oleh: Anjar Oktaviani P. Irawati (Direktorat Pengawasan Dana Pensiun). Cerita Pendek ini pertama kali diterbitkan di Majalah Integrasi Edisi Februari 2024
“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”. -M.A.W. Brouwer-
Kay mengeja tulisan yang tertera di bagian dinding JPO Jalan Asia Afrika. Keningnya berkerut. Ini kali pertama lagi ia menginjakkan kaki di kota Bandung setelah belasan tahun berlalu.
“Hey, kalau begitu, kau pasti lahir ketika Tuhan sedang bersenandung,” ucap Kay.
“Hah?”, Sakti menatap wajah Kay meminta jawaban.
“Indah. Seperti nada-nada yang diciptakan Beethoven.”
Sakti terkekeh. “Sejak kapan kau menjadi puitis?”
Kay termenung. Waktu begitu cepat berlalu, namun terasa lambat untuk sebuah penantian. Matanya terasa panas. Begitu banyak yang ingin ia ucapkan, namun bibirnya terkunci. Hening menggantung sesaat.
“Tahukah kau, apa yang membawaku kembali ke sini?” gumam Kay nyaris tak terdengar.
“Entahlah. Setelah sekian lama tak memberi kabar, tiba-tiba kau sudah sampai di sini. Untung aku selalu ada di kota ini.”
“Ah iya…” Kay tiba-tiba teringat, “bicara tentang kabar, aku lupa menanyakan. Kamu, apa kabar?”
Sakti menggeleng-gelengkan kepalanya. Bibirnya membentuk senyuman yang selalu menghiasi malam-malam Kay. “Kamu tak berubah. Obrolan kita selalu loncat-loncat tak beraturan.”
“Dan kamu juga sama. Selalu protes dengan ketidakteraturanku. Hey, ini pertemuan kita lagi setelah sekian lama. Aku tak ingin berdebat,” Kay meninju bahu Sakti pelan.
Sakti tersenyum simpul, “Kabarku baik. Tak banyak yang berubah. Masih tetap sendiri.”
Bandung beberapa hari ini dihiasi hujan yang turun setiap senja mulai tumbang. Tapi malam ini, langit berbaik hati sehingga membiarkan Kay menikmati udara Bandung tanpa takut basah.
“Tak ada manusia yang sempurna. Kita bisa menjadi sempurna menurut versi kita. Tapi, jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Berhentilah sejenak jika lelah dan berjalanlah lagi jika telah siap. Ingatlah, ketika kita patah dan terjatuh, diri sendirilah yang paling pertama akan memeluk erat,” Kay menatap dalam-dalam mata Sakti. Di mata itu, ia pernah tenggelam dan tak menemukan jalan keluar.
“Tadi kau yang bilang tak mau berdebat, tapi sekarang kau yang mulai menasehatiku seperti nenek-nenek. Seharusnya, kubiarkan kau menyusuri kota Bandung sendirian,” keluh Sakti sambil mengacak-acak rambut Kay. Wajah di hadapannya masih sama meski belasan tahun tak bertemu. Sakti menyukai senyum Kay yang seperti matahari pagi. Tapi sejak tadi, senyum itu hanya muncul sesekali. Kay lebih banyak merenung dan menikmati gedung-gedung tua di sepanjang Jalan Asia Afrika.
“Maaf, lama tak memberimu kabar dan dulu pergi begitu saja. Tapi, kau terlalu sibuk dengan duniamu dan mimpi-mimpimu hingga tak sadar dengan keberadaanku.”
Ingatan Kay melayang ke belasan tahun lalu. Kali pertama ia bertemu dengan Sakti. Ia sedang terburu-buru hendak ke stasiun. Mamanya sakit keras dan ia harus pulang saat itu juga ke Jakarta. Sore itu hujan turun sangat deras. Semua taksi yang lewat selalu ada penumpang. Ia sudah sangat gelisah karena waktu semakin mendekati jam keberangkatan. Hingga kemudian ada taksi yang kosong, namun lebih dulu Sakti yang menyetop taksi tersebut. Kay menghampiri Sakti dan suatu kebetulan ternyata ia juga memiliki tujuan yang sama. Kay nekat meminta bergabung dalam satu mobil agar tidak terlambat. Di situlah kemudian mereka saling berkenalan dan selanjutnya menjadi dekat.
“Aku kembali ke sini karena rindu. Rindu yang berkarat, karena kau tak lagi dapat kudekap,” bisik Kay. Matanya sudah sangat panas. Ia tak lagi dapat menahan tetes air mata yang perlahan jatuh dan mulai menderas.
Kay menatap bangku di sampingnya yang sejak tadi kosong. Bangku yang dulu setiap sore ia dan Sakti duduki sambil menatap langit Bandung yang berwarna jingga. Sore yang mereka habiskan sambil bercerita. Mulai dari obrolan ringan tentang hari yang telah terlewati, hingga mengenai musim yang mulai berganti.
Perlahan, Kay mengambil setangkai mawar dari tasnya dan meletakkan di bangku kosong di sampingnya. “Sampai kapanpun, kamu dan Bandung akan selalu kurindukan dan abadi dalam ingatan,” Kay menghela nafas sejenak, “meski kau sekarang berada di antara awan-awan.”
Kay lalu beranjak dan berjalan mencari taksi untuk ke stasiun. Pukul sembilan malam. Langit Bandung pun semakin kelam.
*****