Oleh; Rezza F. Prisandy (Wakil Ketua Komunitas Penulis OJK & Alumnus PhD in Business and Management, the University of Manchester)
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Majalah Integrasi Edisi April 2024
Pengalaman lebaran di negeri nan jauh dari kampung halaman selalu menarik untuk diceritakan. Ada rasa rindu, tapi ada pula rasa syukur bisa merasakan suasana berbeda yang tak terlupakan. Tiga tahun sudah saya berlebaran di kota ini, Manchester. Dalam artikel ini saya akan bercerita berbagai hal menarik tentang keseruan lebaran di Manchester.
Umat Islam Bukanlah Minoritas
Siapa sangka, Islam tidak lagi menjadi minoritas di kota Manchester. Islam masuk dalam 3 besar afiliasi agama di masyarakat dan menjadi agama dengan pertumbuhan paling pesat. Tidak hanya di Manchester, tapi juga di Inggris secara umum. Data sensus Manchester terakhir 2021 menunjukkan 36,2% warga menganut Kristen dan Katolik, 32,5% atheis dan 22,3% Islam.
Banyaknya populasi umat muslim menjadikan momen lebaran menjadi sangat meriah dengan berbagai budaya berbeda. Semarak lebaran juga tidak hanya dirasakan oleh umat Islam. Semua masyarakat turut bergembira menyambutnya.
Ied in the Park
Bila di Indonesia mempunyai lapangan sepak bola atau alun-alun untuk sholat ied, Manchester juga memiliki lapangan besar di berbagai taman. Bila cuaca bersahabat, sholat ied dilaksanakan di lapangan luas dalam taman dengan konsep “Ied in the Park”. Tahun lalu, lebih dari 18 ribu umat islam melaksanakan sholat ied di lapangan ini.
Sayangnya tahun ini cuaca kurang bersahabat dan udara semakin dingin, seiring Ramadhan yang bertepatan dengan transisi musim dingin dan semi. Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya yang jatuh pada musim panas. Namun, kita masih bisa melaksanakan sholat ied dalam Dome yang disediakan atau di lebih dari 77 Masjid yang tersebar di Manchester.
Bazar Makanan dan Festival Wahana Anak
Sukacita terasa semakin lengkap dengan adanya Bazar makanan. Berbagai jenis kudapan tersedia di arena sholat ied. Uniknya, mayoritas makanannya bercita rasa timur tengah. Hal ini karena mayoritas kaum muslim merupakan imigran dari Timur Tengah.
Hal unik lainnya, setiap tahun juga selalu ada festival wahana anak. Berlangsung selama 2-3 hari, carousel dan berbagai permainan menjadi wahana wajib. Selain memberikan hiburan, festival ini menjadi salah satu edukasi bagi anak-anak. Keceriaan ini memberikan pesan kepada mereka bahwa ied merupakan hari kemenangan yang perlu dirayakan dan tidak kalah meriah dengan hari besar lainnya yang biasanya mereka rayakan di sekolah umum.
Berbagi Cokelat dan Kembang Gula
Bila di tanah air ada budaya berbagi angpao untuk anak-anak, ada hal unik lain di Manchester. Alih-alih berbaris untuk mendapatkan THR dari yang lebih tua, mereka justru berbagi dengan anak-anak lain. Mereka membawa keranjang berisi cokelat dan kembang gula untuk dibagikan setelah sholat ied berlangsung. Anak-anak dididik untuk saling berbagi.
Ketupat dan Opor Tak Tergantikan
Hidup di tanah Raja Charles tidak membuat orang Indonesia kehilangan citarasa sejati. Bagi kita, tidak ada makanan yang lebih nikmat dari masakan khas Ibu Pertiwi. Bukan lebaran namanya tanpa ketupat dan opor ayam. Perantau Indonesia mempunyai ikatan yang kuat dimanapun berada, termasuk di Manchester. Di hari yang fitri, orang Indonesia saling berkunjung satu sama lain, berbagi opor dan ketupat, sambil bersilaturahim. Selain mempererat persaudaraan, hal ini juga bertujuan untuk mengurangi rasa rindu pada kampung halaman.