Oleh: Imansyah (Co Founder Komunitas Penulis OJK)

Bulan Februari tahun 2026 ini dirasa lebih istimewa. Ada hari dimana harus kembali melakukan muhasabah dan self-assessment pasca 1 tahun berlepas tugas. “Wal-ashri” – sudah masuk waktu petang, Allah SWT ingatkan. Ada tahun baru Imlek ke-2577 yang kembali dengan akhir pekan yang lebih lama dan boleh diisi dengan ragam keinginan serta harapan. Tapi ada yang teristimewa, setengah bulan Sya’ban sudah lewat dan harus mulai bersiap untuk menyambut ibadah shaum 1 Ramadhan 1447H.

Tidak terbantah bahwa momen-momen ini akan terus berulang dan berulang. Ketika menjadi rutin, acap dirasa semua berjalan seperti biasa, terlena selama berbilang tahun. Tak aneh, karena banyak terlenanya insan itu dalam keadaan merugi. Namun, bila tetap berharap akan akhir yang baik – husnul khotimah, maka hidup harus dilakoni dengan prinsip dalam hidup yang tepat.

Setiap insan pasti memiliki prinsip yang diyakini dalam mengisi hidupnya. Bermacam-macam prinsip hidup yang dicanangkan. Ada yang diyakini menjadi prinsip yang umum dan yang khusus. Ada juga yang dipercaya sebagai prinsip yang utama dan yang melengkapi. Namun, dari itu semua, ada prinsip wajib yang nomor satu dan hanya satu-satunya sehingga tiada satupun insan yang dapat membantahnya.

Prinsip apakah itu? Prinsip itu adalah bahwa saya, anda dan kita semua ini sedang “Antre”. Mencontohkan bila sedang antre di klinik dokter, kita pasti tahu nomor antrean kita dan bisa mempersiapkan apa yang mau disampaikan kepada dokter hal sakit yang mungkin kita rasakan saat itu. Tapi untuk yang ini sangatlah berbeda sekali. Ironis ternyata kita benar-benar nir-tahu akan “Antre” ini. Lebih gawat lagi, tidak ada loket informasi yang bisa ditanya. Mustahil pun kita bertanya “maaf saya ini urutan ke berapa ya, menuju mati?” dan pastinya tidak tahu pula siapa yang akan ditanya.

“Antre” memang ranah gaib. Tidak ada satu manusiapun yang dapat ilmunya. Ini agar tidak berakibat moral hazard kata ahli keuangan. Lha kalau si fulan sudah paham bila “Antre” sudah mau selesai, dari banyak berbuat maksiat, mengkondisikan di akhir-akhir untuk laku taubatan nasuha dan beramal saleh. Kalau yang sebaliknya, boleh sangat ingin sedikit menikmati maksiat dunia mumpung ada kesempatan. Lepas itu, segera bersiap untuk amal terbaik agar akhir “Antre” berpredikat istimewa.

Matematika manusia yang sama sekali tidak sahih dihadapan sang Khalik. Saat ada keluangan, acap saya melamun. Diri ini gundah memikirkan masa lalu yang penuh khilaf dan dosa. Mencoba maklum, karena katanya “Al-insaanu makanul khotho’ wanisyaan” – Manusia itu wadahnya salah dan lupa. QS. Al-Kahfi (18) ayat 54 mengingatkan kalau “wa kaanal-insaanu aksaro syai-in jadalaa” – Manusia itu memang yang paling banyak berbantah[1]bantah. Kalaupun coba amalkan doa dzikir yang para cendekia ajarkan agar dapat menghapus dosa-dosa seperti buih di lautan, tapi gamang masih membuncah karena alam keyakinan bukan akal matematika untuk bisa dikompensasikan, karena sangat boleh jadi dosa-dosa yang sudah dibuat ternyata melampaui jumlah buih di lautan. Itu adalah sejatinya hak istimewa Sang Khalik.

Saat melamun, diri juga sekaligus gulana memikirkan masa depan yang belum tentu sempat dilalui. Pernahkah kepikiran mentoknya berapa umur kita sebelum “Antre” berakhir. Jangan pula berharap memperbandingkan umur kita dengan umur alam semesta. Umur kita hanya secuil, bahkan mungkin saja hanya 0,0000001% dari umur semesta.

Di Surah Al-Hajj (QS. 22) ayat 47, misalnya dikatakan “Sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun menurut perhitungan kalian”. Nah, kalau sudah demikian, jauhilah sikap sombong. Urip mung mampir ngombe. Hidup hanya mampir untuk minum. Minumlah yang baik-baik saja. Waktunya sangat singkat.

Secantik-cantiknya perempuan, nanti segera keriput juga. Sekeren-kerennya lelaki, sepuluh tahun kemudian, ketika bercermin, bisa kaget karena dikira melihat pamannya. Menutup yang belum tentu menjadi akhir, bolehlah mengingatkan diri bahwa hidup ini bukan seberapa jauh kita berlari, melainkan seberapa dalam kita mampu pahami makna hidup ini. Yang penting bukan panjangnya umur, namun apa yang baik-baik bisa kita lakukan dalam waktu yang sebentar. QS. Al-Kahfi (18) ayat 7 sudah memberikan arahnya “linabluwahum ayyuhum ahsanu ‘amalaa” – untuk kami menguji mereka, siapakah diantaranya yang terbaik perbuatannya.

Bila sepaham, maka jangan menunggu Ramadhan untuk khusyuk beribadah dan berdoa. Jangan pula menunggu Lailatul-qadar di malam-malam ganjil akhir Ramadhan untuk sadar diri selagi ada kesempatan menentukan arah hidup di dunia dan masih ada waktu untuk menutup akhir hayat kelak bi-husnul-khotimah. Semoga dapat berhikmah. Selamat menjalankan ibadah shaum Ramadhan 1447H iimaanan wahtisaaban – penuh iman dan perhitungan untuk menjadi hambaNya yang lebih taqwa. Wallaahu a’lam bishawab. Jakarta, Jelang Ramadhan 1447H *)

Pandangan pribadi, diambil dari beberapa sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window