Oleh: Alya Nabila (Departemen Hukum)
#Cerpen ini merupakan Juara 2 Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT ke -7 Komunitas Penulis OJK
Alora tumbuh di Panti Asuhan Dahayu, bangunan sederhana yang penuh dengan tawa keceriaan dan bisik kerinduan yang sesekali singgah. Baginya, melukis adalah pelarian sekaligus gairahnya, cara ia menyulam keindahan dari kepingan masa lalu yang selalu ia coba rangkai, namun tak pernah bisa ia dekap dengan erat.
Suatu hari, sebuah kabar menyebar di seluruh penjuru kota. Safwan, seorang seniman ternama dengan karya impresionis yang memukau, mengumumkan bahwa ia sedang mencari seorang protégé atau murid didik. Ratusan jiwa penuh harapan berduyun-duyun mendaftar, mengejar kesempatan yang mungkin hanya datang sekali dalam seumur hidup. Prisa, kepala pengasuh panti asuhan yang selalu melihat kemampuan dalam diri Alora, mendorongnya untuk turut meraih mimpi.
“Aku hanya gadis dari panti asuhan, Bu” ujar Alora dengan penuh keraguan, “Bagaimana mungkin sosok seistimewa Safwan memilihku untuk menjadi muridnya?”
“Talenta bukanlah soal dari mana kamu berasal, nduk” jawab Prisa dengan nada meyakinkan, “Namun tentang kemana langkahmu akan membawa aspirasimu”.
Setelah kalimat tersebut meresap dalam sanubarinya, Alora pun mengumpulkan keberanian untuk mendaftarkan diri, membangunkan impian yang selama ini terpendam.
—
Beberapa minggu kemudian, sebuah surat tiba, mengundang Alora untuk mengikuti wawancara. Alora sampai mencubit pipinya beberapa kali untuk meyakinkan bahwa pertemuannya dengan Safwan adalah kenyataan.
“You have an eye for detail,” nilai Safwan sambil membolak-balik skesta-sketsa yang Alora lampirkan, “And hunger for something more”.
Selang beberapa bulan, Alora mulai belajar melukis bersama Safwan, mengilhami setiap ilmu dengan tekun. Sesi melukis berlangsung di galeri seni Safwan yang teduh, dikelilingi karya yang seakan berbicara dengan jiwa. Beberapa kali, mereka melukis di alam terbuka, dikelilingi oleh bukit dan sungai yang tenang. Alora mendapati dirinya terinspirasi oleh sinar mentari yang menari di atas dedaunan. Safwan mengajarinya untuk melihat lebih dari sekadar yang kasat mata, tetapi juga menangkap esensi dari apa yang ia lukis. Pelajaran melukis berjalan secara intens dan menyegarkan, namun ketegasan Safwan terhadap satu aturan unik membuat Alora penasaran: setiap lukisan harus dimulai dengan goresan huruf “L”.
“It centers your focus” Safwan menginstruksikan dengan singkat. “Never skip it!”
—
Suatu hari, di bawah cahaya galeri yang redup, benak Alora tergelitik untuk mengajukan pertanyaan, “Pak Safwan, apa yang mendorong anda untuk melukis?”
Safwan terdiam sejenak, matanya melunak saat menatap Alora. “Bagi saya, seni adalah jembatan yang menghubungkan apa yang tampak dengan apa yang bersemayam dalam hati. Melalui setiap sapuan kuas, saya mencoba menyampaikan perasaan yang tak dapat diungkapkan oleh kata”.
Alora mengangguk dengan terkesima. Ketika Safwan kembali menatap kanvasnya, ia balik bertanya, “Bagaimana denganmu, Alora?”
Tanpa berpikir panjang, Alora menjawab, “Pada saat saya ditinggalkan oleh orangtua saya di panti asuhan, yang saya punya hanyalah ini” Alora mengeluarkan sebatang kuas yang sudah usang dari sakunya, “Mungkin orang tua saya juga seniman dan mereka ingin saya melanjutkan apa yang mereka gemari, sehingga saya tergerak untuk mulai melukis”.
Begitu kata-kata itu terucap, air wajah Safwan berubah. Ekspresinya yang penuh pemikiran kini terkunci, rahangnya mengeras, dan matanya terpejam sejenak.
“Apakah ada masalah, Pak?” seru Alora dengan kebingungan.
“Let’s take a break for now. Excuse me.” tukas Safwan sembari bergegas pergi, meninggalkan Alora dengan tanda tanya besar dalam batinnya. Alora merasakan ada yang tidak beres. Kuas di genggaman tangannya seakan menggugah sesuatu dalam diri Safwan. Sepertinya ia telah menyentuh titik yang sensitif.
—
Suatu siang kala hujan, Safwan jatuh sakit sehingga sesi pelajaran berpindah ke rumahnya. Meskipun tubuhnya melemah, pikiran tajam dan kecintaannya terhadap seni tetap tidak tergoyahkan.
“Hidup tak berhenti karena sakit,” tuturnya, “Begitu juga seni”.
Alora tak bisa menahan kekagumannya pada kediaman megah Safwan. Plafon tinggi, perabot elegan, dan koleksi seni yang melimpah membuatnya terpesona.
“Rumah anda sungguh menakjubkan,” puji Alora, “Bagaimana Anda bisa memilikinya?”
“Saya mulai menabung dan berinvestasi di pasar modal sejak muda dari hasil komisi lukisan” jelasnya, “Mengelola keuangan dengan baik adalah kunci, sebab seni bukan hanya tentang hasrat, Alora, tetapi juga tentang pragmatisme”.
Alora mendengarkan dengan seksama saat Safwan berbagi cerita tentang awal perjuangannya, penjualan besar pertamanya, dan bagaimana ia belajar pentingnya kebijaksanaan finansial.
“Uang memberi kita kebebasan,” ujarnya, “untuk berkarya, untuk hidup, dan untuk memilih”.
Selanjutnya, Safwan menyampaikan bahwa selama sesi pelajaran di rumahnya, Alora dilarang untuk memasuki satu ruangan berpintu putih, “Alora, tempat ini tidak boleh kamu datangi!” Alora menghormati batasan tersebut. Ia memilih untuk tidak menanyakan lebih lanjut, meski rasa ingin tahunya terus mengusik.
—
Selang beberapa hari, saat mencari pisau palet cadangan, tanpa sengaja Alora menyentuh pintu ruangan rahasia, dan pintu itu terbuka dengan bunyi berderit. Ruangan tersebut remang-remang, kecuali untuk huruf “L” berwarna merah mencolok pada kanvas di tengah ruangan. Pandangan Alora terpaku pada lukisan tersebut dan atmosfer ruangan sekejap menekan dadanya. “L”, seolah huruf itu menyimpan semua pertanyaan yang tak terjawab di dunia. Namun suara dari belakang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tegur Safwan. Ekspresi Safwan bercampur antara murka dan murung.
Suara Alora tercekat di tenggorokannya. Ia perlahan mundur, merasa seolah-olah telah memasuki dimensi yang jauh lebih kompleks dari yang bisa ia pahami.
“You shouldn’t have gone in here ” Safwan menghela napas, “Tapi…sekarang kamu sudah tahu, saya tidak bisa menghalangimu untuk melihatnya” ia mengisyaratkan ke arah kanvas.
Tatapan Alora terfokus pada huruf “L”. “What does it mean to you?”
“Ini adalah goresan terakhir yang ditinggalkan oleh Winda, ibumu” intonasi Safwan melemah, “Kami telah saling mengenal sejak belajar di lembaga seni yang sama. Ketika ia kehilangan bapakmu dalam kecelakaan tragis, saya selalu ada di sampingnya. Tetapi sampai akhir hayatnya, saya tak pernah mengungkapkan betapa berartinya ia bagi saya. She was…the art I couldn’t complete”.
Mata Alora terbelalak, dan suara Safwan terdengar semakin jauh. “Winda dan saya tak terpisahkan, namun saya gagal menyelamatkannya. Andai saat itu Winda memiliki asuransi yang memadai, mungkin kondisinya tidak akan semakin memburuk” sesalnya.
Dada Alora sesak saat cerita itu menghantamnya seperti ombak besar. Kini, ia mengetahui betapa dalamnya cinta Safwan kepada mendiang ibunya. Huruf “L” menjadi simbol cinta Safwan untuk Winda, kesedihannya karena kehilangan, dan keinginannya untuk terus mengenang dalam kehidupannya.
Safwan menundukkan kepala, wajahnya dipenuhi rasa bersalah. “Oleh karena itu, saya melakukan hal yang saya anggap bisa memberikan peluang terbaik untuk hidupmu—saya mengirimmu ke panti asuhan, dengan kuas yang terakhir kali Winda gunakan”.
“Jadi, pencarian protégé hanya sebuah sandiwara? Selama ini, anda sebenarnya mencari saya?” telisik Alora.
Safwan menjawab parau, “Saya hanya menggantungkan harapan pada takdir, berharap kamu akan memilih untuk mengikuti jejak Winda. Saya mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghampirimu di panti asuhan, namun tidak pernah terealisasi. Sampai akhirnya, when I was diagnosed with heart failure, my last mission was to give you closure…untuk menjelaskan semuanya”.
Kesunyian di antara mereka membentang panjang sementara jantung Alora berdegup kencang. Ia menyelami kanvas itu lagi, huruf “L” yang kini terasa seperti sebuah kisah yang belum tuntas.
“Jika kita tidak bisa menemukan maknanya, mungkin kita bisa menciptakan makna untuknya” ucap Alora dengan suara bergetar, namun ada kekuatan yang timbul dalam setiap perkataannya, “Loss, Love, and Legacy. That’s how I choose to honor her…and you”
Seketika, ucapan Alora menyentuh hati Safwan, dan kehangatan perlahan menyusup ke relung hatinya. Ia tidak pernah melihatnya dari sudut pandang itu, namun mungkin sudah saatnya Safwan berhenti mencari jawaban dan mulai hidup dengan bagaimana ia memaknai hal tersebut. Misteri huruf “L” mungkin tidak akan pernah terpecahkan, dan mungkin memang tak seharusnya demikian. Loss, Love, and Legacy—bukanlah hal yang bisa didefiniskan, melainkan di alami. And maybe, just maybe, this time it is enough.
—
Safwan meninggal dunia tiga bulan kemudian, mewariskan rumahnya kepada Alora, termasuk koleksi lukisannya dan karya ibunya. Meskipun kesedihan meyelimutinya, Alora memutuskan untuk menyalurkan emosi ke dalam seni dan masa depannya.
Tiga tahun pun berlalu dan Alora berhasil mendirikan galeri seni miliknya sendiri: The Letter L. Galeri tersebut menjadi penghormatan bagi orangtuanya dan mercusuar harapan bagi seniman muda dan yatim piatu. Hasil dari galeri tersebut ia pergunakan untuk mendanai beasiswa seni dan program untuk anak-anak seperti dirinya, memastikan bahwa kreativitas dapat berkembang tanpa memandang asal usul seseorang. Ia juga mengikuti nasihat Safwan, menggunakan sebagian warisan dan penghasilan untuk berinvestasi dengan bijak, mengamankan masa depan galeri dan dirinya sendiri.
Pada pembukaan The Letter L, Alora berbicara kepada hadirin, “The Letter L lebih dari sekadar ruang seni. It’s a celebration of Loss, Love, and Legacy. Mentor saya, Almarhum Safwan, mengajarkan saya bahwa bahkan dari rasa sakit yang terdalam, we can turn dreams into reality, one brushstroke at a time” setelahnya tepuk tangan bergelora riuh rendah.
Saat malam semakin larut, Alora berdiri di depan lukisan ibunya yang ia bingkai, menelusuri huruf “L” yang tebal dengan matanya. Ia tersenyum, menyadari bahwa huruf itu kini lebih dari yang pernah bisa ia bayangkan. The Letter L becomes a reminder of where she came from, and the boundless possibilities of where she could go.