Oleh Triyono
Co Founder KPOJK
Dalam suasana liburan panjang seperti ini, memang moment yang pas untuk kontemplasi dan belajar. Ambil topik yang menarik dan sesuai minat. Belajar ringan tapi menyenangkan.
Nonton film juga bisa dilakukan untuk mengisi waktu. Mungkin ada sebuah film yang menarik untuk disimak berjudul “300”. Sinopsis singkat mengenai film itu adalah ketika 300 orang Spartan yang bertempur melawan 1 juta prajurit Persia di bawah Raja Xerxes. 300 pasukan Spartan dipimpin oleh Raja Leonidas.
Sebuah pertempuran yang sudah pasti tidak berimbang. Apalagi ditambah dengan adanya pengkhianatan dari Ephialtes, berhasil menggiring Spartan ke sebuah jalur sempit di Thermopylae. Akhirnya, tidak ada pilihan bagi pasukan Spartan ini selain melawan sampai mati.
Dikisahkan ada seorang prajurit selamat bernama Dillios yang menceritakan kisah ini sehingga menjadi inspirasi seluruh Yunani untuk bertempur melawan Persia. Sangat inspiratif karena menunjukkan adanya semangat juang yang sangat tinggi sampai titik darah penghabisan.
Baru saja kita merasakan bagaimana bergembiranya masyarakat Indonesia ketika sementara berhasil lolos kualifikasi Piala Dunia Zona Asia karena berhasil mengalahkan Bahrain dengan skor 1-0 di stadion GBK. Kebahagiaan yang totalitas baik di luar stadion apalagi di dalam stadion. Banyak diliput oleh para netizen dan diupload di YouTube.
Selain perjuangan squad Garuda yang luar biasa, ambiance para supporter juga luar biasa. Presiden FIFA beberapa kali memuji koreografi penonton Indonesia. Media asing juga demikian. Media Malaysia menyampaikan kemenangan Indonesia karena ada “Pemain Keduabelas” yaitu suporter.
Walaupun analogi mungkin agak terbalik dengan film 300. Tapi yang jelas gambaran Timnas Bahrain seperti 300 orang Spartan yang melawan Pasukan Persia. Tentu saja penghargaan setinggi-tingginya atas semangat dari 11 pemain Bahrain yang sudah pasti berjuang dengan luar biasa. Berjuang secara teknis di lapangan, juga berjuang melawan support penonton yang luar biasa. Sekali lagi penghargaan yang luar biasa bagi Timnas Bahrain.
Analogi penonton Indonesia yang disamakan dengan Raja Xerxes juga mungkin tidak tepat. Tapi yang sangat menarik adalah sikap 70.000 orang yang secara kolosal dan santun menunjukkan energi positif untuk mendukung squad tercinta.
Banyak cerita bahwa tragedi kebrutalan suporter sepak bola di Indonesia cukup melukai. Tapi terbukti bahwa suporter Indonesia itu santun, sportif dan tidak brutal. Semoga ini memang cerminan perilaku masyarakat Indonesia sesungguhnya. Yang brutal dan anarkis hanya segelintir orang.
Apalagi ketika seluruh stadion bernyanyi bersama lagu “Tanah Airku” ciptaan Ibu Soed. Semua bernyanyi dengan sungguh-sungguh bahkan tidak sedikit yang menangis. Lelehan air mata itu menunjukkan cinta yang luar biasa pada tanah air Indonesia. Lagi-lagi banyak orang asing yang takjub terhadap keajaiban kolosal ini.
Sungguh indah ketika bangsa Indonesia bisa se-kompak ini. Semua melupakan perbedaan. Hanya fokus pada tujuan bersama yaitu dukungan terhadap Timnas Indonesia agar bisa menang. Tidak ada masalah politik, SARA ataupun faktor negatif lain. Tidak ada buzzer yang membuat rusuh di internet ataupun pembuat berita hoax. Mereka juga lupa mengenai polemik pergantian pelatih Timnas dan lainnya.
Terima kasih sepakbola karena sudah menunjukkan keindahan sebenarnya dari bangsa Indonesia. Jagalah terus kekompakan ini baik di dalam sepakbola maupun di luar sepakbola. Paling tidak dari benih sepakbola ini bisa menyebar ke sendi-sendi bangsa lainnya.
Alhamdulillah, semangat ini juga lahir di bulan Ramadhan. Dengan momentum konsistensi, semoga setelah Ramadhan, maka sifat kekompakan ini tetap berlangsung selamanya. Mari kita menyanyikan lagu Tanah Airku bersama-sama. (Try)