oleh: Teuku Maulana Ardiansyah

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi Desember 2023

Jepang merupakan salah satu negara yang paling maju di dunia serta mempunyai beberapa tempat wisata bersejarah dimana tempat tersebut menunjukkan kemasyhuran, etos kerja, konsistensi, keberanian, ketulusan serta kesetiaan kepada sejarah masa lalu Jepang. Selain itu, pada saat ini diketahui terdapat kemajuan industri dan teknologi Jepang tercermin dari merk terkenal seperti Toyota, Sony, Mitsubishi dan Panasonic.

Kemajuan tersebut merupakan kerja keras rakyat Jepang untuk meraih kemajuan. Setelah mengalami kekalahan Perang Dunia II dengan dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat, fokus Jepang adalah peningkatan teknologi dibandingkan militer. Jepang berupaya mengungguli dari penguasaan bidang IPTEK serta memanfaatkan kelebihan budaya/tingginya semangat juang atau Bushido.

Menurut buku Bushido: The Soul of Japan, yang ditulis Inazo Nitobe pada tahun 1899. Bushido merupakan tujuh prinsip yang dipegang oleh para prajurit samurai, antara lain kejujuran, keberanian, kebajikan, kesopanan, ketulusan, kehormatan dan kesetiaan. Nilai tersebut masih relevan dimana ketujuh nilai tersebut adalah sesuatu yang universal dan timeless sehingga sangat penting bagi siapapun yang ingin bertahan di tengah perubahan yang akan terus terjadi.

Saat ini dunia berubah sangat cepat dimana setiap individu harus berpikiran terbuka dan beradaptasi dengan perkembangan dunia. Namun, tindakannya harus dilandasi dengan nilai budaya yang dimilikinya. Sejalan dengan OJK yang harus terus adaptif, tactical dan cerdik tapi perilaku pegawai dan pejabatnya pun harus sesuai dengan nilai-nilai strategis OJK yang sudah ditetapkan seperti Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Inklusif & Visioner serta didukung dengan Proaktif, Kolaboratif dan Bertanggungjawab yang sebenarnya hal yang sama dengan nilai Bushido.

Seperti halnya Bushido, pandangan hidup seseorang atau core value yang ditanamkan di OJK merupakan moral code, cara berpikir, bersikap dan cara berperilaku. Seperti digambarkan oleh Marcus Garvey, seorang wartawan dan politisi asal Jamaica (1887-1940) yaitu orang yang tidak memiliki nilai budaya itu diibaratkan seperti pohon yang tidak memiliki akar. A people  without the knowledge of their past history, origin and culture, is like a tree without roots.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window