Oleh: Ananda Ramadhani Haka Putri

(Tulisan ini merupakan Juara 1 Lomba Menulis dalam rangka HUT ke-14 OJK tahun 2025. Dipublikasikan pertama kali di Harian KONTAN tanggal 28 Maret 2026)

Di tengah gencarnya Indonesia mencapai literasi keuangan yang merata, fenomena maraknya kasus pinjaman online (pinjol) ilegal, judi online, dan semacamnya justru semakin meningkat (Kompas.com, 2023). Ternyata, korelasi antara inklusi keuangan berbanding lurus dengan tingkat literasi keuangan (Ariefin, Bulkia, & Hakim, 2023). Artinya, literasi keuangan yang baik mampu mencerminkan kualitas pengambilan keputusan finansial yang dilakukan secara sadar. Maka dari itu, untuk mencapai literasi keuangan yang optimal, langkah pertama harus dimulai dari unit terkecil di masyarakat, yaitu keluarga. 

Lantas menjadi pertanyaan, siapakah sosok yang paling menentukan kesehatan finansial keluarga? Tidak lain dia adalah seorang ibu atau istri (Amartha, 2020).

Sayangnya, mereka seringkali diidentikkan dengan peran domestik. Padahal, perannya sebagai manajer keuangan rumah tangga sekaligus financial gatekeeper menentukan nasib ekonomi seluruh anggota keluarga. Maka dari itu, literasi keuangan harus terfokus pada kaum perempuan agar berdampak multiplier effect.

Lemahnya literasi keuangan perempuan memiliki dampak multiplier negatif. Ketika seorang perempuan tidak cakap dalam memitigasi risiko, mereka dan keluarganya rentan terjerat utang konsumtif yang berlebihan, termasuk pinjol ilegal. Sebaliknya, literasi keuangan perempuan yang memumpuni mendukung ketahanan ekonomi keluarga, yang pada akhirnya akan mencetak individu yang siap secara ekonomi.

Terlebih lagi, terdapat paradoks antara hasil Survei Indeks Literasi Keuangan (SNLIK) tahun 2023 dengan realita saat ini. Hasil survei menunjukkan indeks literasi keuangan perempuan (66,75%) lebih tinggi daripada laki-laki (64,14%) (Keuangan, 2024). Namun, maraknya pinjaman daring ilegal, perjudian daring, dan aktivitas serupa—yang seringkali melibatkan perempuan sebagai pengelola keuangan rumah tangga. Angka ini menunjukkan bahwa walaupun perempuan sudah pandai memahami produk keuangan, terdapat disparitas antara literasi kognitif dan perilaku praktis di ranah domestik (Kompas.com(b), 2025; Viva, 2024; Detik.com, 2023)). Fenomena ini menunjukkan pendekatan literasi keuangan selama ini, meskipun telah meningkatkan angka indeks, belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan spesifik perempuan, terutama mereka yang berperan ganda sebagai ibu rumah tangga (IRT) sekaligus pencari nafkah tambahan. 

Berdasarkan pandangan beberapa pengamat, program literasi keuangan yang ada saat ini cenderung dirancang dengan pendekatan “netral gender”, padahal kebutuhan perempuan dan pria sangat berbeda (OECD, 2023). Materi yang disampaikan seringkali berfokus pada topik-topik kompleks seperti investasi saham, obligasi, atau instrumen digital. Sedangkan isu-isu yang lebih relevan dengan kehidupan IRT/istri yang bekerja, seperti pengelolaan keuangan rumah tangga, strategi mengatasi utang konsumen, atau cara mendeteksi pinjol ilegal, jarang dibahas  (Research, 2024). Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak IRT menganggap program literasi keuangan kurang bermanfaat atau terlalu “teoretis” untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Nyatanya, seorang IRT memiliki waktu dan mobilitas yang terbatas. Kesibukannya di rumah membuat mereka sulit untuk menghadiri seminar atau pelatihan formal pada jam kerja. Faktor ini juga menjelaskan mengapa perempuan masih belum banyak berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan keuangan. Jadi, solusi literasi keuangan perempuan harus fleksibel, berbasis komunitas, dan berdasarkan situasi. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator keuangan, perlu bekerja sama dengan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) dan kelompok masyarakat untuk menggunakan pendekatan yang inklusif ― khususnya dalam hal ini bagi perempuan ― dan bermanfaat bagi semua orang, dengan tidak mengutamakan formalitas demi efektivitas. 

Strategi pertama adalah literasi keuangan berbasis masyarakat yang berkaitan dengan permasalahan sehari-hari. Program dapat dilaksanakan melalui wadah yang kokoh seperti PKK, Majelis Taklim, atau kelompok arisan. Pendekatan ini berhasil karena menggunakan jejaring sosial yang ada, sehingga memudahkan masyarakat untuk memahami dan mengingat materi. Dengan format yang ringan, seperti sesi 15 menit tentang penganggaran digital atau cara mengenali pinjol ilegal, edukasi menjadi lebih membumi tanpa kehilangan substansi. 

Kedua, fokus pada soft skill keuangan dasar. Program litasi harus menekankan keterampilan dasar seperti penyusunan anggaran keluarga jangka pendek-menengah-panjang, mencatat arus kas sederhana, mengenali risiko keuangan, dan memahami dasar keamanan digital. OJK dapat memberikan insentif bagi LJK yang mengembangkan kurikulum literasi keuangan berbasis gender dan mengintegrasikan pelatihan tersebut dalam program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk menyukseskan langkah-langkah ini. 

Ketiga, memperkuat akses digital. Tidak semua perempuan paham teknologi, terutama perempuan berusia lanjut atau mereka yang tinggal di daerah dengan akses internet buruk. OJK dan LJK perlu merancang materi yang mudah dipahami, sederhana, dan dapat diakses oleh semua orang, bahkan oleh penyandang disabilitas. Misalnya, modul audio pendek yang bisa didengarkan sambil mengerjakan pekerjaan rumah, infografis ringan di Grup WhatsApp, atau video mini edukasi di media sosial dalam bahasa daerah.

Lebih jauh lagi, kolaborasi antara perempuan yang berpengaruh dalam bidang keuangan (financial influencer/finfluencer) juga bisa menjadi strategi yang baik. Banyak perempuan sekarang mencari informasi di media sosial, bukan di brosur bank. Jadi, bekerja sama dengan pembuat konten untuk menyebarkan pesan-pesan pendidikan, beserta aturan yang menjamin kredibilitas dan etika mereka, dapat membantu lebih banyak orang belajar membaca. Finfluencer yang memahami prinsip literasi keuangan akan membantu OJK membangun ekosistem keuangan yang sehat dan berkeadilan gender.

Transformasi literasi keuangan berbasis perempuan bukan hanya masalah kesetaraan, tetapi juga investasi sosial jangka panjang. Ketika perempuan diberdayakan secara finansial, mereka akan lebih mandiri dalam mengambil keputusan, lebih siap menghadapi krisis ekonomi, dan mampu mewariskan kebiasaan baik kepada anak-anak mereka. Dengan kata lain, mengajar seorang perempuan berarti mengajar seluruh generasi perempuan tentang uang.

Jadi, untuk membuat upaya literasi keuangan benar-benar optimal, program yang dilakukan harus berpihak pada para perempuan Indonesia, yang menjadi tulang punggung keuangan keluarga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window