Oleh: Supriyono
Direktorat Pengendalian Kualitas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun
(Naskah cerita pendek ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi September 2025)
‘‘Brrrrak,’’ Giri membanting pintu mobilnya di parkiran Stasiun LRT. Mukanya sedikit kesal, dia masih belum rela, sebagai manager di kantornya dipaksa naik angkutan umum. Hanya gara-gara program Net Zero Emision. Program yang baginya mengawang awang, seolah dunia akan kiamat dengan naiknya suhu bumi setengah derajat saja.
Sepekan dua kali dia dipaksa naik angkutan umum, atau poin kinerjanya akan berkurang. Sambil berjalan cepat dia menuju stasiun. Sedikit celingukan karena ini pertama dia menginjakkan kaki di stasiun. Cukup padat pagi ini. Giri menghela napas. “Aku bukan anti angkutan umum, membayangkan desak-desakan, bau keringat, dan wajah-wajah asing sudah bikin males duluan” gumamnya.
Begitu menapakkan kaki di selasar, antrian penumpang sudah mengular di gate masuk peron. Baru masuk ke peron stasiun, Ia disambut suara perempuan dari pengeras: “Kereta menuju Dukuh Atas akan tiba dalam dua menit.”
Dua menit. Angka kecil yang terasa seperti ujian kesabaran. Di depannya seorang nona ber-sweater menatap layar ponsel, wajahnya tersinar biru, aroma parfum lembut menguar, ujian yang tak kalah berat. Seorang Perempuan paruh baya menenteng tas branded, KW premium kayaknya. Di seberangnya lagi, pemuda tanggung dengan telinga tersumbat headset dan jari-jari lengket di layar smartphone-nya.
Semuanya diam, tenggelam dengan pikiran dan aktivitas masing-masing. Petugas berseragam berdiri tegak, mengawasi garis kuning yang tak boleh dilewati. Dunia yang tertata, pikir Giri. Bahkan batas kepatuhan pun diberi batas cat khusus. Kereta datang dengan gesit, berhenti tepat di barisan antrian penumpang. Pintu terbuka dengan ritme seolah sekedar menjalankan perintah.
Gerbong terlihat sudah lumayan penuh. Tak ada penumpang turun, penumpang yang mau naik mulai merangsek maju.Tanpa aba-aba, pertempuran berebut takdir seakan pecah. Giri melihat koreografi diam-diam: orang-orang bergerak bersama, satu tujuan, melihat celah berdiri atau syukur-syukur ada kursi yang tiba-tiba kosong. Dia berhasil masuk dan menemukan pegangan “baru aja naik, dah suruh ketemu realita” gumamnya “seberat apapun hidup, setidaknya masih ada pegangan”.
Kereta berlari dengan cepat, tanpa hambatan. Pemandangan di luar jendela bergeser bagai scrolling layar gadget yang melenakan. Atap-atap rumah berdebu, deretan pohon kurus menunggu hujan, tiang reklame dengan senyum palsunya, kabel aneka ukuran bergulung gulung meruwet di tiangnya, kibaran merah putih di depan rumah yang catnya banyak mengelupas, dan mobil-mobil yang seolah beringsut di jalan tol. Entah apakah sudah bayar pajak ataukah menunggak cicilannya, atau bahkan sudah tak dilindungi asuransi lagi. Semua yang tak pernah sempat dia lihat dan pikirkan sejauh ini.
Seorang bapak tua masuk di stasiun berikutnya; rambutnya perak, kemeja batiknya rapi walau kelihatan kalo batik tekstil impor. Refleks, seorang remaja bangkit menawarkan tempat duduk. Giri mengamati bagaimana si bapak tua menolak, lalu si remaja setengah memaksa berkata pelan, “Nggak apa Pak, saya sebentar lagi turun.” Kebohongan kecil yang hangat.
Giri membatin “kadang kebaikanpun butuh sedikit tipu daya”. Kereta tanpa masinis terus berjalan, sesuai progam yang dikontrol dari ruang komando di ujung sana. Sekelebat, telinga Giri menangkap percapakan dua gadis remaja. Nampaknya mahasiswa.
“Tugas filsafatnya apa, sih?”. “Menjelaskan kenapa manusia suka menunda” timpal mahasiswa berbaju hijau. “Jawab aja: karena kereta berikutnya selalu ada.”Mereka tertawa kecil. Giri ikut mengulum senyum. Betapa sering ia juga menunda, dengan alasan “nanti”, seperti orang menanti kereta berikutnya padahal yang kini sudah berhenti di depan mata.
“Turun di mana, Pak. Baru naik kereta ya Pak?” tanya pria berkemeja kantoran dengan bordiran AKHLAK mengejutkan kontemplasinya. “Kuningan, kok tahu kalo saya baru pertama naik LRT, kelihatan ya.” “Bukan kelihatan, terasa “ “Saya juga dulu bawa mobil kantor, nyetir sendiri Pak. Sejak pindah ke LRT, saya punya waktu menikmati hidup. Hidup rasanya tak lagi terus-menerus menekan rem.” Giri mengangguk. “Saya dipaksa kantor. Zero emission.” “Kadang dipaksa itu nikmat, Pak, dari terpaksa lama-lama terbiasa. Akhirnya ketagihan” kata si pria sambil tertawa kecil.
Kereta terus melaju, dan di pintu kaca, ia melihat bayangannya sendiri, mata yang selama ini sibuk mencari celah di kemacetan, kini menemukan ruang di antara orangorang. Sebuah stiker peringatan menempel. “Perhatian, untuk keselamatan bersama, dilarang bersandar di pintu,” Pintu, batas antara jatuh dan sampai tujuan, peringatan yang nampak klise dan membosankan sampai suatu hari kita melanggar dan menyesal.
Sampai di stasiun Kuningan, arus manusia menurun seperti serombongan bison mencari air ditayangan flora dan fauna zaman 90an. Giri ikut terbawa, tapi langkahnya tak lagi berat. Di selasar stasiun, seorang bocah menarik lengan ibunya. “Ma, kenapa kereta nggak berhenti sembarang?” “Karena kalau berhenti di mana saja, semua orang bakal bingung,, dan lama sampai tujuan” jawab sang ibu.
Giri seakan ingat tulisan guru manajemen, berjalanlah sesuai tujuan, tujuan memberi kita arah untuk tidak berhenti sembarangan dan tergoda oleh semua kemungkinan. Di pintu keluar, ia menatap kembali gate pintu masuk, petugas jaga dan papan informasi yang berkilau sederhana.
Ia ingin mengucapkan terima kasih, pada siapa, tak jelas. Pada suara perempuan dari pengeras yang sabar, pada remaja yang rela berdiri, pada petugas yang tegas, atau pada rel yang berani berkata, “cukup lurus, ikuti aturanku, jangan belok seenaknya.” Siang itu, di WAG kantor, Giri menulis: “Naik angkutan umum ternyata bukan siksaan, tapi pelajaran. Bukan hanya emisi carbon yang berkurang, emisi keluhan kehidupan jauh berkurang. Saya usul menambah hari tanpa kendaraan pribadi menjadi tiga kali seminggu.” Tanpa berpikir panjang lagi jarinya menekan “kirim”. Puas, rasanya seperti baru saja dia menyelamatkan dunia.
Sore, ia kembali ke stasiun. kali ini langkahnya tak lagi berat. Di selasar stasiun, angin menerbangkan aroma roti berperisa kopi dari kios kecil. Kereta datang, pintu terbuka, suara perempuan sabar yang sama menyambut. Giri masuk, berdiri, kembali menatap jendela. Melihat gedung-gedung berlarian mundur, jalanan yang padat, dan orang-orang yang terus bergerak menjemput takdirnya. Bahkan langit Jakarta yang memerah, keindahan yang tak pernah dia sadari. Seolah dirinya menemukan kembali potongan kehidupan yang telah terabaikan sekian lama.
Ia sadar, kehidupan bukan selalu kepada sesuatu yang memanjakan. kadang tunas-tunas kehidupan tumbuh kepada sesuatu yang menertibkan. Sesuatu yang mengingatkan kita kapan harus diam, kapan memberi jalan, dan kapan memberi ruang agar tangan orang lain bisa berpegangan. LRT tak menjanjikan kursi kosong setiap waktu, tapi menjanjikan berhenti di stasiun yang tepat. Itu cukup.