Oleh: Ananda Ramadhani

Tulisan ini pertamakali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi April 2025

Hari Kartini diperingati sebagai simbol perjuangan perempuan dalam meraih hak untuk belajar, berkarya, dan menentukan masa depan. Di masa kini, semangat itu terus hidup—salah satunya dalam sosok para ibu bekerja, yang menjalani peran ganda dengan penuh tanggung jawab. Tak sedikit pegawai perempuan di lingkungan Otoritas Jasa Keuangan yang menjalani rutinitas sebagai ibu menyusui (busui) sambil tetap berkontribusi aktif di dunia kerja.

Bagi para ibu, menyusui bukan hanya soal kasih sayang, tetapi juga soal perencanaan yang matang—mirip sekali seperti menyusun laporan. Ada target harian, strategi pencapaian, dan evaluasi berkala yang dilakukan hampir setiap hari. Tidak jarang busui yang menyusun “strategi dan rencana produksi” ASI seperti menyusun proyeksi bulanan: berapa mili liter per hari, berapa kali pumping, dan kapan waktu terbaik untuk melakukannya.

Setiap pagi, proses membuka kulkas bisa terasa seperti membuka dashboard performa. Jika jumlah ASI meningkat, ada rasa lega. Namun jika turun, berbagai analisis segera dilakukan. Apakah booster sudah optimal? Bagaimana manajemen stres yang memengaruhi produksi ASI? Perlukah metode pumping diubah? Tak jarang, proses ini mirip evaluasi laporan keuangan—serius, terstruktur, dan tentu bikin deg-degan.

Beragam strategi pun dicoba. Mulai dari konsumsi daun katuk, smoothies warnawarni, teknik power pumping, hingga mencoba ASI booster yang sedang viral di media sosial. Semua dilakukan demi mendukung produksi yang optimal. Di tengah upaya itu, ada pula “monitoring eksternal”: komentar keluarga atau kerabat yang membandingkan pengalaman menyusuinya dengan kondisi sekarang.

Terkadang emosional kerap muncul, meski tak selalu terlihat. Namun di balik segala upaya dan tantangan tersebut, ada pelajaran penting yang terus muncul: menyusui bukan sekadar tentang jumlah, tapi tentang ketekunan dan cinta. Bukan soal seberapa banyak ASI yang dihasilkan, tapi seberapa besar komitmen yang diberikan seorang ibu, bahkan ketika kondisi tidak selalu ideal.

Di lingkungan kerja seperti OJK, banyak pegawai perempuan yang merasakan manfaat dari dukungan institusi—mulai dari ketersediaan ruang laktasi, fleksibilitas waktu, hingga rekan kerja dan atasan yang memberi ruang bagi ibu menyusui untuk menjalankan perannya tanpa rasa bersalah. Bentuk dukungan ini mungkin tampak sederhana, tapi dampaknya sangat besar bagi keberlanjutan semangat kerja dan keseimbangan hidup pegawai.

Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang menciptakan ruang yang adil dan suportif bagi perempuan masa kini. Termasuk ruang untuk menyusui, merawat, dan tetap berkontribusi secara profesional. Sejatinya, perempuan tidak perlu memilih antara karier atau keluarga. Dengan dukungan lingkungan kerja yang inklusif dan empatik, mereka bisa menjalani keduanya secara utuh. Mari terus hidupkan semangat Kartini di lingkungan kerja— dengan saling memahami, saling mendukung, dan menciptakan sistem yang berpihak pada kesejahteraan bersama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window