Oleh: Annisa Ika Rahmawati
(Artikel ini telah dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi Oktober 2024)
‘It’s not that we use technology, we live technology’. (Godfrey Reggio)
Artificial intelligent (AI) sudah tidak lagi dianggap sebagai hal baru bagi masyarakat modern. Bahkan, AI juga kerap dijadikan sebagai penunjang dalam pelaksanaan pekerjaan rutin. Berbagai kemudahan ditawarkan oleh AI bagi penggunanya. Akankah AI menggantikan peran manusia?
Pada prinsipnya, AI meniru interaksi dan kecerdasan manusia, seperti pengenalan suara, penalaran, pengambilan keputusan, dan identifikasi pola. Sistem AI menggunakan algoritma untuk memperjelas masalah yang rumit dan mengotomasi tugas sederhana atau berulang.
Semakin ke sini, popularitas AI semakin meningkat. Deloitte Insights, melaporkan bahwa 91% pemimpin bisnis atau perusahaan telah memiliki strategi AI di seluruh perusahaan. Hal ini tidak lepas dari manfaat penggunaan AI bagi Perusahaan. Dalam kajiannya, Deloitte Risk & Financial Advisory menyimpulkan bahwa AI mendorong tingkat efisiensi dan kinerja bisnis dari semua skala Perusahaan. Oleh karena itu, penerapan AI di Perusahaan dapat menjadi game changer dalam mendukung penyelesaian pekerjaan kantor.
Salah satu perangkat AI yang sangat digemari masyarakat adalah Chat GPT (Generative Pre-training Transformer). Perangkat ini merupakan chatbot berbasis machine learning yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Diantaranya, untuk membantu menghasilkan ide konten, untuk menyelesaikan pertanyaan yang bersifat kalkulatif, untuk membantu merangkum suatu catatan dan bahkan untuk membantu memeriksa tata bahasa, sehingga lebih jelas dan ringkas.
Selain menawarkan kemudahan, pemanfaatan AI dalam bidang pekerjaan juga memiliki banyak manfaat. Pertama, penghematan biaya. Melalui penyederhanaan proses yang dilakukan, AI dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi pemborosan biaya produksi atau operasional. Kedua, Meningkatkan kualitas pengambilan Keputusan. Penggunaan AI memungkinkan akses data yang lebih banyak, akses pada big data dan menggabungkan berbagai kumpulan data sehingga keputusan strategis yang diambil dapat efektif dengan dukungan data yang akurat. AI tidak hanya membantu mengumpulkan data, tetapi juga mampu menghasilkan laporan dan analisis yang mudah diakses dan dicerna. Ketiga, kantor yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan sensor AI dapat membantu menggunakan energi dan sumber daya sesuai yang dibutuhkan sehingga tidak terjadi pemborosan energi dan sumber daya untuk mendukung operasional kantor.
Namun, harus disadari bahwa di balik manfaat dan kelebihan yang diperoleh dari AI dalam pekerjaan sehari-hari, terdapat beberapa kekurangan yang harus diperhatikan. Paling tidak terdapat 3 (tiga) hal yang perlu menjadi perhatian dalam penggunaan AI. Pertama, ketergantungan pada data. Dalam hal ini jika data tidak representatif atau bias maka hasil analisis AI akan kurang akurat. Kedua, keamanan dan privasi. Penggunaan AI membuka celah kerentanan terhadap serangan atau penyalahgunaan oleh pihak yang tidak berwenang. Ketiga, Keterbatasan dalam pemahaman konteks. Misalnya dalam memahami makna yang tersembunyi atau nuansa dalam percakapan. Keempat, kurangnya sisi sense of humanity (aspek kemanusiaan). Hal ini terjadi karena AI bersifat automatisasi dan bergantung pada data yang bersifat akurasi sehingga cenderung kurang fleksibel dalam menganalisis suatu permasalahan.
Kesimpulannya, penggunaan AI memang sangat membantu penyelesaian urusan manusia. Namun, kita harus bijak dalam menggunakan AI dan tidak boleh sepenuhnya bergantung pada AI. Kita harus berusaha untuk mempertahankan sisi human touch dalam melakukan pekerjan. Tetap menjadi manusia, dengan segala rasa dan aspek natural kemanusiaannya.