oleh: Alwin Adityo

Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Buku Diorama Keuangan Berkelanjutan Indonesia

Dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia memuat komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca tanpa syarat (unconditional) sebesar 32% dan dengan syarat (conditional) sebesar 43% di tahun 2030 dan target menjadi ekonomi net zero emission pada tahun 2060 [1]. Apabila tidak ada tindakan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, perubahan iklim diprediksi memiliki dampak ekonomi yang parah secara global dan di tingkat regional.

Kawasan ASEAN diprediksi akan terdampak lebih parah dari dunia pada umumnya, dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 37% di tahun 2048 dibandingkan 18% secara global dalam skenario perubahan iklim paling parah, yaitu peningkatan suhu sebesar 3,2 derajat Celsius [2]. Mitigasi atas perubahan iklim perlu didukung oleh produk keuangan dan perilaku konsumen industri jasa keuangan yang lebih ramah lingkungan. Sektor jasa keuangan Indonesia telah bergerak cukup lama dalam mendukung keuangan berkelanjutan dan pencegahan perubahan iklim.

Dukungan yang sudah diberikan antara lain adalah pengembangan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia dan kerangka manajemen risiko iklim. Industri Jasa Keuangan (IJK) telah merespons positif bauran kebijakan keuangan berkelanjutan yang sudah mulai digulirkan sejak tahun 2017. Namun, pada saat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap II pada tahun 2021, disadari masih terdapat beberapa gap yang dihadapi dalam implementasi keuangan berkelanjutan, seperti rendahnya tingkat pemahaman industri [3].

Pemahaman yang rendah terhadap perubahan iklim secara umum juga terdapat di masyarakat. Berdasarkan survei yang dilakukan di tahun 2023, 76 % warga Indonesia memiliki sedikit pengetahuan terkait pemanasan global, dan 20 persen tidak pernah mendengar sama sekali terkait perubahan iklim [4]. Peningkatan pengetahuan terkait perubahan iklim ini perlu ditingkatkan bersamaan dengan tingkat literasi keuangan di Indonesia, yang pada tahun 2022 berada di angka 49,68% [5]. Literasi yang memadai atas isu iklim (climate literacy) merupakan indikator yang lebih kuat memprediksi apakah seseorang akan mengambil aksi atau tindakan terkait pencegahan perubahan iklim dibandingkan dengan indikator lainnya seperti apakah seseorang menjadikan isu iklim dalam beban pikirannya (climate stress) atau merasa terdampak langsung (personally affected) oleh isu iklim [6].

Berdasarkan survei terhadap 1.000 responden di 8 negara (Brazil, Tiongkok, Perancis, Jerman, India, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat), 27% responden dengan tingkat literasi iklim yang tinggi akan sangat aktif untuk mengurangi emisi karbonnya, dibandingkan dengan hanya 6% responden yang tergolong memiliki tingkat literasi iklim yang rendah [6]. Mendorong adanya tindakan untuk mengonsumsi produk keuangan berkelanjutan atau mengubah gaya hidup ke arah yang lebih rendah karbon tidak perlu menunggu seseorang menjadi stres atau terdampak langsung oleh perubahan iklim. Intervensi yang dilakukan sesuai dengan teori Nudge dapat mendorong perilaku tersebut.

Nudge merupakan teori yang diciptakan oleh dua Profesor di Amerika Serikat yaitu Richard H. Thaler dan Cass R. Sunstein pada tahun 2008 dalam bukunya yang berjudul Nudge: Improving Decisions about Health, Wealth, and Happiness. Pada dasarnya, Nudge merupakan sebuah tindakan intervensi yang bertujuan untuk mendorong cara berpikir manusia agar dapat mengambil keputusan yang lebih baik, atau yang juga dikenal dengan “liberal paternalism” [7]. Nudge juga mengenal “freedom of choice”, yang berarti seseorang tidak akan dipaksa untuk mengambil keputusan tertentu dan dapat memilih untuk “opt-out” dari pilihan tersebut. Nudge diperlukan ketika keputusan yang diambil sulit, ketika manusia kesusahan dalam menerjemahkan sesuatu ke dalam bahasa yang mereka mudah mengerti, atau ketika dalam situasi yang tidak dikenal. Mengingat belum tentu konsumen belum memiliki awareness terkait perubahan iklim dan keuangan, penggunaan Nudge diperlukan agar konsumen dibimbing untuk melakukan investasi dan perubahan hidup yang mendukung aspek keberlanjutan.

Penggunaan nudge di sektor keuangan dapat dilakukan untuk menyesuaikan pilihan investasi kepada konsumen atau investor dan menyajikan informasi secara selektif [8]. Tentu etika dalam penggunaan nudge perlu dijaga agar tidak disalahgunakan oleh yang membuat intervensi sehingga orang yang menjadi tujuan nudge digiring ke pilihan yang lebih buruk. Salah satu contoh penggunaan nudge di sektor keuangan yang benar adalah bank yang memberikan peringatan kepada nasabahnya agar membayar tagihan kartu kredit secara tepat waktu dan dalam jumlah penuh agar terhindar dari denda keterlambatan dan bunga.

Jenis-Jenis Nudge Tanpa banyak orang menyadarinya, penggunaan Nudge mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya ketika ingin memesan produk lewat situs e-commerce, aplikasi langsung secara otomatis menambahkan asuransi pengiriman ke dalam pesanan sebelum konsumen melakukan checkout. Bila tidak mau menambahkan asuransi, konsumen dengan mudah dapat menggeser atau menekan satu tombol. Intervensi dari situs e-commerce ini merupakan contoh  nudge “system 1”. Intervensinya bersifat otomatis dan tidak memerlukan banyak usaha, sehingga orang yang dituju biasanya tidak menyadari bahwa keputusannya sedang digiring ke pilihan tertentu. Manusia membuat keputusan cepat berdasarkan pola-pola dan pengalaman yang pernah dilalui sebelumnya [9].

Sementara itu, ketika memesan makanan melalui aplikasi, pasti sistem akan merekomendasikan makanan di pesan dari restoran di dekat Anda yang popular dipesan oleh banyak orang. Contoh ini merupakan jenis “system 2” nudge dimana intervensi nya lebih mengandalkan pemikiran atau analisis seseorang untuk mengambil keputusan [9]. Dalam contoh pesan makanan tadi, apabila aplikasi meletakkan opsi menampilkan daftar pilihan restoran dengan menu yang sehat atau rendah kalori di tempat yang strategis, berarti aplikasi tersebut menggiring pemikiran pengguna agar memesan makanan yang sehat sebagai pilihan yang lebih baik [10].

Bagaimana Nudge Dapat Digunakan Secara Efektif Menyusun sebuah nudge perlu memperhatikan beberapa kriteria agar intervensi atau dorongannya efektif, yaitu Easy, Attractive, Social, Timely (EAST) [11] dengan deskripsi sebagai berikut: Easy: Intervensi nudge harus dilakukan dengan usaha yang seminimal mungkin. Cara ini biasanya dilakukan dengan membuat perilaku yang diinginkan sebagai default option atau sebagai opsi yang paling mudah dipilih. Attractive: Nudge harus mudah menarik perhatian.

Hal ini dapat dilakukan dengan pilihan warna, gambar, atau detail yang tepat. Selain itu, pembuat kebijakan dapat memberikan insentif baik finansial maupun non-finansial bagi pengguna agar nudge lebih menarik. Contoh insentif non-finansial adalah merancang aktivitas sebagai permainan (gamification). Social: Manusia adalah makhluk sosial yang saling bergantung dan mudah dipengaruhi oleh pemikiran dan perilaku manusia lain. Akibatnya, terdapat bandwagon effect atau yang sekarang lebih sering disebut dengan Fear of Missing Out atau disingkat FOMO.

Timely: Nudge harus dikeluarkan di waktu orang paling membutuhkannya agar mereka responsif terhadap nudge tersebut. Biasanya waktu ini adalah ketika seseorang sedang mengalami perubahan signifikan dalam hidupnya sehingga terjadi perubahan kebiasaan. Selain itu, dikarenakan adanya present bias atau pemikiran bahwa keuntungan jangka pendek lebih baik dibandingkan jangka panjang, maka nudge disarankan memberikan informasi mengenai manfaat jangka pendek yang akan diberikan apabila tindakan tersebut dilakukan.

Naskah lengkap dapat dibaca di Buku Diorama Keuangan Berkelanjutan Indonesia. https://keraktelor.id/diorama-keuangan-berkelanjutan-indonesia/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window