belajar memisahkan modal dan keuntungan. Para petani menyisihkan sebagian hasil panen untuk tabungan pendidikan anak. Pemuda desa mulai membuka usaha kecil karena memahami cara mengatur keuangan.

Bahkan ibu-ibu yang dulu takut menggunakan layanan perbankan kini berani menabung di bank, namun tetap disiplin menyimpan dana cadangan di kelompok desa. Suatu sore, saya duduk bersama Amaq Lalu di depan Lumbung Bale, tempat saya dulu sering bermain. “Saya baru mengerti sekarang,” kata saya. “Lumbung ini bukan cuma soal padi.” Beliau tersenyum. “Lumbung dan lontar mengajarkan hal yang sama: menjaga titipan agar masa depan tetap ada.”

Beberapa bulan kemudian, desa tetangga mengalami gagal panen akibat kemarau panjang. Banyak warga kesulitan membeli beras. Desa kami mampu membantu tanpa harus berutang karena memiliki cadangan pangan dan dana gotong royong. Warga semakin sadar bahwa nilai lama tidak pernah benar-benar hilang. Hanya perlu dihidupkan kembali dalam bentuk yang sesuai zaman. Suatu malam ibu berkata, “Sekarang ibu simpan uang di bank, tapi tetap ikut simpan dana desa. Kalau kita aman, tetangga juga harus aman.”

Saya tersenyum. Sebagai orang Sasak yang lahir dan besar di Lombok, saya akhirnya memahami warisan leluhur kami: kemajuan tidak harus meninggalkan tradisi. Justru nilai lama menjadi pegangan menghadapi dunia baru. Kini setiap kali melihat anak-anak desa bermain di sekitar Lumbung Bale, saya berharap mereka tumbuh dengan pemahaman bahwa uang bukan hanya untuk dihabiskan, tetapi untuk dijaga dan dimanfaatkan bersama.

Angin malam berhembus pelan melewati atap alang-alang lumbung, seolah mengingatkan bahwa kesejahteraan bukan hanya tentang banyaknya uang, tetapi tentang kebijaksanaan mengelolanya, kehati-hatian menggunakan layanan keuangan, dan semangat saling menjaga agar tidak ada yang tertinggal. Dan di desa kecil kami di tanah Lombok, lumbung dan lontar itu tetap hidup menjadi saksi bahwa masa depan dapat dijaga jika masyarakat belajar, berbagi, dan saling mengingatkan. Lumbung dan Lontar Sasak, adalah makna dibalik kata yang selalu amaq ucapkan bahwa Sebagian rezeki kita saat ini adalah titipan untuk masa sulit dimasa mendatang.

* Amaq = panggilan untuk ayah/bapak oleh suku sasak Lombok

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window